Sapere aude!

Kebangkitan Buddhisme di Amerika

Posted in Discourse by Rinaldi on November 27, 2009

Buddha Gautama di bawah pohon Bodhi.

Oleh Rinaldi

PERKEMBANGAN peradaban manusia rupanya telah membawa perubahan pada segenap sisi kehidupan, antara lain sisi spiritualitas. Sebuah fakta yang menarik bahwa ”spiritualisme” sedang berkembang di negara sekuler macam Amerika[1]. Masyarakat di sana rupanya sudah ”lelah” dengan agama-agama yang bersifat institusional dan dogmatis (baca: agama semitik), dan cenderung memilih jalan hidup yang antropo-sentris. Buddhisme menjadi salah satu alternatif yang semakin banyak digemari masyarakat di Amerika.

Tidak hanya masyarakat Amerika, golongan intelektual pada umumnya memang memiliki apresiasi yang baik terhadap Buddhisme, dikarenakan prinsip ajarannya yang tidak dogmatis dan sejalan dengan cara berpikir modern. Salah satunya adalah Derek Parfit[2] dari Oxford University yang telah menerima pandangan Buddhis tentang kehidupan dan konsep ”tiada jiwa” (annata).

Di seluruh dunia, penganut Buddhisme tergolong sedikit, yakni sekitar 500 juta orang saja. Terbanyak adalah Kristen (2 milyar), disusul Islam (1,5 milyar). Lahir di India 2500 tahun yang lalu sebagai ”penyempurnaan” dari agama Hindu, kemudian lebih banyak berkembang di Tiongkok. Seorang guru agama Hindu bernama Paramartha, memiliki andil dalam membawa agama Buddha ke Tiongkok bagian selatan. Beliau memperkenalkan kitab Sutra Suranggana yang ditulis pada abad ke-I Masehi dalam bahasa Sansekerta kepada para sarjana di Tiongkok, untuk kemudian diterjemahkan dan dipelajari. Kitab Sutra Suranggana banyak menuangkan konsepsi Buddhis tentang pikiran dan segenap fenomenanya. Kitab ini menjadi favorit di kalangan terpelajar Tiongkok pada waktu itu.

Meditasi, praktik spiritual modern-lintas-agama yang tidak bersifat worship.

Dibandingkan Abrahamic faiths, Buddhisme tergolong unik, sebab tidak berparadigma teosentris/idol sentris. ”Tuhan” bukanlah persoalan yang utama di dalam Buddhisme. Seorang atheis, agnostis, atau theis, dapat saja menjadi penganut Buddha. Dengan begitu, fundamen ajaran Buddha bukanlah dogma-dogma teologi, tetapi sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri, yakni pikiran (minds). Sebab pikiran adalah sumber dari segala permasalahan yang muncul dalam kehidupan manusia, seperti adanya keinginan, hawa nafsu, emosi, penalaran, pencerapan, berbagai ide/konsepsi/kepercayaan, yang kesemuanya itu perwujudan dari ego atau “aku”. Dengan mengetahui seluk beluk pikiran atau “aku” beserta segenap fenomenanya, kita dapat mencari akar permasalahan dan menundukkannya. Hal ini diwujudkan dengan berbagai latihan disiplin dan praktik meditasi. Dari pikiran sebagai fundamen itulah, maka Buddhisme banyak disebut oleh para orientalis barat sebagai ”ilmu pengetahuan tentang pikiran”. Dari situ dapat dipahami bahwa Buddhisme memiliki metoda memandang ke dalam (menguasai pikiran/diri sendiri) terlebih dahulu untuk kemudian membuat laku ke luar/menanggapi alam sekitar (termasuk misalnya menolak atau menerima suatu ajaran). Sehingga Buddhisme tidak mementingkan siapa yang mengajarkan suatu ajaran apakah ”nabi” atau ”tuhan” atau ”orang penting” mana pun, tetapi apa yang diajarkan. Apakah bermanfaat atau tidak, apakah logis atau tidak, dan sebagainya. Dan semua penilaian itu tentunya tergantung pada bagaimana kualitas pikiran kita (sikap ini diterapkan termasuk kepada ajaran Buddha Gautama sendiri, seperti yang dituturkan beliau dalam khutbahnya pada orang-orang suku Kalama[3].

Meski banyak diminati oleh masyarakat Amerika dan banyak diapresiasi oleh kaum cendekiawan, citra Buddhisme tidaklah sebagus itu di Asia dan masyarakat awam pada umumnya. Di Asia, Buddhisme banyak ditinggalkan penganutnya yang beralih ke agama Kristen. Buddhisme juga dianggap sebagai agama yang kolot, penyembah berhala, kaku, dan sudah ketinggalan jaman. Semua tuduhan itu muncul karena orang tidak banyak tahu tentang agama Buddha yang sesungguhnya.

Larisnya agama Buddha di masyarakat Barat dan kalangan cendekiawan umumnya, menunjukkan adanya fenomena perubahan paradigma beragama, dari ”teosentrisme” yang dipopulerkan oleh agama semitik (Abrahamic Faiths) menjadi ”antropo-sentrisme”. Oleh beberapa penganut secular humanism, tradisi ”worship” bahkan sudah dianggap ketinggalan jaman dan terganti dengan praktek-praktek spiritual seperti meditasi dan yoga. Fenomena perubahan paradigma beragama ini hendaknya dapat menyadarkan kita untuk secara jujur me-review kembali paradigma beragama yang selama ini kita jalankan.[]



[1] Baca link berikut ini: http://www.csmonitor.com/2006/0914/p14s01-lire.html

[2] Derek Parfit, Oxford University: “Ketika saya masih percaya bahwa keberadaan saya adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri, saya merasa terkurung dalam penjara. saya merasa hidup dalam terowongan gelas di mana melalui terowongan ini saya bergerak makin cepat setiap tahun dan akhirnya terdapat kegelapan diujung terowongan. setelah saya mengubah pandangan saya, dinding-dinding dari terowongan gelas tersebut melenyap. saya sekarang hidup dalam udara bebas”.

[3]Do not believe in what you have heard; do not believe in traditions because they have been handed down for many generations; do not believe in anything because it is rumoured and spoken by many; do not believe merely because a written statement of some old sage is produced; do not believe in conjectures; do not believe in that as truth to which you have become attached from habit; do not believe merely the authority of your teachers and elders. After observation and analysis, when it agrees with reason and is conducive to the good and gain of one and all, then accept it and live up to it.” (Buddha teach to Kalama’s)

Catatan Kecil Mengenai “2012”

Posted in Uncategorized by Rinaldi on November 27, 2009

Film yang membakar "jenggot" Ulama.

Oleh Rinaldi

SEBENARNYA ada yang perlu dicatat perihal film 2012 yang heboh belakangan ini. Bahwa Roland Emmerich selaku pembuat film, memiliki pengertian “kiamat” yang berbeda dengan ajaran agama samawi, semisal Islam. Dengan kata lain, sebenarnya Emmerich tidak sedang membuat film tentang “kiamat” – jika pengertian istilah tersebut hanya boleh ditautkan dalam konteks teologi Islam. Hanya sebuah bencana super besar yang meluluh-lantakkan bumi, sehingga sedikit saja makhluk hidup yang selamat, persis kisah Nabi Nuh.

“Kiamat” dalam benak Emmerich, dalam konteks film 2012, adalah rentetan bencana alam yang super dahsyat, hingga memporak-porandakan bumi, namun tidak menghancurkannya secara total. Dalam pengertian ini, jelas sangat mungkin manusia berhasil lolos dari bencana dahsyat tersebut, dengan misalnya membuat sebuah kapal besar, sebagaimana digambarkan dalam film. Juga jelas, bahwa “kiamat” dalam benak Emmerich berbeda dengan “kiamat” yang dimaksud dalam doktrin agama Islam.

Bagian akhir film 2012 tidak menggambarkan kehancuran bumi secara total. Hanya sebagian besar digambarkan hancur, dengan sedikit yang selamat yaitu yang masuk ke dalam sebuah kapal besar.

Sedangkan dalam ajaran agama samawi, “kiamat” digambarkan kehancuran bumi secara total, di mana tak seorang pun selamat. Bencana besar ini dipandang sebagai benar-benar akhir segalanya, dan kemudian muncullah apa yang disebut “hari penghakiman”. Dalam kepercayaan samawi pula, baik menurut Kristen maupun Islam, “kiamat” mestilah didahului oleh sejumlah “tanda-tanda teologis”, seperti turunnya Isa Al Masih, Imam Al Mahdi, “anti-christ”, dan sejenisnya. Kedua agama tersebut percaya, bahwa Isa Al Masih atau Yesus Kristus akan turun untuk kedua kalinya menjelang kiamat. Ini jelas tidak digambarkan dalam film, yang menunjukkan bahwa film tersebut memang tak berangkat dari kerangka teologi samawi dalam memandang “kiamat”.

Setelah menonton filmnya, kita bisa lihat bahwa ada perbedaan paham yang begitu besar dan mendasar antara Roland Emmerich selaku pembuat film, dengan kalangan agamawan konservatif –dalam hal ini MUI– dalam memandang “kiamat”.

Emmerich tampaknya tidak memandang “kiamat” secara teologis, namun secara rasional (ini di luar kepercayaan suku Maya mengenai kiamat yang mendasari ide film tersebut). Ini menyebabkan imajinasi Emmerich bisa “lepas”, tanpa harus terikat dengan patron-patron teologi mengenai “kiamat”. Filmnya sama-sekali tidak melibatkan unsur teologi semitik mengenai kiamat. Tak ada kutipan “Kitab Wahyu” di filmnya. Dalam pandangan Emmerich yang demikian, sesungguhnya tak perlu “iman” untuk bisa mengatakan bahwa bumi, suatu hari nanti, akan hancur sebagaimana tergambar pada filmnya. Juga bukan mustahil, bencana sebesar itu akan bisa diprediksi sekian tahun sebelumnya. Jadi “kiamat” di sini tak mesti benar-benar datang “seperti pencuri di waktu malam”.

Sementara MUI yang mewakili agamawan konservatif, selalu terpatri pada perspektif teologis dalam memandang sebuah bencana –yang sebenarnya peristiwa alam biasa dalam konteks kosmik–, yaitu kehancuran bumi. Tak ada konsep lain mengenai hari akhir, selain dari apa yang dikatakan dalam kitab suci. Sehingga ketika MUI menjumpai “versi berbeda” mengenai hari akhir, beranglah mereka. []