Sapere aude!

[Tes Post] Tentang Pemblokiran Situs Internet

Posted in Uncategorized by Rinaldi on January 1, 2010

“Ketika buku “Faith Without Fear: A Challenge to Islam Today” yang ditulis oleh feminis Muslim liberal asal Kanada, Irshad Manji, dilarang di beberapa negara Muslim yang bercorak diktator, internet membantu banyak orang mendapatkan akses atas buku itu. Irshad melayani pembacanya dengan menyediakan buku itu secara online dan gratis. Lihat, tidak ada diktator di dunia maya.”

SAYA sedikit bingung campur jengkel, melihat berbagai wacana mengenai rencana pemblokiran situs-situs “yang dianggap terlarang” di internet. Terlebih ketika mantan presiden PKS Tifatul Sembiring, mulai menjabat sebagai menkominfo, intensitas dukungan kelompok masyarakat tertentu terhadap ide pemblokiran situs-situs yang mereka anggap “meresahkan”, relatif meningkat. Fenomena sosial ini bisa kita lihat di beberapa grup di facebook.

Kejengkelan dan kebingungan saya bukan tanpa alasan. Memblokir situs-situs internet yang dianggap meresahkan, boleh-boleh saja. Namun, apa definisi atau batasan dari “meresahkan”, itu yang menjadi masalah besar. Sebab, jika definisi “meresahkan” dirumuskan secara serampangan, alih-alih pemblokiran tersebut memiliki nilai edukasi bagi masyarakat, boleh jadi malah memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat, bahkan bisa merupakan teror terhadap intelektualitas. Dunia maya yang semestinya menjadi media alternatif untuk menyampaikan berbagai ide dengan leluasa dan bebas, malah terpenjara dengan adanya seperangkat regulasi yang bercorak otoriter. Internet bisa menjadi media dengan karakteristik “Indonesia zaman orde baru”.

“Penodaan agama” dan “pornografi” adalah dua materi sensitif yang nampaknya memotori beberapa kelompok masyarakat untuk memblokir situs-situs internet dengan konten tersebut. Dan nampaknya, “agama” cenderung menjadi pangkal motivatornya. Tetapi sekali lagi, apa batasan atas dua materi tersebut?

Soal definisi atau batasan ini memang layak dipermasalahkan, berdasarkan pengalaman bahwa masyarakat kita seringkali tak mampu memandang berbagai persoalan sensitif secara jernih dan logis. Apalagi jika persoalan tersebut sedikit banyak menyangkut soal “agama”. Kekaburan definisi memungkinkan masyarakat untuk seenaknya menghakimi sesuatu sebagai “pornografi”, “meresahkan masyarakat”, atau “pelecehan agama” atas sembarang hal yang mereka pikir begitu. Indonesia sepertinya memiliki segudang contoh kasus konyol dalam hal ini.

***

Ulil Abshar-Abdalla.

SEKITAR tahun 2002, FUUI Bandung memberi fatwa mati terhadap Ulil Abshar-Abdalla, koordinator JIL waktu itu. Pasalnya, FUUI menuduh Ulil melakukan penodaan agama Islam melalui artikel yang ditulisnya di harian Kompas pada 18 November 2002, yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Apakah yang ditulis Ulil sesungguhnya? Hanya sebuah opini kritis-progresif mengenai bagaimana Islam yang seharusnya, yang kebetulan, berbeda dengan Islam yang dipahami oleh kelompok FUUI.

Di tahun berikutnya, salah satu edisi majalah Newsweek sempat dilarang beredar di Indonesia, karena majalah tersebut memuat artikel Stefan Theil yang melansir tesis Prof. Christoph Luxenberg, seorang Profesor Bahasa Semit dan pakar filologi di Universitas terkemuka di Jerman. Luxenberg berpendapat bahwa Al Quran yang ada saat ini mengalami mistranscribed atau salah salin. Teks asli Al Quran, menurut Luxenberg, lebih mirip bahasa Aramaik ketimbang bahasa Arab. Pendapat ini rupanya membuat panas telinga para petinggi MUI. Kemudian, dilayangkanlah surat ke Kejaksaan Agung, meminta agar majalah Newsweek edisi tersebut dilarang beredar dengan alasan religious blemish. Majalah Newsweek pada edisi itu juga sempat dilarang di beberapa negara mayoritas Muslim, dengan alasan yang kurang lebih sama.

Dua contoh kasus di atas adalah sebagian kecil dari bagaimana “teror” terhadap intelektualitas yang dikemas dengan istilah “penodaan agama”, melanda para cendekiawan. “Teror” dilakukan oleh sekelompok agamawan jumud-fanatik, hanya karena mereka tidak sependapat, atau tepatnya, tidak suka dengan buah pikir penulis. Adanya perilaku tersebut sesungguhnya diakibatkan oleh rasa tidak nyaman karena berhadapan dengan benturan yang begitu dahsyat dalam iman dan keyakinannya.

Saya kira, begitu pula dengan “pornografi”. Kekaburan definisi mengenai istilah tersebut, memungkinkan siapapun untuk menghakimi gambar apapun yang mereka pikir begitu. Boleh jadi, akan banyak karya seni yang potensial ditafsirkan oleh sekelompok orang “porno”, dilaporkan untuk kemudian diberangus. []

TULISAN INI BELUM KELAR, CUMA TES DOANG. JANGAN DIKOMENTARI DULU, HEHEHE……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: