Sapere aude!

Posisi non-Muslim dalam Khilafah

Posted in Commentary by Rinaldi on September 28, 2008

“Islam will dominate the world, freedom can go to hell”, apakah demonstrasi teriak-teriak sambil pasang muka sangar macam itu, bukan bagian dari “freedom?”

Author Rinaldi

INI opini singkat saja untuk mencermati bagaimana kedudukan non-Muslim dalam konsep Khilafah Islam.

Keistimewaan demokrasi dibandingkan konsep lain, adalah bahwa demokrasi memandang setiap manusia secara egaliter tanpa ada pembedaan dalam hal-hal yang fundamental dan “sensitif” seperti ras atau agama. Demokrasi memberi tiap-tiap individu hak dan kewajiban sosial dan politik yang setara, yang kemudian nilai-nilai ini dituangkan dalam draft deklarasi universal HAM pada tahun 1948. Sebuah pandangan yang “fair” dalam menghadapi pluralitas manusia.

Namun, membaca artikel di situs Hizbut Tahrir tentang posisi non-Muslim (ahlu dzimmah) dalam Khilafah Islam, bayangan kita akan nilai-nilai kesetaraan derajat manusia menjadi redup. Konsep Khilafah Islam, secara mendasar, memberi pemisahan yang jelas kepada warga negara berdasarkan jenis keimanan. Yaitu kelompok Muslim dan non-Muslim. Secara logis, konsekwensi dari pemisahan tersebut adalah adanya pembedaan hak. Dan pembedaan hak yang dimaksud terlihat pada bidang politik.

Di sisi lain, ide Khilafah memang menawarkan perlindungan fisik, kebebasan beragama, dan perlakuan adil di mata hukum kepada non-Muslim, ini patut kita akui. Namun bentuk diskriminasi Khilafah terletak pada pelarangan bagi non-Muslim untuk menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan, seperti menjadi pemimpin atau penentu kebijakan negara. Partisipasi non-Muslim dalam bidang politik hanya diperbolehkan sebatas menjadi anggota Majelis Umat, untuk “sekedar” menyuarakan aspirasinya, atau mengkoreksi perlakuan Khalifah jika dirasa melenceng dari ideal ajaran Islam. Kurang lebih sebatas itulah kritik yang boleh diberikan kepada pemerintah oleh non-Muslim. Tidak boleh melontarkan opini atau kritik yang bersifat “subversif”, seperti mempertanyakan secara kritis ideologi Khilafah Islam, apalagi mempropagandakan ideologi lain. Ini jelas berbeda dengan apa yang diperoleh aktivis Hizbut Tahrir dalam lingkup negara demokrasi.

Di bidang militer, non-Muslim mendapatkan “hak istimewa” untuk tidak ikut wajib militer, namun diperbolehkan jika mereka memang menginginkannya. Hanya saja, non-Muslim tidak diperkenankan memegang posisi-posisi penting dalam kemiliteran. Lebih dari itu, jika negara Islam diserang dari luar, maka kaum Muslimin wajib membela mati-matian kaum sipil dzimmi yang berada di wilayah negara Islam. Atas semua “jasa” perlindungan itu, non-Muslim diberi kewajiban membayar jizyah tiap tahunnya, yang besarnya ditentukan oleh negara. Jizyah ini semacam “pengikat” bagi non-Muslim untuk dapat berada di wilayah negara Islam dengan aman.

Atas pembedaan hak-hak itu, non-Muslim jelas-jelas menjadi warga negara kelas dua yang harus tunduk dan patuh pada institusi kekhalifahan. Praktis, tidak boleh ada opini-opini dan sikap-sikap politis yang berseberangan dengan kekhalifahan Islam.

******

Dalam perspektif nilai-nilai modern, pembedaan warga negara berdasarkan agama adalah konsep primitif yang tidak relevan lagi dengan kondisi zaman sekarang. Aktivitas politik yang secara otomatis bersentuhan dengan publik yang plural, pada prinsipnya tidak bisa melibatkan “keyakinan teologis” yang bersifat pribadi dan relatif. Untuk menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijak, tak ada hubungannya dengan kepenganutan terhadap teologi tertentu.

Perlindungan fisik, kebebasan beragama, dan perlakuan adil di mata hukum tidaklah cukup untuk “modal” menjadi manusia seutuhnya di era modern. Ada peningkatan “standar menjadi manusia”. Jika pada zaman-zaman kuno parameter pencapaian kesejahteraan manusia masih berkutat pada hal-hal yang bersifat fundamental seperti kemakmuran fisik, maka pada zaman modern standart pencapaian itu meningkat. Manusia modern membutuhkan “kemakmuran ideologis”, yang dalam hal ini diwujudkan dengan kebebasan mengemukakan ide atau pemikiran, dan terutama, “status sederajat” dengan individu lain. Pada sisi inilah konsep Khilafah nampak tidak peka dan sudah “merasa lengkap” hanya dengan memberi tawaran kemakmuran fisik dan keadilan hukum saja. Peningkatan standart ini, salah satunya didasari oleh kesadaran akan pluralitas manusia, baik pluralitas fisik-genetis maupun pluralitas pemikiran. Kesadaran akan pluralitas manusia dipicu oleh perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi. “Teknologi informasi”, ini sesuatu yang tidak ada di abad ke 7, inilah yang membedakan antara mindset manusia abad ke 7 dengan manusia abad ke 21.

Kita memang patut mengapresiasi tawaran perlindungan fisik, kebebasan beragama, dan perlakuan adil di mata hukum kepada non-Muslim dalam konsep Khilafah. Namun permasalahannya, tawaran tersebut tidaklah secara istimewa dimiliki oleh konsep Khilafah. Banyak konsep sekuler “buatan manusia”, juga menawarkan itu. Bedanya, jika Khilafah membagi dunia menjadi dua kubu “hitam putih” ; Muslim dan non-Muslim (baca: beriman dan kafir), maka demokrasi sebagai suatu konsep sekuler memandang semua manusia secara setara, yang memiliki hak dan kewajiban asasi yang sama. Demokrasi menyadari pluralitas manusia, serta menjadi wadah dan pemersatu bagi perbedaan itu. Kesetaraan derajat dalam demokrasi berlaku di semua bidang, tidak hanya ekonomi dan hukum, namun juga politik. Demokrasi memberikan tiap warganya hak-hak politik yang sama, tanpa membedakan latar belakang agama atau ras. Ini sesuatu yang tidak bisa diperoleh dalam konsep Khilafah. Dalam demokrasi, tiap manusia dapat merasa menjadi “manusia yang seutuhnya”, equal dengan yang lain, walau anda minoritas agama, suku, ras, atau pendapat. Ini adalah konsep yang fair dalam menghadapi pluralitas manusia.

Pendukung Khilafah harus sadar, di jaman modern mana ada yang mau berstatus “dzimmi”? Mana ada yang ingin menjadi warga negara nomor dua? Semua ingin berstatus “disamakan”, mendapatkan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang sama, tanpa pembedaan kesukuan atau agama. Menjadi non-Muslim dalam Khilafah Islam bagaikan hidup di sangkar emas. Makmur, physically protected, tapi pada esensinya “kelas dua”. Mau? []

Tagged with:

Hizbut Tahrir dan Kebebasan Berpendapat

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on September 25, 2008

Hizbut Tahrir Indonesia - Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

BENARKAH Hizbut Tahrir menghargai perbedaan pendapat?

Simaklah situs berikut ini: http://hizbut-tahrir.or.id/ , baca artikel-artikelnya, kemudian perhatikan aneka tanggapan yang hadir di sana. Semuanya bernada setuju terhadap artikel yang dimuat, dan kepada pandangan Hizbut Tahir pada umumnya. Dari fakta ini bolehlah kita berasumsi positif dulu bahwa memang tidak ada atau “jarang” ada penanggap yang berseberangan ideologi dengan HT. Namun bagi yang sudah berpengalaman memberi tanggapan kontra di situs tersebut, asumsi itu bisa dikatakan keliru.

Beberapa waktu yang lalu, saya memberikan sebuah counter-opinion untuk menanggapi sebuah artikel di situs HT. Sekian lama tidak kunjung di-approve. Saya beri lagi tanggapan senada pada artikel yang lain, dan nasibnya hampir sama. Dan begitu terus, hingga telah sekian banyak artikel di situs HT yang saya beri tanggapan kontra, tidak ada satupun yang diapprove. Saya masih mencoba berprasangka baik, mungkin redaktur masih sibuk dan belum sempat mengedit tanggapan yang masuk. Namun setelah saya analisa, ternyata tidak juga. Banyak penanggap yang tanggal uploadnya sama, atau bahkan lebih terkini, dimuat.

Setelah lebih cermat diteliti, nampaknya memang “ada yang salah” dengan redaksi situs HT. Bahwa memang tak ada satu pun komentar kontra yang dimuat. Jadi nampaknya bukan saya saja yang mengalami nasib demikian. Nah, yang jadi pertanyaan: ada apa dengan Hizbut Tahrir? Ada apa dengan pengikutnya? Ini jelas berbeda jika anda membaca artikel-artikel di situs http://islamlib.com/id , tanggapan terhadap artikel-artikel di situs itu sangat berwarna-warni. Baik yang pro maupun kontra dimuat. Redaksi memang tak perlu menampilkan semua komentar yang masuk, tapi dari komentar yang termuat rasanya tiap kelompok sudah terwakili. Kebebasan berpendapat demikian juga dapat disaksikan pada situs blog pribadi Ulil Abshar Abdalla, http://ulil.net/

Tentu kita harus sadar, kebebasan berpendapat tidak mengharuskan redaksi untuk memuat semua tanggapan yang masuk, juga bukan berarti penanggap bebas berkata-kata tidak sopan. Tetapi jika kenyataannya hanya tanggapan yang “enak didengar” saja yang dimuat, maka jelas sudah, tidak ada niat baik untuk bertukar pemikiran. Dengan sikap itu, redaksi situs HT terlihat ingin menciptakan kesan bahwa ide-idenya banyak didukung orang. Sehingga publik awam yang membaca artikel di situs tersebut dapat mudah dipengaruhi oleh “kebenaran ideologis” HT, tanpa tahu bagaimana celah dan kritik-kritik terhadap ideologi tersebut. Sikap mental ini tentu menjadi lebih berbahaya jika HT memegang kendali pemerintahan dengan “Daulah Khilafah”nya. Bisa dibayangkan, akan ada monopoli tafsir keagamaan, pemaksaan nilai-nilai, dan yang lebih parah namun mungkin terjadi adalah pembungkaman -bahkan fatwa mati – terhadap para pemikir yang ide-idenya -terutama mengenai agama Islam- berseberangan dengan “tafsir resmi” pemerintah. []