Sapere aude!

Amrozy cs, Mujahid atau Teroris?

Posted in Commentary by Rinaldi on November 9, 2008

Ibunda teroris.

Oleh Rinaldi

PAGI dini hari ini (Minggu 9/Nov), Amrozy cs sudah dieksekusi di Nusa Kambangan oleh satu grup regu tembak.

Sebagian Muslim pendengar Radio Elshinta yang berkomentar dini hari itu merasa “lega” dan bersyukur atas eksekusi tersebut karena menandakan ketegasan hukum terhadap kelompok teroris. Namun sebagian Muslimin yang lain, sebagaimana diberitakan oleh Radio Elshinta dan beberapa media online, menyesalkan eksekusi tersebut. Mereka cenderung membela Amrozy cs dan menganggapnya sebagai “pahlawan”. Bahkan di kediaman para pelaku, telah disediakan penyambutan besar-besaran dengan spanduk bertuliskan “Selamat Datang Syuhada”.

Adanya aksi pembelaan dan sikap simpatik ini memalukan, karena ketiga terpidana mati sudah mengakui perbuatan dan keterlibatan mereka dalam kasus bom Bali. Bahkan di berbagai acara dokumenter TV, para pelaku bom Bali menceritakan secara detail bagaimana mereka merencanakan aksi peledakan di Paddy’s Café.

Atas pembelaan dan dukungan simpatik tersebut, terlihat paradoks pemikiran kelompok fundamentalis. Sementara mereka mengecam pandangan dan sinisme terhadap Islam yang seringkali digambarkan menyukai kekerasan, namun di sisi lain malah membuktikan pandangan tersebut. []

Agama dalam Keluarga

Posted in Discourse by Rinaldi on November 1, 2008

keluargaAuthor Rinaldi

TAK bisa disangkal, sebagian besar masyarakat kita mendapatkan agama dari orang tuanya, dan akan mewariskan pada anak-anaknya di kemudian hari. Ada semacam aturan tidak tertulis, bahwa seorang anak secara otomatis mewarisi agama orang tuanya. Dengan demikian, setiap orang tua pastinya merasa berhak dan berkewajiban untuk mewariskan agamanya pada anak.

Kemudian, sudah barang jamak pula proses pewarisan agama pada anak itu dimulai semenjak si anak kecil. Belum 10 tahun, sang anak sudah “dipaksa” untuk mengakui dogma-dogma dan menyandang status penganut agama tertentu. Biasanya, status kepenganutan ini juga dipertanyakan dalam formulir pendaftaran sekolah. Dan biasanya pula, apa agama sang anak adalah bagaimana agama sang orang tua, jadi mudah saja ditebak.

Tradisi ini berkembang sedemikian rupa di sebagian besar masyarakat kita. Sehingga di kemudian hari, seringkali keputusan anak untuk pindah agama atau “murtad” menjadi sedemikian kontroversial dan menghebohkan dalam keluarga. Sudah banyak kisah, orang tua seakan menyesal dan marah mengetahui bahwa anaknya telah pindah agama. Atau, tentunya tidak mengizinkan/melarang keras niatan anaknya untuk berpindah agama.

Tradisi seperti ini sebenarnya merusak perkembangan pemikiran alamiah calon manusia, juga merusak nilai agama itu sendiri. Agama sebagai suatu konsep yang kompleks, yang harus dipahami secara komprehensif terlebih dahulu sebelum akhirnya dipertimbangkan, seolah begitu saja dapat diwariskan kepada seorang anak semenjak masih kecil, sebagaimana mewariskan barang. Agama jadi tampak “murah” dan sederhana. Tak perlu pencarian falsafati dan pengetahuan yang memadai untuk menganutnya. Bagaimana mungkin seorang anak tujuh tahun harus mengakui dogma semisal “Tuhan itu Esa dan Muhammad Rasulullah” atau “Yesus satu-satunya jalan keselamatan”, sedangkan kapasitas berpikir dia belum mencukupi untuk itu? Bagaimana mungkin seorang anak tujuh tahun disebut seorang Muslim, Kristen, atau Buddhist, di mana untuk klaim tersebut membutuhkan pengetahuan dan kapasitas berpikir yang cukup? Persoalan tuhan contohnya, untuk menolaknya saja dibutuhkan kapasitas berpikir yang pantas, apalagi untuk menerimanya. Apakah seorang anak kecil bisa menjawab dengan baik, apa alasan ia memilih Islam atau Kristen dan sebagainya? Masalah moralitas dapat saja diajarkan kepada anak-anak, karena memiliki nilai praktis yang universal. Tetapi dogma-dogma teologi?

Berangkat dari sini, bagaimana seharusnya menyikapi agama pada keluarga itu? Apakah agama itu memang seharusnya diwariskan, atau sebaiknya dicari? Apakah fair, jika orang tua melarang anaknya (yang sudah cukup umur) untuk berpindah agama? []

Tagged with: