Sapere aude!

Nakbah: Soal Pengungsi dan Tanggungjawab Dunia Arab

Posted in Middle east by Rinaldi on May 14, 2011

Author Rinaldi

“..Ulfa’atey mizrach kadimah, Ayin l’tzion tzofiyah. Ode lo avdah tikvatenu. Hatikvah bat shnot alpayim: L’hiyot am chofshi b’artzenu Eretz Tzion v’Yerushalayim”. | Harapan kami sejak duaribu tahun lalu, tak akan pernah hilang. Untuk menjadi bangsa yang bebas di tanah sendiri. Tanah Zion dan Yerusalem. (Hatikva, Lagu Kebangsaan Israel)


Ratusan ribu pengungsi Arab yang terusir keluar dari Israel, tidak diterima oleh negara-negara Arab sehingga hanya berstatus sebagai pengungsi dalam jumlah besar, dan tinggal di kamp-kamp darurat selama puluhan tahun.

NAKBAH adalah hari bencana bagi masyarakat Arab-Palestina. “Hari bencana” ini diperingati oleh orang-orang Arab bersamaan dengan peringatan kemerdekaan Israel. Sebab pada hari itu di tahun 1948, dikarenakan pecah perang Arab-Israel, ratusan ribu warga sipil Arab yang tinggal di wilayah Israel (wilayah Israel berdasarkan partisi PBB 1947) terusir ke luar dan tidak bisa kembali (no right to return). Mereka menjadi “pengungsi abadi” di kamp-kamp pengungsian di Lebanon, Suriah, Yordania (tepi barat) dan Mesir (Gaza).

Masalah pengungsi tersebut kerap menjadi “amunisi” bagi dunia Arab dan “para pembela palestina” untuk terus-menerus memojokkan Israel.

Tetapi tahukah anda, bahwa pada saat ratusan ribu warga sipil Arab keluar terusir dari tempat tinggalnya di wilayah Israel, pada saat bersamaan ratusan ribu warga sipil Yahudi juga keluar terusir dari tempat tinggalnya di negara-negara Arab?

Pada tahun 1948, sebelum pecah perang, terhitung ada sekitar 856 ribu orang Yahudi yang tinggal di sepuluh negara-negara Arab; Yaman, Aljazair, Mesir, Irak, Lebanon, Libya, Maroko, Suriah, Tunisia dan Aden. Tahun 2001 jumlahnya menyusut hingga tinggal 7.800 orang saja. Kemana mereka? Ya terusir keluar sepanjang peperangan 1948.

“No one (Arab or Jew) has a “right of return” Jews who fled Arab persecution from 1948 to 1956 should have no right of return to Arab lands, and Arabs who ran away in 1948 and 1967 should have no right of return either. This should end all argument. Yet the Jews accept this judgment, while the Arabs reject EVERYTHING.”

– Walid Shoebat, Former PLO extremist

Perang Arab-Israel menimbulkan ratusan ribu pengungsi warga sipil dari kedua belah pihak. Ratusan ribu pengungsi tersebut sama-sama TIDAK MEMILIKI HAK KEMBALI (no right to return). Namun bedanya, ratusan ribu pengungsi Yahudi yang terusir keluar dari negara-negara Arab dengan sigap ditampung oleh Israel dan diberi kewarganegaraan, sehinga tidak menimbulkan kesengsaraan yang berlarut-larut.

Sedangkan ratusan ribu pengungsi Arab yang terusir keluar dari Israel, tidak diterima oleh negara-negara Arab sehingga hanya berstatus sebagai pengungsi dalam jumlah besar, dan tinggal di kamp-kamp darurat selama puluhan tahun.

Mengenai jewish refugees, baca ini:

http://www.mideastweb.org/refugees4.htm

Mengenai Arab refugees, baca ini:

http://www.mideastweb.org/refugees1.htm

Lihat partisi PBB di atas. Batasan tersebut ditetapkan oleh PBB berdasarkan demografi. Yang berwarna kuning adalah wilayah untuk Yahudi karena mayoritasnya dihuni oleh Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab), dan yang hijau adalah wilayah untuk Arab karena dihuni oleh mayoritas Arab (804 ribu Arab berbanding 10.000 Yahudi). Sumber

Perang Arab-Israel dipicu oleh ketidaksetujuan pihak Arab pada partisi PBB 1947. Mereka menolak berdirinya negara Israel, meski dalam partisi tersebut pihak Arab mendapat jatah tanah yang subur. Sedang pendirian negara Israel sendiri sebenarnya cukup “etis”, karena didirikan di wilayah yang memang dihuni mayoritas Yahudi (lih. Peta partisi PBB).

Sesaat setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, pasukan koalisi Arab dari negara-negara sekitar Israel datang mengagresi. Terjadilah perang besar yang akhirnya dimenangkan oleh Israel. Imbas dari perang tersebut, sudah tentu masalah pengungsi seperti yang disinggung di atas.

Masalah pengungsi yang berlarut-larut tersebut, disebabkan oleh peperangan yang dimulai oleh negara-negara Arab. Mengapakah atas permasalahan tersebut, Israel yang kerap kali disalahkan? Di manakah tanggung-jawab negara-negara Arab? Jika Israel yang kecil dan tandus saja sudi menerima ratusan ribu pengungsi Yahudi yang terusir keluar dari negara-negara Arab, mengapa dari luas dan kayanya negara-negara Arab tidak ada yang sudi menampung para pengungsi tersebut agar mereka hidup layak?

Segenap pertanyaan tersebut menimbulkan kecurigaan, benarkah masalah pengungsi dan masalah Palestina dimunculkan oleh kepedulian terhadap kemanusiaan, atau hanya sekedar alat saja bagi negara-negara Arab untuk mengenyahkan Israel? []

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Boy said, on May 21, 2013 at 1:12 pm

    Tulisannya tendensius, ketauan banget penulisnya ga pernah baca illan pappe, chomsky, dan edward said. :)

  2. Rinaldi said, on May 21, 2013 at 5:24 pm

    Soal Illan Pappe sudah pernah saya komentari dalam kolom komentar. Sudah lama, lupa di artikel mana. Silakan browse sendiri.

    Pendeknya, ada pendapat Illan Pappe tentang “ethnic cleansing” yang tidak akurat dan itu sudah dikritik oleh sejarawan Israel juga, Prof. Benny Moris. Prof. Moris bahkan menuduh, sebaik-baiknya Pappe dia adalah ilmuwan yang “ceroboh”. Dan seburuk-buruknya adalah ilmuwan yang “curang”, terkait dengan data-data yang dia (Pappe) sodorkan. Kurang lebih begitu.

  3. jtxtop1 said, on November 29, 2015 at 5:12 pm

    nice info mas ,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: