Sapere aude!

“Roti” Demokrasi: Dinajiskan, Tapi Dijilat Juga

Posted in Commentary by Rinaldi on August 15, 2008

Oleh Rinaldi

Massa FPI ngamuk dalam insiden kekerasan di Monas. Foto: Google.com

 

INILAH fenomena yang nyata-nyata terjadi pada tokoh-tokoh “mujahidin”, khususnya di Indonesia. Dengan keyakinan yang teguh akan ideologi Islam, mereka menolak demokrasi dan menajiskannya. Dalam keyakinan mereka, demokrasi adalah ideologi thagut “buatan manusia”, yang bersifat kafir lagi sesat dan menyesatkan. Tidak membawa manfaat apa-apa selain kerusakan di muka bumi, dan harus segera digantikan dengan yang mereka sebut “sistem Tuhan” yang “lebih benar”.

Ada satu hal yang kurang disadari (atau kurang disyukuri) oleh kelompok-kelompok jumud macam mereka, yaitu bahwa aktivitas ideologis mereka sebagaimana dipropagandakan melalui selebaran-selebaran, website, atau ceramah-ceramah, dapat berlangsung aman dan bebas justru akibat iklim demokratis yang ada di Indonesia, khususnya pasca tumbangnya rezim Soeharto. Tanpa adanya iklim demokratis yang bebas, mustahil mereka bisa melakukan propaganda seperti itu.

Adalah sebuah fakta bahwa organisasi internasional pengusung Khilafah yang sangat anti demokrasi, yaitu Hizbut Tahrir, dapat eksis dan berkembang justru di negara-negara pengusung demokrasi, yang kebanyakan adalah negara-negara barat. Di timur tengah sendiri, apalagi Arab Saudi, organisasi ini adalah terlarang. Tak terkecuali di negeri asalnya, Mesir. Di Indonesia pun, organisasi ini baru berani unjuk gigi setelah tumbangnya rezim Soeharto pada 1998.

Fauzan Al-Anshori dalam wawancaranya dengan majalah Syir’ah edisi April 2004, pernah menyatakan bahwa meskipun menurutnya demokrasi itu “kafir dan najis”, tapi ia mengakui masih ada manfaatnya, yaitu adanya kebebasan berbicara. Pernyataan apa yang lebih memalukan dari pernyataan Fauzan tersebut?

Parahnya, walau sudah mencecap nikmatnya kebebasan berbicara, seringkali kelompok sejenis  ini tidak mau menghargai hak orang untuk melakukan hal yang sama, yakni bebas berbicara. Contoh kecil tahun 2003, Ulil Abshar Abdalla difatwa mati oleh Forum Ulama Umat Islam Bandung hanya karena sebuah artikel yang ia tulis di harian Kompas. Fatwa itu menuai protes, dan akhirnya pun dicabut kembali. Tetapi pokok masalahnya, adanya keberanian memberi fatwa semacam itu kepada seseorang atas buah pikirnya menunjukkan bahwa kelompok-kelompok Islamist pada dasarnya memang tak menyukai kebebasan berbicara, kecuali untuk kelompoknya sendiri atau orang-orang yang memang sepaham.

“Kebebasan berbicara” adalah bagian dari demokrasi. Jika Fauzan merasa bahwa ia mencatut keuntungan dari “bagian ideologi kafir” tersebut, bukankah sama dengan ia menjilat dan mencecap nikmatnya daging babi? Bukankah jika jelas “najis”, maka seharusnya ia tidak mencecap sedikitpun dari “barang najis” tersebut? Tetapi nampaknya orang macam Fauzan akan terus menggeluti paradoks ini dalam pemikirannya: bahwa kampanye sebuah ideologi yang “menajiskan demokrasi”, tetap akan selalu membutuhkan iklim yang demokratis. []

Advertisements
Tagged with:

“Cyber Dakwah” dan Mentalitas Umat

Posted in Counter fundamentalism, Discourse by Rinaldi on August 11, 2008

Islamic facist.

Oleh Rinaldi

PERKEMBANGAN teknologi informasi yang makin menggiat selama dua dasawarsa terakhir, telah menciptakan perubahan pada banyak hal. Berbagai kalangan berlomba-lomba memanfaatkan teknologi canggih untuk berdakwah dan menyebarkan informasi. Ratusan juta manusia di seluruh dunia mengakses internet setiap harinya, dan jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Batas-batas negara pun memudar. Kini, tiap-tiap orang dapat bercakap-cakap face to face dengan orang lain di belahan dunia mana pun dengan biaya yang sangat murah, hanya sebesar biasa akses internet. Milyaran website yang menyediakan bermacam informasi eksis di dunia maya. Piringan DVD yang begitu ringkas dan berkapasitas relatif besar juga menjadi salah satu media yang memiliki andil besar dalam penyebaran informasi di era modern, melalui isinya yang dapat berupa sekedar data digital maupun gambar bergerak.

Fenomena ini rupanya menjadi perhatian beberapa kalangan Muslim seperti Farid Ma’ruf, seorang praktisi CyberDakwah yang berupaya menggiatkan dakwah Islam melalui penguasaan teknologi informasi. Melalui teknologi informasi, dakwah Islam diharapkan dapat menjangkau pelosok-pelosok bumi dengan cepat, dan diakses dengan mudah oleh khayalak luas. Media-media dakwah modern, menurut Farid, dapat berupa website yang menyajikan aneka informasi Islam. Kemudian dapat berupa film, digital library, dan software Islami. Media-media yang begitu menjamur sekarang ini, diharapkan berbagai kalangan Muslim dapat membantu memperkenalkan Islam ke segenap penjuru dunia, dan menepis pemikiran-pemikiran sekuler-liberal yang datang dari barat.

******

Namun sebenarnya, urgensi umat Islam secara mendasar bukanlah penguasaan teknologi informasi canggih sebagai media dakwah. Melainkan suatu perubahan paradigma berpikir besar-besaran, terutama mengenai cara memandang diri sendiri (Muslimin), ajaran Islam, dan kelompok lain yang dianggap kafir. Adalah menggelikan, ketika teknologi informasi canggih dikuasai kaum Muslimin, tetapi mentalitas keagamaan masih “mandeg” di abad kegelapan, dengan ajaran menghukum mati orang murtad, memingit wanita di rumah, memfatwa mati dan membunuh intelektual progresif Islam, anti kebebasan berpikir dan berpendapat, monopoli tafsir agama, dan kebijakan apartheid pemerintah Islam yang memisahkan antara “Muslim” dan “non-Muslim” (dhimmi).

Peradaban modern tidak dimotori oleh penguasaan teknologi canggih. Melainkan oleh mindset atau tata pikir. Secara mendasar, peradaban modern adalah peradaban yang menyadari keniscayaan pluralitas masyarakat manusia. Kesadaran ini diwujudkan oleh kesudian untuk hidup berdampingan bersama kelompok lain dengan semangat kesetaraan derajat manusia (egaliter), bukan hidup berdampingan namun dengan “semangat keumatan” (Islamisme) yang eksklusif dan rasa superior yang seringkali menimbulkan sikap-sikap tidak fair terhadap kelompok minoritas (non-Muslim). Atas dasar itu, maka peradaban modern pertama-tama membutuhkan suatu ideologi yang mampu mengakomodir pluralitas masyarakat, yang didasari dari kesadaran dan pengakuan atas kesetaraan derajat manusia (egality), bukan “hukum tuhan” dalam penafsiran sedemikian rupa yang cenderung mewakili umat tertentu saja.

Umat Muslim harus sadar, bahwa musuh sebenarnya bukanlah “barat” (yang secara sempit selalu diidentikkan dengan Kristen). Namun kebodohan, kemiskinan, jumudisme dan ekstrimisme beragama, dan terutama penyakit hati seperti iri dengki dan perasaan superior terhadap kelompok lain. Penyakit ini ada di mana-mana, baik pada masyarakat barat, maupun pada masyarakat Muslim sendiri, juga masyarakat di mana pun. Tetapi nampaknya kesibukan memerangi pemikiran barat, telah membuat umat Muslim lupa untuk memerangi pemikiran-pemikiran tidak sehat yang ada di dalam tubuh umat Muslim sendiri, sehingga tanpa sadar “penyakit pikiran” ini menjadi berkembang dan tentu saja menghambat progresifitas umat. Ingat, yang punya “sampah peradaban” tidak hanya barat saja dengan pornografi, ATM kondom, sex toys, dan narkobanya. Kaum Muslimin pun memiliki “sampah peradaban” yang tentu bahaya kalau bisa diakses lewat media dakwah modern; yaitu terorisme, eksklusifisme, dan jumudisme berkedok agama. Jangan lupa, banyak teroris lokal kita mempelajari “sampah” itu juga dari media-media dakwah modern.

******

Dakwah Islami melalui kecanggihan teknologi media informasi, jika tidak dilandasi mindset yang sehat dan fair, hasilnya adalah dakwah-dakwah bernada tendensius, semangat menyalahkan kelompok lain dan mengagungkan kelompok sendiri, dengan “musuh utama” pihak barat. Belum lagi adanya “kepentingan ideologis” di kalangan pendakwah yang berpotensi memicu ketimpangan informasi dan rasa alergi terhadap kritik, sehingga umat Muslim maupun audience umum mendapatkan informasi yang tidak proporsional dan semestinya dari para pendakwah Islam.

Syukur jika kebetulan rezim pemerintah yang menaungi pendakwah tersebut adalah rezim yang egaliter, bebas dan demokratis, ketimpangan informasi itu masih dapat diimbangi oleh media-media publikasi lain. Kekeliruan-kekeliruan informasi dan dakwah otomatis dapat bebas dikritik secara elegan. Namun, bagaimana jika rezim yang menaunginya adalah rezim Islam totaliter yang anti kebebasan pers, atau “rezim lembek” seperti pemerintah NKRI yang takut bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok beringas? Tentu pandangan-pandangan atau opini-opini kritis terhadap Islam akan mudah diberangus. Pencetusnya difatwa mati, atau minimal dikafirkan. Kelompok-kelompok dakwah yang menjadi “kompetitor” dibungkam, diserbu, atau minimal dibatasi aktivitas dakwahnya.

Di Indonesia, indikasi ke arah ini sudah terlihat meski mungkin tidak separah di rezim-rezim Islam di timur tengah. Dakwah-dakwah Islam garis keras melalui majalah, bebas beredar di kaki-kaki lima. Kritik-kritik teologis terhadap agama lain, bebas beredar di toko buku umum. Tidak jarang memuat judul provokatif yang menyinggung SARA, tanpa memikirkan perasaan umat agama lain yang ada di sana. Syukur kalau masyarakatnya relatif egaliter dan liberal, dakwah-dakwah tandingan dapat bersanding sejajar. Namun karena kondisi masyarakat kita yang sedemikian rupa, dakwah “panas” di kalangan umat agama lain sementara ini hanya dapat beredar terbatas pada kalangan sendiri. Bayangkan, jika “buku-buku panas” yang mengkritik Islam beredar bebas di toko-toko buku umum, bukan mustahil akan ada kelompok yang protes dan menuduhnya sebagai “penistaan agama”.

Jadi, sikap-sikap moderat, semangat liberal dan egaliter, mutlak menjadi dasar yang harus diterapkan sebelum memulai aktivitas dakwah dan penyebaran informasi melalui media-media modern yang ada. Sikap-sikap tersebut memastikan adanya kebebasan dan fairness di sesama “pendakwah”, baik pendakwah dari kalangan Muslim maupun kalangan non-Muslim. Adanya kebebasan dan fairness juga melindungi hak publik untuk mendapatkan infomasi yang benar dan proporsional. Kesadaran akan perlunya sikap-sikap tersebut di atas sudah sewajarnya dimulai dari bawah, untuk kemudian secara otomatis membentuk suatu “pemerintahan oleh rakyat” yang demokratis. []

Catatan: Mulanya ditulis untuk menanggapi artikel sdr. Farid Ma’ruf, kemudian dilengkapi untuk jadi karangan tersendiri. Diupload untuk mailinglist parapemikir@yahoogroups.com

Buku “Beriman Tanpa Rasa Takut”; Irshad Manji, Mimpi Buruk Bagi Osama bin Laden

Posted in Counter fundamentalism, Review by Rinaldi on August 10, 2008
Cover buku

Cover buku "Beriman Tanpa Rasa Takut".

Oleh Rinaldi

BERANI dan inspiratif, itu kesan pertama yang muncul setelah membaca buku ini.

Irshad Manji menuai banyak kecaman dari kelompok-kelompok konservatif-radikal. Ia sering mendapat ancaman pembunuhan karena pemikirannya yang dinilai terlampau progresif. Nasibnya hampir sama dengan Ayaan Hirsi Ali. Namun lebih beruntung dari Faraj Fouda karena ia tinggal di Kanada yang bebas, bukan Mesir. Atas segala tulisannya, Irshad dijuluki sebagai “mimpi buruk bagi Osama bin Laden”. Dan Irshad menganggap itu sebagai pujian.

Dalam buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, yang berjudul asli “Faith Without Fear: A Challenge to Islam Today”, Irshad menyeru dunia Islam saat ini untuk kembali menghidupkan tradisi ijtihad dan kebebasan berpikir. Dia menolak tafsir-tafsir literal yang dimonopoli oleh segolongan Mullah atau kelompok ulama tertentu. Irshad mengingatkan kaum Muslim bahwa zaman keemasan Islam pada abad pertengahan adalah zaman di mana ijtihad dan kebebasan berpikir sangat dihargai. Ibnu Rusyd, ilmuwan Muslim terkemuka, telah mengajukan konsep kesetaraan gender. Ibnu Khaldun mengajukan teori evolusi biologi. Jalaludin Rumi banyak menulis syair-syair yang pluralistis. Dan Ibnu Sina, ilmuwan besar yang sering dibangga-banggakan kaum Muslimin, adalah seorang penganut Mu’tazilah, -paham yang mengutamakan rasionalisasi ajaran agama- yang kini dianggap sesat. Kejayaan Islam justru diredupkan kemudian oleh ulama-ulama konservatif seperti para ulama Ottoman yang melarang observatorium dan percetakan buku.

 

Irshad Manji.

Dalam bukunya, Irshad Manji juga menceritakan pengalaman masa kecilnya yang kurang menyenangkan pada sebuah Madrasah di Richmond, Kanada. Madrasah  dalam sebuah komunitas yang bebas, namun lebih memilih otokrasi dan dipimpin oleh seorang guru agama yang kolot. Posisi perempuan seringkali tidak beruntung pada beberapa bentuk pemahaman Islam, bahkan di negara yang bebas sekali pun. Irshad adalah salah satu korbannya. Irshad memang tidak seekstrim Hirsi Ali yang kemudian memilih meninggalkan Islam. Dia tetaplah “A faithfull Muslim”, sebagaimana dinyatakan pada halaman pertama bukunya. Namun sebagai Muslimah, langkahnya sangat berani. Irshad dengan lantang menentang kekejaman, kekerasan, dan diskriminasi atas nama Allah.

Secara esensial, “ijtihad” adalah penting, tidak hanya bagi Muslim namun  bagi setiap penganut agama yang berakal dan berjiwa progresif. Islam mengajarkan, jika pun salah, sebuah upaya ijtihad akan mendapatkan 1 pahala. Dan jika benar, dapat 2. Ini adalah indikasi bahwa agama menghargai upaya untuk berpikir maju.

Bukunya telah terbit di 30 negara dalam berbagai bahasa. Tidak sedikit kelompok konservatif yang menentang penerbitannya. Namun, Irshad berharap banyak pada Muslim di Indonesia yang dinilainya lebih potensial progresif daripada Muslim di timur-tengah. Irshad bahkan pernah menyeru dunia barat untuk melihat Islam di Indonesia yang cenderung lebih “ramah”, dan tidak melulu pada timur-tengah.

Akhir kata, buku ini bagus untuk semua orang yang menginginkan progresifitas dalam kehidupan beragama, sekaligus menjadi pecut dan “mimpi buruk” bagi mereka yang konservatif. []

PS: Buku diterbitkan oleh NUN Publisher, dan sudah tersedia di toko-toko buku di Indonesia.

 

Tagged with:

Ahmadiyah dan Tudingan Sesat

Posted in Commentary by Rinaldi on August 10, 2008

Mirza Ghulam Ahmad, Nabi umat Ahmadiyah.

Oleh Rinaldi

DALAM perspektif teologi dan iman penganut Ahmadiyah (sebagaimana standar berpikir ini juga dipakai oleh MUI dkk dalam memandang Ahmadiyah), barangkali “Islam mainstream” (istilah yang digunakan sekedar membedakannya dengan “Islam Ahmadiyah” dalam tulisan ini) telah dipandang melecehkan Islam karena menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Jika kita benar-benar memahami dan mengakui azas kesetaraan derajat manusia (egality) serta menjunjung tinggi azas fairness, kita akan sadar, bahwa penganut Ahmadiyah berhak mengatakan itu di muka publik sebagaimana Muslim mainstream (dan umat agama apapun) merasa berhak menyatakan klaim keimanannya di muka publik (DUHAM pasal 18).

Selain soal azas kesetaraan derajat dan fairness, pendapat di atas juga didasari dari pemahaman bahwa soal “iman”, bagaimanapun bentuk dan apapun namanya, adalah ranah subjektif. Kebenaran suatu konsep keimanan kembali kepada mereka yang meyakininya. Dan mengingat keniscayaan pluralitas manusia, maka dalam hal ini, tidak etis jika ada sekelompok manusia menjadikan perspektif teologinya sebagai “standart publik” mengenai kebenaran, yang harus diterima kelompok lain, misalnya dalam bentuk SKB atau lainnya.

Bagi penganut Ahmadiyah, Islam adalah sebagaimana yang mereka yakini sekarang. Meskipun itu keliru menurut teologi Islam mainstream, tapi tidak keliru secara kemanusiaan. Karena pada dasarnya, penganut Ahmadiyah berada dalam posisi kemanusiaan yang setara dengan penganut Islam mainstream. Dalam “kesesatan teologisnya”, penganut Ahmadiyah tidak menjadi “less human” di mata manusia lain. Umat Ahmadiyah memiliki hak moril untuk meyakini ajarannya dan mensyiarkannya di muka publik sebagaimana Muslim mainstream dan penganut agama lain melakukannya. Toh Islam mainstream juga dipandang keliru dan “menyesatkan” dalam teologi Ahmadiyah.

Tudingan “penistaan agama” (juga “meresahkan masyarakat” dan sebagainya yang bersifat subjektif) adalah justifikasi yang longgar dan fleksibel untuk memberangus pandangan, aliran, pendapat, yang tidak disukai oleh kelompok-kelompok yang menyukai kekerasan.

Pilihan yang diberikan MUI dkk terhadap kelompok Ahmadiyah untuk kembali ke “Islam yang benar” atau menyatakan diri keluar dari Islam dan membuat aliran baru, adalah wujud kesewenangan dan superioritas suatu kelompok iman tertentu terhadap kelompok iman yang lain. Dalam hal ini, MUI telah menjadikan perspektif keimanannya sebagai “standar kebenaran” yang harus diterima publik Ahmadiyah dan umum, serta mencatut nama “Islam” seolah itu adalah miliknya. Sehingga barangsiapa yang “tidak seiman” dengan MUI dkk, dicap bukan Islam dan tidak berhak mengaku Islam. []

Tagged with:

Mitos “Palestina”

Posted in Discourse by Rinaldi on August 10, 2008

Menorah - Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

APA yang terpikir di benak masyarakat ketika mendengar kata “Palestina?” Sebagian besar akan berpikir tentang suatu wilayah di timur tengah yang dinamakan Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang diduduki Israel pada tahun 1967. Sebagian lagi mungkin akan mengatakan seluruh wilayah Israel, termasuk Tepi Barat dan Gazalah “Palestina” itu.

Namun sejarah mencatat, “Palestina” awal mulanya adalah sebutan untuk suatu daerah di pesisir pantai laut Mediteranian (dekat wilayah Gaza sekarang), yang dihuni oleh suatu suku pribumi, lebih dari 1200 tahun sebelum Masehi. “Philistea”, begitu disebutnya.

Setelah keluar dari Mesir, orang Yahudi (keturunan Ibrahim dari Ishak) mulai memasuki wilayah Philistea pada 1250 SM, dipimpin Yosua yang menggantikan Musa. Mereka kemudian mendirikan kerajaan besar di sebelah timur Philistea (sekarang bernama Tepi Barat). Pasca pemerintahan Raja Solomon, kerajaan mereka terbagi menjadi dua, Israel di sebelah utara dan Yudea di sebelah selatan. Daerah yang sekarang disebut “Tepi Barat”, waktu itu bernama Samaria (sebelah utaranya) dan Yudea (sebelah selatan). Bukan “Palestina”.

Pada tahun 70 M, Romawi yang menguasai Yudea dan sekitarnya berniat menghapuskan “ciri keyahudian” dari daerah tersebut. Selain menghancurkan kuil Yahudi (Solomon’s Temple) mereka mengganti nama daerah tersebut dari Yudea menjadi “Palaestina”. Inilah awal mulanya daerah Tepi Barat disebut “Palestina” hingga sekarang, menggantikan nama “Yudea”. Romawi juga mengganti nama kota Yerusalem dengan “Aelia Capitolina”, namun nama baru itu tidak bertahan lama. Kebijakan ini disertai dengan “ethnic cleansing” terhadap umat Yahudi yang menyebabkan banyak orang Yahudi terusir ke luar Yudea.

Di bawah komando Khalifah Umar, bangsa Arab memasuki wilayah Yudea (Tepi Barat) pada abad ke 7 Masehi. Sejak itu, etnik dan bahasa Arab mulai mendominasi wilayah tersebut hingga sekarang. Mereka membangun sebuah Masjid yang dinamakan “Al Aqsa” di tempat bekas kuil Yahudi yang dihancurkan oleh Romawi, dan mengklaimnya sebagai tempat suci bagi agama Islam meski Yerusalem tidak satupun disebut dalam Al Quran, dan tak ada bukti historis -kecuali klaim keimanan berdasarkan kisah Isra’ Mi’raj- bahwa Nabi Muhammad pernah ke Yerusalem.

Kecuali kerajaan Israel dan Yudea, wilayah “Palestina” tidak pernah menjadi suatu daerah dengan otonomi tersendiri dan hanya merupakan bagian dari suatu imperium besar yang silih berganti menguasainya selama ribuan tahun. Imperium terakhir yang menguasainya adalah Turki Ottoman, yang mengalami kekalahan dan ‘bubar’ pada perang dunia I. Setelah itu Inggris dan Perancis memegang kendali di wilayah Palestina dan sekitarnya. Saat ini, pecahan wilayah Turki Ottoman menjelma menjadi Turki modern, Suriah, Lebanon, Israel, dan Yordania. []

Kesimpulan:

(1) Etnik Arab bukanlah penduduk asli Tepi Barat dan Gaza.

(2) “Palestina” awal mulanya adalah nama daerah kecil di pesisir mediteranian, bukan sebutan untuk Tepi Barat atau seluruh wilayah Israel.

(3) “Tepi Barat” dahulu bernama Samaria (utara) dan Yudea (selatan).

(4) “Tepi Barat” berubah menjadi “Palestina” semenjak penyerbuan oleh Romawi di bawah Jend. Titus pada 70 M.

(5) Etnik dan bahasa Arab mulai mendominasi wilayah tersebut semenjak invasi Khalifah Umar pada abad ke 7 M.

(6) Etnik Yahudi lebih dulu ada di Tepi Barat, dan itulah sebabnya daerah itu dulunya disebut “Yudea”.

(7) Dalam konteks politik modern, Israel pada 1967 tidak merebut Tepi Barat dari “orang Palestina”, tapi dari Yordania.

(8) Bahkan Yasser Arafat pendiri PLO, bukan “orang Palestina” apalagi lahir di Tepi Barat, tetapi etnik Arab yang lahir di Mesir.

(9) Konsep negara “Palestina” tidak pernah ada secara kongkret dan tidak akan pernah ada, bahkan etnik Arab tidak pernah memegang kendali secara eksklusif atas wilayah tersebut.

(10) Bangsa Yahudi pernah memegang kendali eksklusif atas wilayah tersebut waktu jaman raja Saul, Daud, dan Solomon. []

Tagged with:

Sulitnya berinteraksi dengan kelompok fundamentalis

Posted in Counter fundamentalism by Rinaldi on August 9, 2008

Oleh Rinaldi

“If a secular law failed, then blame the law. When Islamic law fails, blame the stupid human behind the law who cannot carry out Divine Will. I certainly disagree with these propositions; however, this is what some Indonesian Muslims believe.” (Arif Maftuhin, Dosen UIN Jogja)

 

Kelompok bebal di Indonesia.

TANPA bermaksud menggeneralisir, tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman nyata penulis berdiskusi via mailinglist dan forum diskusi onlineclash of civilization, Daulah Islamiyah, HAM, demokrasi, kemanusiaan, dan sebagainya yang dikaitkan dengan kondisi aktual. dengan kelompok fundamentalis sekian lama. Topik-topik yang dibicarakan umumnya seputar

Salah satu sisi manusiawi yang tumpul pada rata-rata kelompok fundamentalis adalah kemampuan berdialog secara sportif dan logis dengan kelompok yang berseberangan paham dengan mereka. Sebagai contoh, dalam berdiskusi dan beradu opini di mailinglist, postingan-postingan mereka pada umumnya selalu menjengkelkan, karena hampir tanpa elaborasi rasional. Mereka juga cenderung emosional dan suka mengobral penghakiman teologis; seperti “sesat”, “kafir”, “iblis”, “laknatullah”, dan sebagainya. Juga paling suka mengobral theological advice, seperti “bertobatlah”, dan sebagainya ketimbang elaborasi rasional atas ide-ide mereka. Pada beberapa kasus, kekerasan verbal yang mengarah pada vandalisme dan anarkisme kerap kali dikumandangkan; seperti “bakar”, “bunuh”, “hancurkan”, dan sebagainya. Silakan search di Youtube dengan kata kunci Sobri Lubis, anda akan menemukan khotbah beliau yang terang-terangan memerintahkan “bunuh” terhadap setiap pengikut Ahmadiyah.

Apa sih yang membuat mereka begitu? Jelas ini soal kepercayaan, “theological believe”. Tapi, banyak orang beriman dan beragama tidak seperti mereka. Lantas, di mana bedanya? Bedanya adalah pada dosis. Banyak orang minum obat dan sembuh, karena mereka minum pada dosis yang tepat. Sementara banyak orang lainnya alergi, mual-mual, bahkan meninggal. Atau banyak juga yang setelah diminum, tidak ada reaksi apa-apa, padahal merknya sama. Itu karena mereka tidak meminumnya sesuai dosis yang tepat. Ada yang over dosis, dan ada yang “under dosis”. Dalam perspektif Buddhis, “dosis yang tepat” adalah “jalan tengah”, sesuatu yang tidak kurang dan tidak lebih. Ini “rumus universal” meraih keharmonisan. Inilah yang tidak dipahami oleh kelompok fundamentalis-radikal, mereka memilih “meminum agama” beberapa kali lipat dari dosis yang aman, dan mereka pikir itu baik. Hasilnya? Ekstrimisme.

Bila dicermati, rata-rata kelompok fundamentalis memiliki pola pikir yang “khas”. Ini terlihat dalam berbagai pernyataan yang dilontarkannya, dan khususnya dalam berdiskusi. Adapun kekhasan pola pikir itu akan dijelaskan dalam point-point berikut:

1. Dalam mengelaborasi ide-idenya, mereka tidak menggunakan rational appeal, tetapi “kepercayaan” (theological believe). Ini melahirkan sikap-sikap apriori terhadap ide-ide lain. Mereka bisa menolak sebuah ide hanya karena ide itu “tidak diajarkan agama mereka”, alih-alih melontarkan argumen/bantahan rasional. (Dalam adu argumen, melibatkan unsur theological believe adalah sebuah fallacy, karena itu bersifat subjektif dan tidak terukur). Contoh faktual adalah pada perdebatan mengenai Ahmadiyah beberapa waktu lalu.

2. Selalu menyalahkan pihak luar, dalam hal ini adalah barat, khususnya Amerika dan Yahudi, untuk semua keterpurukan yang dialami Muslimin. Jarang mereka introspeksi diri dan melihat ke dalam serta memberi otokritik. (Otokritik sering dilakukan kelompok progresif seperti JIL, namun hampir tidak pernah dilakukan kelompok radikal. Ketidakmauan memberi otokritik telah dikritik oleh Irshad Manji, penulis Muslim yang menulis buku “Beriman Tanpa Rasa Takut”).

3. Sempit. Seringkali memaknai kata “jihad” sebagai “perang fisik” terhadap orang kafir yang memusuhi Muslimin (liciknya, istilah itu tidak dipakai untuk kasus di mana umat Muslim membantai saudaranya di Sudan dan Somalia. Baca tulisan saya.). “Jihad” artinya berjuang di jalan Allah, banyak cara dan luas maknanya. Sementara padanan kata “perang” dalam bahasa Arab adalah Qital. Membantu korban banjir, kampanye anti korupsi, rehabilitasi pecandu narkoba, bagi mereka bukan “jihad”. Tapi membunuh orang kafir yang memerangi Muslimin, adalah jihad.

4. Cenderung memahami ajaran agama secara tekstual, dan bukan kontekstual.

5. Rasa kemanusiaan yang cenderung terbatas khususnya pada “saudara seiman” yang dibantai kaum kafir saja. Dalam kasus Muslimin terbunuh di Palestina oleh tentara Israel, mereka berang. Tapi puluhan biksu-biksu dibantai di Myanmar, mereka diam saja. Perang Irak-Iran (antara Sunni-Syiah) sepanjang 80-an menelan jutaan Muslim, terutama warga sipil, karena “sesama Muslim”, mereka kurang bereaksi. Dan entah sudah berapa juta orang tewas di Sudan akibat perang saudara \ yang sudah berlangsung bertahun-tahun, tak ada reaksi berarti dari kelompok Islam keras. Oleh karena itu, menurut Prof. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, boleh jadi korban jiwa akibat perang saudara sesama Muslim sepanjang abad di timur-tengah dan Afrika sebenarnya jauh lebih banyak daripada korban jiwa Muslim akibat perang dengan “kaum kafir”, yaitu AS dan Israel.

6. Keyakinan yang berlebihan terhadap agama sehingga memunculkan sikap arogan, paling benar, paling mulia, superior, dan merasa berhak menguasai dunia. Inilah sebab mereka tidak suka ide kesetaraan derajat (egality), karena arogansi dan rasa paling mulia di antara umat lain. Bila mereka mayoritas, mereka berniat memaksakan “aturan agama” ke ruang publik. Bila minoritas, mereka berniat memisahkan diri seperti terjadi di India, Thailand selatan, dan Filipina. Atau paling halus, sebentuk “otonomi khusus”. Umat lain dipandang sebagai “musuh” yang inferior sebelum mereka tunduk di bawah ideologi Islam dan berstatus “dhimmi”.

7. Anti kritik, dan oleh karenanya mereka juga anti kebebasan berpendapat. Karena mereka merasa sebagai “wakil dari sebuah agama yang mulia”, maka kritik terhadap kebijakan mereka dianggap kritik terhadap agama. Dan kritik terhadap agama seringkali dipandang sebagai penistaan agama. Tapi, karena mereka merasa berada dalam keyakinan yang paling benar, maka kritik mereka terhadap agama lain tidak dipandang sebagai penistaan agama, melainkan “syiar kebenaran” yang tidak boleh diganggu gugat. Barangsiapa yang mempersoalkan kekritisan mereka terhadap agama lain, dianggap menggugat syiar kebenaran.

8. Selalu memposisikan umat Muslim sebagai “umat yang tertindas” dalam peradaban dunia. Dan yang menindas itu digambarkan adalah orang kafir. Modus “umat tertindas” ini adalah propaganda klasik yang juga digunakan orang Yahudi sebagai justifikasi mereka membangun negara Israel. Modus ini “enak digunakan” karena bersifat sentimentil dan sangat provokatif, membangkitkan rasa persatuan dan semangat perlawanan terhadap yang menindas karena perasaan “tertindas” itu.

9. Pada level kroco di internet, mereka lebih suka copy-paste artikel yang sepaham daripada menulis opininya sendiri untuk mengisi blognya, atau dikirimnya ke sebuah mailinglist.

10. Provokasi dengan mengutip fakta di luar konteks. Terutama fakta yang disajikan dalam foto. Mereka tidak menuliskan caption foto sesuai standar jurnalistik (5W +1H) melainkan kata-kata provokatif, seperti: “lihatlah apa yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin” yang disematkan pada gambar Masjid yang luluh lantak akibat perang, atau foto korban-korban Muslim yang tewas, atau penyiksaan tawanan Muslim. Kalau caranya begitu, lawan mereka dengan mudah dapat melakukan hal yang sama, contohnya film “Fitna” yang dibuat Geert Wilders. Tapi mereka menghujat Wilders karena perbuatannya.

Demikian pola pikir “khas” kaum fundamentalis berdasarkan pengalaman nyata penulis berdiskusi. []

Tagged with: