Sapere aude!

Tentang Kebebasan Beragama

Posted in Uncategorized by Rinaldi on September 6, 2009

“Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance..”

“Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers”.

(Universal Declaration of Human Right, Article 18-19)

Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

PRINSIP mendasar dari demokrasi yang telah menjadi norma modern adalah adanya pemahaman dan pengakuan atas kesetaraan derajat manusia. Jika ini dilupakan, maka lambat laun demokrasi akan berubah menjadi tirani mayoritas. Kelompok mayoritas akan bebas melakukan apapun atas nama “kehendak mayoritas”. Dalam konteks kehidupan beragama, kelompok-kelompok mayoritas akan “menekan” secara perlahan kelompok-kelompok minoritas, baik minoritas agama maupun minoritas pemahaman agama. Ini tentu akan menjadi suatu kondisi yang sulit bagi kelompok minoritas.

Sistem yang berlaku di sebuah negara haruslah mampu mengakomodir pluralitas yang ada di masyarakat, baik pluralitas yang bersifat genetis seperti ras, maupun yang bersifat ideologis seperti agama, pemikiran, nilai-nilai, atau ide-ide. Hal ini mengingat bahwa pluralitas merupakan suatu keniscayaan dalam peradaban. Batasan suatu pluralitas yang bersifat ideologis yang dapat diterima/ditolerir adalah sejauh hal tersebut tidak menimbulkan kerugian kongret di masyarakat; seperti gangguan pada kesehatan publik atau ancaman terhadap keamanan nasional. “Kebencian sentimentil” tidak bisa membuat suatu kepercayaan atau ide/pemikiran dibasmi secara paksa. Dalil teologi tidak bisa digunakan untuk melakukan perbuatan yang implikasinya melanggar norma HAM. Jika suatu dalil teologi yang dijadikan dalil untuk melanggar HAM ditolerir, maka kita harus sadar bahwa setiap orang dengan berdasar pada agamanya masing-masing dapat menggunakan dalil teologinya untuk melanggar HAM.

Perlu disadari bahwa agama bukanlah properti milik pribadi. Agama adalah konsep abstrak yang dimiliki khayalak luas, sehingga pada dasarnya siapa pun boleh “menyimpangkan agama”, atau dalam bahasa yang lebih halus memiliki pemahamannya sendiri terhadap agama, bahkan mengkritik agama. Masyarakat juga harus memahami adanya kesetaraan derajat manusia. Jika seseorang dapat memeluk suatu keyakinan dan dapat menyebarkannya dengan bebas, maka dia harus sadar bahwa orang lain pun memiliki hak dan keinginan yang sama. Segala keberatan ideologis atas pemahaman agama seseorang dapat dituangkan melalui forum dialog yang damai dan demokratis.

Adalah benar, bahwa kebebasan ada batasnya. Namun fenomena aliran sempalan yang baru-baru ini marak menjadi kontroversi seperti Al Qiyadah, Jemaah Salamulah, Ahmadiyah, dan sebagainya masih berada dalam batas-batas normatif demokrasi. Persoalan bahwa umat Islam (yang merasa benar) merasa terganggu secara psikis atas eksistensi mereka, itu adalah persoalan umat Islam, bukan persoalan bagi konsep demokrasi. Dan keresahan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memberangus paksa eksistensi mereka.

Negara modern adalah negara yang menghargai prinsip kesetaraan derajat manusia. Seharusnya tidak ada konsep “agama resmi”, karena tiap agama yang eksis dan berkembang di wilayah negara tersebut memiliki kedudukan dan nilai yang sama di mata negara. Penganutnya pun memiliki hak dan kewajiban yang sama pula. Tiap agama, tafsir agama, dan aliran kepercayaan bahkan kritik terhadap agama yang muncul dalam wilayahnya, harus dipandang sebagai kekayaan peradaban yang dihargai. []

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sociopolitica said, on September 24, 2009 at 11:19 pm

    Bila berpegang dan memahami etika keilahian yang dasar utamanya adalah kebenaran, umat Islam sebenarnya takkan mungkin menjadi pelaku tirani mayoritas, dalam kehidupan sosial apalagi dalam kehidupan beragama. Secara kuantitatif Islam (dan agama manapun juga) adalah milik setiap orang, tetapi secara kualitatif orang per orang sebagai pemeluknya ada dalam kedudukan setara. Dan dalam hubungan denganNya, setiap manusia memiliki kadar kualitasnya sendiri, yang tak bisa dihakimi oleh manusia lain dan atau siapapun kecuali olehNya.

  2. salim said, on November 30, 2012 at 7:40 pm

    cuma “likes” yang bisa saya bantu untuk penyebaran blog anda.. atau sedikit donasi jika ada wadahnya

    berharap dirilis kembaran dengan versi english, karena dunia berhak tau pemikiran anda,,

    (banyak yang punya pemikiran sama, tapi setengah-setengah dalam menyebar luaskan-nya)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: