Sapere aude!

Ormas Radikal dan Ancaman Terhadap Kebebasan Sipil

Posted in Commentary by Rinaldi on January 11, 2011

Author:  Rinaldi

Demonstrasi menuntut pertanggungjawaban pemerintah dalam menjamin kebebasan beribadah. Monas, 15 Agustus 2010. Foto: Rinaldi.

BARU-BARU ini, acara Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk “Menghapus Diskriminasi, Membangun Perlindungan Holistik Jaminan Beragama/Berkeyakinan di Jawa Barat” yang diselenggarakan Setara Institute di Hotel The Amarosa Bandung pada Kamis (6/1) kemarin, diancam dibubarkan paksa oleh FPI.

Alasannya, laporan-laporan Setara Institute dinilai oleh ormas FPI mendiskreditkan Islam. Dalam kasus-kasus semacam ini, pihak kepolisian kerap kali memperlihatkan gejala “manut” terhadap ancaman ormas keras macam FPI, alih-alih membela kebebasan sipil untuk berkumpul dan berserikat.

Sebagaimana dilaporkan KBR68H, pihak kepolisian sempat menyarankan pada penyelenggara untuk membatalkan kegiatan tersebut dengan alasan tak ada izin dan faktor keamanan. Meski setelah didesak, pada akhirnya acara tersebut tetap berjalan sampai selesai di bawah penjagaan polisi, namun usulan pembatalan acara tersebut jelas menunjukkan bahwa pihak kepolisian tampak tidak serius dalam melindungi kebebasan sipil.

Sebelumnya, kiprah semena-mena FPI terlihat pada pembubaran acara Q! Film Festival yang diadakan di Goethe Haus Menteng, pada September 2010. FPI juga membubarkan acara sosialisasi kesehatan yang digelar dua anggota DPR pada Juni 2010.

Kemudian FPI juga pernah melakukan penyerbuan pada seminar Waria di sebuah Hotel pada April 2010, dan mengancam membubarkan kongres ILGA di Surabaya para Maret 2010.

Itu belum termasuk intimidasi, penyerbuan, dan ancaman terhadap jemaat Ahmadiyah, sejumlah gereja, dan bentrok berdarah dengan kelompok AKKBB yang berdemo di Monas tahun 2008, dan kasus-kasus lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini.

Ormas keagamaan radikal, ancaman serius

SELAIN korupsi dan bobroknya moral para pejabat, tingkah polah “Islam keras” seperti kelompok FPI dan sejenisnya itu, yang menjamur pasca tumbangnya rezim Soeharto, adalah ancaman serius bagi kelangsungan kehidupan yang modern, wajar, dan manusiawi.

Bagaimana tidak, mereka (FPI dan sejenisnya itu) adalah kelompok-kelompok yang merasa diri superior dan super sensitif. Tampaknya mereka tak senang dengan perbedaan paham, apalagi kritik.

Semua yang mereka lakukan, mengatasnamakan umat Muslim. Dengan begitu, barangsiapa yang tidak setuju apa yang mereka lakukan, atau barangsiapa yang mengkritik apa yang mereka lakukan, maka berarti ketidaksetujuan dan kritik tersebut mereka pandang “mendiskreditkan Islam”.

Apa sih yang dimaksud “mendiskreditkan umat Islam?” Apakah sikap mengkritik dan mengutuk aksi-aksi ormas Islam yang brutal dan intoleran, yang fakta-fakta tersebut bisa kita saksikan sepanjang tahun, bisa disebut “mendiskreditkan umat Islam?” Ini jelas tuduhan yang mengada-ada.

Mereka mungkin berpikir, bahwa semua umat Muslim ada di belakang FPI dan ormas-ormas lain sejenisnya. Pertama, hal tersebut tentu tidak benar. Kedua, hal tersebut merupakan suatu pembajakan terhadap “Islam”. Ini yang semestinya harus disadari oleh umat Muslim lain yang waras.

Dalam kasus-kasus macam ini, pihak kepolisian seringkali memberi solusi yang tidak masuk di akal; membubarkan, melarang, atau tidak memberi izin kegiatan dengan dalih “keamanan”, alih-alih menindaktegas aksi-aksi brutal ormas yang mengusung bendera agama tersebut, yang sudah jelas-jelas menimbulkan rasa tidak aman.

Jadi sebenarnya, konsep keamanan seperti apa yang ada di benak polisi? Saya benar-benar tidak mengerti.

Ini bukan kali pertama, dan saya kira bukan pula yang terakhir ormas macam FPI melakukan aksi seenak jidatnya sendiri. Saya pikir, masyarakat harus lebih keras dan tegas terhadap ormas-ormas macam FPI. Jangan hanya karena mereka pakai kedok agama, maka kita jadi segan menentang mereka. []

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. yudy prasetyo said, on February 3, 2011 at 11:42 am

    masalahnya FPI sendiri jelas ada kekuatan besar yang memback-up dibelakangnya

  2. dukunular said, on February 20, 2011 at 5:10 pm

    Sebuah negara aja bisa digulingkan, masa sebuah ormas ga bisa? Duri dalam daging umat Islam itu harus segera dicabut sebelum menyebar lebih jauh lagi. Dan hal itu harus dilakukan oleh umat Islam sendiri, atas nama Islam, dan demi nama baik Islam. Bukan oleh negara atas nama demokrasi, ataupun oleh ormas lain atas rasa kebencian, apalagi balas dendam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: