Sapere aude!

Menyimak Pidato Kebudayaan Ulil Abshar-Abdalla

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on March 15, 2010

Author Rinaldi

Ulil Abshar-Abdalla membacakan teks Pidato Kebudayaan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 2 Maret 2010. – Foto: Rinaldi.

SEPERTINYA ada satu garis besar ide yang sama di kalangan agamawan liberal-progresif, yaitu kontekstualisasi teks kitab suci. Para agamawan progresif, –tidak hanya di Islam, di Kristen pun demikian, percaya bahwa “teks” apapun yang ditulis jauh di masa lampau –dengan demikian termasuk teks kitab suci– tidak bisa dipahami hanya dengan pembacaan yang literalistik.

Sebuah pesan tidaklah mungkin disampaikan dalam bahasa yang universal, –untuk seluruh manusia sekaligus hanya dengan satu “kemasan” (baca: bahasa) tunggal– meskipun esensi dari pesan itu universal dan abadi. Sebuah “pesan” hadir di tengah manusia tentunya dengan “bahasa setempat” agar mampu dipahami audiencenya. Dengan begitu, adalah ide yang absurd dan irasional mewariskan atau meneruskan sebuah “pesan” tersebut –terlebih pesan yang disampaikan ribuan tahun lalu– berikut “kemasan” yang membungkus pesan tersebut di masa lampau.

Untuk memperoleh pemahaman yang baik atas sebuah teks yang ditulis di masa lampau, si pembaca teks haruslah “kembali ke masa lampau” untuk memahami dulu ihwal latar belakang dan kondisi sosio-politis-historis masyarakat setempat di mana teks tersebut muncul. Dengan cara itu, barulah maksud atau pesan yang tersirat dalam sebuah teks dapat dipahami dengan sebenar-benarnya, untuk kemudian dibawa/diteruskan ke zaman sekarang dalam kemasan “bahasa masa kini”, agar dipahami dengan baik oleh audience masa kini.

Saya pikir, semangat pembaharuan dalam agama dimulai dari pemahaman yang demikian. Esensi universal agama “dikemas ulang” agar dengan begitu terciptalah sikap beragama yang lentur, berorientasi masa depan, solutif dan progresif.

Dalam pidato kebudayaan yang disampaikan pada 2 Maret lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Ulil Abshar-Abdalla nampaknya ingin menyampaikan semangat tersebut. Nah, di bawah ini adalah sedikit rangkuman, juga ulasan sederhana, mengenai isi pidato tersebut.

***

AGAKNYA, anggapan bahwa semakin modern suatu peradaban berarti semakin tersingkir jauh agama, tak sepenuhnya benar. Perkembangan sosial akhir-akhir ini justru membuktikan sebaliknya, agama “bangkit” dalam berbagai bentuk; baik yang bersifat khusus/eksklusif seperti menjadi anggota perkumpulan tertentu, maupun dalam bentuk yang lebih umum, sekedar “iman” tanpa harus terikat dengan komunitas tertentu. Nah, alih-alih mengumandangkan kembali “nostalgia pencerahan lama” di mana agama bisa kembali “dipaksa” masuk ke ruang privat, lebih baik kita hadapi realita tersebut dengan sikap yang positif namun juga kritis.

Ulil melihat kebangkitan agama ini dalam dua arahnya sekaligus: Pertama, kebangkitan yang mengambil bentuk “kembali ke masa lampau”, kepada sesuatu yang dianggap masih suci dan orisinil. Dan yang kedua, kebangkitan yang mengambil bentuk reinterpretasi dan kontekstualisasi ajaran agama (Islam). Dua “arah” kebangkitan agama ini sebenarnya merupakan bentuk yang “sah” dari revivalisme agama. Namun, kekeliruannya adalah anggapan sebagian Muslim yang memandang bahwa “kebangkitan Islam” hanyalah yang berupa aksi “kembali ke masa lampau”, kepada sesuatu yang diasumsikan suci dan “masih orisinil”. Sementara gerakan-gerakan pembaharuan yang berorientasi ke masa depan, justru dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang. Ulil berpendapat, bahwa seharusnya kedua arah gerakan kebangkitan agama tersebut, berjalan bersama-sama secara simultan.

Tiga Kelemahan Salafisme

Salafisme –yang dipahami Ulil secara lebih luas sebagai gerakan untuk kembali ke “teks lampau”, baik dalam bentuk Quran, sunnah, tradisi sahabat, atau sesudahnya—memiliki sejumlah sumbangan positif seperti semangat untuk konsisten kepada Quran dan Sunnah. Namun begitu, ada sejumlah kelemahan mendasar dalam gerakan ini, yaitu adanya asumsi bahwa ajaran-ajaran masa lampau seluruhnya masih memadai untuk menjawab berbagai persoalan masa kini. Nampaknya gerakan ini tidak menyadari bahwa ada keterkaitan erat antara teks dan konteks; saat konteks berubah, maka teks harus dipahami ulang. Masalah besar terjadi, ketika sebagian masyarakat menjadikan teks Quran dan Sunnah sebagai “penyetop perbincangan” –conversation stopper. Kecenderungan ini berkembang kuat di kalangan salafis, dan ini bukanlah sesuatu yang sehat.

Kelemahan kedua dari salafisme ini adalah, menganggap sebuah teks sebagai “terang benderang”. Teks suci dianggap bisa berbicara sendiri tanpa memerlukan seorang penafsir. Ta’wil atau penafsiran yang alegoris, dipandang oleh kalangan salafis dengan penuh kecurigaan.

Kaum salafis sebenarnya tidak menolak kegiatan menafsir, hanya saja mereka banyak “curiga” terhadap kegiatan ini. Tafsiran diperketat, sehingga timbullah apa yang disebut “absolutisme penafsiran”, atau istilahnya Ulil, “otoritarianisme hermeneutik”. Maksudnya, kecenderungan untuk menganggap hanya ada satu saja bentuk penafsiran yang absah. Dan ini adalah kelemahan ketiga gerakan salafisme.

Efek samping dari otoritarianisme penafsiran semacam itu adalah begitu mudahnya kelompok-kelompok tertentu melakukan penghakiman sesat kepada mereka yang berbeda penafsiran. Situasi ini tentu menghambat upaya ijtihad yang dilakukan para pembaharu agama, sebab ada kekhawatiran dianggap sesat oleh kelompok-kelompok salafis.

Khalafisme Sebagai Alternatif

Ulil melanjutkan, kebangkitan agama tidak semata-mata diterjemahkan dalam bentuk salafisme. Ada bentuk lain yang disebut “khalafisme”, berasal dari kata “khalaf” yang artinya “era kontemporer”.  Khalafisme adalah cara pandang keagamaan yang menghendaki penyesuaian dengan perkembangan peradaban manusia. Khalafisme tidak menolak Quran dan Sunnah sebagai sumber otoritatif, tetapi mencoba memahaminya secara kontekstual.

Dalam kasus poligami dan nikah sirri misalnya, sebagian besar laki-laki dari kalangan elit agama menyetujui kedua praktik tersebut. Alasan formal yang kerap dikemukakan adalah, bahwa keduanya secara eksplisit diperbolehkan dalam hukum agama. Pertanyaan yang timbul dari kasus tersebut adalah: Apakah hukum semacam itu bisa kita terima sekarang ini? Apakah pengalaman perempuan tidak diperhitungkan dalam perumusan hukum ini? Kenapa hukum agama harus dimenangkan “at all cost” seraya mengabaikan pengalaman manusia sebagai subjek yang mulia dan berkehendak? Demikian Ulil memancing kita untuk kritis dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Berbeda dari kaum salafis, gagasan bahwa hukum Tuhan tidak bisa berubah sama sekali, jelas tidak benar. Jika hukum Tuhan berlaku universal, tentu tak ada rangkaian wahyu yang susul-menyusul. Gagasan tentang “historisitas” sudah tertancap dalam konstruksi wahyu itu sendiri. Tuhan “Yang Tak Terbatas” tak bisa dikandung oleh manusia yang serba terbatas. Karena itu, ketika wahyu harus “bersentuhan” dengan manusia, terjadilah proses “kemenyejarahan”. Dan jika firman Tuhan telah mengalami proses menyejarah, maka tak pelak firman akan menbawa sifat-sifat yang relatif dan kontekstual. Perlu dicatat, tidak semua hukum Tuhan berubah; ada sejumlah hukum Tuhan yang bersifat universal, namun banyak di antaranya bersifat relatif dan kondisional.

Saat ini, sebagian besar umat Islam masih berada dalam orbit salafisme; memahami agama dengan memberikan tekanan tinggi pada firman Tuhan dan teks suci, sementara mengabaikan konteks sejarah dan pengalaman manusia. Ulil berpendapat, harus ada semacam “perubahan paradigma” dari pemahaman yang text-minded ke arah pemahaman yang mempertimbangkan pengalaman manusia sebagai subjek berakal.

Penutup

Jika kita simak, garis besar ide yang diusung kaum khalafis dan para pembaharu agama di mana-mana sebenarnya sederhana: yaitu pemahaman keagamaan yang masuk di akal. Sebab, akal sehat adalah modal semua orang. Keadilan, kesopanan, kejujuran, kemanusiaan, adalah nilai-nilai esensial dan universal dari ajaran agama. Perwujudan dari itu boleh jadi berbeda-beda, sesuai konteks zaman, namun “ruh”-nya tetap sama. Tugas elit-elit agama seharusnya membawa masyarakat kepada tingkat kedewasaan yang cukup untuk menerima perbedaan dan pembaharuan ide secara lapang dada, bukan malah membuat masyarakat takut dengan perbedaan dan ide-ide baru.

Dengan cara berpikir semacam itu, kaum Khalafis dan pemikir liberal mencoba mendamaikan antara imperatif keimanan dan imperatif perubahan karena perkembangan sosial dan sejarah. Jika ada kaum Muslim yang layak disebut moderat, merekalah yang pantas menyandang gelar itu. Sebab merekalah yang menjaga keseimbangan antara “tradisi” dan “perubahan”, antara “ashalah” dan “hadathah”, antara otensitas dan modernitas.

Demikian Ulil Abshar Abdalla mengakhiri pidato kebudayaannya. Demikian pula rangkuman singkat saya, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. []

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. TER said, on April 19, 2010 at 9:55 pm

    MAY UR SOUL BURN IN HELL !!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: