Sapere aude!

Jilbab, antara dogma dan humanisme

Posted in Commentary by Rinaldi on February 8, 2009

Jilbab, sekedar dogma atau memiliki nilai fungsi?

Author: Rinaldi

DOGMATISME seringkali merepotkan, mengkebiri akal sehat, dan tidak realistis. Namun, kelompok fanatik agama nampaknya sulit sekali menyadari realita ini. Atau mungkin, karena gengsi mereka enggan mengakuinya secara jujur. Sebagai ilustrasi, suporter fanatik Persib akan tetap mendukung Persib walau tim tersebut telah berkali-kali kalah. Ini salah satu bukti bahwa fanatisme membuat orang menjadi patuh terhadap suatu tatanan nilai-nilai tertentu tanpa memiliki sikap kritis/mempertanyakan.

Dalam agama Islam –sebagai satu contoh agama– ada ajaran untuk mengenakan jilbab bagi Muslimah. Ajaran ini setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif, dan sudah semestinya kita memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut.

Pertama, perspektif dogma. Ini tentu bersifat absolut dan tak dapat ditawar. Sekali Tuhan memerintahkan begitu, dan jika itu sudah jelas/gamblang, maka tak ada pilihan lain selain mentaatinya. “Dosa” mengancam mereka yang tidak patuh. Ini adalah pandangan normatif kelompok fanatik agama.

Kedua, perspektif humanisme/pragmatisme, yang muncul dengan memandang jilbab secara fungsional/esensial sebagai “penutup aurat”, di mana terkandung ajaran kesusilaan/kesopanan. Dari perspektif ini, ajaran jilbab memiliki konsekwensi bersifat relatif, kondisional, dan kontekstual, sebab terkait dengan persoalan nilai-nilai yang dianut subjek bersangkutan. Kesopanan adalah abadi, namun tentunya, nilai-nilai kesopanan bersifat relatif dan selalu ada kemungkinan berubah. Biasanya, kelompok-kelompok agamawan progresif dan liberal mengawali pola pemikiran mereka dari perspektif ini.

Seperti disinggung di atas, penting bagi kita untuk memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut. Sebab dua perspektif di atas memiliki orientasi yang berbeda, berikut konsekwensinya masing-masing. Yang pertama berorientasi kepada Tuhan, subjek pembuat perintah. Sedangkan yang kedua berorientasi pada manusia, subjek dari suatu perintah.

Tetapi nampaknya, kebanyakan kaum Muslimin yang saya jumpai (disadari atau tidak) cenderung menggunakan “standar ganda” terhadap ajaran ini. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa ajaran jilbab adalah untuk menutup aurat dan itu baik, dan ini alasan humanis dan pragmatis yang bisa kita sepakati. Tapi di sisi lain, mereka menggunakan alasan “dogma” yang bersifat absolut, dan tak mempedulikan faktor relativitas nilai (terkait soal “aurat”).

Standar ganda ini merefleksikan sebuah keinginan serakah; ingin ajaran jilbab tampak logis dan humanis, sekaligus ingin dogma tetap terjaga. Dua prinsip yang sebenarnya tidak bisa disatukan.

Dogma merefleksikan paradigma teosentris, sedangkan pragmatisme/humanisme merefleksikan paradigma antroposentris. Dalam hal ini, semestinya harus ada kejelasan mengenai mana yang menjadi pusat dalam paradigma tersebut; kemanusiaan atau ketuhanan, humanisme atau teologi. Kejelasan “mana yang menjadi pusat” dan konsistensinya, adalah penting. Sebab, ini menjadi dasar segala substansi pemikiran di atasnya. Standar ganda sama sekali tidak menjawab persoalan, melainkan justru menunjukkan kekacauan konsep berpikir. []