Sapere aude!

Buku “Beriman Tanpa Rasa Takut”; Irshad Manji, Mimpi Buruk Bagi Osama bin Laden

Posted in Counter fundamentalism, Review by Rinaldi on August 10, 2008
Cover buku

Cover buku "Beriman Tanpa Rasa Takut".

Oleh Rinaldi

BERANI dan inspiratif, itu kesan pertama yang muncul setelah membaca buku ini.

Irshad Manji menuai banyak kecaman dari kelompok-kelompok konservatif-radikal. Ia sering mendapat ancaman pembunuhan karena pemikirannya yang dinilai terlampau progresif. Nasibnya hampir sama dengan Ayaan Hirsi Ali. Namun lebih beruntung dari Faraj Fouda karena ia tinggal di Kanada yang bebas, bukan Mesir. Atas segala tulisannya, Irshad dijuluki sebagai “mimpi buruk bagi Osama bin Laden”. Dan Irshad menganggap itu sebagai pujian.

Dalam buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, yang berjudul asli “Faith Without Fear: A Challenge to Islam Today”, Irshad menyeru dunia Islam saat ini untuk kembali menghidupkan tradisi ijtihad dan kebebasan berpikir. Dia menolak tafsir-tafsir literal yang dimonopoli oleh segolongan Mullah atau kelompok ulama tertentu. Irshad mengingatkan kaum Muslim bahwa zaman keemasan Islam pada abad pertengahan adalah zaman di mana ijtihad dan kebebasan berpikir sangat dihargai. Ibnu Rusyd, ilmuwan Muslim terkemuka, telah mengajukan konsep kesetaraan gender. Ibnu Khaldun mengajukan teori evolusi biologi. Jalaludin Rumi banyak menulis syair-syair yang pluralistis. Dan Ibnu Sina, ilmuwan besar yang sering dibangga-banggakan kaum Muslimin, adalah seorang penganut Mu’tazilah, -paham yang mengutamakan rasionalisasi ajaran agama- yang kini dianggap sesat. Kejayaan Islam justru diredupkan kemudian oleh ulama-ulama konservatif seperti para ulama Ottoman yang melarang observatorium dan percetakan buku.

 

Irshad Manji.

Dalam bukunya, Irshad Manji juga menceritakan pengalaman masa kecilnya yang kurang menyenangkan pada sebuah Madrasah di Richmond, Kanada. Madrasah  dalam sebuah komunitas yang bebas, namun lebih memilih otokrasi dan dipimpin oleh seorang guru agama yang kolot. Posisi perempuan seringkali tidak beruntung pada beberapa bentuk pemahaman Islam, bahkan di negara yang bebas sekali pun. Irshad adalah salah satu korbannya. Irshad memang tidak seekstrim Hirsi Ali yang kemudian memilih meninggalkan Islam. Dia tetaplah “A faithfull Muslim”, sebagaimana dinyatakan pada halaman pertama bukunya. Namun sebagai Muslimah, langkahnya sangat berani. Irshad dengan lantang menentang kekejaman, kekerasan, dan diskriminasi atas nama Allah.

Secara esensial, “ijtihad” adalah penting, tidak hanya bagi Muslim namun  bagi setiap penganut agama yang berakal dan berjiwa progresif. Islam mengajarkan, jika pun salah, sebuah upaya ijtihad akan mendapatkan 1 pahala. Dan jika benar, dapat 2. Ini adalah indikasi bahwa agama menghargai upaya untuk berpikir maju.

Bukunya telah terbit di 30 negara dalam berbagai bahasa. Tidak sedikit kelompok konservatif yang menentang penerbitannya. Namun, Irshad berharap banyak pada Muslim di Indonesia yang dinilainya lebih potensial progresif daripada Muslim di timur-tengah. Irshad bahkan pernah menyeru dunia barat untuk melihat Islam di Indonesia yang cenderung lebih “ramah”, dan tidak melulu pada timur-tengah.

Akhir kata, buku ini bagus untuk semua orang yang menginginkan progresifitas dalam kehidupan beragama, sekaligus menjadi pecut dan “mimpi buruk” bagi mereka yang konservatif. []

PS: Buku diterbitkan oleh NUN Publisher, dan sudah tersedia di toko-toko buku di Indonesia.

 

Tagged with:

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ahmad aljambi said, on October 20, 2009 at 10:36 am

    Your writings reminds me of “the old me”.Gagasan-gagasan yang menyebar ke mana-mana namun tak dalam-dalam juga.Terlalu banyak dijejali pemikiran dekonstruksif ala post-strukturalis…merasa kalau semuanya bisa dibongkar, hingga yang tersisa hanyalah kosong dan kekosongan.Saya yakin anda belum banyak mengetahui tradisi keilmuan Islam, bahkan yang namanya “Filsafat Islam” sendiri pun anda belum sepenuhnya paham. Anda belumlah kenal dengan Ibnu Rusyd, Ibnu Kaldun apalagi bisa akrab dengan Maulana Jalaluddin Rumi. Anda pun tak tahu tentang sejarah dinasti Utsmani dan bagaimana kehidupan di zaman Utsmani. Sen cok bilmiyorsun…

  2. Rinaldiwati said, on October 20, 2009 at 5:06 pm

    Ahmad aljambi :

    Your writings reminds me of “the old me”.Gagasan-gagasan yang menyebar ke mana-mana namun tak dalam-dalam juga.Terlalu banyak dijejali pemikiran dekonstruksif ala post-strukturalis…merasa kalau semuanya bisa dibongkar, hingga yang tersisa hanyalah kosong dan kekosongan.Saya yakin anda belum banyak mengetahui tradisi keilmuan Islam, bahkan yang namanya “Filsafat Islam” sendiri pun anda belum sepenuhnya paham. Anda belumlah kenal dengan Ibnu Rusyd, Ibnu Kaldun apalagi bisa akrab dengan Maulana Jalaluddin Rumi. Anda pun tak tahu tentang sejarah dinasti Utsmani dan bagaimana kehidupan di zaman Utsmani. Sen cok bilmiyorsun…

    Mohon maaf, justru komentar anda di atas yang sebenarnya omong kosong. Lo kenapa? Karena isinya cuma penghakiman bahwa saya “begini-begitu” dan sebagainya alih-alih memberi pendapat singkat atas topik di atas. Sebenarnya saya paling sebal dengan komentar-komentar seperti anda, karena “susah” ditanggapi. Karena pointnya cuma penghakiman tanpa alasan, seperti menuduh orang mencuri, tetapi tidak memberi penjelasan dia mencuri apa, kapan, di mana, dst.

    Soal Ibn Rusyd dkk, apa dasarnya anda menuduh saya belum kenal Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, Jalaludin Rumi, dan sebagainya? Dan apa relevansinya dengan topik mengenai buku yang ditulis Irshad Manji di atas?

    Soal “filsafat Islam”, istilah ini pun menarik dan kebetulan anda menyinggungnya. Saya mau tanya, apa sih yang dimaksud dengan “filsafat Islam”?

    Kemudian, apa pula yang dimaksud dengan “ilmuwan Islam”?

    Ambil contoh Ibn Khaldun, apakah beliau bisa disebut “ilmuwan Islam”? (atau mungkin lebih tepat “ilmuwan yang beragama Islam”?) Silakan dijawab, kalau perlu beri email anda supaya bisa konsisten timbal balik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: