Sapere aude!

Dakwah Fasis dalam Buletin Jum’at

Posted in Discourse by Rinaldi on October 10, 2009

Buletin Jum'at Annaafi - Ilustrasi.

Author: Rinaldi

SAYA geli dan sekaligus jengkel, ketika secara tidak sengaja membaca selembar buletin Jum’at “Annaafi”Annaafi adalah lembar buletin Jum’at yang terbit tiap minggu, dengan redaktur Ust. Drs. H. Ru’yat Hamidi, LC, penasihat dan dosen Korp. Mubaligh dan Mubalighoh Masjid Istiqlal Jakarta. Pada edisi tanggal tersebut, judul yang diangkat adalah “Kawan dan Lawan”, edisi 17 Rajab 1430 H/10 Juli 2009. ditulis oleh Ummu Akbar.

Sekilas tidak ada yang aneh pada judulnya. Namun ketika isinya dibaca, terlihat pandangan keislaman Ummu Akbar yang bercorak fasis, dengan menganggap bahwa musuh sejati umat Islam adalah orang kafir. Ya, “orang kafir”, tanpa ada penjelasan orang kafir seperti apa yang wajib dimusuhi oleh kaum Muslimin. Ummu Akbar juga menegaskan bahwa kawan sekaligus saudara “kita”, tentu saja sesama kaum Muslimin, dan lagi-lagi tanpa ada penjelasan kaum Muslimin seperti apa yang harus dianggap kawan dan saudara.

Untuk menjustifikasi pandangan sempitnya itu, Ummu Akbar “memanfaatkan” banyak ayat Al Quran. Antara lain adalah Al Mumtahanah ayat 1, An-Nisa 10, Ali Imran 28, Al Maidah 51, Al Hujurat 10 dan Al Munafiqun 4. Penggalan-penggalan Al Quran tersebut sudah tentu “dipilih” Ummu Akbar seenak jidatnya sendiri, dengan tentunya mengabaikan konteks ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang bernada toleran.

Dalam tulisannya, Ummu Akbar tampak ingin membangun opini di kalangan pembaca Muslim bahwa umat Muslim itu adalah superior atas orang kafir (non-Muslim). Dan semua orang kafir itu adalah musuh Allah yang inferior baik di dunia maupun akhirat, sampai-sampai berteman dengan mereka pun tidak boleh. Hal ini dipertegas pada paragraf ketiga dalam tulisannya, “kita tidak boleh berteman dengan mereka, atau bahkan memberi bantuan walau hanya berupa dukungan moral, begitulah seharusnya sikap kita terhadap orang-orang kafir”. Lagi-lagi, tidak ada penjelasan sama-sekali orang kafir seperti apa yang wajib dimusuhi. Sehingga dari tulisannya itu tersirat bahwa seluruh orang kafir adalah musuh kaum Muslimin. Demikian pandangan Ummu Akbar yang memayungi dirinya dengan beberapa ayat Al Quran di atas.

****

PANDANGAN Ummu Akbar yang demikian mengingatkan kita pada fasisme Hitler dan Kaisar Jepang pada PD II. Bedanya, Hitler dan Jepang menggunakan “ras” sebagai simbolisme atau “lem perekat”. Sementara Ummu Akbar dan kaum Islamis sejenis menggunakan “agama”.

Hitler dan Jepang memandang bahwa bangsa di luar ras mereka adalah musuh yang inferior, yang harus tunduk-takluk kepada mereka. Demikian pula pandangan Ummu Akbar dan kelompok Islamis sejenis, mereka memandang bahwa umat di luar agama adalah musuh yang inferior dan harus ditundukkan.

Adanya simbologi sebagai lem perekat demikian adalah salah satu ciri ideologi fasis. Hal tersebut dibangun untuk membuat masyarakat percaya bahwa kelompok mereka lebih unggul dari kelompok lain, sehingga mudah dimobilisir oleh penguasa. Sebagaimana Hitler dan Jepang menganggap “ras” mereka lebih unggul ketimbang ras lain, maka demikian juga Ummu Akbar dan kaum Islamis sejenis, menganggap kelompok agama mereka lebih unggul dan mulia ketimbang umat agama lain.

Propaganda fasis juga memiliki ciri khas lain: yaitu menjual kewaspadaan atas ancaman dari luar (baik yang benar-benar ancaman, maupun yang sekedar diada-adakan). Saya pikir sudah bukan rahasia, bahwa kelompok Islamis kerap kali menjadikan “barat” –dengan elemen-elemennya yaitu Nasrani, Yahudi, dan sekuler-ateis– sebagai musuh yang senantiasa mengancam kaum Muslimin. Berbagai cara selalu dilakukan untuk menyalahkan “barat” atas segala penderitaan umat Muslim. Seringkali sikap ini begitu berlebihan sehingga membuat mereka lupa terhadap kezaliman yang diperbuat oleh sesama saudara Muslim sendiri.

Mari kita berprasangka baik terhadap ajaran agama Islam yang “rahmatan lil alamin”. Namun sebaiknya “prasangka baik” ini hendaknya jangan sampai membuat kita tenggelam terhadap materi-materi dakwah sebagaimana tersaji dalam buletin Jum’at di atas. Bagaimana pun, fasisme adalah musuh peradaban modern yang bebas, egaliter dan manusiawi.

Sangat disayangkan jika masyarakat Muslim tidak memiliki kepekaan terhadap dakwah-dakwah bernada fasis seperti di atas, sehingga tulisan-tulisan manusia sejenis Ummu Akbar dapat melenggang bebas di masjid-masjid. Celakanya, tulisan tersebut mungkin menjadi inspirasi bagi jammaah yang “imannya” kurang kuat. Inilah cikal-bakal radikalisme Islam yang biasanya berujung pada aksi-aksi kekerasan fisik. Umat Muslim seharusnya sadar, bahwa musuh sejati mereka sebenarnya bukan orang kafir, tapi penyakit hati dan rasa superioristis yang didakwahkan oleh saudara mereka sendiri. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: