Sapere aude!

Bush dan Sepatu

Posted in Commentary by Rinaldi on December 25, 2008

Insiden Bush.

Oleh Rinaldi

KENAPA orang begitu benci kepada Bush? Padahal Saddam Hussein punya lebih banyak dosa. Bush berkuasa baru dua periode (8 tahun), sedangkan Saddam sudah sejak 1979. George W. Bush setidaknya “lebih wajar” karena yang diserang dan dibunuh adalah warga negara lain. Sementara Saddam, membunuhi warga sipilnya sendiri (Kurdi, Syiah, dan lawan-lawan politiknya). Saddam Hussein terlibat dalam perang Irak-Iran (Sunni-Syiah) sepanjang 80-an, menggunakan senjata kimia, dan peperangan tersebut telah menewaskan kurang lebih 1 juta orang. Bush? Perang yang singkat dengan jauh lebih sedikit korban dibanding perang Irak-Iran. Tolong direnungkan: Apa yang Saddam perbuat kepada etnik Kurdi, Syiah, dan lawan-lawan politiknya selama puluhan tahun kekuasaannya?

Bush menyiksa tawanan perangnya di Abu Ghraib, Saddam Hussein lebih dulu menyiksa lawan-lawan politiknya di penjara itu.

Di Amerika ada kebebasan berbicara dan kebebasan pers, sehingga masyarakat di sana bebas mengkritik dan memprotes kebijakan Bush. Sedangkan di Irak? Tidak ada kebebasan pers, apalagi kebebasan berbicara. Media massa dikontrol oleh pemerintah dan otomatis tidak boleh ada opini kritis terhadap pemerintahan Saddam di media massa Irak. Oleh sebab itu rakyat Irak tidak bisa mendapatkan informasi yang fair dari media massa.

Bayangkan, jika seandainya yang duduk di podium saat itu bukan Bush tetapi Saddam Hussein, dan dia dikelilingi wartawan dari etnik Kurdi dan Syiah, mungkin lebih dari sepatu yang melayang ke podium. []

Advertisements

Tanggapan atas artikel “Derita Muslim Minoritas di India”

Posted in Counter fundamentalism by Rinaldi on December 1, 2008

[Pengantar: Tulisan saya di bawah ini merupakan tanggapan dari artikel di situs HTI yang berjudul “Derita Muslim Minoritas di India”. Terpaksa saya tulis tanggapan saya di blog ini untuk didiskusikan, karena mustahil memberi tanggapan kontra di situs fundamentalis. TIDAK AKAN PERNAH DIMUAT seberapa pun mutunya tulisan kita. Tapi walau bicara asal njeplak, asal idenya senada, maka bisa dimuat.]

Indian Muslim - Ilustrasi.

SAYA geli sekaligus jengkel membaca artikel pada link di atas. Ini adalah propaganda “khas” kaum fundamentalis. Cirinya: selalu memposisikan umat Muslim sebagai umat yang tertindas, sementara yang digambarkan menindas adalah umat non-Muslim. Dari situ, nampak penulis artikel berupaya membangun “sentimen keumatan” sekaligus kebencian terhadap agama lain. Terlihat ada upaya “pengkonfrontasian” pihak yang berkonflik berdasarkan agama.

Penulis artikel lupa (atau memang berpandangan sempit) bahwa konflik-konflik kemanusiaan menimpa banyak orang tak pandang bulu apa agamanya. Bantai membantai, bunuh membunuh, sudah terjadi sejak jaman kuda gigit besi dan terjadi di mana saja tanpa ada kecenderungan “hanya agama tertentu” yang menjadi korban. Baru-baru ini misalnya, biksu-biksu Buddha di Myanmar dibunuh dengan kejam oleh diktator di negara itu karena berdemonstrasi.

Zolim-menzolimi beraneka ragam polanya. Ada Muslim menzolimi non-Muslim (konflik di Darfur), ada Muslim menzolimi Muslim sendiri (perang Irak-Iran/HAMAS vs Fatah), non-Muslim menzolimi Muslim (konflik di Tepi Barat), non-Muslim menzolimi non-Muslim (pembantaian Bhiksu-bhiksu di Myanmar), dan seterusnya. Jadi tidak bisa dilihat secara sempit seolah hanya Muslim yang kerap jadi korban non-Muslim. Bahkan melibatkan “muslim” (atau penganut agama apapun) di sini secara akal sehat tidak relevan, karena penzoliman adalah penzoliman. Tak ada urusan jenis teologi apa yang dianut oleh terzolim maupun penzolim.

Propaganda “khas” seperti ini cenderung bersimpati terhadap konflik kemanusiaan jika kebetulan kaum Muslimin yang menjadi korban atas kezoliman umat non-Muslim. Ketika Muslim membantai saudaranya sendiri seperti perang saudara di Somalia atau perang Irak-Iran (yang menewaskan jutaan orang), atau invasi Irak ke Kuwait, atau penyiksaan lawan-lawan politik Saddam Hussein di Abu Ghraib, dan seterusnya, semangat protes mereka tidak sekeras ini. Apalagi ketika kaum Muslim membantai non-Muslim seperti konflik kemanusiaan yang terjadi di Darfur. Tetapi ketika ada puluhan Muslim tewas di Thailand selatan oleh kekejaman tentara setempat, maka semangatlah mereka bersuara untuk berjihad.

Sudah saatnya masyarakat berpikir secara luas, modern, dan rasional dengan memandang tragedi kemanusiaan sebagai tragedi kemanusiaan, sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan, bukan sebagai “konflik” antar agama tertentu dengan agama tertentu.

Subjektifitas dan “superioritas” keumatan juga sangat terlihat pada beberapa paragraf tulisan tersebut. Misalnya saja pada kalimat:

“Kehadiran Islam berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan orang-orang Hindu yang musyrik dan jahiliah. Pada era Islam, terdapat kebangkitan berbagai aspek kehidupan, ekonomi, pendidikan, politik, dan lainnya.”

Orang-orang Hindu “musyrik” dan “jahiliyah”? Wah, penulis agaknya kurang pengetahuan atau sengaja membodohi pembacanya dengan penghakiman asal bunyi.

Hinduisme itu agama tua, agama peradaban. Sejarahnya sudah ada sejak 5000 tahun SM. Hasil-hasil peradaban kunonya bisa dilihat dari penemuan kota tua Mohenjo Daro dan Harappa, kota tua yang membuat kagum para ilmuwan karena kota setua itu memiliki tata irigasi yang sangat modern untuk ukuran zamannya. Masyarakat India pada umumnya telah mencapai masa keemasannya jauh sebelum Islam lahir di jazirah Arab. Kitab Hindu disebut “Veda”, berasal dari kata “Vid” yang artinya “pengetahuan”.

Dari segi religi dan spiritual, perlu penulis ketahui, bahkan konsep “wihdatul wujud” yang seringkali dicetuskan para Sufi Islam, telah lebih dulu ada dalam agama Hindu. Silakan penulis baca kitab Upanishad, atau bacalah artikel tentang itu. Bagaimana mungkin penulis menghakimi bahwa Hinduisme adalah agama musyrik? Atau penulis memang belum tahu hal ihwal Hinduisme secara mendalam? Atau sengaja mendistorsi Hinduisme agar tampak “musyrik” hingga audiencenya tak tertarik mempelajarinya?

Demikian juga proses kelahiran agama Buddha pada 500 SM, merupakan wujud kemajuan intelektual dan spiritual masyarakat India pada waktu itu. Agama yang lahir lebih kurang 1000 tahun sebelum Islam tersebut ajarannya bersifat rasional dan banyak menginspirasi ilmuwan modern. Pandangan Siddharta mengenai konsepsi jiwa misalnya, paralel dengan pandangan filsuf Skotlandia yang lahir ratusan tahun kemudian, David Hume. Hingga 2500 tahun setelah kelahirannya, agama Buddha masih relevan dan banyak dipelajari serta dikagumi sarjana-sarjana barat, khususnya yang mempelajari agama-agama dan kebijakan timur.

Dan atas semua itu, penulis mengatakan masyarakat India pra-Islam adalah masyarakat jahiliyah? []