Sapere aude!

Fatwa Haram Valentine dan Sejumlah Tanggapan

Posted in Commentary by Rinaldi on February 11, 2010

Valentine's Day postcard, circa 1910 - Ilustrasi - Wikipedia.

Oleh Rinaldi

SUDAH bisa diduga, lembaga keulamaan macam MUI pasti mengharamkan perayaan Valentine’s Day yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Dan bisa ditebak, seperti biasanya alasannya irrasional dan cenderung menggeneralisir. Hal tersebut sepertinya dibenarkan oleh MUI Bangka yang baru-baru ini mengeluarkan fatwa/statement bahwa Valentine’s Day adalah haram hukumnya, sebagaimana diberitakan dalam Republika Online.

Valentine’s Day sendiri dirayakan semenjak tahun 496 M dan pertama kali dicetuskan oleh Paus Gelasius I untuk mengenang seorang martyr Kristen bernama St. Valentinus. Secara tradisional, hari Valentine adalah hari di mana setiap orang bebas mengekspresikan rasa cintanya terhadap seseorang yang seringkali ditunjukkan dengan misalnya mengirim bunga atau kartu ucapan.

Secara esensial, sebenarnya tidak ada yang salah dengan hari Valentine, toh kasih sayang adalah universal. Bukankah Tuhan sendiri adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Lagipula, bangsa Indonesia telah banyak mengadopsi praktik budaya dari luar. Sehingga tak ada alasan untuk menolak perayaan Valentine dengan alasan “bukan budaya kita”. Mengenai bagaimana bentuk perayaannya, tentu bisa disesuaikan dengan nilai-nilai lokal kita. Tak ada keharusan untuk meniru mentah-mentah budaya dari luar.

Tetapi “penyakit klasik” ulama konservatif sebagaimana direpresentasikan oleh MUI, adalah pandangan keagamaannya yang picik, yang hanya melihat kulit luar dari sesuatu dan tidak menyentuh esensi. Terlebih dalam kasus peringatan hari Valentine. Sudah “berbau Kristen”, berasal dari barat pula. Dua alasan yang membuat lembaga keulamaan macam MUI anti-pati dan bersiap dengan fatwa haramnya. Dalam kasus seperti ini, pemikiran yang jernih seringkali tak dipakai, dan ayat-ayat suci pun dijadikan pembenaran.

Di bawah ini adalah kumpulan statement dari ketua MUI Bangka yang dikutip dari Republika Online perihal perayaan Valentine yang disertai sedikit tanggapan dari saya. Selamat membaca.

MUI Bangka

“Selain hanya buatan manusia, Hari Kasih Sayang yang biasa disebut `Valentine Day` itu merupakan budaya Barat,” kata Ketua MUI Kabupaten Bangka, Yubahar Hasan, di Sungailiat, Rabu.”

Tanggapan

Dari statement di atas, terlihat pola pikir MUI yang dangkal dengan hanya melihat kulit luar tanpa memahami esensinya. Apa yang salah dengan “buatan manusia”? Apa yang salah dengan “budaya barat”? Apakah hanya karena “buatan manusia” dan “budaya barat” pula, sesuatu menjadi “berbahaya” dan oleh sebab itu harus diharamkan?

MUI Bangka

“Dalam ajaran Islam, kasih sayang dilaksanakan kapan saja dan tidak mesti dijadwalkan satu setahun sekali. Setiap saat justru kita harus berkasih sayang, namun dengan cara cara sesuai syariat Islam,”

Tanggapan

Bermaafan juga sebaiknya dilaksanakan kapan saja. Tapi tidak ada salahnya mengambil satu hari tertentu sebagai momentum bermaafan, semisal pada Hari Raya Idul Fitri. Begitu juga dengan perayaan hari Ibu, hari Kartini, hari Pendidikan, dan sebagainya.

MUI Bangka

“Kasih sayang menurut Islam adalah mengerjakan aturan hukum agama sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad Saw., yaitu bertakwa kepada Allah Swt. dan menghormati kedua orang tua,”

Tanggapan

Dan apakah itu bertentangan dengan esensi dari Valentine’s Day? MUI ngomong begini, karena dalam benaknya “kasih sayang” di luar Islam itu cuma berkenaan dengan masalah “di bawah puser” saja. Padahal, di dunia luar Islam, kasih sayang itu terbagi menjadi empat: eros, filio, storge dan agape. “Bertakwa kepada Allah” bisa dimaknai sebagai “Agape”, sedangkan menghormati kedua orang tua bisa diketakkan dalam konteks “storge”.

MUI Bangka

“Kita saling mendoakan antara umat Islam ke jalan Allah Swt. juga sudah termasuk saling sayang menyayangi dengan teman yang lain atau saudara sesama Islam,”

Tanggapan

Benar sekali, dan itu konteksnya adalah “filio”, sebuah bentuk “kasih sayang” juga. MUI pasti nggak mikir ke sini.

MUI Bangka

alasan lain adalah pada kesempatan tersebut justru digunakan oleh sebagain besar kaum muda untuk hura-hura dan melakukan perbuatan negatif yang melanggar norma.

Tanggapan

Kalau begitu, ini bukan salah konsep Valentinenya, tetapi hura-huranya. Di malam takbiran sekalipun, banyak anak muda yang berkonvoi ramai-ramai memacetkan jalan dan membahayakan umum. []

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. sociopolitica said, on February 24, 2010 at 3:37 am

    Memang serba susah kalau pikiran sudah dogmatis dalam tahap yang membatu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: