Sapere aude!

“Cyber Dakwah” dan Mentalitas Umat

Posted in Counter fundamentalism, Discourse by Rinaldi on August 11, 2008

Islamic facist.

Oleh Rinaldi

PERKEMBANGAN teknologi informasi yang makin menggiat selama dua dasawarsa terakhir, telah menciptakan perubahan pada banyak hal. Berbagai kalangan berlomba-lomba memanfaatkan teknologi canggih untuk berdakwah dan menyebarkan informasi. Ratusan juta manusia di seluruh dunia mengakses internet setiap harinya, dan jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Batas-batas negara pun memudar. Kini, tiap-tiap orang dapat bercakap-cakap face to face dengan orang lain di belahan dunia mana pun dengan biaya yang sangat murah, hanya sebesar biasa akses internet. Milyaran website yang menyediakan bermacam informasi eksis di dunia maya. Piringan DVD yang begitu ringkas dan berkapasitas relatif besar juga menjadi salah satu media yang memiliki andil besar dalam penyebaran informasi di era modern, melalui isinya yang dapat berupa sekedar data digital maupun gambar bergerak.

Fenomena ini rupanya menjadi perhatian beberapa kalangan Muslim seperti Farid Ma’ruf, seorang praktisi CyberDakwah yang berupaya menggiatkan dakwah Islam melalui penguasaan teknologi informasi. Melalui teknologi informasi, dakwah Islam diharapkan dapat menjangkau pelosok-pelosok bumi dengan cepat, dan diakses dengan mudah oleh khayalak luas. Media-media dakwah modern, menurut Farid, dapat berupa website yang menyajikan aneka informasi Islam. Kemudian dapat berupa film, digital library, dan software Islami. Media-media yang begitu menjamur sekarang ini, diharapkan berbagai kalangan Muslim dapat membantu memperkenalkan Islam ke segenap penjuru dunia, dan menepis pemikiran-pemikiran sekuler-liberal yang datang dari barat.

******

Namun sebenarnya, urgensi umat Islam secara mendasar bukanlah penguasaan teknologi informasi canggih sebagai media dakwah. Melainkan suatu perubahan paradigma berpikir besar-besaran, terutama mengenai cara memandang diri sendiri (Muslimin), ajaran Islam, dan kelompok lain yang dianggap kafir. Adalah menggelikan, ketika teknologi informasi canggih dikuasai kaum Muslimin, tetapi mentalitas keagamaan masih “mandeg” di abad kegelapan, dengan ajaran menghukum mati orang murtad, memingit wanita di rumah, memfatwa mati dan membunuh intelektual progresif Islam, anti kebebasan berpikir dan berpendapat, monopoli tafsir agama, dan kebijakan apartheid pemerintah Islam yang memisahkan antara “Muslim” dan “non-Muslim” (dhimmi).

Peradaban modern tidak dimotori oleh penguasaan teknologi canggih. Melainkan oleh mindset atau tata pikir. Secara mendasar, peradaban modern adalah peradaban yang menyadari keniscayaan pluralitas masyarakat manusia. Kesadaran ini diwujudkan oleh kesudian untuk hidup berdampingan bersama kelompok lain dengan semangat kesetaraan derajat manusia (egaliter), bukan hidup berdampingan namun dengan “semangat keumatan” (Islamisme) yang eksklusif dan rasa superior yang seringkali menimbulkan sikap-sikap tidak fair terhadap kelompok minoritas (non-Muslim). Atas dasar itu, maka peradaban modern pertama-tama membutuhkan suatu ideologi yang mampu mengakomodir pluralitas masyarakat, yang didasari dari kesadaran dan pengakuan atas kesetaraan derajat manusia (egality), bukan “hukum tuhan” dalam penafsiran sedemikian rupa yang cenderung mewakili umat tertentu saja.

Umat Muslim harus sadar, bahwa musuh sebenarnya bukanlah “barat” (yang secara sempit selalu diidentikkan dengan Kristen). Namun kebodohan, kemiskinan, jumudisme dan ekstrimisme beragama, dan terutama penyakit hati seperti iri dengki dan perasaan superior terhadap kelompok lain. Penyakit ini ada di mana-mana, baik pada masyarakat barat, maupun pada masyarakat Muslim sendiri, juga masyarakat di mana pun. Tetapi nampaknya kesibukan memerangi pemikiran barat, telah membuat umat Muslim lupa untuk memerangi pemikiran-pemikiran tidak sehat yang ada di dalam tubuh umat Muslim sendiri, sehingga tanpa sadar “penyakit pikiran” ini menjadi berkembang dan tentu saja menghambat progresifitas umat. Ingat, yang punya “sampah peradaban” tidak hanya barat saja dengan pornografi, ATM kondom, sex toys, dan narkobanya. Kaum Muslimin pun memiliki “sampah peradaban” yang tentu bahaya kalau bisa diakses lewat media dakwah modern; yaitu terorisme, eksklusifisme, dan jumudisme berkedok agama. Jangan lupa, banyak teroris lokal kita mempelajari “sampah” itu juga dari media-media dakwah modern.

******

Dakwah Islami melalui kecanggihan teknologi media informasi, jika tidak dilandasi mindset yang sehat dan fair, hasilnya adalah dakwah-dakwah bernada tendensius, semangat menyalahkan kelompok lain dan mengagungkan kelompok sendiri, dengan “musuh utama” pihak barat. Belum lagi adanya “kepentingan ideologis” di kalangan pendakwah yang berpotensi memicu ketimpangan informasi dan rasa alergi terhadap kritik, sehingga umat Muslim maupun audience umum mendapatkan informasi yang tidak proporsional dan semestinya dari para pendakwah Islam.

Syukur jika kebetulan rezim pemerintah yang menaungi pendakwah tersebut adalah rezim yang egaliter, bebas dan demokratis, ketimpangan informasi itu masih dapat diimbangi oleh media-media publikasi lain. Kekeliruan-kekeliruan informasi dan dakwah otomatis dapat bebas dikritik secara elegan. Namun, bagaimana jika rezim yang menaunginya adalah rezim Islam totaliter yang anti kebebasan pers, atau “rezim lembek” seperti pemerintah NKRI yang takut bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok beringas? Tentu pandangan-pandangan atau opini-opini kritis terhadap Islam akan mudah diberangus. Pencetusnya difatwa mati, atau minimal dikafirkan. Kelompok-kelompok dakwah yang menjadi “kompetitor” dibungkam, diserbu, atau minimal dibatasi aktivitas dakwahnya.

Di Indonesia, indikasi ke arah ini sudah terlihat meski mungkin tidak separah di rezim-rezim Islam di timur tengah. Dakwah-dakwah Islam garis keras melalui majalah, bebas beredar di kaki-kaki lima. Kritik-kritik teologis terhadap agama lain, bebas beredar di toko buku umum. Tidak jarang memuat judul provokatif yang menyinggung SARA, tanpa memikirkan perasaan umat agama lain yang ada di sana. Syukur kalau masyarakatnya relatif egaliter dan liberal, dakwah-dakwah tandingan dapat bersanding sejajar. Namun karena kondisi masyarakat kita yang sedemikian rupa, dakwah “panas” di kalangan umat agama lain sementara ini hanya dapat beredar terbatas pada kalangan sendiri. Bayangkan, jika “buku-buku panas” yang mengkritik Islam beredar bebas di toko-toko buku umum, bukan mustahil akan ada kelompok yang protes dan menuduhnya sebagai “penistaan agama”.

Jadi, sikap-sikap moderat, semangat liberal dan egaliter, mutlak menjadi dasar yang harus diterapkan sebelum memulai aktivitas dakwah dan penyebaran informasi melalui media-media modern yang ada. Sikap-sikap tersebut memastikan adanya kebebasan dan fairness di sesama “pendakwah”, baik pendakwah dari kalangan Muslim maupun kalangan non-Muslim. Adanya kebebasan dan fairness juga melindungi hak publik untuk mendapatkan infomasi yang benar dan proporsional. Kesadaran akan perlunya sikap-sikap tersebut di atas sudah sewajarnya dimulai dari bawah, untuk kemudian secara otomatis membentuk suatu “pemerintahan oleh rakyat” yang demokratis. []

Catatan: Mulanya ditulis untuk menanggapi artikel sdr. Farid Ma’ruf, kemudian dilengkapi untuk jadi karangan tersendiri. Diupload untuk mailinglist parapemikir@yahoogroups.com

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. BHRAHM said, on September 29, 2008 at 3:20 pm

    Mohon dikoreksi frase “abad kegelapan” :),,mungkin lain waktu saya beri alasannya

  2. BHRAHM said, on October 4, 2008 at 4:46 pm

    abad kegelapan,,,dark age,,,ini ditujukan untuk siapa? Islamkah ato Eropa?,,mohon jawabannya, kpn Islam mengalami Dark Age, sekalian diperinci juga sebab2nya menurut pendapat sodara,,,silahkan sodara buat artikel baru lagi sebagai penjelasan dari pertanyaan saya ini,apakah sama seperti pendapat sodara Ulil Abshar,sebab dengan memakai logika(naqli) pendapat terdahulu itu masih belum bisa “memuaskan akal” golongan yang lebih intelek,,he3x

  3. katarinaldi said, on October 11, 2008 at 2:50 pm

    Frase “abad kegelapan” bisa ditafsirkan sebagai abad kegelapan yang pernah dialami Eropa waktu dikuasai oleh institusi gereja. Waktu itu terjadi pemberangusan intelektual, monopoli tafsir keagamaan, dan sebagainya. Selain itu, “abad kegelapan” yang dimaksud di atas, juga bisa ditafsirkan sebagai metafor atas aneka praktik kejumudan berpikir yang didasari agama, dalam hal ini agama manapun, termasuk Islam.

    Umat Muslim pernah mengalami masa di mana Islam ditafsirkan dengan kejam dan sempit. Ambil contoh yang dekat, rezim Taliban di Afghanistan yang sedemikian rupa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: