Sapere aude!

Dunia Islam dan Kepedulian Terhadap HAM

Posted in Middle east by Rinaldi on July 12, 2009

Presiden Sudan, Omar al Bashir, membunuh sekurangnya 300 warga sipil di Sudan Selatan. Atas perbuatannya itu, kita tidak melihat ada protes berarti dari dunia Islam.

Author Rinaldi

JIKA kita intens menyimak konflik Israel-Palestina, atau konflik di timur tengah pada umumnya, akan muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu yaitu: apakah kecaman dunia Islam terhadap agresi Israel atas Palestina, atau invasi AS terhadap Irak dan Afghanistan disebabkan karena kepedulian umat Islam terhadap HAM? Kalau jawabannya adalah YA, maka akan muncul pertanyaan selanjutnya: kenapa mereka cenderung tidak peduli terhadap aneka pelanggaran HAM yang banyak juga dilakukan oleh negara-negara Muslim?

Memang menggelikan, ketika sejumlah Muslim memprotes kebijakan pemerintah Perancis yang melarang pemakaian simbol-simbol agama -termasuk jilbab- di sekolah-sekolah negeri, hampir tidak ada kelompok Muslim yang intens memprotes kebijakan pemerintah Saudi yang melarang pendirian gereja di negaranya. Serangan Israel ke jalur Gaza yang menewaskan sekian ratus warga sipil Palestina, dapat membuat jalan-jalan di Jakarta menjadi macet akibat demonstrasi. Namun, genosida yang dilakukan Presiden Omar Bashir, yang menewaskan lebih dari 300.000 warga sipilnya sendiri di Sudan selatan, tidak pernah sampai membuat umat Muslim sudi untuk berdemonstrasi secara intens, apalagi sampai mengerahkan massa hingga memacetkan jalan-jalan protokol.

Contoh aktual yang terjadi baru-baru ini adalah protes sejumlah pemuda Muslim di Alexandria, Mesir, terhadap Jerman. Pasalnya, seorang perempuan Muslim asal Mesir, Marwa Sherbini, dibunuh oleh seorang pemuda rasis di Jerman. Demonstran tersebut bahkan bersumpah bahwa Jerman adalah musuh Allah yang harus diperangi. Anehnya, di manakah demonstran itu pada Desember 2005, saat sejumlah polisi Mesir menyerbu kamp pengungsi di pusat Kairo, untuk “membersihkan” 2,500 pengungsi Muslim asal Sudan, memukuli hingga tewas 28 orang, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak?

Sikap-sikap yang demikian tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah dunia Islam serius dengan persoalan HAM, atau menjadikan HAM hanya sebagai “norma” ketika hendak mengkritik kaum kafir saja?

****

Dalam analisa yang sederhana, terlihat kecenderungan bahwa dunia Islam baru memiliki kepedulian yang begitu intens terhadap konflik kemanusiaan jika itu melibatkan “non-Muslim” -terutama Yahudi dan Kristen- sebagai pelakunya, dan umat Muslim sebagai korbannya. Kecenderungan ini terlihat jelas hampir di manapun komunitas Muslim berada, termasuk Indonesia.

Walid Shoebat, mantan ekstrimis Palestina dan pengarang buku “Why I Left Jihad”. Foto: Shoebat.com

Kenapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada dua hal yang bisa dipandang sebagai penyebab. Pertama, adanya kebencian laten di kalangan Muslim terhadap non-Muslim, khususnya Yahudi dan Kristen, yang ditanamkan sedemikian rupa oleh guru-guru agama dan disebarkan hampir ke seluruh masyarakat Muslim di dunia. Hal ini diperkuat oleh kesaksian Walid Shoebat, mantan mujahid Palestina yang menulis buku Why I Left Jihad, dalam sebuah wawancara di CNN. Walid menyimpulkan, rasisme terhadap Yahudi dan superioritas kearaban adalah akar konflik di timur tengah yang sesungguhnya. Itu sebabnya, kata Walid, Hasan Nasrallah tidak meminta maaf ketika roket-roket Hizbullah mengenai warga sipil Yahudi, tetapi meminta maaf ketika roket-roketnya mengenai warga sipil Arab-Muslim. Kedua, rasa persaudaraan yang sempit dan superioritas keumatan yang membuat umat Muslim “merasa tidak terlibat” jika konflik kemanusiaan tidak melibatkan Muslim sebagai korban dan non Muslim sebagai pelakunya. Dalam kasus umat Muslim yang membantai saudara seimannya sendiri, seperti kasus Omar Bashir atau Sadam Husein, dunia Islam pada umumnya tidak menaruh kepedulian serius. Ed Husain dalam bukunya The Islamist menuliskan bahwa ketika AS menginvasi Irak pada 2003 lalu, sejumlah pemuda Muslim di Suriah tergerak untuk berjihad membela rakyat Irak. Semangat “jihad” seperti itu jelas tidak dimotivasi oleh kemanusiaan, melainkan kebencian terhadap barat dan orang kafir (hal. 291). Sebab, banyaknya rakyat Irak terutama etnik Kurdi, Syiah, dan lawan politik Sadam yang ditekan, dibungkam, bahkan dibunuh semasa Sadam berkuasa (1979-2003), tidak membuat pemuda Muslim manapun tergerak untuk menumbangkan rezim Sadam.

Dari dua faktor di atas, nampak jelas kenapa umat Muslim cenderung lebih peduli dan “tergugah” hanya pada konflik-konflik kemanusiaan yang melibatkan orang kafir sebagai pelakunya dan umat Muslim sebagai korbannya. Yaitu kebencian terhadap barat dan orang kafir. Dalam kepedulian tersebut, tidak terlihat adanya motivasi HAM, selain dua faktor yang dijabarkan di atas. Sebab jika mereka benar peduli terhadap HAM, maka tentunya mereka akan bersuara imbang terhadap –contoh kecil saja- genosida warga sipil di Sudan selatan oleh Presiden Omar Bashir, atau rezim diktator Tan Shwe yang membunuhi puluhan biksu dalam sebuah demonstrasi di Myanmar.

****

Prasangka negatif yang terbentuk dalam diri umat Muslim terhadap Yahudi dan Nasrani amat kuat, bahkan tak kurang dari prasangka negatif dunia barat terhadap Islam. Ed Husain dalam The Islamist menuturkan bahwa di Arab Saudi buku-buku pelajaran Islam dipenuhi oleh ajaran kebencian terhadap orang kafir –Yahudi dan Nasrani. Walaupun hal tersebut agak berkurang setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak pasca tragedi 9/11.

Rasa superioritas keumatan yang tinggi, dan kebencian terhadap non-Muslim, terutama Yahudi dan Kristen inilah yang nampaknya membuat umat Muslim kehilangan akal sehatnya untuk menggunakan satu standar saja dalam memandang aneka konflik di dunia. Ketika Amerika Serikat atau Israel melakukan agresi atas suatu negara Muslim, sepertinya ini justifikasi yang bagus untuk melakukan protes keras dan mengekspresikan kebencian terhadap mereka. Dalil yang digunakan sebagai dasar protes pun macam-macam, dari mulai rapalan ayat-ayat Al Quran yang menyinggung soal Nasrani dan Yahudi, hingga –bagi yang bergaya moderat- norma hak-hak azasi manusia. Tetapi jika agresi, genosida, dan aneka kezoliman itu dilakukan oleh negara-negara Muslim sendiri, maka tidak ada suara selantang itu dari dunia Islam. []

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. samsul hidayatullah said, on September 26, 2009 at 3:27 am

    hebat…Anda suka memutar balikkan fakta…..
    bertobatlah sebelum ajalmu tiba…..

  2. samsul hidayatullah said, on September 26, 2009 at 3:34 am

    Abu bakar pernah meminta kepada Rasul utk mengajarinya sebuah do’a,maka beliau bersabda kepadanya :…. ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku sendiri dgn kezhaliman yg banyak,dan tdk ada yg mengampuni dosa, kecuali engkau, maka ampunilah dosaku dgn pengampunan dari sisi-Mu dan sayangilah aku. sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang….

  3. Rinaldiwati said, on September 26, 2009 at 4:05 am

    Tanggapan-tanggapan anda di atas sesungguhnya sama-sekali tidak menjawab substansi topik yang saya tulis mengenai di mana kepedulian dunia Islam terhadap HAM.

    Jika dicermati, dari tulisan saya di atas dapat disusun sebuah proposisi:
    Dunia Islam cenderung memiliki kepedulian yang begitu intens terhadap konflik kemanusiaan jika itu melibatkan “orang kafir” sebagai pelaku kekejaman dan umat Muslim sebagai korbannya”.

    Dalam tulisan tersebut, saya telah memberikan link yang bisa anda baca sebagai referensi penguat. Antara lain ini.

    By the way, ya, saya tahu Mer-C telah mengirim paramedis terbaik mereka ke Sudan. Namun, bagi saya ini belum imbang dibanding intensitas kepedulian umat Muslim terhadap konflik Israel-Palestina, Irak-AS, dan Afghoniston-AS.

  4. Rinaldiwati said, on September 26, 2009 at 5:08 am

    samsul hidayatullah :

    bertobatlah sebelum ajalmu tiba…..

    Dalam kaidah-kaidah argumentasi, apa yang anda tulis di atas merupakan sebuah fallacy “argumentum ad baculum”.

    If the writer ever uses coercion, intimidation, or even the hint of a threat or potential of fear, then that writer is using the appeal to force (argumentatum ad baculum) to manipulate the readers into accepting the writer’s conclusion. It is often used in politics and can be seen in such phrases as “might makes right.”

    Baca di sini:
    http://papyr.com/hypertextbooks/comp1/logic.htm#baculum

  5. Lukman Maulana said, on November 14, 2011 at 12:12 am

    Apakah anda sudah melihat dari kacamata Islam? anda Boleh Berpendapat seperti yang anda tulis Kalau anda Sudah mengerti islam……Jangan Berpendapat hanya dari Info info yang anda dapatkan dari Publik…..atau membaca buku yang bahkan kebenaran yang sesungguhnya saja dipertanyakan…….Kalau anda cerdas seharusnya anda tau arus Informasi sekarang ini susah untuk di percaya kebenarannya…..anda bahkan mengutip beberapa chanel Tv yang jelas jelas itu kacamata Amerika dan Israel (sebut CNN), jikalau saya juga melihat kejelekan kaum kafir di TV pendukung kaum islam , saya juga tidak semena-mena percaya hal itu……karena pasti ada api ada asap………Pernah membahas selain Muslim tidak? Kalau kita ubek mereka juga melakukan kekejaman pula, di dunia ini ada hitam ada Putih….. Jangan melihat satu orang dan Menyamakan dengan lainnya. kalau pun terjadi sesuatu, ada Api ada asap….Kenali dulu darimana apinya…..baru bicara asapnya……

  6. Rinaldi said, on November 15, 2011 at 3:51 pm

    Lukman,

    Jika dicermati, dari tulisan saya di atas dapat disusun sebuah proposisi:

    Dunia Islam cenderung memiliki kepedulian yang begitu intens terhadap konflik kemanusiaan jika itu melibatkan “orang kafir” sebagai pelaku kekejaman dan umat Muslim sebagai korbannya”.

    Anda bisa membantah proposisi ini atau tidak? Itu point diskusinya, bukan soal “kacamata”.

    Artikel di atas didasari dari fakta (kumpulan fakta). Tidak soal apakah cari CNN atau dari manapun. Media massa yang berijin resmi, dan jurnalisme itu sendiri, juga punya standart. Tidak bisa sembarangan kasih berita bohong. Kalo ada berita bohong, bisa langsung jadi blunder bagi media tsb.

    “Kalau anda cerdas seharusnya anda tau arus Informasi sekarang ini susah untuk di percaya kebenarannya…..”

    Harus dibedakan antara “objektif” dan “proporsional”. Yang sering dimainkan media itu proporsi berita, bukan objektifitas. Nah, soal “proporsi fakta” ini bisa dilengkapi melalui forum diskusi seperti ini.

    “atau membaca buku yang bahkan kebenaran yang sesungguhnya saja dipertanyakan…….”

    Saya membaca “The Islamist”, tulisan Ed Husain, mantan aktifis Hizbut Tahrir London. Anda meragukan kebenarannya? Jangan karena anda berseberangan paham lantas meragukan semua sumber informasi secara membuta.

    Opini yang saya ungkapkan di atas, sedikit banyak selaras dengan apa yang pernah dilontarkan Pak Tarek Fatah, seorang cendekiawan Muslim Kanada di blognya:

    http://www.averroespress.com/AverroesPress/Main/Entries/2009/7/9_Muslim_double_standards__Only_victims_of_US_or_Israeli_actions_matter.html

    Blog tsb kurang lebih mengurai bahwa ada kecenderungan umat Muslim lebih peduli pada penzoliman yang dilakukan non Muslim kepada umat Islam, ketimbang penzoliman sesama saudara Muslim.

    Komentar anda saya kira pointless, silakan diperbaiki.

  7. konyot said, on August 18, 2014 at 11:38 pm

    guru mts ane juga goblog2 ngajarin rasisme(terutama dg yahudi,padahal suka maen fb dan komputernya pake microsoft) dan kebencian terhadap agama lain,provokator banget deh.mulai sekarang ane gak percaya kata org sok,bnyk u’a yang maen duit dari fatwa,.ane percayanya ma gus dur aje deh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: