Sapere aude!

Antara keutuhan negeri dan budaya tak jelas <<– Tanggapan kepada surat Sdr. Ririh

Posted in Counter fundamentalism by Rinaldi on January 3, 2009

Pengantar

DI BAWAH ini adalah opini pembaca yang ditulis oleh sdr. Ririh Priyatna Jafar, yang dimuat di detik.com berikut tanggapan saya atas suara pembaca tersebut. Tanggapan  telah dikirim ke email pribadi sdr Ririh, dan telah pula diforward ke beberapa mailinglist untuk didiskusikan.

Jakarta – Beberapa bulan yang lalu kita mendengar isu konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia terkait dengan perebutan lagu Rasa Sayange atau apa yang terjadi di Indonesia mengenai perdebatan yang alot mengenai pengesahan Undang-undang (UU) Anti Pornografi.

Sungguh sangat mengherankan apa yang terjadi terhadap bangsa kita. Dengan alasan memperjuangkan demi rasa nasionalisme dan mempertahankan kebudayaan nasional sampai-sampai hubungan diplomasi Indonesia – Malaysia sempat tegang.

Hal yang sangat-sangat ironi para aktivis liberalisme dan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka dengan dalih demi keutuhan bangsa dan persatuan rakyat serta mempertahankan kebudayaan di Indonesia mereka selalu menolak UU Anti Pornografi dan Pornoaksi serta mengkampanyekan sekulerisme.

Jika kita teliti dengan cermat mereka tidak lain adalah sebagai musuh dalam selimut. Kita ambil contoh dalam kasus Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi. Orang-orang di Irian memakai koteka. Seharusnya mereka bisa menilai mana kebudayaan yang baik dan tidak. Di Irian seharusnya mereka diajarkan bagaimana memakai pakaian yang layak dan sempurna tidak malah telanjang (hanya menutpi kemaluannya saja).

Orang-orang yang memakai kemben seharusnya pula tidak dilestarikan sebab itu merupakan budaya zaman penjajahan yang dahulu mereka tidak memakai pakaian yang layak karena sulit mendapatkannya sehingga mereka memakai pakaian seadanya.

Hal yang lebih gila lagi mengapa mereka yang selalu berdalih demi keutuhan bangsa mereka tidak tergerak untuk menolak upaya asing untuk memecah belah negara kita. Contohnya kasus Timor Timur serta kasus sekarang asing selalu menginginkan lepasnya Aceh dan Papua lepas dengan adanya kelompok-kelompok separatis kemerdekaan serta intervensi negara-negara asing melalu perusahaan perusahaan multinasional seperti Freefort di Papua, Exon Mobil, Cevron, dan lain-lain.

Maka dari itu mari seluruh komponen umat kita harus cermat. Mana orang-orang yang mau bersih memperjuangkan kebenaran dan keutuhan negara Indonesia atau para LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) komprador yang mereka bekerja hanya untuk memenuhi keinginan tuannya, yaitu asing, khususnya AS.

Setelah gagalnya kapitalis dalam mengatasi permasalahan hidup dan tejadinya krisis ekonomi global tidak ada jalan lain kecuali hadirnya sistem Islam sebagai solusi tepat dalam mengatasi krisis multidimensi terkini sampai akhir zaman.

Tidak akan pernah ada yang akan menandingi imperium Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiah yang terkenal kejayaannya yang penuh dengan kesejahteraan sampai-sampai terkenal dari dunia timur sampai Barat. Wallahualam.

Ririh Priyatna Jafar
Jl Abesin Cibogor Bogor
jafar_itk@yahoo.com
085710373769

Tanggapan:

Dear sdr Ririh,

Saya jengkel membaca opini anda di bawah ini, terutama pada kalimat-kalimat yang dibold. Dengan sempitnya, anda menghakimi adat dan norma-norma lain berdasarkan norma yang anda anut. Kalimat-kalimat anda menggambarkan rasa superioritas suatu umat terhadap umat yang lain. Anda tampaknya tidak sadar, bahwa kelompok adat lain jika berpikir secara picik seperti anda, dapat saja memberi penghakiman serupa kepada nilai-nilai yang anda anut berdasarkan nilai-nilai adat yang mereka anut.

Problem mendasar yang anda miliki adalah anda tidak paham yang dimaksud dengan “nilai”, meskipun kata itu anda libatkan dalam kalimat yang anda lontarkan. Nilai bersifat abstrak, ideal, bukan persoalan “benar dan salah” sebagaimana pengertian istilah itu dalam ilmu eksakta. Tidak bersifat absolut dan selalu ada kemungkinan berubah seiring perubahan zaman. Nilai-nilai dalam suatu kelompok sosial hadir berdasarkan kesepakatan bersama, dan mengalir secara alamiah tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak luar. Dengan begitu tercipta suatu penghayatan yang tulus terhadap suatu perilaku.

Keberadaban tidak diukur dari bagaimana bentuk nilai-nilai tetapi dari adanya nilai-nilai. Masyarakat di manapun memiliki nilai-nilai lokalnya masing-masing yang dapat saja berbeda dari kelompok masyarakat yang lain. Tidak ada suatu kelompok masyarakat yang lebih tinggi derajatnya dari kelompok masyarakat yang lain, sehingga mereka bisa memaksakan nilai-nilai yang dianutnya –yang dipandangnya lebih “luhur”- kepada kelompok lain. Sebab jika begitu, tiap kelompok manusia bisa saja memandang nilai-nilai yang dianutnya adalah “luhur”, sakral, dan paling penting.

Koteka adalah pakaian tradisional masyarakat di Papua sana. Dalam komunitas mereka, itu adalah suatu hal yang lumrah meski bagi anda mungkin tidak. Anda tidak bisa menggunakan norma-norma dalam komunitas anda untuk memberi penghakiman kepada orang Papua yang menggunakan Koteka. Kasus ini mirip dengan kebiasaan orang Sunda makan dengan menggunakan tangan. Apakah orang Sunda terima, jika kebiasaan tradisional mereka itu dicap kampungan, jorok, dan primitif oleh kelompok adat lain yang bertradisi makan menggunakan alat? Apakah makan dengan “table manner” ala Eropa lebih tinggi derajatnya daripada makan menggunakan tangan seperti orang Sunda?

Sikap makan yang wajar tentu diatur dalam nilai-nilai lokal komunitas masyarakat, yang dapat saja berbeda dengan komunitas masyarakat yang lain. Jika suatu komunitas masyarakat menganggap nilai-nilai yang dianutnya adalah luhur, maka demikian pula dengan komunitas masyarakat yang lain. Oleh sebab itu dibutuhkan kesadaran akan adanya pluralitas dan relativitas nilai, yang kemudian diikuti dengan sikap-sikap yang egaliter dan toleran.

Wass.

Rinaldi

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ririh Priyatna Jafar said, on January 3, 2009 at 4:56 pm

    Saya sangat terima kasih sekali atas balasan saudara.

    Hanya saya perlu tekankan. Bahwa manusia secara fitrahnya selalu menginginkan kebaikan bagi dirinya. Oleh karena itu manusia diberikan akal oleh Sang Pencipta.
    Maka dari itu manusia akan senantiasa membentuk sebuah peradaban yang memberikat maslahat bagi dirinya, termasuk di dalam kebudayaan.

    Saya tidak menyalahkan bahwa semua kebudayaan itu salah. tetapi kita harus telaah secara mendalam yang tidal dilihat secara fisik tetapu juga non fisik, yaitu bagaimana dengan perasaan mereka. Berkaitantan dengan koteka sebagai kebudayaan. Jika anda melihat langsung bagaimana dengan kehidupan masyarakat Papua, khususnya yang di pedalaman. Apa yang mereka inginkan? Pastilah mereka menginginkan kehidupan yang baik, memakai pakaian yang baik, memakan makanan yang baik, pola hidup yang baik dan lain-lain.

    Contoh ada rombongan dari sebuah lembaga badan Wakaf berkunjung ke Papua khusunya pedalaman? Mereka melihat kehidupan mereka begitu sangat menghawatirkan. Mereka tidak memakai pakaian yang layak, mereka hanya melumuri badannya dengan minyak babi untuk menghindari adri gigitannyamuk dan mereka jarang sekali mandi. Bahkan hal yang sangat menghawatirkan ketika mereka diajarkan untuk mandi dan memakai sabun dan sampo serta berpakain yang baik mereka sangat senang karena baru seumur-umur mereka memakai sabun dan sampo dan yang sangat mengharukan mereka sampai-sampai mereka tertidur dengan rambut bersampo karena wanginya yang mereka sukai.

    Sekarang jika saya balik bertannya kepada anda, Apakah anda meresa senang jika saudara anda baik laki-laki/perempuan memakai pakaian yang hanya menutupi kemaluannya ke tempat umum atau bahkan malah dikomersilkan yang hanya untuk mengambil keuntungan para pemodal (kapitalis). Saya yakin anda akan berpikir beribu-ribu kali untuk memyikapinya? dan secara umumpun bagaimana mungkin ada orang yang tega mempertontonkan keluarganya kepada orang umum demi keuntungan/kepentingan golongan/orang tertentu.

    Sekali lagi saya akan bertanya, Apakan anda pernah menanyakan perasaan mereka dan bagaimana jika diberikan pengetahuan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya? Tentu mereka sangat menginginkan hal-hal yang lebih baik dan akan meninggalkan hal yang dulu mereka lakukan. Kesimpulannya mengapa mereka melakukan hal yang demikian, karena mereka tidak mengetahuinya sesuatu yang benar sehingga mereka menganggap hal itu benar karena secara fitrahnyapun manusia selalu menginginkan hal yang benar dan baik.

    Mereka melakukan hal itu, tidak lepas dari intervensi asing, banyak para misonaris kristen yang masuk ke sana tetapi mereka hanya memberikan kebutuhan perut saja dan sengaja mereka tetap bodoh, karena keinginan dari asing untuk mengeruk kekayaan wilayah mereka. sebab jikalau mereka itu pintar tentu mereka akan berontak dan akan mengambil alaih dalam penguasaan sumber daya alamnya.

    Tentu kita harus membudayakan kebudayaan kita, tetapi apakah semua kebudayaan itu kita ambil tanpa memandang nilai-nilai sosial, budaya dan agama atau norma-norma yang ada.
    Yang seharusnya kita lakukan adalah tidak hanya memberikan kebutuhan perut, tetapi juga dengan pendidikan yang nantinya mereka bisa memilih mana yang baik dan yang benar serta membangun sebuah peradaban yang baik dan luhur. Wallahu a’lam.

  2. Rinaldiwati said, on January 3, 2009 at 4:59 pm

    Dear Sdr Ririh,

    Anda mencampuradukkan antara masalah kemiskinan, nilai-nilai lokal, dan –terkait opini awal anda- pornografi. Lha ini jelas suatu pemikiran yang awut-awutan tak jelas di mana maunya. Jangan meleter ke mana-mana soal shampo dan lain sebagainya, yang mana itu konteksnya adalah persoalan kemiskinan.

    Apakah masyarakat pedalaman Papua memakai Koteka dan bertelanjang dada itu karena mereka “begitu miskin” sehingga tak mampu membeli kemeja dan celana panjang, ataukah karena mereka “tak bermoral” sehingga gemar sekali memamerkan aurat, atau karena begitulah nilai-nilai dalam tradisi lokal mereka?

    Pertama kali anda singgung mengenai Koteka, anda kaitkan dengan persoalan penolakan terhadap RUU Pornografi, di mana anda menganggap pemakaian Koteka pada masyarakat pedalaman Papua merupakan suatu hal yang “porno”. Kemudian pada tanggapan anda, persoalan ini anda alihkan ke persoalan kemiskinan pada masyarakat pedalaman Papua, seolah mereka berpakaian begitu karena mereka “begitu miskin” sehingga tak mampu membeli pakaian yang layak.

    Kemudian, di beberapa paragraf akhir anda menyinggung tentang “pengetahuan”, dan berpikir bahwa mereka begitu (memakai koteka dan pakaian minim) karena mereka bodoh dan tidak tahu mana yang benar. Lha ini jelas pendistorsian persoalan, di mana anda terlihat mencari justifikasi “memberangus Koteka” dan “aneka pakaian minim” dengan entry : kemiskinan, kebodohan, dan pornografi.

    Terlihat anda mencoba “menyimpulkan” , bahwa jika masyarakat pedalaman Papua tersebut makmur dan pintar, mereka tidak akan memakai Koteka melainkan kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel. Lha ini jelas sebuah pelecehan terhadap nilai-nilai lokal yang dianut oleh masyarakat Pedalaman Papua sana.

    Kalau saya boleh kasih ilustrasi, itu sama saja memaksa orang Sunda untuk makan dengan tabble manner ala Eropa. Bahwa ketika disurvey ke sejumlah daerah di Jawa Barat ternyata ada orang Sunda yang hidupnya miskin, makan seadanya dan pakai tangan pula, itu tak bisa dijadikan “pembenaran” untuk memaksakan adat/nilai-nilai luar ke dalam masyarakat Sunda. Tak berarti pula bahwa makan pakai tangan berarti orang tersebut “miskin dan bodoh” sehingga tak mampu beli sendok/garpu, atau tak tahu bagaimana etika makan yang beradab.

    Semua orang menginginkan pakaian yang baik, namun bagaimanakah “pakaian yang baik” tersebut? Ya tentu pakaian yang sesuai dengan adat/kebiasaan/ nilai-nilai setempat. Kalung gigi babi yang biasa mereka pakai boleh jadi memiliki makna/nilai tertentu, tidak bisa diganti begitu saja dengan kalung logam modern atau –katakanlah- diganti menjadi “gigi sapi”. Begitu juga dengan Koteka, ikat kepala, dan aksesoris-aksesoris etnik yang mereka pakai lainnya.

    Kemudian, anda melontarkan pertanyaan yang tidak sepatutnya dan tidak logis:

    Anda menulis:

    “Sekarang jika saya balik bertannya kepada anda, Apakah anda meresa senang jika saudara anda baik laki-laki/perempuan memakai pakaian yang hanya menutupi kemaluannya ke tempat umum atau bahkan malah dikomersilkan yang hanya untuk mengambil keuntungan para pemodal (kapitalis). Saya yakin anda akan berpikir beribu-ribu kali untuk memyikapinya? dan secara umumpun bagaimana mungkin ada orang yang tega mempertontonkan keluarganya kepada orang umum demi keuntungan/kepentin gan golongan/orang tertentu.”

    Saya jawab:

    Anda tidak bisa menggunakan pertanyaan retoris itu untuk menggiring orang menentang pornografi. Sebab, jika –misalnya- saya senang, ikhlas dan ridho anggota keluarga saya jadi bintang porno, apakah berarti pornografi boleh menjadi legal? Saya kira tidak begitu, dan persoalan ini tidak ada hubungannya dengan kebiasaan pribadi seseorang yang bisa saja berbeda-beda/ relatif.

    Lagi, anda menulis paragraf dengan pemahaman mengenai “budaya” yang semrawut dan rancu:

    Anda menulis:

    Tentu kita harus membudayakan kebudayaan kita, tetapi apakah semua kebudayaan itu kita ambil tanpa memandang nilai-nilai sosial, budaya dan agama atau norma-norma yang ada.

    Saya jawab:

    Budaya berasal dari kata Budhi dan Daya. Budhi berarti “akal”, atau diterjemahkan secara bebas berarti “waras”, “sadar”, “bijak”. Siddharta Gautama bergelar “Buddha” ya maksudnya itu, di mana akhirnya kata “Buddha” menjadi merk sebuah agama. Sedangkan Daya berarti usaha atau upaya untuk melakukan atau memperoleh sesuatu. Budaya berarti upaya akal waras manusia untuk melakukan/memperole h sesuatu. Hasil-hasilnya bisa berupa teknologi, bahan pangan, sandang dan papan, juga hal-hal abstrak seperti nilai-nilai, hukum-hukum, dan aturan-aturan.

    Hal-hal yang abstrak seperti nilai-nilai itu bersifat relatif dan selalu ada kemungkinan untuk berubah. Bukan persoalan “benar-salah” sebagaimana pengertian istilah itu dalam eksakta. Selebihnya sudah saya jabarkan dalam posting saya sebelumnya.

    Maka:

    membudayakan kebudayaan << —- maksudnya apa???

    tetapi apakah semua kebudayaan itu kita ambil tanpa memandang nilai-nilai sosial, budaya dan agama atau norma-norma yang ada. << —- maksudnya apa???

    “Nilai-nilai sosial” itu dari mana? Kan ya hasil budaya juga. Kalimat anda itu rancu dan membingungkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: