Sapere aude!

Insiden Flotilla: Apa yang sebenarnya terjadi?

Posted in Commentary, Middle east by Rinaldi on June 5, 2010

Author: Rinaldi

Aktivis perdamaian Freedom Flotilla memukuli tentara Israel yang dikirim masuk ke kapal.

Aktivis perdamaian Freedom Flotilla memukuli tentara Israel yang dikirim masuk ke kapal.

SEJAK insiden Gaza-Flotilla merebak 31 Mei lalu, saya sibuk menyimak berbagai media untuk lebih memahami bagaimana sesungguhnya insiden tersebut terjadi.  Karena sejak awal saya ragu kalau IDF Navy begitu saja “menyerang” aktivis kemanusiaan tak bersenjata –sebagaimana diberitakan di banyak media di Indonesia, sementara pemerintah Israel sendiri tak pernah melarang bantuan kemanusiaan, meskipun mereka memblokade Gaza sejak 2007.

Skeptisisme ini pada akhirnya membuahkan pandangan yang berbeda terhadap insiden tersebut.  Saya menjadi tak sepenuhnya simpati terhadap “peace activist” yang menumpang Mavi Marmara, dan melihat ada trial by press yang dilakukan oleh media massa di Indonesia khususnya.

Israel adalah negara yang setiap detiknya berada dalam situasi keamanan yang rentan. Mengingat posisi yang dikelilingi oleh musuh-musuhnya, maka konfrontasi bersenjata bisa pecah kapan saja. Meski Israel sudah mundur total dari Gaza pada September 2005, namun roket-roket Hamas kerap kali “menggoda” pemukiman sipil Israel. Karena kondisi ini pula, maka pemerintah Israel melalui angkatan bersenjatanya kerap kali melakukan kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Sebagai contoh, memblokade Gaza di tahun 2007 untuk memperlemah kekuatan Hamas.

Bagi mereka yang tidak memahami bagaimana kompleksnya situasi keamanan yang dihadapi Israel, maka silakan anda berdiri dan mengecam tiap kali Israel melakukan aksi defensif untuk mempertahankan diri. Itu adalah hak anda. Tetapi, saya pribadi memilih jalan lain: mencoba memahami kompleksitas situasi keamanan yang dihadapi Israel, berdasarkan pandangan bahwa tidak ada manusia yang 100% evil.

Advokasi sederhana ini jangan dipandang sebagai upaya berpihak pada “kejahatan”, atau suatu sikap anti terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza, tetapi sebuah upaya menyeimbangkan arus informasi. Tentu kita semua setuju terhadap kemanusiaan, dengan tidak pilah-pilih asal primordial. Juga tentu saja, tidak ada manusia yang 100% evil atau 100% angel.

****

MENYIMAK berbagai pemberitaan mengenai insiden flotilla kemarin, nampaknya sebagian besar media massa, terkhusus di Indonesia, menggunakan istilah “penyerbuan” (raid) untuk menggambarkan aksi tentara Israel yang mencoba memasuki kapal Mavi Marmara pada Senin subuh 31 Mei lalu. Bahkan setelah beberapa hari berlalu, istilah ini terus dipertahankan. Sepertinya, media massa lebih suka memberi laporan yang “populis”, yang tampaknya memang “ingin didengar” oleh masyarakat –yang memang anti Israel.

Media hanya menekankan pemberitaan pada aksi penembakan aktivis dan jumlah korban tewas dalam kapal kemanusiaan tersebut, ditambah beberapa klip video yang menunjukkan kehancuran Gaza pasca dibombardir Israel.  Sedangkan kronologi “penyerbuan” tidak disajikan secara lengkap. Ini yang saya pandang sebagai a trial by press. Saya tidak tahu persis kenapa, yang jelas ketimpangan informasi ini menciptakan opini publik yang sesat bahwa Israel menyerbu kapal bantuan kemanusiaan, sehingga timbul sejumlah korban sipil, dan ini perbuatan yang –apalagi Israel yang melakukannya– sangat biadab –mungkin berbeda kalau misalnya salah satu negara Arab yang melakukannya, kita tahu bahwa 300,000 warga sipil di Sudan selatan yang dibantai Omar Bashir tak menimbulkan protes berarti di masyarakat (Muslim khususnya). Dari pemberitaan itu, timbul kesan juga, bahwa Israel tidak mengizinkan apapun bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Atas pemberitaan yang kurang proporsional tersebut, tak pelak aksi demonstrasi merebak di berbagai kota.

Apakah yang sesungguhnya terjadi?

Sebagaimana kita semua tahu, kapal Mavi Marmara yang mengangkut 600-an lebih aktivis kemanusiaan dari berbagai negara ini bertolak dari Turki menuju Gaza, dengan tujuan menghantarkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat sipil.

Tak banyak media di Indonesia yang mengkabarkan, bahwa IDF Navy telah memberikan peringatan secara santun dan prosedural kepada Mavi Marmara sebelumnya. Bahwa Freedom Flotilla tidak diperbolehkan memasuki areal pantai Gaza karena sedang dalam blokade militer. Dalam peringatannya, IDF Navy telah pula mengatakan –dan ini tidak kedengaran gaungnya di Indonesia- bahwa pemerintah Israel mendukung bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Hanya saja, mengingat kondisi konflik antara Israel-Hamas yang menyebabkan Israel memblokade Gaza, semua bantuan hendaknya disalurkan melalui jalur darat, dengan terlebih dahulu merapatkan kapal di pelabuhan Ashdod.

Perlu diketahui, selama blokade Israel atas Gaza yang dimulai tahun 2007, Israel sama-sekali tidak melarang bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Tercatat telah banyak organisasi kemanusiaan yang mengirimkan bantuannya dengan aman sentosa ke Gaza. Mereka adalah Palang Merah Internasional, WHO, UNICEF, UNRWA, dan sejumlah bantuan dari Mesir, Yordania, Yunani dan Turki. Puluhan ribu ton bantuan telah dihantar dengan ribuan truk melalui jalur darat.

Namun dalam kontak radio dengan IDF Navy, Mavi Marmara ‘ngeyel’. Mereka mereply, “negative, negative… our destination is Gaza”. Jerusalem Post bahkan mengkabarkan,  seseorang di Mavi Marmara membalasnya dengan kasar, “shut up, go back to Auschwitz”. Ini jelas tidak diangkat dalam media massa Indonesia. Apakah seperti itu jawaban aktivis kemanusiaan? Jawaban mereka lebih menunjukkan bahwa mereka anti-semitis, Jew-hater, bahkan hate activist.

Apa yang harus dilakukan IDF Navy untuk menghadapi kapal yang ingin menembus blokade militer di laut? Diam saja?

Saya rasa, militer di mana pun tidak dididik untuk bersikap seperti itu pada mereka yang ingin menembus blokade. Kengeyelan Mavi Marmara memaksa IDF Navy mengambil aksi kongkret: Menghampiri kapal tersebut, mengirimkan beberapa pasukannya, bukan untuk menembak dan membunuh, tapi untuk berbicara dan memaksa Mavi Marmara mengalihkan tujuan ke Ashdod. Kenapa begitu? Karena komunikasi lewat radio tidak diindahkan oleh Mavi Marmara.

Namun, apa yang terjadi? Begitu tentara turun dari helikopter, langsung dikeroyok massa dengan menggunakan pentungan besi dan alat-alat lainnya. Jerusalem Post melaporkan, ada “live fire” yang ditembakkan penumpang ke arah tentara.

Apa yang harus dilakukan tentara dalam keadaan seperti itu? Tersenyum sambil berkata  “good morning all“? Tidak. Mereka bersikap defensif dan memberi perlawanan balik berupa tembakan, yang ujungnya menewaskan beberapa orang.

Berdasarkan kronologi di atas, timbul pertanyaan: Jika ini penyerbuan, atau anda tetap ngotot bahwa ini penyerbuan, apa tujuannya? Anda kira, apa untungnya bagi Israel subuh-subuh mengirim bala tentaranya untuk menembaki kapal bantuan kemanusiaan? Untuk mendapatkan kecaman internasional?

Jika Israel memang berniat menyerbu, kenapa hanya menewaskan sekian belas orang saja? Kenapa tidak menenggelamkan seluruh kapal dengan tembakan torpedo? Kenapa dari enam kapal, hanya satu yang bermasalah, yaitu Mavi Marmara? Toh kelima kapal lainnya merapat di Ashdod dengan damai tanpa seorang pun terluka.

Kapal Marvi Marmara membawa aktivis kemanusiaan dari banyak negara. Mereka datang dengan misi memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat sipil di Gaza, bukan untuk memerangi tentara IDF. Kenapa mereka memaksa menembus blokade militer yang hanya akan memicu konfrontasi, sementara mereka sudah diperingatkan secara prosedural dan diberi alternatif ke pelabuhan Ashdod untuk memberikan bantuan via jalur darat? Saya bertanya-tanya, apa yang gagal dari misi kemanusiaan mereka, jika mereka mengikuti panduan IDF Navy untuk mendarat di Ashdod dan memberikan bantuan via jalur darat?

Kengeyelan mereka menembus blokade laut Gaza, menimbulkan kecurigaan: benarkah misi mereka hanya menghantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza? []