Skip to content

Heboh di Lenteng Agung: Lurah Non-Muslim, Warga Menolak

August 24, 2013
Susan Jasmine Zulkifli, lurah Lenteng Agung. Foto: The Jakarta Post.

Susan Jasmine Zulkifli, lurah Lenteng Agung. Foto: The Jakarta Post.

Author: Rinaldi

SUSAN JASMINE ZULKIFLI adalah lurah baru Lenteng Agung yang lolos dalam lelang terbuka pemilihan lurah beberapa waktu lalu. Tidak berapa lama setelah menjabat, lurah baru tersebut diprotes warga Lenteng Agung yang mayoritas Muslim hanya karena beragama Kristen.

Penolakan ini khas masyarakat dengan budaya terkebelakang yang masih kental unsur-unsur primordialismenya. Tidak hanya lurah, masyarakat tipe demikian biasanya juga alergi terhadap pendirian tempat ibadah minoritas di sekitar lingkungan mereka.

Biasanya, Muslim yang “sepemahaman” dengan Muslim warga Lenteng Agung itu akan melakukan pembelaan diri untuk membenarkan pandangannya: “Di daerah yang mayoritas non-Muslim, orang Islam juga susah jadi lurah, camat, bupati atau gubernur”.

Pembelaan diri semacam itu kekanak-kanakan. Dalam pandangan saya, jika ada kasus Muslim yang ditolak jadi lurah, camat, bupati atau gubernur di wilayah non-Muslim hanya karena dia Muslim, sama saja kasusnya dengan kasus Lenteng Agung tersebut. Masyarakat yang menolaknya adalah tipe masyarakat primordialistik dan terkebelakang.

Saya amati, “logika” primordialisme itu kurang lebih begini: Di wilayah mayoritas A, lurahnya mesti dari kalangan A. Di wilayah mayoritas B, gubernurnya harus dari kalangan B. Begitu seterusnya. Ini jelas cara pikir yang sudah out-of-date, tidak kompatibel dengan zaman modern yang majemuk, yang menuntut efektifitas, berorientasi fungsi dan profesionalitas. Cara pikir seperti itu tidak bisa diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berbisnis.

Singkat saja: Sebenarnya, apa sih substansi keberatan terhadap lurah non-Muslim? Saya kira tidak ada lain kecuali sekedar faktor kebencian dan praduga negatif terhadap “umat agama lain” saja. Kebencian dan praduga negatif ini seringkali dikompori oleh baik ajaran agama maupun pemuka agama yang bersangkutan.

Agama yang dianut seseorang itu tidak ada korelasinya dengan profesionalisme orang tersebut. Jika saya mau order jahit baju, apa saya mesti pergi ke tukang jahit yang seiman? Kan tidak perlu. Asal tukang jahit itu dikenal bagus, rapi dan harganya cocok, ya bisa order jahit di situ. Begitu juga lurah. Sejauh seorang lurah memahami deskripsi kerjanya dan mampu berlaku profesional, itulah lurah. Apakah yang bersangkutan beragama Islam, Kristen, Hindu, bahkan ateis sekalipun, tidak ada hubungannya. []

Acuan berita: PortalKBR

About these ads
2 Comments leave one →
  1. risma permalink
    August 24, 2013 3:15 pm

    Dekat kampus elit, dikelilingi sekolah2 favorit tapi… Hhhhhhh!

  2. August 24, 2013 6:27 pm

    Kalo sudah sempat menjabat diprotes, mungkin ada alasan lain disamping sekedar lain agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: