Sapere aude!

Agama dalam Keluarga

Posted in Discourse by Rinaldi on November 1, 2008

keluargaAuthor Rinaldi

TAK bisa disangkal, sebagian besar masyarakat kita mendapatkan agama dari orang tuanya, dan akan mewariskan pada anak-anaknya di kemudian hari. Ada semacam aturan tidak tertulis, bahwa seorang anak secara otomatis mewarisi agama orang tuanya. Dengan demikian, setiap orang tua pastinya merasa berhak dan berkewajiban untuk mewariskan agamanya pada anak.

Kemudian, sudah barang jamak pula proses pewarisan agama pada anak itu dimulai semenjak si anak kecil. Belum 10 tahun, sang anak sudah “dipaksa” untuk mengakui dogma-dogma dan menyandang status penganut agama tertentu. Biasanya, status kepenganutan ini juga dipertanyakan dalam formulir pendaftaran sekolah. Dan biasanya pula, apa agama sang anak adalah bagaimana agama sang orang tua, jadi mudah saja ditebak.

Tradisi ini berkembang sedemikian rupa di sebagian besar masyarakat kita. Sehingga di kemudian hari, seringkali keputusan anak untuk pindah agama atau “murtad” menjadi sedemikian kontroversial dan menghebohkan dalam keluarga. Sudah banyak kisah, orang tua seakan menyesal dan marah mengetahui bahwa anaknya telah pindah agama. Atau, tentunya tidak mengizinkan/melarang keras niatan anaknya untuk berpindah agama.

Tradisi seperti ini sebenarnya merusak perkembangan pemikiran alamiah calon manusia, juga merusak nilai agama itu sendiri. Agama sebagai suatu konsep yang kompleks, yang harus dipahami secara komprehensif terlebih dahulu sebelum akhirnya dipertimbangkan, seolah begitu saja dapat diwariskan kepada seorang anak semenjak masih kecil, sebagaimana mewariskan barang. Agama jadi tampak “murah” dan sederhana. Tak perlu pencarian falsafati dan pengetahuan yang memadai untuk menganutnya. Bagaimana mungkin seorang anak tujuh tahun harus mengakui dogma semisal “Tuhan itu Esa dan Muhammad Rasulullah” atau “Yesus satu-satunya jalan keselamatan”, sedangkan kapasitas berpikir dia belum mencukupi untuk itu? Bagaimana mungkin seorang anak tujuh tahun disebut seorang Muslim, Kristen, atau Buddhist, di mana untuk klaim tersebut membutuhkan pengetahuan dan kapasitas berpikir yang cukup? Persoalan tuhan contohnya, untuk menolaknya saja dibutuhkan kapasitas berpikir yang pantas, apalagi untuk menerimanya. Apakah seorang anak kecil bisa menjawab dengan baik, apa alasan ia memilih Islam atau Kristen dan sebagainya? Masalah moralitas dapat saja diajarkan kepada anak-anak, karena memiliki nilai praktis yang universal. Tetapi dogma-dogma teologi?

Berangkat dari sini, bagaimana seharusnya menyikapi agama pada keluarga itu? Apakah agama itu memang seharusnya diwariskan, atau sebaiknya dicari? Apakah fair, jika orang tua melarang anaknya (yang sudah cukup umur) untuk berpindah agama? []

Tagged with:

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Rinaldiwati said, on June 14, 2009 at 4:46 pm

    Tips-tips Menghadapi Keluarga, Jika Ingin Pindah Agama

    Kebanyakan orang tua dan keluarga yang kolot seakan tidak rela jika anaknya atau salah satu anggota keluarganya berpindah agama. Persoalan ini sensitif dan seringkali terjadi di masyarakat kita, dalam latar belakang agama apapun. Untuk itu saya memiliki pendapat demikian:

    Pertama, pastikan anda telah cukup umur untuk pindah agama, misalnya anda berusia 20 tahun, itu cukup untuk orang normal. Artinya, anda sudah berkapasitas untuk “main-main” di wilayah beginian.

    Kedua, bukalah pikiran orang tua anda terlebih dahulu. Kampanyekan kepada orang tua anda tentang kebebasan, demokrasi, dan persamaan derajat manusia. Ajaklah orang tua anda berwacana mengenai hal ini. Ini adalah “paham dasar” yang membantu memuluskan persoalan anda.

    Ketiga, usahakan jangan mendeklarasikan agama baru secara mendadak. Kemaren-kemaren masih ikut kebaktian di Gereja, kok sekarang tidak. Kemaren-kemaren masih ikut ngaji, kok sekarang tidak, ini tentu akan terlihat aneh bagi keluarga anda. Tunjukkan ketertarikan anda kepada agama baru anda pelan-pelan dan bertahap, misalnya dengan membeli buku-buku berbobot tentang agama/aliran tersebut. Diskusikan isi buku itu dengan orang tua anda sebagai wacana, jadikan orang tua anda mitra diskusi dalam semangat demokrasi, persamaan derajat, dan kebebasan. Dari situ, anda bisa menilai bagaimana reaksi orang tua anda, bagaimana wawasan dan kapasitas berpikirnya. Jika mereka cukup open minded, berwawasan dan cerdas, meski mereka tidak sepaham dengan buku itu, mereka akan menanggapinya dengan elegan (tidak emosional). Ini adalah pertanda yang sangat baik, tapi sekaligus awal kerja keras anda mempertahankan paham anda, karena biasanya orang yang berwawasan akan kritis menghadapi persoalan macam ini, meski bersikap moderat dan liberal. Jika orang tua anda bersikap tertutup, konservatif, tanpa ba-bi-bu anda akan dipersalahkan dan dilarang membaca “buku-buku setan” tersebut. Jika begitu, jangan dulu melangkah lebih jauh, kritiklah sikap orang tua anda. Tunjukkan bahwa sikap-sikap semacam itu telah terjadi pada masa-masa kekuasaan otoriter Gereja-gereja di Eropa pada zaman dahulu, dan telah menciptakan banyak kerugian bagi perkembangan peradaban manusia.

    Anda tidak harus “menyalahkan” (baca: mengkritik) agama orang tua, untuk menunjukkan kebenaran pandangan/agama anda, tapi bisa saja anda tunjukkan bahwa anda mempunyai suatu pandangan tersendiri, yang berawal dari paradigma tersendiri yang berbeda dari pandangan dan paradigma yang dianut orang tua anda. Jika anda mengkritik/menyalahkan (bersikap ofensif, membuka front kontroversial), secara psikologis orang akan ambil sikap defense, apalagi ini masalah agama yang cenderung sensitif. Kritik yang ofensif seperti itu, sebaiknya anda lakukan dalam kondisi ketika orang tua sudah dapat menerima kemurtadan anda.

    Keempat, pastikan anda MATANG secara ideologis mengenai agama baru anda. Jadi anda luwes mempresentasikan agama baru anda dengan baik kepada orang tua, berikut alasan kenapa anda niat memeluk agama itu. Sehingga orang tua dan keluarga anda akan lebih dapat menerima/memahami, dibanding jika anda mengatakan “pokoknya saya menyukainya”. Sebaiknya hindari alasan-alasan yang berbau mujijat, seperti yang sering dikisahkan di mimbar awam. Misalnya, “Tuhan Yesus menjumpai saya dalam mimpi, dan menyembuhkan penyakit saya”, atau “Saya mendengar Adzan di dalam mimpi saya berulang-ulang, dan ada seseorang yang menuntun saya mengucapkan Syahadat”. Alasan seperti itu terkesan bodoh dan sok sensasional.

    Dan, jangan menggunakan standar ganda. Setelah anda berhasil mencapai tujuan anda, tetaplah bersikap demokratis, beri anak anda dan orang lain kebebasan agar mereka dapat menikmatinya sebagaimana anda menikmati kebebasan itu.

    Dengan memiliki alasan ideologis/filosofis yang jelas, orang lain akan simpatik dan lebih menghargai anda sebagai orang yang cakap dalam persoalan seperti ini. Bahkan bukan mustahil anda memiliki pengikut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: