Sapere aude!

Democracy is not the enemy

Posted in Commentary by Rinaldi on February 9, 2009

Democracy is not the enemy.

Oleh Rinaldi

BEBERAPA hari yang lalu, saya membaca tulisan kawan saya di sebuah milis, yang isinya kurang lebih memaki-maki pemikiran Islam Liberal, dilengkapi dengan tudingan-tudingan curiga adanya “agenda terselubung” di balik pemikiran tersebut. Juga memaki-maki konsep demokrasi dan liberalisme dengan pemahaman distortif, dilengkapi dengan “bahan makian” berupa bukti-bukti pelanggaran HAM yang dilakukan negara-negara kampiun demokrasi seperti AS.

Sekilas, itu terdengar seperti alasan mengapa umat Islam harus menolak demokrasi (baca: konsep sekuler). Padahal, “kecurigaan populer” dan bukti-bukti pelanggaran HAM tersebut bukanlah alasan untuk mempersalahkan konsep demokrasi dan kebebasan, tidak pula ada sangkut-pautnya dengan benar-salahnya konsep tersebut.

Pola propaganda ini amat populer di kalangan fundamentalis, dan menjadi isu provokatif yang seringkali mereka gunakan untuk meyakinkan umat bahwa ide-ide yang berasal dari barat harus ditolak.

Dalam wacana-wacana kelompok fundamentalis, tudingan-tudingan curiga dan pemahaman-pemahaman distortif pada konsep demokrasi dan kebebasan (konsep sekuler), nampak mendapat porsi yang lebih besar daripada kritik terhadap substansi demokrasi sendiri. Ini terlihat pada selebaran-selebaran yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (buletin Al-Islam), yang seringkali menganggap ketidakbecusan pemerintah menjalankan negara, juga aneka pelanggaran HAM yang dilakukan AS, sebagai wujud “kegagalan sistem sekuler”. Curangnya, mereka kemudian mengajukan konsep Khilafah dalam tataran ideal sebagai bandingan dari demokrasi yang dipraktikkan menyimpang, dan ini jelas bandingan yang tidak fair.

Aneka tudingan tersebut jelas tidak valid dalam sebuah adu argumentasi. Ketidakbecusan pemerintah mengelola negara dan segala pelanggaran HAM yang terjadi di Guantanamo, Abu Ghraib, Afghanistan, Eropa, dan sebagainya, tidak lantas membuat ide demokrasi, kesetaraan derajat, dan kebebasan menjadi salah. Harus dibedakan antara kritik terhadap kebijakan-kebijakan barat dengan kritik terhadap substansi demokrasi dan kebebasan.

Kecurigaan adalah potensi konflik. Jika umat Muslim mengutuk segala bentuk kecurigaan dan pandangan distortif masyarakat barat terhadap Islam, khususnya pasca tragedi 9/11, maka umat Muslim pun harus mengikis segala kecurigaan dan pandangan-pandangan distortifnya terhadap konsep demokrasi dan kebebasan. []

 


 

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. joe said, on July 29, 2009 at 5:28 am

    demokrasi berhubungan erat dengan barat contohnya Hamas yg jelas2x menang pemilu ,tapi barat tidak mengakui,double standarttttt………….

  2. Rinaldiwati said, on September 24, 2009 at 2:57 am

    @ Joe: Kenapa barat tidak mau mengakui kemenangan HAMAS dalam pemilu? Karena, kemenangan HAMAS BUKAN BERARTI kemunculan demokratisasi di Palestina (Gaza). HAMAS hanya memanfaatkan demokrasi untuk “menghalalkan” kediktatorannya, baik atas Israel maupun atas Palestina (Gaza) itu sendiri.

    HAMAS sejatinya adalah organisasi fasis yang anti-Yahudi dan anti-demokrasi, dan sudah tentu, anti-dialog pula. Tidak ada bedanya HAMAS menang pemilu atau tidak, kelompok mereka akan tetap fasis.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: