Sapere aude!

Fauzan Al Anshori: Demokrasi Itu Kafir dan Najis!

Posted in Commentary by Rinaldi on January 14, 2010

 

Fauzan Al Anshori.

Oleh Rinaldi

SAYA barusan baca-baca majalah Syir’ah edisi April 2004. Ada ucapan lucu dari Fauzan Al-Anshori. Memang peristiwanya sudah tidak up to date, tetapi sekiranya ini dapat menjadi wawasan bagi kita, mengenai bagaimana orang-orang semacam Fauzan berpikir. Ini tidak bermaksud membahas mengenai Syariat Islam, demokrasi, atau ideologinya MMI. Tetapi menanggapi sedikit ucapan Fauzan di majalah tersebut. Mari kita simak apa yang dia katakan:

Dalam sebuah wawancara, Fauzan mengatakan ini:

“Demokrasi itu kafir dan najis bagi kami. Tetapi sekalipun demikian, masih ada gunanya, minimal bisa bebas berbicara.”(Fauzan Al-Anshori – Ketua Dept. Data dan Informasi MMI)

Hehehe.. dasar bocah gemblung! Itu sama aja dia ngomong begini:

“Daging babi itu haram bagi kami. Tetapi sekalipun demikian, masih ada gunanya, minimal buat ganjel perut”.

Lihat nih diagramnya:

Daging babi haram –> Sebagai makanan

buat ganjel perut –> Memanfaatkan daging babi sebagai makanan

Sama nilainya dengan:

Demokrasi najis –> Sebagai suatu sistem ideologi yang di dalamnya terdapat kebebasan berbicara.

Sekalipun demikian, masih ada gunanya, minimal bebas bicara –> Memanfaatkan demokrasi sebagai suatu sistem ideologi yang di dalamnya terdapat kebebasan berbicara.

Berarti itu sama saja Fauzan ngomong babi haram, tapi dimakan juga buat ganjel perut!

Mengenai analogi babi, mungkin dia akan ngeles: “babi memang haram, tetapi kan masih ada gunanya, minimal buat nimpukin maling, nah itu analogi yang tepat buat ucapan saya di atas”.

Analogi di atas tidak tepat. Penjelasannya lihat diagram di bawah ini:

Daging babi haram –> Sebagai makanan.

Buat nimpukin maling –> Tidak memanfaatkan daging babi sebagai makanan.

Tidak klop dengan omongan Fauzan di atas berikut ini:

Demokrasi najis –> Sebagai suatu sistem ideologi yang di dalamnya terdapat kebebasan berbicara.

Sekalipun demikian, masih ada gunanya, minimal bebas bicara –> Memanfaatkan demokrasi sebagai suatu sistem ideologi yang di dalamnya terdapat kebebasan berbicara.

Kalau masalah “nimpukin maling” itu, sama nilainya (klop) dengan ini:

“Demokrasi itu kafir dan najis bagi kami. Tetapi sekalipun demikian, masih ada gunanyalah, minimal sebagai bandingan untuk menunjukkan kemuliaan Syariat Islam.

Diagramnya gini:

Demokrasi najis –> Sebagai suatu sistem ideologi yang di dalamnya terdapat kebebasan berbicara.

Minimal sebagai bandingan untuk menunjukkan kemuliaan Syariat Islam –> Tidak memanfaatkan demokrasi sebagai suatu sistem ideologi yang di dalamnya terdapat kebebasan berbicara.

Mungkin Fauzan akan ngeles lagi: “Dalam ‘keadaan darurat’, daging babi bisa saja dihalalkan kok, begitu juga demokrasi”.

Oke, ini bagian saya untuk menjawab: Untung saja dalam “keadaan darurat” Fauzan berada di iklim demokrasi, bisa bebas ngomong (baca: bebas menyuarakan ide Syariat Islam), lha kalo ada di negara diktator?

Jawaban saya itu sama nilainya dengan:

Untung saja dalam “keadaan darurat”, Fauzan nemu daging babi (senajis-najisnya masih “enak” dijadiin makanan), lha kalo nemu tai ledig? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: