Sapere aude!

Moralitas dan Agama

Posted in Discourse by Rinaldi on January 16, 2011

Oleh Rinaldi

“The greatest tragedy in mankind’s entire history may be the hijacking of morality by religion.” –Arthur C Clarke

Ilustrasi. Gambar: google.com

DI SAAT sekelompok orang di Indonesia bersemangat dengan ide “agamaisasi negara” dengan asumsi bahwa hanya dengan cara itu segenap problematika moral akan bisa disembuhkan, pemerintah Swedia malah “mengharamkan” pelajaran agama di sekolah.

Alasannya, agama dipandang cenderung membawa manusia ke dalam perpecahan dan konflik. Juga, klaim-klaim divinitas agama bukanlah klaim ilmiah yang terbukti secara positif, sehingga mengajarkannya dipandang tidak mendidik.

Beberapa point menarik yang bisa kita ambil dari kebijakan pemerintah Swedia tersebut adalah, apakah jadinya masyarakat tanpa pendidikan agama? Atau jika persoalannya dibalik, apakah manfaatnya memberi pendidikan agama pada anak-anak di sekolah?

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah masyarakat tanpa pendidikan agama akan menjadi “kurang bermoral?” Atau, apakah pendidikan agama dapat menjadikan masyarakat “lebih bermoral?” Apa itu moralitas? Bahwa dalam ajaran agama terkandung moralitas, benar. Tetapi, apakah agama adalah satu-satunya sumber moral?

Tentang moral

Secara etimologis, arti moral terkait wacana ini berasal dari istilah Perancis, morale, yang artinya adalah “suatu perilaku yang baik”, –a good conduct. Dari bahasa latin moralis, yang berarti “proper behavior of a person in society”, atau “tingkah laku yang pantas  dalam hidup bermasyarakat”.

Moralitas berbeda dengan etika. Menurut Berten (Etika, 1997), moral adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk yang menjadi pedoman dari tindakan etik. Berbeda dengan etika yang berarti tata susila atau tata tindakan yang mengandung nilai-nilai moral. Bisa disimpulkan, bahwa moralitas, selain berbeda, lebih bersifat mendasar dari etika.

Selanjutnya, beberapa filsuf seperti David Hume, Imannuel Kant dan Jean-Paul Sartre memiliki perbedaan konsep mengenai moralitas.

Singkatnya saja, menurut Hume, moralitas adalah seperangkat tata nilai yang didasari dari fakta-fakta dan pengalaman empiris. Pengalaman itulah yang membentuk pengetahuan dan kecenderungan pada kita untuk dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan moral saat kita harus berbuat sesuatu. Tidak ada nilai-nilai mutlak di luar yang empiris tersebut.

Jadi mengikuti gagasan Hume, jika setelah seseorang membunuh maka ia menjadi dibenci oleh masyarakat, dikejar-kejar, bahkan menjadi terancam nyawanya dan hidup tidak tenang, maka bisa disimpulkan bahwa membunuh adalah perbuatan yang tak bermoral, tak disukai masyarakat, dan sebaiknya tidak dilakukan.

Kant berbeda. Menurut Kant, moralitas harus lepas dari pengalaman-pengalaman empirik seperti tersebut di atas. Moralitas semata harus didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan dari suatu “nilai” yang mutlak.  Artinya, tindakan seseorang yang bisa diterima sebagai bernilai moral adalah tindakan yang didasarkan atas nilai-nilai yang mutlak, yang lepas dari pengaruh-pengaruh kebiasaan, adat-adat dan kecenderungan.

Mengikuti gagasan Kant, apakah membunuh itu tindakan baik atau buruk, tidak mengacu pada pengalaman-pengalaman empirik sebagaimana digagas Hume. Melainkan sudah “terpatri” pada suatu “nilai mutlak” yang divine dan  abadi. Pendapat Kant selaras dengan pendapat kaum agamis pada umumnya, di mana mereka percaya bahwa hanya Tuhan sebagai sumber moralitas yang mutlak. Baik-buruknya suatu perbuatan, Tuhanlah yang menentukan melalui wahyu-Nya (kitab suci).

Lain dengan Sartre. Moralitas menurutnya, selain harus lepas dari pengalaman-pengalaman empirik, juga harus lepas dari “nilai-nilai mutlak” sebagaimana digagas Kant. Menurut Sartre, suatu tindakan atau keputusan dipandang memiliki nilai moral apabila dilakukan dalam suatu kehendak yang bebas dan tidak dipengaruhi oleh hal-hal lain di luar dirinya; seperti adat-tradisi, agama, atau apapun. Dalam gagasan ini, apabila seseorang berbuat baik semata karena tekanan atau tuntutan adat, tradisi, atau ajaran agama, maka ia tak bisa dikatakan telah berbuat baik/bermoral.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, bisa dikatakan bahwa secara umum, seseorang dapat dikatakan bermoral jika ia berperilaku baik di masyarakat; taat pada aturan, etis, dalam arti berperilaku selaras dengan lingkungan masyarakat.

Moralitas dan agama

“Dari sisi ini kita melihat, bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia. Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan”.  – H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar

Doktrinasi agama di masyarakat kita cenderung mengajarkan bahwa agama adalah satu-satunya sumber moral, satu-satunya sumber baik dan buruk. Dikatakan dalam suatu kajian keagamaan, bahwa agama tertentu diklaim sedemikian “lengkap”, mengatur manusia dari A sampai Z. Sehingga bisa diasumsikan, jika seseorang tidak beragama, maka orang tersebut tidak mengenal moralitas; bejat, liar, dan akan bertindak sesuai hawa nafsunya.

Moralitas dalam agama juga dipandang sebagai sesuatu yang mutlak, divine, dan suci. Dalam pandangan yang demikian, moralitas adalah sesuatu yang “ditempelkan” ke dalam kehidupan manusia melalui wahyu agama, dan bukan sesuatu yang bersifat naluriah. Ini selaras dengan gagasan moral Kant. Bahwa manusia, dalam pandangan ini, tidak memiliki “kehendak bebas” untuk memiliki penilaian atas suatu perbuatan. Segala pengalaman empirik, juga adat-tradisi pun tak bisa menjadi landasan dalam menentukan baik atau buruk. Semua mengacu pada suatu “nilai mutlak”, yaitu wahyu Tuhan.

Dengan doktrinasi yang demikian, wajar jika masyarakat agamis berpikir bahwa tanpa agama maka tak ada moralitas. Tak ada moralitas, berarti manusia diasumsikan akan berperilaku bejat. “Berperilaku bejat”, dan oleh karena itu Tuhan Yang Maha Kasih menurunkan sejumlah tata moral melalui wahyu-Nya, untuk mengatur manusia.

Tetapi, benarkah demikian?

Sebenarnya, menilik gagasan ketiga filsuf yang disebut di atas, gagasan bahwa agama merupakan satu-satunya sumber moral jelaslah bukan satu-satunya gagasan tentang moral. Sekurangnya, ada dua gagasan lain tentang moralitas yang “non-wahyu”, sebagaimana telah dinyatakan oleh Hume dan Sartre. Hal ini didukung pula oleh sejumlah penelitian bahwa moralitas sesungguhnya telah dikenal oleh hewan-hewan tertentu, meski dalam tingkatan yang sederhana.

“Some animals are surprisingly sensitive to the plight of others. Chimpanzees, who cannot swim, have drowned in zoo moats trying to save others. Given the chance to get food by pulling a chain that would also deliver an electric shock to a companion, rhesus monkeys will starve themselves for several days”. –Artikel di New York Times

Seorang ahli primata dari Universitas Emory, Frans de Waal, sebagaimana dikutip dari situs New York Times, telah melakukan penelitian terhadap sekawanan simpanse. Dari penelitiannya, beliau menyimpulkan bahwa moralitas sebenarnya adalah sesuatu yang naluriah, bukan semata bentukan agama atau filsafat. Hal ini terlihat dari perilaku seekor simpanse yang rela menyeberangi parit –di mana ia sendiri akhirnya tenggelam karena tidak bisa berenang– hanya untuk menyelamatkan temannya. Atau rela tidak makan jika dengan mengambil makanan dapat membuat rekannya tersakiti.

Jadi, “moralisme” –dalam bentuknya yang primitif- sebenarnya telah ada pada makhluk yang belum berpikir secara rasional, pada era “pra-agama”.

“Orang beragama pura-pura tak tahu bahwa tanpa dalil-dalil agama sekalipun, manusia menciptakan aturan yang kompleks untuk mengatur kehidupan mereka agar tidak kacau. Ribuan hukum diciptakan di dunia ini tanpa keterlibatan agama atau wahyu”. –Ulil Abshar-Abdalla

Selama ini, kita sering menjumpai moralitas dan agama selalu dalam “satu paket”. Segala propaganda moral seringkali dikemas, atau disatukan dengan merk agama tertentu. Seolah-olah keduanya tak bisa dilepaskan.

Bagi saya, “agama” itu sendiri adalah “moralitas yang diberi kemasan”. Seperangkat konsep atau tatanan moral, do and don’t, yang dibakukan, diberi merk, kemudian dijual dengan bumbu teologi dan keselamatan surgawi. Lebih jauh, agama pada akhirnya tampak memonopoli moralitas itu sendiri. Seolah, di luar agama tak ada moralitas.

Agama boleh jadi tak bisa dipisahkan dengan moralitas. Tetapi, berdasarkan uraian di atas, moralitas jelas bisa dipisah dari agama. Moralitas bersifat independen dari agama atau wahyu. Seseorang bisa hidup dengan pantas dan bermoral, meski tak menganut suatu agama apapun, bahkan meski tak percaya kepada Tuhan sekali pun. []

Ormas Radikal dan Ancaman Terhadap Kebebasan Sipil

Posted in Commentary by Rinaldi on January 11, 2011

Author:  Rinaldi

Demonstrasi menuntut pertanggungjawaban pemerintah dalam menjamin kebebasan beribadah. Monas, 15 Agustus 2010. Foto: Rinaldi.

BARU-BARU ini, acara Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk “Menghapus Diskriminasi, Membangun Perlindungan Holistik Jaminan Beragama/Berkeyakinan di Jawa Barat” yang diselenggarakan Setara Institute di Hotel The Amarosa Bandung pada Kamis (6/1) kemarin, diancam dibubarkan paksa oleh FPI.

Alasannya, laporan-laporan Setara Institute dinilai oleh ormas FPI mendiskreditkan Islam. Dalam kasus-kasus semacam ini, pihak kepolisian kerap kali memperlihatkan gejala “manut” terhadap ancaman ormas keras macam FPI, alih-alih membela kebebasan sipil untuk berkumpul dan berserikat.

Sebagaimana dilaporkan KBR68H, pihak kepolisian sempat menyarankan pada penyelenggara untuk membatalkan kegiatan tersebut dengan alasan tak ada izin dan faktor keamanan. Meski setelah didesak, pada akhirnya acara tersebut tetap berjalan sampai selesai di bawah penjagaan polisi, namun usulan pembatalan acara tersebut jelas menunjukkan bahwa pihak kepolisian tampak tidak serius dalam melindungi kebebasan sipil.

Sebelumnya, kiprah semena-mena FPI terlihat pada pembubaran acara Q! Film Festival yang diadakan di Goethe Haus Menteng, pada September 2010. FPI juga membubarkan acara sosialisasi kesehatan yang digelar dua anggota DPR pada Juni 2010.

Kemudian FPI juga pernah melakukan penyerbuan pada seminar Waria di sebuah Hotel pada April 2010, dan mengancam membubarkan kongres ILGA di Surabaya para Maret 2010.

Itu belum termasuk intimidasi, penyerbuan, dan ancaman terhadap jemaat Ahmadiyah, sejumlah gereja, dan bentrok berdarah dengan kelompok AKKBB yang berdemo di Monas tahun 2008, dan kasus-kasus lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini.

Ormas keagamaan radikal, ancaman serius

SELAIN korupsi dan bobroknya moral para pejabat, tingkah polah “Islam keras” seperti kelompok FPI dan sejenisnya itu, yang menjamur pasca tumbangnya rezim Soeharto, adalah ancaman serius bagi kelangsungan kehidupan yang modern, wajar, dan manusiawi.

Bagaimana tidak, mereka (FPI dan sejenisnya itu) adalah kelompok-kelompok yang merasa diri superior dan super sensitif. Tampaknya mereka tak senang dengan perbedaan paham, apalagi kritik.

Semua yang mereka lakukan, mengatasnamakan umat Muslim. Dengan begitu, barangsiapa yang tidak setuju apa yang mereka lakukan, atau barangsiapa yang mengkritik apa yang mereka lakukan, maka berarti ketidaksetujuan dan kritik tersebut mereka pandang “mendiskreditkan Islam”.

Apa sih yang dimaksud “mendiskreditkan umat Islam?” Apakah sikap mengkritik dan mengutuk aksi-aksi ormas Islam yang brutal dan intoleran, yang fakta-fakta tersebut bisa kita saksikan sepanjang tahun, bisa disebut “mendiskreditkan umat Islam?” Ini jelas tuduhan yang mengada-ada.

Mereka mungkin berpikir, bahwa semua umat Muslim ada di belakang FPI dan ormas-ormas lain sejenisnya. Pertama, hal tersebut tentu tidak benar. Kedua, hal tersebut merupakan suatu pembajakan terhadap “Islam”. Ini yang semestinya harus disadari oleh umat Muslim lain yang waras.

Dalam kasus-kasus macam ini, pihak kepolisian seringkali memberi solusi yang tidak masuk di akal; membubarkan, melarang, atau tidak memberi izin kegiatan dengan dalih “keamanan”, alih-alih menindaktegas aksi-aksi brutal ormas yang mengusung bendera agama tersebut, yang sudah jelas-jelas menimbulkan rasa tidak aman.

Jadi sebenarnya, konsep keamanan seperti apa yang ada di benak polisi? Saya benar-benar tidak mengerti.

Ini bukan kali pertama, dan saya kira bukan pula yang terakhir ormas macam FPI melakukan aksi seenak jidatnya sendiri. Saya pikir, masyarakat harus lebih keras dan tegas terhadap ormas-ormas macam FPI. Jangan hanya karena mereka pakai kedok agama, maka kita jadi segan menentang mereka. []