Sapere aude!

Dermatographic Urticaria; Menjawab Fenomena Ali Yakubov

Posted in Mythbuster by Rinaldi on May 19, 2010

 

Fenomena Ali Yakubov; Ternyata cuma “Dermatographic Urticaria”.

Author: Rinaldi

SAYA tidak tahu, apakah harus tertawa geli atau malah sedih melihat kenyataan –untuk kesekian kalinya, bahwa umat beragama mudah ditipu oleh berita palsu (hoax) hanya karena itu bernada agamis. Sebelumnya saya pernah mengulas mengenai paraeidolia yang menjawab fenomena penampakan lafadz Allah, lalu kini muncul fenomena yang tak kalah hebohnya.

Sekitar akhir tahun lalu, dunia digemparkan oleh sebuah fenomena aneh dari Rusia, yaitu kemunculan ayat-ayat “Al Quran” di sekujur tubuh bayi berusia 9 bulan. Ali Yakubov, nama bayi itu, mampu membuat 2000 orang Muslim dari kawasan utara Rusia mendatangi Kizyar untuk melihatnya. Tak kurang, Akhmedpasha Amiralaev, anggota parlemen setempat, membuat pernyataan yang “meyakinkan publik” bahwa apa yang menimpa Ali adalah “tanda dari Allah” untuk menghentikan kekacauan dalam negaranya.

Berdasarkan keterangan orang tua Ali, ayat-ayat tersebut muncul dua kali seminggu, tepatnya pada hari Senin dan antara malam Kamis atau Jum’at. Badan Ali mengalami kesakitan saat ayat-ayat tersebut muncul.

Ratusan situs dan surat kabar ramai membahas fenomena ini. Tak hanya media Islam, bahkan Reuters dan ABC News tertarik meliputnya. Beritanya ramai diforward di mailinglist, facebook, serta berbagai forum online. Walhasil, gema takbir pun ramai berkumandang. Namun, apakah sesungguhnya yang menimpa Ali Yakubov? Benarkah itu tanda dari Allah?

“Dermatographic Urticaria”, merupakan kelainan pada kulit yang membuat kulit menjadi sensitif terhadap goresan benda tumpul, sehingga kita bisa “menulis” di atas kulit.

“Keajaiban” tersebut tak lain adalah penyakit kulit yang dinamakan dermatographic urticaria atau dikenal juga dengan istilah dermographism atau dermatographism. Penyakit tersebut adalah sebuah kelainan kulit yang diderita sekitar 4-5% manusia saja. Penyebabnya adalah lapisan sel-sel di permukaan kulit yang mengeluarkan histamin tanpa adanya antigen, karena membran yang lemah di sekeliling lapisan sel-sel tersebut. Histamin yang dihasilkan membuat kulit membengkak di daerah yang berpenyakit. Kulit penderita menjadi mudah merah meradang pada saat disentuh atau digores dengan benda tumpul. Akibatnya, seseorang bisa dengan leluasa membentuk tulisan atau gambar pada kulit penderita dermatographism ini. Dalam kasus Ali Yakubov, tentu saja “ayat-ayat” tersebut ditulis oleh orang tua atau orang terdekatnya untuk mencari sensasi semata. Keterangan lebih lanjut mengenai ihwal penyakit ini antara lain bisa dibaca di jurnal kesehatan kulit Healthy-skincare.com.

Berita mengenai fenomena Ali Yakubov pun lambat laun menuai kecurigaan. Skeptisisme atas keajaiban tersebut bermunculan. Sejumlah situs berita di internet seperti Vivanews melaporkan ihwal kecurigaan ini, dan begitu pula situs Merseysideskeptics dan berbagai situs lain di internet. Berbagai kecurigaan tersebut bernada sama: dermatographic urticaria.

Terlepas dari kebohongan itu, hal yang menarik dari fenomena ini adalah, tak semua masyarakat Muslim “sumringah” dengan fenomena Ali Yakubov. Kelompok Wahabi yang terkenal ‘keras’, malah mengutuk dan mengancam membakar rumah sang bayi tersebut. Sebagaimana kita tahu, wahabisme adalah paham keislaman yang sangat “sensitif” terhadap apa-apa yang dianggap musyrik atau berpotensi menciptakan kemusyrikan.

Beberapa wahabist di Rusia pernah mendatangi rumah bayi itu dan meminta orang tuanya menunjukkan bayi tersebut kepada mereka. Sebelum itu, wahabist berkali-kali mengancam akan membakar rumah tersebut. Mendapat ancaman seperti itu, rumah sang bayi akhirnya dijaga oleh sekelompok petugas keamanan yang disediakan oleh kepala distrik setempat.

Reaksi “positif” masyarakat agamis terhadap fenomena Ali Yakubov menunjukkan betapa lemahnya benteng intelektual masyarakat dalam menyikapi apapun fenomena yang muncul di sekelilingnya. Makna agama tak lebih dari “penyembahan terhadap Tuhan” dan “sensasi mujijat”. Padahal, kemajuan peradaban dimulai dari intelektualitas. Intelektualitas memicu perkembangan ilmu pengetahuan, dan perkembangan ilmu pengetahuan diawali dari skeptisisme, bukan keyakinan. []

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. virkill said, on May 12, 2011 at 10:38 am

    Well writen! Dewasa ini sudah tak ada lagi mukjizat yang asli. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peran media, distorsi informasi dari mulut ke mulut bisa diminimalisir. Pertanyaannya, apakah sejak jaman dulu juga banyak beredar mukjizat palsu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: