Sapere aude!

Paraeidolia; Menjawab Fenomena Penampakan Lafadz Allah

Posted in Mythbuster by Rinaldi on May 22, 2009

Arus laut pasca tsunami 2004 yang membentuk ‘lafadz Allah’. Salah satu contoh paraeidolia.

Author Rinaldi

SAYA merasa geli dan sedikit jengkel ketika di dalam sebuah bus kota, seorang pedagang asongan menawarkan sejumlah VCD yang berisi aneka rupa “tanda kebesaran Allah”, berupa gambar-gambar atau foto penampakan lafadz Allah dalam aksara Arab di berbagai tempat; awan, foto satelit, buah-buahan, kulit hewan, dan seterusnya. Dengan nada setengah dakwah, pedagang itu berupaya meyakinkan audiencenya untuk mempercayai isi  VCD tersebut. Memang sebuah tema yang provokatif, sehingga usaha si pedagang tidak sia-sia. Walhasil, beberapa orang tertarik dan membeli VCD yang dijajakan seharga Rp. 5000 itu. Di kalangan awam, cerita mengenai penampakan ladafz Allah sangat populer dan benar-benar diyakini sebagaimana adanya.

Untuk fenomena “lafadz Allah”, kalangan awam pada umumnya menerima itu dengan bangga dan ikhlas sebagai sebuah fakta “tanda kebesaran Allah” yang ada di alam semesta, yang kemudian dikait-kaitkan dengan kebenaran teologi mereka. Sayangnya, hampir tidak ada hasrat untuk bertanya dan mencari tahu mengenai fenomena apakah sebenarnya yang sedang mereka saksikan dalam foto tersebut, atau, apakah mereka satu-satunya umat beragama yang pernah menyaksikan “keajaiban” Tuhannya?

Faktanya, fenomena “penampakan ilahiyah” semacam itu juga pernah dialami oleh umat agama lain, tentu dalam konteks teologi yang mereka anut. Jika di komunitas Muslim yang menjadi fenomena adalah penampakan “lafadz Allah”, maka di kalangan Katolik yang menjadi fenomena adalah penampakan Bunda Maria, wajah Yesus, atau sebuah bentuk salib. Mediumnya bisa apa saja; mulai dari pohon, guratan di kayu, bercak di buah anggur, hasil rontgent otak, hingga bercak gosong pada roti panggang.

Kedua umat beragama itu dengan lugunya sama-sama meyakini fenomena ilahiyah yang mereka temukan, dan percaya bahwa itu benar-benar sebuah pesan dari Tuhan untuk manusia. Tapi, bagaimana sudut pandang ilmiah menjelaskan fenomena tersebut?

Pohon yang berbentuk seperti sosok ‘Bunda Maria’, contoh lain dari fenomena paraeidolia. Sumber: Yoism.org

Kalangan ilmuwan menyebut fenomena semacam itu sebagai Paraeidolia, sebuah fenomena psikologis di mana otak kita terangsang untuk menghubungkan sebuah fenomena acak dengan sesuatu yang kita kenal. Paraedolia berasal dari istilah Yunani; Para yang artinya bersamaan dan eidolon yang berarti gambar/citra. Contoh tradisional paling umum dari paraeidolia adalah imajinasi manusia tentang gambar wanita tua pada waktu bulan purnama, imajinasi gambar wajah manusia pada awan, bercak di tembok, dan sebagainya. Di ranah audio, fenomena paraedolia terjadi ketika seseorang merasa mendengar suara perempuan menangis dalam tiupan angin di waktu malam. Tiap orang dapat mempersepsi bentuk-bentuk acak sebagai sesuatu yang dikenalnya berdasarkan pengalaman pribadinya.

Beberapa tahun yang lalu, foto permukaan Mars yang direlease NASA sempat membuat heboh beberapa kalangan, karena dalam foto tersebut terlihat “sosok” mirip manusia yang diduga merupakan makhluk penghuni mars. Dr. Phil Plait, seorang astronom NASA kemudian mengklarifikasi hal tersebut, dan mengatakan bahwa itu hanyalah batu biasa yang kebetulan dipersepsi seperti manusia oleh imajinasi pemirsanya. Ini adalah contoh lain dari fenomena paraedolia. Contoh populer lagi adalah fenomena Pohon Monyet di Jurong West New Town, di Singapura, di mana sebuah pohon terlihat sangat mirip seekor monyet. Beberapa masyarakat lokal mempercayai pohon tersebut sebagai perwujudan dari Dewa Monyet dan setelah itu ribuan orang datang baik untuk sekedar menyaksikan bahkan berdoa.

Sesuatu yang sebenarnya merupakan fenomena alamiah biasa, menjadi sensasional dan “ajaib” karena kita tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakmengertian ini adalah pangkal dari semua mitos dan takhyul yang ada di dunia. []

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. atmo said, on September 21, 2009 at 12:23 pm

    Fenomena ini makin menjadi-jadi di abad dijital yang penuh rekayasa ini. Banyak orang yang lupa kalau di abad didital semua bentuk multimedia (teks, suara, gambar, video) itu “mampu di rekayasa” . Jadi, kalau belakangan fenomena Paraeidolia makin marak ya mungkin ini erat kaitannya karena banyak orang tak paham dan tak sadar kalau semua itu mudah direkayasa. Mirip lah dengan gambar atau film porno. Makanya, dimasa depan ada satu masalah besar dalam bidang hukum “dapatkah materi dijital dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan mengingat asalnya yang “mampu rekayasa” atau “mampu dimanipulasi”?”.

  2. Kucing Kampung said, on May 30, 2012 at 9:37 am

    Scumbag God: Karena “penampakan” simbol jauh lebih oenting ketimbang menangani masalah kemanusiaan di dunia.

    “Gue eksis loh”

  3. Kastha Poosthema said, on April 9, 2013 at 1:05 pm

    ….setuju dengan ulasan ini….

  4. Rizki Herdiawan said, on July 20, 2015 at 5:53 pm

    Hmm… seperti itu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: