Sapere aude!

Catatan Kecil Mengenai “2012”

Posted in Uncategorized by Rinaldi on November 27, 2009

Film yang membakar "jenggot" Ulama.

Oleh Rinaldi

SEBENARNYA ada yang perlu dicatat perihal film 2012 yang heboh belakangan ini. Bahwa Roland Emmerich selaku pembuat film, memiliki pengertian “kiamat” yang berbeda dengan ajaran agama samawi, semisal Islam. Dengan kata lain, sebenarnya Emmerich tidak sedang membuat film tentang “kiamat” – jika pengertian istilah tersebut hanya boleh ditautkan dalam konteks teologi Islam. Hanya sebuah bencana super besar yang meluluh-lantakkan bumi, sehingga sedikit saja makhluk hidup yang selamat, persis kisah Nabi Nuh.

“Kiamat” dalam benak Emmerich, dalam konteks film 2012, adalah rentetan bencana alam yang super dahsyat, hingga memporak-porandakan bumi, namun tidak menghancurkannya secara total. Dalam pengertian ini, jelas sangat mungkin manusia berhasil lolos dari bencana dahsyat tersebut, dengan misalnya membuat sebuah kapal besar, sebagaimana digambarkan dalam film. Juga jelas, bahwa “kiamat” dalam benak Emmerich berbeda dengan “kiamat” yang dimaksud dalam doktrin agama Islam.

Bagian akhir film 2012 tidak menggambarkan kehancuran bumi secara total. Hanya sebagian besar digambarkan hancur, dengan sedikit yang selamat yaitu yang masuk ke dalam sebuah kapal besar.

Sedangkan dalam ajaran agama samawi, “kiamat” digambarkan kehancuran bumi secara total, di mana tak seorang pun selamat. Bencana besar ini dipandang sebagai benar-benar akhir segalanya, dan kemudian muncullah apa yang disebut “hari penghakiman”. Dalam kepercayaan samawi pula, baik menurut Kristen maupun Islam, “kiamat” mestilah didahului oleh sejumlah “tanda-tanda teologis”, seperti turunnya Isa Al Masih, Imam Al Mahdi, “anti-christ”, dan sejenisnya. Kedua agama tersebut percaya, bahwa Isa Al Masih atau Yesus Kristus akan turun untuk kedua kalinya menjelang kiamat. Ini jelas tidak digambarkan dalam film, yang menunjukkan bahwa film tersebut memang tak berangkat dari kerangka teologi samawi dalam memandang “kiamat”.

Setelah menonton filmnya, kita bisa lihat bahwa ada perbedaan paham yang begitu besar dan mendasar antara Roland Emmerich selaku pembuat film, dengan kalangan agamawan konservatif –dalam hal ini MUI– dalam memandang “kiamat”.

Emmerich tampaknya tidak memandang “kiamat” secara teologis, namun secara rasional (ini di luar kepercayaan suku Maya mengenai kiamat yang mendasari ide film tersebut). Ini menyebabkan imajinasi Emmerich bisa “lepas”, tanpa harus terikat dengan patron-patron teologi mengenai “kiamat”. Filmnya sama-sekali tidak melibatkan unsur teologi semitik mengenai kiamat. Tak ada kutipan “Kitab Wahyu” di filmnya. Dalam pandangan Emmerich yang demikian, sesungguhnya tak perlu “iman” untuk bisa mengatakan bahwa bumi, suatu hari nanti, akan hancur sebagaimana tergambar pada filmnya. Juga bukan mustahil, bencana sebesar itu akan bisa diprediksi sekian tahun sebelumnya. Jadi “kiamat” di sini tak mesti benar-benar datang “seperti pencuri di waktu malam”.

Sementara MUI yang mewakili agamawan konservatif, selalu terpatri pada perspektif teologis dalam memandang sebuah bencana –yang sebenarnya peristiwa alam biasa dalam konteks kosmik–, yaitu kehancuran bumi. Tak ada konsep lain mengenai hari akhir, selain dari apa yang dikatakan dalam kitab suci. Sehingga ketika MUI menjumpai “versi berbeda” mengenai hari akhir, beranglah mereka. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: