Sapere aude!

Mitos “Palestina”

Posted in Discourse by Rinaldi on August 10, 2008

Menorah - Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

APA yang terpikir di benak masyarakat ketika mendengar kata “Palestina?” Sebagian besar akan berpikir tentang suatu wilayah di timur tengah yang dinamakan Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang diduduki Israel pada tahun 1967. Sebagian lagi mungkin akan mengatakan seluruh wilayah Israel, termasuk Tepi Barat dan Gazalah “Palestina” itu.

Namun sejarah mencatat, “Palestina” awal mulanya adalah sebutan untuk suatu daerah di pesisir pantai laut Mediteranian (dekat wilayah Gaza sekarang), yang dihuni oleh suatu suku pribumi, lebih dari 1200 tahun sebelum Masehi. “Philistea”, begitu disebutnya.

Setelah keluar dari Mesir, orang Yahudi (keturunan Ibrahim dari Ishak) mulai memasuki wilayah Philistea pada 1250 SM, dipimpin Yosua yang menggantikan Musa. Mereka kemudian mendirikan kerajaan besar di sebelah timur Philistea (sekarang bernama Tepi Barat). Pasca pemerintahan Raja Solomon, kerajaan mereka terbagi menjadi dua, Israel di sebelah utara dan Yudea di sebelah selatan. Daerah yang sekarang disebut “Tepi Barat”, waktu itu bernama Samaria (sebelah utaranya) dan Yudea (sebelah selatan). Bukan “Palestina”.

Pada tahun 70 M, Romawi yang menguasai Yudea dan sekitarnya berniat menghapuskan “ciri keyahudian” dari daerah tersebut. Selain menghancurkan kuil Yahudi (Solomon’s Temple) mereka mengganti nama daerah tersebut dari Yudea menjadi “Palaestina”. Inilah awal mulanya daerah Tepi Barat disebut “Palestina” hingga sekarang, menggantikan nama “Yudea”. Romawi juga mengganti nama kota Yerusalem dengan “Aelia Capitolina”, namun nama baru itu tidak bertahan lama. Kebijakan ini disertai dengan “ethnic cleansing” terhadap umat Yahudi yang menyebabkan banyak orang Yahudi terusir ke luar Yudea.

Di bawah komando Khalifah Umar, bangsa Arab memasuki wilayah Yudea (Tepi Barat) pada abad ke 7 Masehi. Sejak itu, etnik dan bahasa Arab mulai mendominasi wilayah tersebut hingga sekarang. Mereka membangun sebuah Masjid yang dinamakan “Al Aqsa” di tempat bekas kuil Yahudi yang dihancurkan oleh Romawi, dan mengklaimnya sebagai tempat suci bagi agama Islam meski Yerusalem tidak satupun disebut dalam Al Quran, dan tak ada bukti historis -kecuali klaim keimanan berdasarkan kisah Isra’ Mi’raj- bahwa Nabi Muhammad pernah ke Yerusalem.

Kecuali kerajaan Israel dan Yudea, wilayah “Palestina” tidak pernah menjadi suatu daerah dengan otonomi tersendiri dan hanya merupakan bagian dari suatu imperium besar yang silih berganti menguasainya selama ribuan tahun. Imperium terakhir yang menguasainya adalah Turki Ottoman, yang mengalami kekalahan dan ‘bubar’ pada perang dunia I. Setelah itu Inggris dan Perancis memegang kendali di wilayah Palestina dan sekitarnya. Saat ini, pecahan wilayah Turki Ottoman menjelma menjadi Turki modern, Suriah, Lebanon, Israel, dan Yordania. []

Kesimpulan:

(1) Etnik Arab bukanlah penduduk asli Tepi Barat dan Gaza.

(2) “Palestina” awal mulanya adalah nama daerah kecil di pesisir mediteranian, bukan sebutan untuk Tepi Barat atau seluruh wilayah Israel.

(3) “Tepi Barat” dahulu bernama Samaria (utara) dan Yudea (selatan).

(4) “Tepi Barat” berubah menjadi “Palestina” semenjak penyerbuan oleh Romawi di bawah Jend. Titus pada 70 M.

(5) Etnik dan bahasa Arab mulai mendominasi wilayah tersebut semenjak invasi Khalifah Umar pada abad ke 7 M.

(6) Etnik Yahudi lebih dulu ada di Tepi Barat, dan itulah sebabnya daerah itu dulunya disebut “Yudea”.

(7) Dalam konteks politik modern, Israel pada 1967 tidak merebut Tepi Barat dari “orang Palestina”, tapi dari Yordania.

(8) Bahkan Yasser Arafat pendiri PLO, bukan “orang Palestina” apalagi lahir di Tepi Barat, tetapi etnik Arab yang lahir di Mesir.

(9) Konsep negara “Palestina” tidak pernah ada secara kongkret dan tidak akan pernah ada, bahkan etnik Arab tidak pernah memegang kendali secara eksklusif atas wilayah tersebut.

(10) Bangsa Yahudi pernah memegang kendali eksklusif atas wilayah tersebut waktu jaman raja Saul, Daud, dan Solomon. []

Tagged with:

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. tuturtawa jejak said, on August 11, 2008 at 6:43 pm

    bagus…
    mempelajari sejarah akan banyak membantu kita melihat duduk perkara sebenarnya. [ tuturtawa-jejak.blogspot.com ]

  2. katarinaldi said, on August 13, 2008 at 2:09 pm

    Ya, benar..

    Saya perhatikan, generasi muda kita, khususnya Muslimin Indonesia, kebanyakan cuma tahu konflik Israel-Palestina (atau Israel-Arab) secara sepotong-potong. Banyak dari mereka taunya cuma “Yahudi menindas kaum Muslim”, atau “Israel merampas tanah warga Palestina”. Seolah mereka nggak tau kalo negara-negara Arab pun punya “dosa” terhadap warga Palestina. Salah satunya adalah tidak mau peduli terhadap nasib pengungsi Palestina. Padahal negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, adalah negara yang kaya.

    Dalam hal ini beda dengan Israel. Waktu pecah perang 48, orang Yahudi yang ada di negara-negara Arab diusir oleh pemerintah setempat dan otomatis banyak yang menjadi pengungsi. Tapi pemerintah Israel langsung menampung mereka di Israel sehingga masalah pengungsi tidak berlarut-larut.

  3. BHRAHM said, on September 29, 2008 at 3:15 pm

    Terima kasih atas ulasan sejarahnya :)

  4. wannaheaven said, on November 10, 2008 at 3:45 pm

    kesimpulannya banyak, tapi sayangnya justru melupakan (entah sengaja atau tidak) SATU prinsip mendasar: PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA 60 TAHUN TERAKHIR OLEH KELOMPOK POLITIK ZIONIS TERHADAP SEBUAH BANGSA YANG MERDEKA, YAITU BANGSA PALESTINA.

    Karena prinsip HAK ASASI MANUSIA ini begitu mendasar dan justru tercecer entah dimana, maka semua argumen lainnya yang coba ditulis oleh penulis menjadi lembek dan kehilangan landasan berpijak.

    salam hangat

  5. Rinaldiwati said, on November 10, 2008 at 4:05 pm

    @ Wannaheaven:

    Pemahaman anda terhadap kronologis sejarah Arab-Yahudi kurang tepat…

    Begini:
    Sebelum negara Israel berdiri, “tepi barat” atau yang anda kenal dengan “Palestina” dan wilayah sekitarnya (yang sekarang negara Yordania, Suriah, dan Lebanon) bukanlah wilayah yang memiliki kedaulatan sendiri. Wilayah itu selama ratusan tahun termasuk dalam kekuasaan Turki Ottoman. Setelah Ottoman runtuh, sebagian dari daerah tersebut (sekarang negara Yordania dan Israel) berada dalam “British Mandate”, yang kemudian berdasarkan partisi PBB tahun 1947 Tepi Barat menjadi milik Arab (bukan milik Yahudi) sementara Yerusalem menjadi area internasional di bawah PBB. Yahudi mendapatkan wilayah di sebelah baratnya yang gersang dan tandus. Atas perjanjian partisi ini, pihak Yahudi SETUJU atas wilayah gersang tersebut, namun pihak Arab menolaknya, sehingga terjadilah perang Arab-Israel pada tahun 1948.

    Peperangan berakhir oleh kemenangan Israel, dan hasil dari peperangan itu adalah diokupasinya sejumlah wilayah Arab oleh Israel. Namun Tepi Barat secara keseluruhan masihlah di bawah kekuasaan etnik Arab, dalam hal ini menjadi bagian dari negara Yordania.

    Kota Yerusalem berubah nasib, dari wilayah internasional di bawah PBB, menjadi milik Yordania di bagian timur dan milik Israel di bagian barat.

    Selama Yerusalem timur di bawah kekuasaan Yordania (1948-1967), umat Yahudi TIDAK DIPERBOLEHKAN memasuki Yerusalem barat untuk berdoa di “tembok ratapan” (bagian barat kompleks Haram el-Sharif/Dome of the Rock).

    Tahun 1967, terjadi lagi peperangan besar yang dipicu oleh provokasi Arab (pres. Gammal Abd Nasser berulangkali mengancam akan mengenyahkan Israel di media-media).

    Pihak Arab yang terdiri dari Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir, dibantu Arab Saudi dan Irak berkoalisi untuk menghancurkan Israel.

    Israel menjawabnya dengan tindakan “pre-emtive strike” yang kemudian meluluhlantakkan negara koalisi tersebut dalam waktu hanya 7 hari.

    Israel menang dan berhasil mengokupasi Sinai dan Gaza dari Mesir, Golan Height dari Suriah, dan Tepi Barat dari Yordania (jadi “tepi barat” dahulu bukan negara merdeka bernama Palestina, melainkan bagian dari negara Yordania. “Negara Palestina” (the state of Palestine) tidak pernah eksis. Sejak perang 7 hari itu, Yerusalem sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Israel.

    Israel merayakan besar-besaran okupasi terhadap Yerusalem tahun 67, karena mereka bisa beribadat di “tembok ratapan” kembali.

  6. unknown said, on December 24, 2008 at 4:25 am

    bs sbutkan bbagai sumberny? dpt dprcaya?

  7. Immanuel Hutasoit said, on June 26, 2012 at 1:08 pm

    nice info. beberapa yang bertanya jelas sekali sudah punya sikap anti semit sehingga paparan yang sudah bagus yang anda berikanpun tetap saja dianggap salah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: