Sapere aude!

Ahmadiyah dan Tudingan Sesat

Posted in Commentary by Rinaldi on August 10, 2008

Mirza Ghulam Ahmad, Nabi umat Ahmadiyah.

Oleh Rinaldi

DALAM perspektif teologi dan iman penganut Ahmadiyah (sebagaimana standar berpikir ini juga dipakai oleh MUI dkk dalam memandang Ahmadiyah), barangkali “Islam mainstream” (istilah yang digunakan sekedar membedakannya dengan “Islam Ahmadiyah” dalam tulisan ini) telah dipandang melecehkan Islam karena menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Jika kita benar-benar memahami dan mengakui azas kesetaraan derajat manusia (egality) serta menjunjung tinggi azas fairness, kita akan sadar, bahwa penganut Ahmadiyah berhak mengatakan itu di muka publik sebagaimana Muslim mainstream (dan umat agama apapun) merasa berhak menyatakan klaim keimanannya di muka publik (DUHAM pasal 18).

Selain soal azas kesetaraan derajat dan fairness, pendapat di atas juga didasari dari pemahaman bahwa soal “iman”, bagaimanapun bentuk dan apapun namanya, adalah ranah subjektif. Kebenaran suatu konsep keimanan kembali kepada mereka yang meyakininya. Dan mengingat keniscayaan pluralitas manusia, maka dalam hal ini, tidak etis jika ada sekelompok manusia menjadikan perspektif teologinya sebagai “standart publik” mengenai kebenaran, yang harus diterima kelompok lain, misalnya dalam bentuk SKB atau lainnya.

Bagi penganut Ahmadiyah, Islam adalah sebagaimana yang mereka yakini sekarang. Meskipun itu keliru menurut teologi Islam mainstream, tapi tidak keliru secara kemanusiaan. Karena pada dasarnya, penganut Ahmadiyah berada dalam posisi kemanusiaan yang setara dengan penganut Islam mainstream. Dalam “kesesatan teologisnya”, penganut Ahmadiyah tidak menjadi “less human” di mata manusia lain. Umat Ahmadiyah memiliki hak moril untuk meyakini ajarannya dan mensyiarkannya di muka publik sebagaimana Muslim mainstream dan penganut agama lain melakukannya. Toh Islam mainstream juga dipandang keliru dan “menyesatkan” dalam teologi Ahmadiyah.

Tudingan “penistaan agama” (juga “meresahkan masyarakat” dan sebagainya yang bersifat subjektif) adalah justifikasi yang longgar dan fleksibel untuk memberangus pandangan, aliran, pendapat, yang tidak disukai oleh kelompok-kelompok yang menyukai kekerasan.

Pilihan yang diberikan MUI dkk terhadap kelompok Ahmadiyah untuk kembali ke “Islam yang benar” atau menyatakan diri keluar dari Islam dan membuat aliran baru, adalah wujud kesewenangan dan superioritas suatu kelompok iman tertentu terhadap kelompok iman yang lain. Dalam hal ini, MUI telah menjadikan perspektif keimanannya sebagai “standar kebenaran” yang harus diterima publik Ahmadiyah dan umum, serta mencatut nama “Islam” seolah itu adalah miliknya. Sehingga barangsiapa yang “tidak seiman” dengan MUI dkk, dicap bukan Islam dan tidak berhak mengaku Islam. []

Tagged with:

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bhrahmantya said, on September 29, 2008 at 9:46 am

    maaf bukan bermaksud apa2, tapi harapan saya bahwa sodara tidak beraffiliasi pada satu pihak ternyata mulai redup. Mohon konsistensinya dengn apa yang sodara yakini

  2. falach said, on October 12, 2008 at 2:23 am

    opini gue…

    boleh aja ahmadiyah pake ajarannya,tpi jangan angkat nama islam,karena ajaran ahmadiyah jelas beda banget sama ajaran islam yang berdasarkan al-quran dan al-hadist,….

    fatwa mui kalo ahmadiyah kudu keluar dari islam (buat agama baru.red)…itu bukan hanya pendapat mui aja (cos u sebut itu sebagai suatu superioritas doank),…..kami smua (umat islam sedunia) setuju banget kalo ahmadiyah = agama bukan sebagai suatu organisasi (ato apaan lah ga tau gue),dibuat sebagai suatu agama baru……

    nih tak kasih contoh

    jika anda seorang kristen
    ada temen anda(org krist jg) buat ajaran baru, kitabnya bukan al-kitab,bahkan menyebut2 bahwa Yesus tuh bukan tuhan yang asli,ngubah2 sejarah sesuai keinginan dia…

    nah kalo kejadean gtu apa bisa diterima.???

    thank’s be 4

    whahahah ilmu agama cetek aja ngoment ( gue )

  3. moonlight_sonnata said, on October 12, 2008 at 4:13 am

    iya tuh, sekarang ini contohnya lagi yg sedng marak adalah “Jesus Mosque” dimana orang2nya sembahyang seperti orang muslim tp mengikuti ajaran Yesus dan menyembah Yesus. Ini yg dinamakan hybrenasi antara Kristen & Islam. Tapi orang2 Kristen sendiri tidak megakui org2 tersebut sebagai saudara seiman, begitu jg org2 Islam. Tidak bisa begitu, me-nambah2 sesuatu dlm sebuah ajaran keagamaan. Makanya kan dulu jg org2 Catholic yg punya pemahaman beda bikin kelompok sendiri yg lalu dinamakan Protestant kan bgt.

  4. katarinaldi said, on October 12, 2008 at 5:33 am

    Soal “aliran sesat” dalam agama Kristen, itu udah berita basi. Ente tau nggak, di Kristen juga ada aliran yang disesatkan oleh pandangan mainstream, namanya Saksi Jehovah. Tapi pada hakikatnya, “kesesatan teologis” adalah urusan vertikal, jadi cuma Tuhan saja yang berhak menghakimi, bukan manusia.

    Ahmadiyah mau ngaku apa kek, biarin aja. Lah mereka yang punya mulut…. Yang penting, institusi formal Islam (misal MUI) tidak usah mengakui keislaman Ahmadiyah. Gitu kan beres…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: