Sapere aude!

Jilbab, antara dogma dan humanisme

Posted in Commentary by Rinaldi on February 8, 2009

Jilbab, sekedar dogma atau memiliki nilai fungsi?

Author: Rinaldi

DOGMATISME seringkali merepotkan, mengkebiri akal sehat, dan tidak realistis. Namun, kelompok fanatik agama nampaknya sulit sekali menyadari realita ini. Atau mungkin, karena gengsi mereka enggan mengakuinya secara jujur. Sebagai ilustrasi, suporter fanatik Persib akan tetap mendukung Persib walau tim tersebut telah berkali-kali kalah. Ini salah satu bukti bahwa fanatisme membuat orang menjadi patuh terhadap suatu tatanan nilai-nilai tertentu tanpa memiliki sikap kritis/mempertanyakan.

Dalam agama Islam –sebagai satu contoh agama– ada ajaran untuk mengenakan jilbab bagi Muslimah. Ajaran ini setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif, dan sudah semestinya kita memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut.

Pertama, perspektif dogma. Ini tentu bersifat absolut dan tak dapat ditawar. Sekali Tuhan memerintahkan begitu, dan jika itu sudah jelas/gamblang, maka tak ada pilihan lain selain mentaatinya. “Dosa” mengancam mereka yang tidak patuh. Ini adalah pandangan normatif kelompok fanatik agama.

Kedua, perspektif humanisme/pragmatisme, yang muncul dengan memandang jilbab secara fungsional/esensial sebagai “penutup aurat”, di mana terkandung ajaran kesusilaan/kesopanan. Dari perspektif ini, ajaran jilbab memiliki konsekwensi bersifat relatif, kondisional, dan kontekstual, sebab terkait dengan persoalan nilai-nilai yang dianut subjek bersangkutan. Kesopanan adalah abadi, namun tentunya, nilai-nilai kesopanan bersifat relatif dan selalu ada kemungkinan berubah. Biasanya, kelompok-kelompok agamawan progresif dan liberal mengawali pola pemikiran mereka dari perspektif ini.

Seperti disinggung di atas, penting bagi kita untuk memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut. Sebab dua perspektif di atas memiliki orientasi yang berbeda, berikut konsekwensinya masing-masing. Yang pertama berorientasi kepada Tuhan, subjek pembuat perintah. Sedangkan yang kedua berorientasi pada manusia, subjek dari suatu perintah.

Tetapi nampaknya, kebanyakan kaum Muslimin yang saya jumpai (disadari atau tidak) cenderung menggunakan “standar ganda” terhadap ajaran ini. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa ajaran jilbab adalah untuk menutup aurat dan itu baik, dan ini alasan humanis dan pragmatis yang bisa kita sepakati. Tapi di sisi lain, mereka menggunakan alasan “dogma” yang bersifat absolut, dan tak mempedulikan faktor relativitas nilai (terkait soal “aurat”).

Standar ganda ini merefleksikan sebuah keinginan serakah; ingin ajaran jilbab tampak logis dan humanis, sekaligus ingin dogma tetap terjaga. Dua prinsip yang sebenarnya tidak bisa disatukan.

Dogma merefleksikan paradigma teosentris, sedangkan pragmatisme/humanisme merefleksikan paradigma antroposentris. Dalam hal ini, semestinya harus ada kejelasan mengenai mana yang menjadi pusat dalam paradigma tersebut; kemanusiaan atau ketuhanan, humanisme atau teologi. Kejelasan “mana yang menjadi pusat” dan konsistensinya, adalah penting. Sebab, ini menjadi dasar segala substansi pemikiran di atasnya. Standar ganda sama sekali tidak menjawab persoalan, melainkan justru menunjukkan kekacauan konsep berpikir. []

20 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Rinaldiwati said, on February 9, 2009 at 7:20 pm

    Sekedar melengkapi tulisan saya di atas:

    Saya memulai segala pemikiran saya dari antroposentrisme. Tidak ada beban teologis pada saya untuk lebih mengutamakan humanisme daripada teologi. Di bawah ini adalah pokok-pokok pikiran saya mengenai jilbab :

    1. Saya tidak berangkat dari keyakinan dan kepedulian bahwa Al Quran adalah firman tuhan (atau bukan firman tuhan), tetapi dari penalaran dan pandangan pragmatis (asas manfaat) atas apa yang terkandung di dalam Al Quran. Ini adalah titik berangkat yang humanis.

    2. Fungsi jilbab pada hakikatnya adalah untuk menutup aurat (bagi wanita), dengan tujuan agar wanita dipandang sopan, elegan, dan bermartabat. Tak perlu berdalil ayat kitab suci, logika ini begitu sederhana dan mudah dipahami.

    3. Perkara “menutup aurat”, sudah tentu menyangkut perkara nilai-nilai yang berlaku di masyarakat setempat. Bicara “nilai”, secara mendasar bersifat relatif, kondisional, kontekstual, dan selalu ada kemungkinan untuk berubah. Dalam pemikiran saya, inilah yang rupanya “mengancam” dogma ajaran jilbab.

    4. Kelompok fanatik agama memulai pemikirannya dari ketentuan (dogma), oleh sebab itu mereka anti terhadap relativitas nilai-nilai. Mereka tak mau ajaran agama “dikontekskan”, sehingga terancam dengan perubahan zaman. Sebab itulah, “ajaran jilbab” dipandang mutlak, tak berubah, dan “dipaksa sesuai” dengan zaman dan daerah mana pun. Perdebatan muncul di sini, antara kelompok progresif dan kelompok konservatif. Menurut saya, kekeliruan mendasar kelompok fanatik agama itu terletak pada upaya “dogmatisasi (pembakuan) nilai-nilai” atau “absolutisasi nilai-nilai”. Ini jelas bertentangan dengan sifat dasar dari nilai-nilai itu sendiri yang relatif, subyektif, kondisional, kontekstual, dan selalu ada kemungkinan berubah.

    5. Alasan yang digunakan kelompok konservatif untuk membakukan nilai-nilai, klise saja, yakni “karena ini ajaran/perintah dari tuhan”. Alasan ini jelas tidak ilmiah dan tidak ada artinya, kecuali seseorang sebelumnya telah beriman kepada tuhan tersebut. Namun yang jadi persoalan, jika “harus beriman dulu” baru bisa “menerima” ajaran tersebut, maka apa istimewanya agama tersebut? Sebab semua agama/jenis keimanan dapat menerapkan pola pikir serupa, “mengimani dulu, baru bisa menerima”. Aliran sesat sejenis Ku Klux Klan atau aliran David Koresh di AS, bisa saja berkata seperti itu. Jika “mengimani dulu”, maka tentunya kita dihadapkan pada persoalan mendasar, mengenai alasan kenapa kita mengimani hal tersebut.

    6. Datang dan perginya “nilai-nilai”, tak bisa dipaksakan. Ia mengalir begitu saja secara alamiah dalam peradaban manusia. Anda tidak bisa memaksa suku pedalaman Papua untuk “memakai baju” dengan alasan kesusilaan, karena nilai kesusilaan yang anda anut berbeda dengan nilai kesusilaan suku pedalaman Papua. Anda juga tidak bisa mengatakan orang Papua yang berbeda nilai dengan anda sebagai “belum beradab”, karena keberadaban tidak diukur dari bagaimana nilai-nilai yang dianut, tetapi dari adanya nilai-nilai yang dianut.

    7. Saya tidak pernah mengatakan/berpendapat bahwa memakai jilbab (bagi wanita) itu jelek dan tidak perlu. Ide dasar saya adalah menentang dogmatisasi/pembakuan ajaran menggunakan jilbab, dan pemaksaan menggunakan jilbab (oleh perda). Yang boleh “dipaksakan” itu adalah berpakaian sopan dan menutup aurat (ini yang lebih mendasar), bukan memakai jilbab. “Dipaksa” itu pun konteksnya paksaan moril, bukan secara hukum tertulis. []

  2. budi said, on June 20, 2009 at 1:18 am

    saya sangat bersyukur kalo Cak Nurcholis Madjid menjelang sakaratul maut sempat bertaubat, atas kesalahan dalam meliarkan pemikirannya dengan meragukan perintah dan larangan Allah(yang paling mengetahui apa2 yang terbaik dan yang terburuk bagi hambanya). kapankah para pendukung pemikirannya ni menyusul pertaubatannya, atau mereka menunggu sampai hal2 terburuk terjadi sehingga baru sadar akan kebesaran Allah dan kebenaran semua ajarannya tanpa ada keraguan sekalipun.
    hadanallah waiyyakum ajma’iin

  3. uki basuki said, on July 24, 2009 at 2:42 pm

    Saya ingin urun pendapat dari sudut pandang humanisme dan budaya.

    Jilbab adalah pakaian yang tepat untuk wilayah timur tengah (namun tidak dapat digeneralisir untuk ke segala pelosok dunia)

    Sama hal nya dng arsitektur sebagai produk budaya. Karya arsitektur terjadi & terbentuk karena kondisi topograpi dan iklim suatu wilayah. saya contohkan:
    – Untuk wilayah eropa (subtropis), arsitektur terbentuk dengan banyak kaca (maksimalisasi sinar matahari) dan bentuk tritisan yang pendek (tidak ada tampias hujan)
    – Untuk daerah tropis yang basah, lembab dan full matahari bentuk rumah/bangunan cenderung terbuka, guna mengurangi kelembaban dan banyak lubang angin, sementara teritisan yang panjang untuk menaungi sinar matahari dan menghindari tampias hujan.
    – Untuk wilayah timur tengah bangunan cenderung tertutup, dengan lubang taman/patio pada tengah bangunan yg berfungsi utk menghindari kekeringan total, karena iklim arab yang panas kering.

    Demikian pula dengan pakaian yang cocok untuk wilayah arab, gurun dan sekitarnya, memiliki fungsi menghindari kekeringan/dehidrasi karena iklim di wilayah tersebut.
    Namun akan sangat tidak cocok diterapkan pada wilayah yang memiliki iklm tropis lembab. Penggunaan jilbab pada daerah ini akan membuat perasaan gerah, lengket karena kadar uap air yang tinggi dan terhalang/tertutup untuk sirkulasi udara di permukaan kulit.

    Demikian pula penerapan jilbab pada wilayah eropa yang terkadang disatu sisi butuh bahan penutup/penghangat (dimusim dingin) dan butuh keleluasaan masuknya sinar matahari ke dalam pori2 tubuh di kala musim panas.

    Jadi pakaian, bentuk bangunan makanan, kegiatan (life style), pada masing masing wilayah akan terbentuk, terfiltrasi dan terekspresikan dengan sendirinya tanpa harus ditentukan apalagi di dogmatis.

  4. joe said, on July 29, 2009 at 5:46 am

    Uki @: logika lagi, cape deh, nih mending baca cerita saya

    3 PERTANYAAN
    Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri
    paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia
    meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang
    Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3
    pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu
    mendapatkan orang tersebut.
    Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab
    pertanyaan-pertanyaan saya?

    Kyai: Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya
    akan menjawab pertanyaan anda

    Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak
    orang pintar saja tidak mampu menjawab
    pertanyaan saya.

    Kyai: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

    Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan

    1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan
    wujud Tuhan kepada saya
    2. Apakah yang dinamakan takdir
    3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa
    dimasukan ke neraka yang dibuat dari
    api,tentu tidak menyakitkan buat syetan
    Sebab mereka memiliki unsur yang sama.
    Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

    Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda
    dengan keras.

    Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah
    kepada saya?

    Kyai: Saya tidak marah…Tamparan itu adalah
    jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda
    ajukan kepada saya

    Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti

    Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?

    Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit

    Kyai: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

    Pemuda: Ya

    Kyai: Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

    Pemuda: Saya tidak bisa

    Kyai: Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita
    semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu
    melihat wujudnya.

    Kyai: Apakah tadi malam anda bermimpi akan
    ditampar oleh saya?

    Pemuda: Tidak

    Kyai: Apakah pernah terpikir oleh anda akan
    menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?

    Pemuda: Tidak

    Kyai: Itulah yang dinamakan Takdir

    Kyai: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan
    untuk menampar anda?

    Pemuda: kulit

    Kyai: Terbuat dari apa pipi anda?

    Pemuda: kulit

    Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?

    Pemuda: sakit

    Kyai: Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka
    terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak
    maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan
    untuk syeitan.

  5. Rinaldiwati said, on July 30, 2009 at 6:33 pm

    @ Joe:

    [Sebenarnya tanggapan anda itu tidak ‘nyambung’ dengan tema topik yang dibahas, yaitu mengenai jilbab. Tapi okelah, secara singkat akan saya tanggapi, karena kelihatannya cukup menggelitik. Mengenai cerita kuno yang sudah pernah saya bahas dan bantah sebelumnya.]

    Cerita di atas bisa dipastikan fiksi, dan sudah pasti dikarang oleh seseorang yang amatiran dalam wacana eksistensi Tuhan. Pertanyaannya khas orang awam, dan jawabannya pun khas orang awam. Jadi sebenarnya tak satupun intelektualitas dilibatkan dalam cerita di atas. Hanya pesudo-intelek, seolah-olah “intelek”, padahal tidak. Orang awam tentu saja percaya dan terprovokasi dengan dialog fiktif di atas. Saya sudah dengar cerita itu sejak lama karena sering diforwad ke mailinglist. Sebenarnya ada banyak lagi cerita serupa dan kesemuanya sudah saya beri bantahan/klarifikasi.

    Pertanyaan pertama “Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya” adalah kurang tepat, tidak strategis, dan tidak menggambarkan persoalan sesungguhnya yang mengemuka.

    Agar lebih netral, bolehlah kata “Tuhan” di atas kita ganti dengan “X”, sehingga menjadi: “Kalau memang X itu ada, tunjukan wujud X kepada saya”. Bisa dipahami, persoalan mendasar yang muncul adalah: Memangnya “X” itu APA sehingga bisa muncul pertanyaan demikian?

    Apakah “X” itu? <– Ini persoalan yang sesungguhnya!

    Jadi sebelum bertanya apakah "X" itu eksis atau tidak, maka jelaskan dulu apa itu “X”. Kalau kita tidak memiliki penjelasan yang memadai tentang “X”, maka pertanyaan eksis-tidaknya “X” menjadi tidak ada artinya.

    Kembali ke persoalan Tuhan, pertanyaan yang seharusnya muncul/dimunculkan oleh sang pemuda adalah: “apa sih Tuhan itu pak Kyai?”

    Biarkan sang Kyai mempresentasikan konsepsinya mengenai Tuhan selama beberapa menit, dan kemudian sang pemuda MENGUJI konsepsi Kyai mengenai Tuhan tersebut. Ini alur dialog yang benar, bukan tiba-tiba mempertanyakan eksis tidaknya Tuhan.

    Kemudian, soal jawaban pak Kyai tak kalah kelirunya (maklum, cerita di atas kan pseudo-intelektual).

    Jawaban berupa “tamparan” dan alasan dari jawaban itu yang adalah: “kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya”, adalah wujud miskonsepsi sang kyai terhadap persoalan yang dihadapinya yaitu eksistensi Tuhan.

    Kita “merasakan” Tuhan menggunakan apa? Panca indera (indra peraba)?

    Nampaknya Sang Kyai tidak bisa membedakan antara “rasa” dalam konteks inderawi, dengan “rasa” dalam konteks non-inderawi (konteks lainnya, misalnya konteks emosi). Nah, “rasa” dalam konteks apa yang dimaksud Kyai dalam kaitannya dengan Tuhan? Jelas bukan “rasa” dalam konteks inderawi.

    Rasa sakit akibat ditampar adalah sensasi inderawi yang tidak bisa dilihat oleh mata, di mana “mata” yang juga salah satu perangkat indera. Tidak ada yang aneh. Musik pun bisa didengar, tapi tidak bisa dicecap, apalagi dilihat. Tetapi baik musik maupun rasa sakit akibat ditampar, adalah fenomena inderawi.

    Tetapi Tuhan? Apakah Tuhan bisa diinderai? TIDAK. Lantas, apa artinya “analogi” rasa sakit akibat ditampar yang bisa dirasa namun tidak bisa dilihat itu?

    Perhatikan diagram sederhana berikut:

    Rasa sakit akibat ditampar –> bisa dirasa namun tidak bisa dilihat.

    Tuhan –> bisa dirasa namun tidak bisa dilihat.

    Ini namanya “false analogy”, dan termasuk sebuah fallacy dalam adu argumen.

    Untuk pertanyaan kedua, “apakah takdir itu”, pertanyaannya benar namun jawaban Kyai yang lagi-lagi tidak tepat/tidak seharusnya.

    Kalau mengikuti jawaban Kyai mengenai takdir, kalau saya yang jadi pemudanya, akan saya colok matanya pak kyai sampai buta dan berkata hal yang polanya sama: “Bapak pasti tidak menyangka akan saya colok hari ini kan? Jadi itu yang namanya takdir ya pak? Saya tidak dosa dong, karena saya hanya menjalankan sesiatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan”. Kemudian saya ambil balok dan memukul kepala Kyai sampai mati, namun sebelum itu saya berkata: “Takdir Tuhan menggariskan bahwa bapak mati di tangan saya hari ini, dan saya hanya menjalankan sesuatu yang sudah digariskan”.

    Konyol kan? Senjata makan tuan…

    Persoalan “takdir” tidak sesederhana itu. Saya pikir ini persoalan yang lumayan rumit, karena menyangkut persoalan tanggungjawab dan nilai perbuatan.

    Apakah alur hidup manusia telah digariskan oleh Tuhan?

    Jika YA, maka jahat atau baiknya manusia tidak ada nilainya, karena manusia hanya mengikuti yang sudah digariskan Tuhan saja.

    Misalkan si Fulan ditakdirkan mati dibunuh, apakah yang membunuh berdosa?

    Misalkan si Fulan kaya, dan Tuhan ingin menguji ketabahannya dengan hadirnya perampok yang menguras harta Fulan. Apakah perampok tersebut berdosa?

    Dan seterusnya.. Ini problem klasik yang sudah banyak dibahas. Saya juga sudah pernah membahasnya.

  6. yudy said, on July 9, 2010 at 7:18 pm

    Salut banget buat penjelasan Sdr. Rinaldi.

  7. Joe said, on August 8, 2010 at 10:22 am

    Setelah baca2 beberapa artikel penulis, salut juga atas logika yg dimilikinya. Dan yg saya salutkan lagi gak ada pelanggaran secara langsung tentang SARA. Mungkin saya cuma bisa comentar “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” Silahkan jalankan kepercayaan masing2.
    Tapi bahas masalah kepercayaan, taqdir, dan kenyataan yg bisa dilogika dengan akal sehat bakal panjang, tapi saya siap berdiskusi atau menjawab pertanyaan2 yg susah anda pahami dan susah di logika bahkan dengan kecerdasan anda yg diatas rata2 pun.

    Ada satu hal yg menggelitik. Misalankan, ada seorang yg sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Tuhan (bahkan Ateis sekalipun percaya adanya tuhan) sedang terapung ditengah lautan karna terjadi bencana/kecelakaan kapal atau apapun yg mengakibatkan dia bisa berada ditengah lautan sendirian (silahkan dilogika sendiri kenapa dia mendadak bisa berada di tengh laut sendirian dan apa yg dia lakukan sebelumnya) saya hanya mencoba menggambarkan situasi dan kondisi dia ketika berada ditengah laut sendirian tanpa ada kemungkinan adanya pertolongan. Suatu hal yg menggelitik adalah disini. “Dia berdoa/memohon atau apapun istilahnya kepada sesuatu yg dia sama sekali tidak percayai sebelumnya” Sedangkan dia tidak percaya dengan keberadaan Tuhan sema sekali. Saya hanya ingin menekankan disini, bahwa ini adalah KODRAD manusia sebagai hamba kepada Tuhannya. dan Kodrad sama sekali tidak bisa dipungkiri.

  8. johansyah said, on August 27, 2010 at 1:57 am

    kayanya sanggahan anda untuk cerita mas joe ini, ngelantur deh, oh mungkin anda seorang atheis… bahasa saudara terlalu tinggi, bukan saya tidak ngerti jadi kesannya kemana mana untuk bantahan cerita saudara joe… (tidak nyambung)…

    wokelah kembali ke jilbab…
    saya tertawa membaca artikel saudara… (baca : ini orang ngerti kaga sih islam)…
    anda bilang dogma… hahaha…
    apakah anda paham betul hukum menggunakan jilbab bagi muslimah…???
    apakah anda paham betul hukum hukum islam yang mendalam…???
    kalau anda tidak mampu menjawab, ga usah buat wacana diatas karna itu akan menimbulkan fitnah, buatlah artikel yang berguna untuk kemaslahatan umat, jangan kamu buat artikel yang bersinggungan dengan agama tertentu…
    mungkin itu lebih berguna dan menambah pahala bagi kamu…..
    jangan kamu kotori blog kamu dengan artikel artikel sampah yang kamu buat dengan logika kamu, dan kamu tidak paham keseluruhan arti jilbab dalam agama islam…
    salam…

  9. Rinaldiwati said, on August 29, 2010 at 12:27 am

    @ Johansyah:

    Sdr. Joe yang pertama, memang agak keluar dari topik Jilbab. Dan saya menanggapi tanggapan beliau itu. Sudah saya kasih notes di awal tanggapan saya, bahwa memang ini tanggapan yang keluar topik. Silakan dicermati kembali.

    Kemudian, soal jilbab, anda menulis:

    “apakah anda paham betul hukum menggunakan jilbab bagi muslimah…???”

    Soal itu,saya paham betul, namun saya tidak setuju (memangnya kalau paham itu harus setuju?). Saya mencoba memberi pandangan lain atas jilbab. Saya mencoba berdialektika pada (dalam hal ini) ajaran Islam.

    Pahami kembali tulisan saya pada topik di atas, tangkap substansinya, dan jika anda keberatan, buat bantahannya di kolom komentar ini. Tentu, dengan sopan dan elegan, agar tidak merusak mood diskusi.

  10. Pujangga said, on January 13, 2011 at 3:42 pm

    Bahasanya kelewat pintar mbak, memang kalau orang terlalu pintar selalu membanding-bandingkan agama dengan kepintarannya.

    Nggak usah pakai bahasa muluk, bigini saja: Tuhan membikin aturan karena sudah tahu akan bagaimana ke depannya aturan tersebut jika tidak ditetapkan. Dan setiap aturan tentu akan mempunyai sanksi masing-masing bila dilanggar. Dan tentunya Tuhan telah memikirkan juga manfaatnya bagi manusia.

    Tuhan memerintahkan berjilbab kepada para perempuan, alasannya: salah satunya seperti yang telah Anda paparkan, untuk etik dan sopan santun, lainnya untuk melindungi ‘kehormatan’ perempuan itu sendiri, juga untuk kesehatan, kok bisa? Ya bisa dong, karena seluruh kulit terlindung baik dari sengatan sinar matahari langsung ataupun udara dingin

    Aneh memang, kenapa Tuhan mesti memberi ‘ancaman’ hukuman kepada perempuan yang tidak mau berjilbab, padahal keutamaan jilbab sendiri sebetulnya sebagai penolong bagi si perempuan itu. Bahasa gaulnya “Dibawa aman kok malah ngeyel!”. Contoh pling gampangnya, ketika Anda akan berhubungan badan dengan lawan jenis yang sudah jelas mengidap HIV, dan Anda sudah diingatkan untuk menggunakan kondom, tapi Anda malah mengabaikannya.

    Jadi diagram paling sederhannya begini:
    Tuhan kasih perintah -> Sudah ditentukan dulu manfaat dan kegunaannya buat manusia -> karena Tuhan adalah pemilik manusia maka Tuhan berhak menghukum manusia yang melanggar

    Saya kutip penggalan komentar yang ini:
    “Namun akan sangat tidak cocok diterapkan pada wilayah yang memiliki iklm tropis lembab. Penggunaan jilbab pada daerah ini akan membuat perasaan gerah, lengket karena kadar uap air yang tinggi dan terhalang/tertutup untuk sirkulasi udara di permukaan kulit.”

    Kenapa tidak cocok? dengan jilbab di iklim yang tropis atau panas, melindungi kulit dari terik matahari, jadi tidak usah pakai “sun block” atau apa lah istilah kerennya, dan gak akan gerah kalau sudah biasa. Kalau mengenai sirkulasi udara, ya jangan pakai jilbab atau pakaian dari bahan parasit dong…

  11. Rinaldiwati said, on January 14, 2011 at 12:03 am

    @ Pujangga: Ah, argumen anda kelihatan cuma cari-cari pembenaran saja. Kelihatan cuma dipas-paskan, supaya ajaran jilbab terlihat rasional. Itu namanya apologetika, basi.

    1. Sopan santun, etika, dan kehormatan itu 100% urusan manusia dan nggak ada urusan sama Tuhan atau jilbab. Emang kalau perempuan tak berjilbab berarti tak sopan? Itu sangat relatif dan bukan ilmu eksakta.

    2. Kemudian, jika fungsi jilbab adalah untuk melindungi kulit dari terik matahari, nggak perlu jilbab. Pake payung saja. Alasan anda itu mengada-ada, ketahuan banget anda cuma cari pembenaran.

    Lagipula, kalau pakai jilbab dengan alasan untuk melindungi kulit dari terik matahari, maka jilbab tak berlaku di dalam ruangan. Boleh dong buka jilbab ketika masuk gedung kantor? Tetapi menurut so-called “syariat”, nggak ada aturannya boleh membuka jilbab di dalam ruangan sejauh ada “non muhrim” di ruangan itu (misal ruangan kantor).

    3. “Tuhan yang bikin aturan” adalah tuhan yang ada dalam kepercayaan anda. Sejatinya, emang ada aturan tuhan? Nggak ada. Yang ada aturan manusia yang dianggap dari tuhan, karena tertulis di kitab yang dianggap suci, lantas didogmakan dan dicari-cari pembenarannya.

  12. Rinaldiwati said, on January 14, 2011 at 12:28 am

    @ Joe:

    Ada satu hal yg menggelitik. Misalankan, ada seorang yg sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Tuhan (bahkan Ateis sekalipun percaya adanya tuhan) sedang terapung ditengah lautan karna terjadi bencana/kecelakaan kapal atau apapun yg mengakibatkan dia bisa berada ditengah lautan sendirian..

    Sdr. Joe, perhatikan komentar anda yang saya bold. Anda ini ngerti apa itu ‘atheisme’ nggak sih? Tidak ada atheis yang percaya Tuhan. Kalau masih percaya Tuhan, bukan atheis namanya.

    Suatu hal yg menggelitik adalah disini. “Dia berdoa/memohon atau apapun istilahnya kepada sesuatu yg dia sama sekali tidak percayai sebelumnya” Sedangkan dia tidak percaya dengan keberadaan Tuhan sema sekali. Saya hanya ingin menekankan disini, bahwa ini adalah KODRAD manusia sebagai hamba kepada Tuhannya. dan Kodrad sama sekali tidak bisa dipungkiri.

    Sdr. Joe, mana ada atheis berdoa? Ah, anda ini. Cerita anda itu kontradiktif, anda menceritakan ada atheis yang berdoa. Kalaulah ada atheis yang “berdoa”, maka ia bukan atheis. Kalau dia ngaku atheis, maka bisa disimpulkan dia BERBOHONG.

    Sdr. Joe, diskusi itu menggunakan logika. Apa itu logika? Silakan anda pelajari sendiri. Pemahaman yang baik akan logika, membantu kita berkomentar secara lurus dan runtut. Sehingga apapun yang kita lontarkan, bisa dipahami oleh lawan bicara. Anda dulu sekolah tidak? Kalau anda sekolah dengan baik, anda pasti diajari suatu metoda pikir yang benar.

  13. wahyu said, on April 3, 2011 at 7:57 am

    diskusi diatas sekilas terlihat bahwa kebenaran seolah olah rumit. bagiku kebenaran adalah bila kita siap mati saat kita bersamanya…
    ohhh…bila logika dan wahyu dibenturkan. oh…sungguh akhirnya betapa banyak yang akhirnya tertipu oleh logikanya (maaf:yg telah tertipu iblis-u/ yg percaya ada iblis-), tanpa menafikan adanya orang yg menemukan iman yg berlipat justru lewat logika. betapa sebuah kaum akhirnya dimurkai Tuhan, karena dengan logikanya mereka menolak ajaran, membunuh nabi-nabi yg bertentangan dengan logika (sesat) dan nafsunya. Dan lihatlah, keburukan (AIDS, tingginya angka Perkosaan dan kriminalitas lain, seks bebas yg legal/tidak legal, dll) terjadi begitu dahsyat bagi mereka yg membiarkan logikanya meraja. terakhir. bila kita berbeda, bagimu agamamu, bagiku agamaku. semoga bermanfaat. selamat berjumpa di akhirat

  14. rosi said, on October 5, 2011 at 3:50 pm

    well, perintah berjilbab dalam AlQuran ditujukan bagi orang beriman, maka perintah ini tidak berguna bagi yang tidak beriman..
    sementara iman itu diperoleh bukan dari ucapan guru ngaji, orang tua, ulama, dll. iman itu diperoleh dari akal yang mengkaji kebenaran kitab..
    silahkan dibuktikan jika kitab itu salah maka tidak perlu beriman dan tidak perlu berjilbab :)

  15. Rinaldi said, on October 5, 2011 at 10:10 pm

    Rosi, sejak kapan iman diperoleh dari akal? Mengada-ada saja. “Iman” justru konsumsi manusia tak berakal (atau tumpul akalnya) yang doyan menerima suatu ajaran secara membuta.

    Dalam hal ini, anda memposisikan kebenaran Alquran layaknya “kebenaran” dalam ilmu eksakta. Padahal, dalam hal jilbab misalnya, Alquran bicara masalah nilai-nilai (values). Dan bicara nilai-nilai, benar atau salahnya tidak seperti benar-salah dalam ilmu eksakta. Nilai-nilai itu bersifat RELATIF.

    Yang jadi masalah dalam hal ini bukan apakah Alquran “benar atau salah”, tapi apa alasan Allah (melalui Alquran) memerintahkan wanita untuk berjilbab? Dan, apakah anda tidak berpikir bahwa apapun yang menjadi alasan, karena ini berkaitan dengan masalah nilai-nilai (values), maka tentu memiliki konteks ruang-waktu di mana perintah itu pertama kali muncul?

    Dan yang jadi pertanyaan: Apakah alasan tersebut masih relevan dengan kondisi sosial-budaya dan nilai-nilai masyarakat di masa kini? Itu yang menjadi sorotan.

  16. Rinaldi said, on October 5, 2011 at 10:15 pm

    ohhh…bila logika dan wahyu dibenturkan. oh…sungguh akhirnya betapa banyak yang akhirnya tertipu oleh logikanya (maaf:yg telah tertipu iblis-u/ yg percaya ada iblis-), tanpa menafikan adanya orang yg menemukan iman yg berlipat justru lewat logika. betapa sebuah kaum akhirnya dimurkai Tuhan, karena dengan logikanya mereka menolak ajaran, membunuh nabi-nabi yg bertentangan dengan logika (sesat) dan nafsunya. Dan lihatlah, keburukan (AIDS, tingginya angka Perkosaan dan kriminalitas lain, seks bebas yg legal/tidak legal, dll) terjadi begitu dahsyat bagi mereka yg membiarkan logikanya meraja.

    Wahyu, anda ngomong “logika”. Anda tahu apa itu logika? Frase “logika sesat” yang anda sebut itu “contradictio in terminis”.

    Saya menduga, sepertinya anda tidak mengerti betul terma yang anda ucap. Hal ini mengakibatkan pendapat anda mentah dan sukar dipahami alurnya.

    Silakan pelajari dulu apa itu logika yah.

  17. Diaz Adriansyah said, on June 26, 2012 at 2:29 pm

    Maaf, telat ngikutin. Masih boleh partisipasi khan ya?

    ‘Tetapi nampaknya, kebanyakan kaum Muslimin yang saya jumpai (disadari atau tidak) cenderung menggunakan “standar ganda” terhadap ajaran ini. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa ajaran jilbab adalah untuk menutup aurat dan itu baik, dan ini alasan humanis dan pragmatis yang bisa kita sepakati. Tapi di sisi lain, mereka menggunakan alasan “dogma” yang bersifat absolut, dan tak mempedulikan faktor relativitas nilai (terkait soal “aurat”).’

    Yg saya tangkep, tujuan tulisan ini terpusat pada paragraf ini ya sebenarnya. Klu saya salah, mohon koreksinya.

    Menurut pemahaman saya, dalam agama saya, kealpaan manfaat tidak membatalkan/menghapus syariat.
    Misalnya:
    1. Perintah shalat 5 waktu diharapkan supaya mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Tapi klupun seseorang tetap belum bisa menghindarinya, kewajiban shalat tetap berlaku, sementara pelakunya juga tetap wajib berusaha menghindari perbuatan keji dan munkar.
    2. Perintah puasa di bulan Ramadhan adalah agar orang yang beriman naik level menjadi orang yang bertaqwa (Al Baqarah ayat 183). Klu enggak kunjung jadi orang bertaqwa, puasa Ramadhan tetap wajib, dan orang yg beriman harus terus berusaha menjadi orang yang bertaqwa.
    3. Perintah berjilbab untuk wanita mukmin adalah agar mereka dikenal (ditandai sebagai mukmin, atau pada konteks lampau, sebagai perempuan merdeka dan bukan budak) dan agar mereka tidak diganggu (Al Ahzab surat 33 ayat 59). Klupun wanita mukmin tetap diganggu, jilbab tetap wajib dipakai, dan gangguan tersebut harus diusahakan untuk berhenti.
    4. Larangan makan bangkai, darah yg mengalir, dan daging babi disebabkan semuanya itu kotor (Al An’aam surat 6 ayat 145). Klu ketemu teknologi untuk membuat semua kotoran itu lenyap (misalnya, daging babi tidak lagi mengandung cacing pita dan di kemudian hari terbukti menyehatkan), makan daging babi tetap haram.
    5. Larangan minum khamr dan berjudi karena salah satu dampaknya adalah menyebabkan permusuhan (Al Maaidah surat 5 ayat 91). Klupun nantinya orang menjadi bersahabat karena minum khamr dan berjudi, kegiatan tersebut tetap diharamkan dalam agama saya.

    Jadi, saya rasa sih boleh2 aja orang berpendapat adanya manfaat antroposentris (maaf klu penggunaan istilah ini salah, sekadar mencoba menggunakan istilah penulis) dari syariat jilbab. Tujuan sebenarnya dari pelaksanaan syariat agama saya adalah ketaatan kepada Sang Pencipta (Adz Dzaariyaat, surat 51 ayat 56). Diharapkan manusia dapat berusaha untuk mengambil manfaat dari ketaatan itu.

    Begitulah pendapat saya.

  18. Dhan said, on March 11, 2014 at 11:59 am

    Bagi saya pribadi, dengan melihat fakta-fakta yang ada dunia, sesuai dengan kebenaran universal yang diberikan oleh Tuhan melalui wujud alam semesta ini, takdir bukan berarti sepenuhnya Tuhan telah menggariskan alur kehidupan manusia, tapi dalam artian pada hukum sebab akibat..jadi ketika orang berbuat “x” maka “y” pasti terjadi, hukum aksi reaksi, itu yang telah ditentukan oleh-Nya. Jadi bukan ketika seseorang menjadi pembunuh lantas kita bisa mengatakan dia telah ditakdirkan menjadi pembunuh, itu terjadi karena dia memilih jalan hidupnya. Bukankah kita manusia diberi akal oleh-Nya untuk memilih ? jalan yang benar atau jalan yang salah ? itulah bedanya kita dengan makhluk lainnya. Bahwa persoalan ketika orang memilih jalan yang salah lantas dia menjadi jahat, itu lah ketentuan Tuhan..jalan salah = x, akibat dari x itu adalah y = menjadi jahat / menjadi tak bermoral. Jadi saya setuju dengan mbak rinaldi (ternyata bukan mas2 hehe) bahwa kalau kiyai itu mengatakan takdir adalah sesuatu yang datang karena tak pernah kita sangka2 atau terpikir adalah tidak tepat sama sekali. Jadi bagi saya apapun yang terjadi di dunia ini semua telah ditakdirkan oleh Dia, semua telah direncanakan oleh-Nya, dalam artian sesuai dengan hukum sebab akibat..Saya pikir, ini cukup logis ya..tapi mari kita bersama ingat bahwa ilmu yang diberikan oleh Tuhan kepada kita masihlah sedikit sekali, maka dari itu kita tak bisa merasa lebih pintar dari-Nya, berpikir kritis silahkan, tapi pasti akan ada jawabannya jika kita menggunakan akal pikiran kita.. seandainya seluruh pohon di bumi menjadi pena dan seluruh lautan di bumi dijadikan tinta, itu pun belum cukup untuk menuliskan semua ilmu-Nya.

  19. benclung said, on June 25, 2014 at 10:05 pm

    Intinya penulis ini sangat pluraliame…agama ga bisa pake logika broo…lu tinggal taatin aja biar masuk surga..gtu aja kok repot…..

  20. ben said, on April 8, 2015 at 3:37 am

    Dogma mutlak tidak bisa diganggu gugat. Dogma juga tdk mengajarkan toleransi, tapi mengajarkan untuk menyebarkanluaskannya. Toleransi berasal dari humanisme. Seorang yg patuh terhadap dogma yg dianutnya akan menganggap yang dianutnyalah yg benar karena itulah ajaran dogma. Humanisme/kemanusian merupakan jembatan untuk mencapai tujuan yaitu “manusia manusia atas”. Secara tidak lansung humanisme mengajarkan level manusia harus dilampaui untuk menjadi “manusia manusia atas” yaitu manusia yang bisa menciptakan nilai nilainya sendiri tanpa dogma. Humanisme dengan “memanusiakan manusia” nya tidak sejalan dengan dogma. Humanisme untuk mencapai “manusia manusia” atas ada dalam filsafat nietzsche.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: