Sapere aude!

Heboh Makam Yesus dan Perubahan Paradigma Beragama

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on March 5, 2009

Oleh Rinaldi

[Catatan: Ini sebenarnya tulisan lama yang ditulis pada Mei 2007, sebagai tanggapan atas hebohnya fenomena James D. Tabor waktu itu. Tabor adalah seorang arkeolog yang menulis buku The Jesus’ Dinasty, (bukunya sudah terbit di Indonesia dengan judul “Dinasti Yesus”) di mana dalam buku tersebut, beliau mengklaim telah menemukan makam Yesus. Bisa ditebak, hasil temuannya itu menggusarkan banyak orang, terutama kalangan teolog. Sebuah forum diskusi “lintas iman” pun lantas digelar di aula Teater Utan Kayu pada Jum’at, 25 Mei 2007. Penulis sempat menghadiri acara diskusi tersebut dan baru keesokan harinya membuat tanggapan ini, yang kemudian dipostkan pada beberapa mailinglist dan forum diskusi online serta mendapatkan reaksi beragam dari para pembacanya. Selamat membaca!]

Kover buku "The Jesus Dinasty" - Ilustrasi.

JAMES D. TABOR adalah nama yang belakangan populer, khususnya di kalangan teolog dan “orang beriman”, karena buku The Jesus’ Dinasty yang ditulisnya. Buku itu memaparkan tentang fakta-fakta historis seputar Yesus dan keluarganya, di antaranya memaparkan bahwa Yesus bukan tuhan, Yesus benar-benar mati dan tidak bangkit, penemuan makam Yesus dan keluarganya di Talpiot (sebelah selatan kota lama Yerusalem), serta upaya mengembalikan Kekristenan ke Yudaisme. Menjadi heboh, karena “Yesus historis” dalam buku Tabor bertentangan dengan ”Yesus normatif” dalam Alkitab.

Diskusi bulanan JIL di Utan Kayu Jumat kemarin (25 Mei 2007 –Red) membahas fenomena Tabor ini, dengan tema diskusi “Yesus Normatif vs Yesus Historis”. Narasumber adalah Pdt. Dr Ioanes Rakhmat dan M. Guntur Romli, serta dimoderatori oleh Abd. Moqsith Ghazali. Secara singkat, saya sejalan dengan pak Ioanes, bahwa jika Tabor benar mengenai makam Yesus, implikasi teologisnya tidak hanya menimpa kekristenan saja, namun juga Islam (plus Ahmadiyah). Dalam ajaran Islam, Isa Al Masih dipercaya telah diangkat Allah ke sorga (baik rohani maupun ragawi). Oleh karena itu Muslim mainstream tidak memiliki tradisi keyakinan apapun tentang makam Isa (tidak seperti Ahmadiyah yang meyakini makam Isa berada di Kashmir). Atas dasar itu, saya pikir persoalan heboh makam Yesus ini adalah persoalan bersama umat Islam dan Kristen, meski di lapangan terlihat ada kecenderungan memandang isu tersebut sebagai kritik terhadap kekristenan saja.

Tabor mungkin tidak sepenuhnya benar, bukunya mengandung sejumlah kritik baik umum maupun kritik terperinci. Namun lepas dari benar tidaknya, James Tabor melalui “The Jesus’ Dinasty” bukanlah satu-satunya orang yang telah menggusarkan iman penganut suatu agama dengan klaim temuannya. Sebelumnya kekristenan dihebohkan dengan “The Da Vinci Code”, lalu sebelumnya lagi, gereja pernah dihebohkan oleh temuan Nicholas Notovitch, tentang Yesus yang berada di India. Beberapa tahun silam, Islam juga sempat digusarkan dengan tesis Christoph Luxenberg yang mengatakan Al Quran asli berbahasa Aramaik, bukan Arab. Belum lagi isu klasik “teori evolusi Darwin” yang oleh sebagian orang dianggap mengancam dogma penciptaan.

Semua reaksi umat beragama atas segala isu provokatif tersebut, tanpa disadari telah memperlihatkan sisi lemah paradigma teosentrisme/idol-sentrisme nan dogmatis khas agama-agama semit. Paradigma seperti itu mudah sekali digusarkan oleh isu-isu yang sebenarnya secara akal sehat sepele, bisa ditanggapi dengan ringan saja. Memangnya kenapa jika ternyata manusia berevolusi dari kera? Jika Al Quran asli ternyata berbahasa Aramaik, atau Jawa sekali pun? Jika Yesus ternyata menikah dengan Maria Magdalena? Paradigma berpikir modern yang cenderung antroposentris, memandang hal-hal semacam itu bukan sebagai substansi dari ajaran agama.

Jika Tabor (atau “tabor-tabor” lain) benar, Kekristenan tak perlu mencari pembenaran dengan “memetaforkan kebangkitan Yesus”. Islam pun tak perlu mencari pembenaran dengan “penafsiran baru Al Quran”. Konsep agama yang selalu dicari-cari pembenarannya adalah tidak sehat, dan justru menunjukkan kelemahan agama tersebut. Memangnya sampai kapan akan mencari-cari pembenaran terhadap paradigma “iman” yang demikian, di tengah zaman yang makin terbuka, cerdas, dan kritis ini? Tindakan radikal yang dapat dilakukan (jika berani) adalah merubah paradigma beragama, dari teosentrisme/idol-sentrisme ke antroposentrisme. Dari “agama langit” yang dogmatis, ke “agama bumi” yang humanis.

Pada akhirnya, apa dan bagaimana fakta-fakta tentang Yesus menjadi tak begitu penting, kecuali sebatas wacana dan sejarah saja. Yang terpenting kini adalah, bagaimana menata keharmonisan pikiran sebagai pangkal dari keharmonisan laku. “Keharmonisan pikiran dan laku” itulah yang urgent dan nampaknya kian langka dalam peradaban manusia kini. Tak ada guna berdebat tentang siapa pelaku pemanah beracun, sementara korban yang terpanah sedang sekarat. Teologi dapat saja tampil humanis agar membumi, tetapi humanisme, saya kira, tidak perlu teologi. []