Sapere aude!

Gaza, Ternyata Tidak Sepenuhnya Miskin dan Sengsara

Posted in Middle east by Rinaldi on June 29, 2011

Author: Rinaldi

“Yet, despite widespread criticism at the way the raid was conducted, few here doubted that stopping the flotilla was the right thing to do. Life in Gaza is unquestionably oppressive; no one in his right mind would choose to live there. But there is no humanitarian crisis in Gaza; if anyone goes without food, shelter or medicine, that is by the choice of the Hamas government, which puts garnering international sympathy above taking care of its citizens. Israel has readily agreed to send into Gaza all the food and humanitarian supplies on the boats after they had been inspected for weapons.”  – Daniel Gordis, NY Times

Lobbi Grand Palace Hotel di Gaza City. Hotel mewah yang menawarkan pemandangan mediteranian.

Lobbi Grand Palace Hotel di Gaza City. Hotel mewah yang menawarkan pemandangan mediteranian.

SELAMA ini, kesengsaraan Gaza dijual. Oleh media massa, juga oleh propagandis Arab.

“Kesengsaraan” memang bahan jualan yang selain mudah laku, juga ampuh untuk membangun opini publik. Dalam konteks Gaza, opini publik yang ingin dibangun dari eksploitasi kesengsaraan Gaza adalah, tentu saja, Israel kejam.

Betul, bahwa ketika Israel membombardir beberapa titik di Gaza, timbul cukup banyak korban sipil. Jika konflik antara Israel dan Palestina kita reduksi hanya pada titik itu, maka jelas kesan dan opini publik yang timbul adalah, sekali lagi, Israel kejam.

Sudah kejam, “Yahudi” pula. Dua “dosa besar” tersebut cukup membuat jalan-jalan protokol di Jakarta macet oleh aksi demonstrasi ormas-ormas Islam. Solidaritas kemanusiaan, katanya.

Tapi anehnya, kita tidak pernah mendengar “solidaritas kemanusiaan” yang sama ketika Presiden Sudan, Omar Al Bashir, membantai lebih dari 300.000 warga sipil di Sudan selatan.

Entah solidaritas kemanusiaan macam apa. Mungkin mereka hanya sekedar benci Yahudi, dengan memanfaatkan kesengsaraan masyarakat Gaza yang dieksploitir.

Buktinya, selain tak acuh terhadap apa yang dilakukan Omar Al Bashir, ormas-ormas Islam di Indonesia tidak ada yang bersuara lantang mengecam pemerintah Cina atas okupasinya ke Tibet.

Seperti yang diungkapkan oleh Daniel Gordis dalam kutipan di atas, boleh dikatakan tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza. Adapun kemiskinan dan kesengsaraan yang ada, cenderung dieksploitir oleh media yang kerap kali digunakan sebagai alat propaganda untuk menentang Israel. Kemiskinan dan kesengsaraan ini pun nampaknya dimanfaatkan dan dieksploitir pula oleh Hamas sebagai alat untuk mendapatkan simpati dunia, khususnya dunia Islam.

Semua orang yang yang melek informasi tentu paham, bahwa Hamas adalah organisasi yang memiliki rekam jejak buruk atas kemanusiaan. Secara mendasar, Hamas adalah organisasi teroris yang memiliki ideologi bercorak fasis berlabel “perjuangan Islam”.

Propaganda Hamas dibumbui kebencian terhadap Yahudi, Israel dan barat. Dalam kiprahnya, Hamas juga gemar sekali menggunakan warga sipil sebagai tameng untuk melawan Israel. Apakah yang bisa kita harapkan dari Hamas untuk memajukan masyarakat Gaza? Nyaris tidak ada.

Alih-alih memfasilitasi pembangunan di Gaza, Hamas malah menghancurkan sebuah waterpark dengan alasan yang naif dan konservatif; melarang pria dan wanita berkumpul bersama dalam taman air tersebut.

Hamas juga sempat diprotes kelompok Hak Azasi Palestina karena menghalang-halangi siswa berprestasi di Gaza untuk mendapatkan beasiswa dan bersekolah di luar negeri, dalam hal ini Amerika Serikat. Bukankah semua itu adalah pemikiran dan tindakan yang kontraproduktif?

Mundurnya Israel dari Gaza pada September 2005, semestinya bisa dijadikan kesempatan yang baik untuk membangun Gaza. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Hamas malah semakin leluasa membombardir pemukiman-pemukiman sipil Israel, Aksi provokasi ini membuat Israel membalas dan menyebabkan konflik yang tentu saja menimbulkan banyak korban sipil.

Aksi provokasi brutal tersebut akhirnya berujung pada blokade militer Israel atas Gaza pada 2007. Blokade militer ini bertujuan memutus supply senjata kepada Hamas. Blokade ini pun lagi-lagi dieksploitir oleh media dan para propagandis Arab pro-Palestina, untuk mengesankan bahwa Israel kejam.

Ditambah dengan insiden flotilla pertengahan tahun lalu, “gambaran” bahwa Israel kejam makin menjadi-jadi. Dikesankan, saking kejamnya, Israel tidak menginginkan ada bantuan kemanusiaan ke Gaza. Padahal faktanya, jauh sebelum insiden flotilla berton-ton bantuan kemanusiaan dihantarkan oleh Israel ke Gaza dari berbagai donatur, termasuk di antaranya oleh organisasi-organisasi PBB sendiri.

Krisis kemanusiaan di Gaza?

“Earlier in July, a luxury mall in Gaza City held its grand opening, selling Israeli men’s clothing, and items from Turkey, France, and the United States. The mall has a variety of stores which sell cosmetics, clothing, office supplies, toys, shoes, appliances and more. The mall boasts air conditioning and a delivery service”. ( Israel National News )

Wajah pengungsi Leningrad Siege.

Wajah pengungsi Leningrad Siege.

Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar frase “krisis kemanusiaan?” Sekurang-kurangnya, peristiwa blokade kota Leningrad pada era Perang Dunia II bisa menjadi ilustrasi yang baik. Peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa blokade (siege) yang memakan korban cukup banyak. Tercatat sekurangnya 1 sampai 4 juta warga sipil tewas dalam peristiwa yang berlangsung dalam kurun 1941 – 1944 tersebut.

Kita bisa bayangkan, bahwa dalam kurun pengepungan tersebut tentu tidak ada sedikitpun yang bisa kita namakan “kemewahan”. Jangankan kemewahan, untuk makan saja susah. Inilah wajah krisis kemanusiaan yang sesungguhnya. Nah, bagaimana dengan Gaza?

Saya tidak hendak mengatakan bahwa seratus persen rakyat Gaza tidak ada yang miskin. Tapi hanya ingin mengajukan fakta dari berbagai sumber yang kredibel, bahwa Gaza, terutama dalam masa blokade Israel, tidaklah sepenuhnya miskin dan sengsara.  Kondisi di Gaza, jika pun ada “kemiskinan”, sangatlah jauh untuk bisa disebut mengalami “krisis kemanusiaan”.

Bagaimana mau disebut krisis kemanusiaan, di Gaza ternyata ada restoran mewah. Sebut saja Roots Club yang nilai investasinya mencapai 1 juta USD. Belum lagi sebuah hotel di pinggir pantai yang tergolong mewah, Grand Palace Hotel di Gaza City, yang dalam promosinya menawarkan mediterranian views kepada calon tamunya.

Bahkan sebuah media Israel melaporkan, pasar-pasar di Gaza dipenuhi oleh sayur-sayuran, buah-buahan dan aneka kebutuhan. Pengunjung pun ramai menjelang Ramadhan. Di Gaza juga ada Kentucky Fried Chicken dan mall mewah. Jelas, hal-hal tersebut tidak ada dalam peristiwa blokade kota Leningrad sekian puluh tahun yang lalu. Krisis kemanusiaan?

Dari sejumlah fakta di atas bisa kita bayangkan, jika Gaza tetap anda sebut mengalami krisis kemanusiaan, –yang boleh kita bilang krisis tersebut akibat ulah “kejam” Israel yang memblokade Gaza–, maka “orang gila” mana yang menghambur-hamburkan banyak uang untuk berinvestasi membangun restoran dan hotel mewah di Gaza?

Siapa pula “orang gila” yang akan menjadi tamu-tamu restoran dan hotel mewah tersebut di tengah-tengah krisis kemanusiaan akibat embargo ekonomi?

Atau, ini kesimpulan paling waras, adalah tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza?

Dus, Gaza ternyata tidak sepenuhnya miskin dan sengsara. Tapi sisi ini tidak populer, nyaris tidak ada gaungnya di media massa di Indonesia. Apalagi media-media Islam seperti Sabili atau Eramuslim. Kenapa? Simpel jawabannya: Karena tidak menjual. []

*Video kehidupan di Gaza oleh dan terima kasih kepada Pierre Rehov

Advertisements

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. agus kuncring said, on September 18, 2018 at 1:19 pm

    kami merupakan salah satu General Manager Distributor Utama suatu sarana sistem alat pengolahan di indonesia yg sudah bermitra dg pemerintah -/+ 20 tahunan, pekerjaan kami mengharuskan kami sll berhub dg pabrik di eropa dan timteng utk mendukung pekerjaan kami.dan Sudah lebih dari 15 tahun pengalaman dan lebih dari 10 kali PP masuk ke Jerussalem, kami melihat bahwa justru disana itu DALAM PENGAMATAN MATA KEPALA kami sendiri kondisinya “yang mau perang ya monggo yg damai juga oke” kondisinya mirip seperti di zaman DOM tetep ada daerah yg aman, DAN NGGAK SETIAP HARI TERJADI PERANG malahan di Yerusalem yg jadi pemandu, yg njaga situs2 sejarah mayoritas orang2 arab dan ndak ada masalah sama orang2 Yahudi, akur2 aja kok (sempet kita wawancara), menurut dia ya itu kembali pada pribadi masing2 jangan digeneralisir katanya, disini aman kok, malahan di Palestin sempet ngadain festival bir katanya.

    Memang sih proses masuk ke Yerusalem agak ketat n ribet, tapi karena kami sudah beberapa kali masuk jadi sudah sepeti “member face” hehehee…. yg ketat diperiksa biasanya “Tamu” yg kami bawa ke Al Aqsha soalnya mreka kan baru kali pertama….

    Memang berdasarkan pengamatan kami setelah beberapa kali masuk Gaza ya kondisinya memang kayak gitu Bro, ndak kayak yg keliatan di TV-TV kok, ya sama lah kayak kota disini gitu… kayaknya di TV-TV itu sengaja dicari yg jelek2 aja Bro….

    kayaknya perang kecil disana di gede2in di media sini, faktanya aja wawancaranya Pitut Soeharto & SN Suwisma ttg kondisi real di israel aja, dihapus di chanel youtube salah satu TV swsta disini.. (n)

  2. Rinaldi said, on September 22, 2018 at 8:31 pm

    Wah, menarik sekali. Terima kasih komentarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: