Sapere aude!

Nikah beda agama, kenapa tidak?

Posted in Discourse by Rinaldi on February 10, 2009

Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

DILIHAT dari perspektif humanisme, sebenarnya sama sekali tidak ada yang buruk dengan persoalan “nikah beda agama”. Jika kita semua percaya bahwa tiap agama bertujuan positif bagi kehidupan manusia, maka “perbedaan merk” tentulah bukan penghalang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis dan kemudian menikah. Justru sebaliknya, perbedaan agama dapat dipandang positif sebagai sebuah wadah untuk mengenal agama lain dan mencari kesamaannya. Jika mau jujur dan rendah hati, sebenarnya banyak hikmah yang bisa diperoleh dari bersikap inklusif dengan mencoba mengenal agama lain dengan baik, yang dalam hal ini melalui sebuah wadah pernikahan.

Namun pada kenyataannya, perbedaan agama masih menjadi salah satu penghambat populer hubungan lawan jenis. Masih banyak masyarakat yang enggan “naksir” seseorang yang telah diketahui berbeda agama. Kalau pun telanjur kepincut, biasanya perbedaan agama tetap akan menjadi problem tersendiri menjelang pernikahan. Banyak pasangan yang kemudian putus oleh perbedaan agama. Yang tetap bersikukuh, dihadapkan pada dua pilihan: nikah beda agama, atau salah satu mengalah ke agama pasangannya.

Seharusnya ini menjadi pertanyaan kita semua: Mengapa perbedaan agama dapat menjadi penghambat hubungan lawan jenis? Apa relevansinya antara iman pribadi dengan keharmonisan hubungan suami-isteri/keluarga? Bukankah tiap agama -setidaknya yang kita kenal-memiliki tujuan positif bagi tiap manusia?

Tulisan ini tidak bermaksud mengharuskan pernikahan berbeda agama. Melainkan memaparkan suatu pandangan bahwa perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang bagi hubungan lawan jenis.

****

ADA beberapa faktor mengapa paradigma menikah seagama menjadi suatu norma di masyarakat. Faktor pertama di luar agama, seperti pragmatisme. Yaitu soal “kemudahan” melakukan praktik keagamaan bersama, kesamaan adat/budaya yang terkait agama, dan perayaan hari besar dalam keluarganya nanti. Juga kemudahan dalam memberi pendidikan agama pada anak. Termasuk faktor “tekanan keluarga”, di mana seringkali orang tua tidak memberi restu jika anaknya menjalin hubungan dengan orang yang tidak seiman. Ini alasan yang picik dan tidak perlu diperhitungkan. Seperti memilih jodoh yang sehobi atau sekampung. Sikap pragmatis seperti ini juga ada pada mereka yang cenderung memilih pasangan se-suku atau se-ras.

Faktor kedua lebih ideologis, yaitu faktor ajaran agama. Pada faktanya beberapa agama memang mengharamkan pernikahan beda agama, walau ada juga yang memperbolehkannya dengan syarat tertentu. Gereja Katolik misalnya, cenderung sulit menikahkan jemaatnya dengan seseorang yang berada di luar Gereja Katolik. Sedangkan dalam Islam, ada dalil yang mengatakan lelaki Muslim boleh menikah dengan wanita non-Muslim, namun haram bagi wanita Muslim untuk menikah dengan pria non-Muslim.

Dua faktor di atas adalah penghambat populer pernikahan berbeda agama, selain faktor UU No. 1 Th. 1974 tentang Perkawinan di Indonesia yang melarang pernikahan berbeda agama (pasal 2).

****

DALAM hal ini, ajaran agama memiliki peran amat penting dan merupakan faktor fundamental mengapa masyarakat cenderung enggan untuk menikah beda agama. Pragmatisme masyarakat dan UU tersebut sedikit banyak didasari/dipengaruhi oleh larangan ajaran agama.

Menanggapi faktor ajaran agama, rasanya tidak perlu repot melirik ayat-ayat mana saja yang dapat dijadikan sebagai justifikasi. Tidak ada gunanya. Itu sama saja dengan menggunakan dalil-dalil normatif agama jahiliyah tentang keharusan –misalnya- mengurbankan bayi sebagai persembahan untuk dewa-dewi mereka. Walau sejuta dalil normatif digunakan sebagai justifikasi mengurbankan bayi untuk dewa-dewi, bukan lantas tindakan itu dapat dipandang benar, logis, bermanfaat, dan progresif. Secara mendasar, dogma bukanlah alasan mengapa kita harus melakukan (atau tidak melakukan) sesuatu.

Bagian ajaran agama yang melarang pernikahan beda agama, saya kira tidak perlu dituruti, atau setidaknya ditafsir ulang. Dalam hal ini, kita harus memiliki kekritisan yang radikal terhadap ajaran agama. Ini sama sekali bukan upaya mendiskreditkan agama, namun sebaliknya, menjadikan agama itu “lebih hidup” dan tetap relevan di era modern. Progresifitas keberagamaan tidak akan berjalan sempurna dengan adanya dogma-dogma baku yang tidak bisa dirubah. Era modern membutuhkan sebuah paradigma agama yang antroposentris, bukan teosentris. Ini logis, jika kita percaya bahwa agama hadir untuk manusia dan bukan sebaliknya.

Secara jujur, tak satu pun larangan menikah beda agama memiliki alasan yang logis dan cerdas. Pada hakikatnya tidak ada relevansinya antara perbedaan iman dengan keharmonisan hubungan keluarga/suami-isteri. Dasarnya, iman adalah urusan pribadi dan merupakan tanggungjawab individual. Tiap agama lazimnya memiliki tujuan yang mulia yang tentunya (harus) kompatibel dengan kemanusiaan. Jadi, alangkah tidakmanusiawinya jika pernikahan berbeda agama ditabukan dengan alasan apapun, terlebih alasan “dilarang agama”. Konsep agama yang sejati justru seharusnya bersifat mempersatukan manusia yang berbeda-beda dalam keharmonisan, bukan malah memberi sekat-sekat.

Akhir kata, betapa konyol jika perbedaan agama (apalagi suku/ras) masih diperhitungkan dalam hubungan lawan jenis di zaman sekarang. Rasa “risih” untuk akrab/intim dengan individu yang berbeda (baik agama, suku, ras, dsb) adalah paradigma “ndeso” yang disebabkan oleh kebiasaan hidup di lingkungan yang cenderung homogen. Ini tentu tidak sesuai dengan paradigma peradaban modern yang kosmopolis, di mana pluralitas manusia adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dan diakrabi, bukan dihindari atau ditakuti. []

Advertisements

Democracy is not the enemy

Posted in Commentary by Rinaldi on February 9, 2009

Democracy is not the enemy.

Oleh Rinaldi

BEBERAPA hari yang lalu, saya membaca tulisan kawan saya di sebuah milis, yang isinya kurang lebih memaki-maki pemikiran Islam Liberal, dilengkapi dengan tudingan-tudingan curiga adanya “agenda terselubung” di balik pemikiran tersebut. Juga memaki-maki konsep demokrasi dan liberalisme dengan pemahaman distortif, dilengkapi dengan “bahan makian” berupa bukti-bukti pelanggaran HAM yang dilakukan negara-negara kampiun demokrasi seperti AS.

Sekilas, itu terdengar seperti alasan mengapa umat Islam harus menolak demokrasi (baca: konsep sekuler). Padahal, “kecurigaan populer” dan bukti-bukti pelanggaran HAM tersebut bukanlah alasan untuk mempersalahkan konsep demokrasi dan kebebasan, tidak pula ada sangkut-pautnya dengan benar-salahnya konsep tersebut.

Pola propaganda ini amat populer di kalangan fundamentalis, dan menjadi isu provokatif yang seringkali mereka gunakan untuk meyakinkan umat bahwa ide-ide yang berasal dari barat harus ditolak.

Dalam wacana-wacana kelompok fundamentalis, tudingan-tudingan curiga dan pemahaman-pemahaman distortif pada konsep demokrasi dan kebebasan (konsep sekuler), nampak mendapat porsi yang lebih besar daripada kritik terhadap substansi demokrasi sendiri. Ini terlihat pada selebaran-selebaran yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (buletin Al-Islam), yang seringkali menganggap ketidakbecusan pemerintah menjalankan negara, juga aneka pelanggaran HAM yang dilakukan AS, sebagai wujud “kegagalan sistem sekuler”. Curangnya, mereka kemudian mengajukan konsep Khilafah dalam tataran ideal sebagai bandingan dari demokrasi yang dipraktikkan menyimpang, dan ini jelas bandingan yang tidak fair.

Aneka tudingan tersebut jelas tidak valid dalam sebuah adu argumentasi. Ketidakbecusan pemerintah mengelola negara dan segala pelanggaran HAM yang terjadi di Guantanamo, Abu Ghraib, Afghanistan, Eropa, dan sebagainya, tidak lantas membuat ide demokrasi, kesetaraan derajat, dan kebebasan menjadi salah. Harus dibedakan antara kritik terhadap kebijakan-kebijakan barat dengan kritik terhadap substansi demokrasi dan kebebasan.

Kecurigaan adalah potensi konflik. Jika umat Muslim mengutuk segala bentuk kecurigaan dan pandangan distortif masyarakat barat terhadap Islam, khususnya pasca tragedi 9/11, maka umat Muslim pun harus mengikis segala kecurigaan dan pandangan-pandangan distortifnya terhadap konsep demokrasi dan kebebasan. []

 


 

Jilbab, antara dogma dan humanisme

Posted in Commentary by Rinaldi on February 8, 2009

Jilbab, sekedar dogma atau memiliki nilai fungsi?

Author: Rinaldi

DOGMATISME seringkali merepotkan, mengkebiri akal sehat, dan tidak realistis. Namun, kelompok fanatik agama nampaknya sulit sekali menyadari realita ini. Atau mungkin, karena gengsi mereka enggan mengakuinya secara jujur. Sebagai ilustrasi, suporter fanatik Persib akan tetap mendukung Persib walau tim tersebut telah berkali-kali kalah. Ini salah satu bukti bahwa fanatisme membuat orang menjadi patuh terhadap suatu tatanan nilai-nilai tertentu tanpa memiliki sikap kritis/mempertanyakan.

Dalam agama Islam –sebagai satu contoh agama– ada ajaran untuk mengenakan jilbab bagi Muslimah. Ajaran ini setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif, dan sudah semestinya kita memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut.

Pertama, perspektif dogma. Ini tentu bersifat absolut dan tak dapat ditawar. Sekali Tuhan memerintahkan begitu, dan jika itu sudah jelas/gamblang, maka tak ada pilihan lain selain mentaatinya. “Dosa” mengancam mereka yang tidak patuh. Ini adalah pandangan normatif kelompok fanatik agama.

Kedua, perspektif humanisme/pragmatisme, yang muncul dengan memandang jilbab secara fungsional/esensial sebagai “penutup aurat”, di mana terkandung ajaran kesusilaan/kesopanan. Dari perspektif ini, ajaran jilbab memiliki konsekwensi bersifat relatif, kondisional, dan kontekstual, sebab terkait dengan persoalan nilai-nilai yang dianut subjek bersangkutan. Kesopanan adalah abadi, namun tentunya, nilai-nilai kesopanan bersifat relatif dan selalu ada kemungkinan berubah. Biasanya, kelompok-kelompok agamawan progresif dan liberal mengawali pola pemikiran mereka dari perspektif ini.

Seperti disinggung di atas, penting bagi kita untuk memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut. Sebab dua perspektif di atas memiliki orientasi yang berbeda, berikut konsekwensinya masing-masing. Yang pertama berorientasi kepada Tuhan, subjek pembuat perintah. Sedangkan yang kedua berorientasi pada manusia, subjek dari suatu perintah.

Tetapi nampaknya, kebanyakan kaum Muslimin yang saya jumpai (disadari atau tidak) cenderung menggunakan “standar ganda” terhadap ajaran ini. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa ajaran jilbab adalah untuk menutup aurat dan itu baik, dan ini alasan humanis dan pragmatis yang bisa kita sepakati. Tapi di sisi lain, mereka menggunakan alasan “dogma” yang bersifat absolut, dan tak mempedulikan faktor relativitas nilai (terkait soal “aurat”).

Standar ganda ini merefleksikan sebuah keinginan serakah; ingin ajaran jilbab tampak logis dan humanis, sekaligus ingin dogma tetap terjaga. Dua prinsip yang sebenarnya tidak bisa disatukan.

Dogma merefleksikan paradigma teosentris, sedangkan pragmatisme/humanisme merefleksikan paradigma antroposentris. Dalam hal ini, semestinya harus ada kejelasan mengenai mana yang menjadi pusat dalam paradigma tersebut; kemanusiaan atau ketuhanan, humanisme atau teologi. Kejelasan “mana yang menjadi pusat” dan konsistensinya, adalah penting. Sebab, ini menjadi dasar segala substansi pemikiran di atasnya. Standar ganda sama sekali tidak menjawab persoalan, melainkan justru menunjukkan kekacauan konsep berpikir. []

Bulan pernah terbelah, benarkah?

Posted in Mythbuster by Rinaldi on February 2, 2009

Foto NASA bergambar "lunar rille" yang disalahgunakan untuk dakwah Islam.Author: Rinaldi

KAJIAN sederhana ini bermula ketika saya membaca sebuah blog yang memaparkan cerita mujijat “bulan terbelah” 

(setelah saya cek kembali, blog di atas rupanya sudah dihapus oleh pemiliknya, mungkin karena “malu” ketahuan bohongnya)

Ada lagi yang masih aktif di link ini. Juga di link ini

Tiga blog tersebut memaparkan kisah mujijat Nabi SAW membelah bulan berdasarkan cerita sebuah Hadith dan tafsir surah Al-Qamar. Sampai di sini tidak ada yang saya persoalkan, karena toh “cerita mujijat” adalah hal yang lumrah di setiap agama. Namun yang jadi masalah, adalah ditampilkannya foto “guratan bulan” (atau secara ilmiah disebut “lunar rille”) pada cerita itu yang dimaksudkan sebagai BUKTI VISUAL bahwa bulan memang pernah terbelah. Selain itu, ditampilkan juga kesaksian Daud Musa Pitkhok, seorang pemimpin Hizb Islami di London yang -menurut cerita- masuk Islam karena mengetahui mujijat tersebut. Daud Musa Pitkhok dikisahkan masuk Islam begitu secara tidak sengaja menyaksikan wawancara BBC dengan “tiga pakar ruang angkasa AS” yang hasil penelitiannya mengatakan bahwa bulan pernah terbelah di zaman dahulu kala dan kemudian menyatu kembali. Nama yang muncul berikutnya adalah Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, yang dalam kisahnya adalah seorang pakar geologi Muslim.

Saya mencoba “berprasangka baik” dengan melakukan penelusuran sederhana terhadap kebenaran berita ini. Saya mulai mencari di google dengan kata kunci Daud Musa Pitkhok dan Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, hasilnya adalah artikel yang sama dari situs web yang berbeda-beda.

Logika sederhana: jika berita tersebut benar adanya, tentunya itu adalah fenomena besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Tentunya pula akan ada banyak kajian baik dalam kerangka sains/ilmiah maupun jurnalistik terhadap persoalan “bulan terbelah” tersebut. Terlebih pernah diliput oleh BBC, institusi pers ternama, pastilah kata kunci tersebut menampilkan sumber-sumber, baik ilmiah maupun jurnalistik, yang kaya akan peristiwa ini. Sebagai bandingan, jika anda memasukkan kata kunci “Madonna” di google, pasti anda akan menemukan aneka situs tentang Madonna yang tentu berbeda-beda, tidak serupa seperti nampak sekedar dicopy-paste.

Kemudian, ada satu blogger lagi, namun yang ini nampaknya hanya milik seorang PENGECUT yang setelah saya beri sanggahan, dia menghapus blognya. Silakan baca di link ini.

Artikel pada blog tersebut kini KOSONG, membuktikan artikel tersebut sudah dihapus!

Pada kenyataannya, dari milyaran web yang ada di dunia, kata kunci Daud Musa Pitkhok hanya menghasilkan artikel yang sama dari web yang berbeda-beda. Hal itu mengindikasikan berita tersebut adalah “hoax” yang dicopy-paste secara berantai dan dipublikasikan melalui webblog dan mailinglist. Hal ini diperkuat dengan bukti dari situs resmi NASA sendiri (diterangkan di bawah) bahwa foto “guratan pada bulan” bukanlah akibat bulan pernah terbelah. Dan NASA sama sekali tidak pernah mengklaim ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa bulan pernah terbelah, apalagi bahwa yang disebut “lunar rille” adalah akibat bulan pernah terbelah. Kasus ini sudah pernah diklarifikasi dalam buletin LAPAN. Dan pak T. Djamaludin, peneliti Astronomi LAPAN juga telah mengklarifikasinya di sini

Ini bukan soal gugatan terhadap iman Islam yang meyakini mujijat bahwa Nabi Muhammad pernah membelah bulan (menurut Hadith), atau makna dari Surah Al-Qamar. Namun persoalannya adalah:

Bahwa ada yang menggunakan foto guratan pada bulan dari NASA lepas dari konteks aslinya, sebagai upaya pembenaran dari mujijat tersebut. Dalam situs resminya, NASA tidak pernah mengatakan bahwa bulan pernah terbelah, atau “guratan” tersebut adalah akibat bulan pernah terbelah.

Foto yang ditampilkan dalam hoax itu konteks sebenarnya berasal dari sini:

http://www.hq.nasa.gov/office/pao/History/SP-362/ch4.2.htm

Perlu diperhatikan: link resmi NASA di atas tidak sedikitpun mengatakan bahwa guratan pada bulan adalah akibat bulan pernah terbelah.

Guratan tersebut dinamakan lunar rille, penjelasannya di sini:

http://antwrp.gsfc.nasa.gov/apod/ap021029.html

Di situs itu disebut “rille appear all over the Moon.” Jadi rille ada disekujur tubuh bulan, bukan SATU seperti seolah bulan pernah terbelah dua.

Apakah rille itu? Penjelasannya ada di sini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Rille

By the way, Apa sih itu HOAX?

“A hoax is a deliberate attempt to dupe, deceive or trick an audience into believing, or accepting, that something is real, when in fact it is not; or that something is true, when in fact it is false. In an instance of a hoax, an object, or event, is not what it appears to be, or what it is claimed to be..”

http://en.wikipedia.org/wiki/Hoax

Demikian klarifikasi ini dibuat, terima kasih atas perhatiannya. []