Sapere aude!

Tentang Israel, Palestina, dan Berbagai Kesalahpahaman

Posted in Middle east by Rinaldi on July 13, 2011

Yitzak Rabin bersalaman dengan Yasser Arafat setelah menandatangani Oslo Accord pada 1993. Atas penandatanganan itu, Yitzak Rabin kemudian dibunuh pada 1995 oleh seorang Yahudi fanatik,Yigal Amir, yang tidak suka perdamaian dengan Palestina. Kisah yang nyaris sama dialami oleh Anwar Sadat belasan tahun sebelumnya. Anwar Sadat dibunuh dalam sebuah parade militer oleh kelompok Islam fanatik karena ingin berdamai dengan Israel. (Foto: AP)

 Author: Rinaldi

JIKA anda berpikir bahwa dulu ada sebuah negeri yang damai bernama “palestina”, dan kemudian datanglah orang-orang Yahudi dari Eropa yang ujug-ujug merebut tanah serta mengusir penduduknya, yang kemudian orang Yahudi pendatang tersebut mendirikan negara Israel di sana, maka jelas anda termasuk orang yang memiliki pemahaman keliru atas kasus ini.

Juga sering saya jumpai pendapat, terutama di blog publik, yang sepertinya tidak bisa membedakan antara “pendirian negara Israel” dengan “pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza.” Mereka berpikir, bahwa (yang sesungguhnya adalah) kasus “pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza” adalah “pendirian negara Israel” itu sendiri.

Dan saya kira banyak sekali di masyarakat kebanyakan yang masih berpemahaman demikian. Apalagi kemudian pemahaman yang sebenarnya keliru itu dijustifikasi dengan fakta (yang adalah benar fakta, namun karena ketidakpahaman sering diabaikan konteks peristiwanya) bahwa ada ratusan jewish settlement dibangun di Tepi Barat yang seringkali dibumbui oleh “perseteruan” dengan warga Tepi Barat itu sendiri. Tak jarang perseteruan itu memakan korban jiwa dari pihak warga sipil. Wah, lengkap sudah kesalahpahamannya. Prasangka awam bahwa orang Yahudi datang ke Palestina, mengusir penduduknya, dan mendirikan “negara Israel” di sana, seolah terbenarkan.

Oleh sebab itu, pendapat pun jadi bias. Niat hati menentang pendudukan Israel di Tepi Barat dan mendukung kemerdekaan “Palestina”, namun opininya seringkali melenceng dengan mempersoalkan pendirian negara Israel.

Wilayah Kerajaan Israel pada era Raja Saul, Daud, dan Sulaiman pada sekitar 1000 – 924 SM. Bisa dilihat, “Palestina” pada waktu itu hanyalah sebuah daerah kecil di pesisir Mediteranian. Itu pun tidak termasuk wilayah Kerajaan Israel. (Sumber: American Bible Society)

Banyak orang awam tahunya cuma “palestina” saja, tanpa tahu apa konteks dan pengertian “palestina” yang mereka sebut. Sesungguhnya “Palestina” memiliki pengertian yang berbeda-beda sepanjang sejarah. Kalau kita membicarakan Palestina dalam konteks Era Usmani, Mandat Inggris, UN Partition Plan, atau Oslo Accord, sesungguhnya kita bicara “palestina” yang berbeda-beda. Apalagi kalau kita tarik mundur ke belakang sebelum era Usmani, maka terma “Palestina” memiliki pengertian dan wilayah yang berbeda dari yang kita pahami sekarang.

Nama “Palestina” sendiri asalnya adalah nama sebuah daerah kecil di pesisir Mediteranian. Alkitab menyebutnya Filistin, wilayah Gaza dan sekitarnya sekarang.  Dalam bahasa Ibrani, disebut פּלשׁתּי, pelishtîydibaca pel-ish-tee’ yang jabarannya a Pelishtite or inhabitant of Pelesheth: – Philistine (Strong Hebrew Dictionary).

Nama, wilayah, dan penduduk pribumi Palestina pada asalnya itu, hampir tidak ada hubungannya sama sekali dengan Palestina di jaman sekarang.  Bani Israel kuno pernah berseteru dengan orang-orang Palestina kuno. Kisah yang tercatat adalah pertarungan antara Daud dan seorang Filistin bernama Goliath.

Yang jelas, daerah Palestina pada asalnya bukanlah seluruh wilayah yang sekarang disebut Israel, juga bukan wilayah yang sekarang disebut Tepi Barat. Pada masa itu, daerah yang sekarang disebut Tepi Barat bernama Kana’an. Nabi Yakub (Israel) dan duabelas anak-anaknya pernah tinggal di Kana’an, sebelum akhirnya mereka hijrah ke Mesir menyusul salah satu anaknya yang hilang, Yusuf.

Mengapa daerah yang sekarang disebut Tepi Barat dan sekitarnya menjadi disebut “Palestina?” Panjang ceritanya. Tapi, awal mula perubahan nama adalah pada saat invasi Jenderal Titus ke Yudea ––nama Yudea mulai muncul pasca pecahnya kerajaan Israel di sekitar 924 SM– pada sekitar tahun 70 M.

Titus adalah seorang anti-semit dan ingin menghancurkan tidak hanya orang Yahudi, tapi juga apa-apa yang berbau Yahudi. Termasuk menghancurkan Bait Suci (Kuil Sulaiman) yang adalah bangunan tersuci dalam agama Yahudi, juga bahkan merubah nama daerah dari Yudaea menjadi “Palaestina”. Inilah awal mula melebarnya nama “palestina” dari sekedar nama daerah kecil di pesisir Mediteranian, menjadi nama sebuah daerah yang jauh lebih besar dari itu.  Nama kota Yerusalem pun sempat dirubah menjadi Aelia Capitolina, namun tidak bertahan lama dan berubah kembali menjadi Yerusalem.

Dari serangan habis-habisan Jenderal Titus ini, banyak orang Yahudi ketakutan dan lantas berdiaspora ke luar Yudea. Dalam sejarahnya, Bait Suci di Yerusalem telah dua kali dibangun dan dua kali dihancurkan.

Tetapi perubahan nama daerah dari Yudea ke Palaestina, bertahan sampai sekarang dan dinikmati banyak orang Muslim fanatik untuk memojokkan Israel.

Palestina dalam era Mandat Inggris (1920-1948) wilayahnya mencakup Yordania. Pada 25 Mei 1946, Trans Jordan menjadi negara sendiri, Yordania. Pada 14 Mei 1948, lahir Israel berdasarkan UN Partition Plan 1947. (Sumber: Wikipedia)

JIKA kita bicara “Palestina” dalam konteks peristiwa di sekitar 1940-an, maka kita membicarakan Palestina Mandat Inggris yang memiliki maksud dan pengertian juga wilayah yang berbeda dengan jika kita bicara soal “Palestina” di jaman sekarang. Begitu pun pada masa Usmani, atau pada masa-masa lain sebelumnya.

Dalam konteks saat ini, yang dimaksud “Palestina” adalah Palestinian National Authority yang wilayahnya mencakup kurang lebih Jalur Gaza dan Tepi Barat; dua wilayah yang diduduki Israel pasca perang dengan koalisi Arab tahun 1967. Konsep PNA muncul sebagai hasil dari Oslo Accord pada tahun 1993.

Israel sendiri tidaklah merebut Tepi Barat dan Gaza dari “orang-orang Palestina”, melainkan direbut dari  Yordania dan Mesir dalam sebuah peperangan besar. Karena wilayah tersebut sesungguhnya adalah wilayah Yordania dan Mesir (dari 1948 – 1967).

Jadi kalau kita mau membicarakan “kemerdekaan Palestina”, maka kita membicarakan Palestina dalam konteks Palestinian National Authorithy hasil dari Oslo Accord. Bukan “Palestina” dalam pengertian Mandat Inggris atau era Usmani. Juga bukan Palestina dalam pengertian awal-awal tarikh Masehi.  Dan kita juga tidak perlu menyinggung soal “sah-tidaknya negara Israel”, karena tidak nyambung.

Juga kalau kita mau membicarakan soal sah atau tidaknya pendirian negara Israel, tidak perlu menyinggung soal pendudukan di Tepi Barat dan Gaza, tidak perlu menyinggung pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat, dan sebagainya. Karena itu adalah dua tema yang berbeda.

Soal Pendirian Negara Israel

SINGKAT saja, konflik Israel-Arab (bukan Israel-Palestina) bermula ketika rezim Turki Usmani runtuh. Wilayah-wilayah bekas Usmani hendak berdiri menjadi negara sendiri-sendiri. PBB kemudian memberi mandat kepada Inggris dan Perancis untuk menduduki dan mengatur wilayah bekas Usmani.

Di wilayah yang merupakan mandat Perancis, lahir Lebanon dan Suriah. Tidak ada masalah berarti.

Di wilayah yang merupakan mandat Inggris, lahir Yordania dan Israel. Dan di sinilah awal terjadinya konflik Arab-Israel.

Wilayah mandat Inggris, dari sungai Yordan ke timur, jadi negara Yordania. Sedangkan sungai Yordan ke barat, dibagi lagi: untuk Arab dan untuk Yahudi. Kenapa begitu? Karena di situ ada penduduk Arab dan ada penduduk Yahudi.

Sebagaimana orang Arab ingin membentuk sebuah negara Arab selepas era Usmani, seperti Lebanon, Yordania, Suriah, Mesir, dan sebagainya, demikian pula orang Yahudi ingin membentuk sebuah negara Yahudi. Kenapa tidak? Toh negara yang menaungi mereka sebelumnya sudah bubar.

Gambar Partisi PBB yang diajukan pada November 1947. Partisi ini membagi Palestina menjadi dua bagian, untuk etnik Arab dan Yahudi. Anda bisa lihat wilayah jatah Israel dalam partisi tersebut amatlah kecil dibanding wilayah Israel sekarang. Sebagian besar adalah Gurun Negev di sebelah selatan. Sedangkan pihak Arab mendapatkan wilayah yang subur. Yahudi menerima proposal pembagian ini, sedangkan pihak Arab menolak.

Akhirnya, tersebutlah proposal yang dinamakan UN Partition Plan pada November 1947, yang membagi Palestina (dalam pengertian waktu itu, bukan dalam pengertian “PNA”-nya Oslo Accord) menjadi dua: untuk Arab dan Yahudi.

Palestina Arab, adalah daerah yang mayoritasnya Arab (804 ribu Arab berbanding 10 ribu Yahudi). Palestina Yahudi, adalah daerah yang mayoritasnya Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab). Cukup adil. (Sumber data: jewishvirtuallibrary.com)

Negara Israel tidak dibangun semata-mata akibat peristiwa holocaust sebagaimana dituduhkan beberapa pihak. Juga tidak dibangun oleh “para pendatang” yang terlebih dahulu mengusiri penduduk aslinya.

Pada dasarnya, negara Israel –sebagaimana negara-negara tetangganya– dibangun di bekas wilayah Turki Usmani dan di ataswilayah/spot yang mayoritas adalah Yahudi.

Di seluruh Palestina, Yahudi bisa dikatakan minoritas dan terkonsentrasi pada wilayah tertentu saja. Nah, pada wilayah di mana Yahudi terkonsentrasi itulah, negara Israel berdiri (lih. Peta UN Partition Plan 1947).

Dalam partisi yang diajukan oleh PBB, bisa kita pahami bahwa sebagian besar wilayah yang diperuntukkan bagi Yahudi adalah gurun gersang, yaitu gurun Negev. Sedangkan Arab lebih beruntung dapat wilayah yang relatif subur.

Oke, itulah sekilas tentang partisi. Dan hasilnya: Pihak Yahudi menerima partisi tersebut, dan mendeklarasikan Israel pada 14 Mei 1948 dengan damai dan tidak ada “perebutan wilayah” sebagaimana disalahpahami banyak pihak.

Tapi pihak Arab menolak partisi tersebut, dan ramai-ramai berkoalisi menyerang Israel dengan tujuan merebut wilayah Israel. Akibatnya? Terjadi perang dahsyat antara koalisi negara-negara Arab dengan negara Israel yang baru dideklarasikan. Dan perang tersebut, tentu saja, menimbulkan sejumlah besar pengungsi.

Ratusan ribu orang Arab-Palestina yang berada di wilayah Israel, terusir keluar selama perang dan menjadi pengungsi. Begitu juga ratusan ribu orang Yahudi di negara-negara Arab terusir keluar dari negaranya. Pengungsi dari kedua belah pihak, sama-sama tidak memiliki hak untuk kembali –no right to return.

Wilayah Tepi Barat dan Gaza, yang diambil Israel dari Mesir dan Yordania pada 1967. Sebagian wilayah ini (yang berwarna hijau tua) kemudian dikenal dengan Daerah Otoritas Nasional Palestina (PNA). Inilah Palestina yang dibicarakan sekarang, bukan Palestina dalam konteks Mandat Inggris atau Usmani atau sebelumnya. Seluruh wilayah ini dulunya adalah wilayah yang dijatahkan untuk Arab dalam partisi PBB 1947. Arab menolak partisi PBB itu, namun sekarang merengek-rengek minta kemerdekaan dengan bendera “Palestina”. (Sumber: Wikipedia)

Adapun soal “pengungsi” yang diakibatkan oleh perang 1948, menjadi masalah tersendiri. Lengkapnya telah saya bahas dalam ulasan “Nakba: Soal Pengungsi dan Tanggungjawab Dunia Arab”.

Perang dahsyat itu disebut perang Arab-Israel yang pertama, the first Arab-Israeli war, dan dimenangkan oleh Israel. Walhasil, wilayah Israel meluas dari yang dijatahkan dalam partisi PBB. Salahkah Israel atas perluasan wilayahnya? Ya tidak. Itu perang, dan perang itu digara-garai oleh pihak Arab.

Sebaliknya, wilayah negara Arab seperti Yordania juga meluas. Yordania mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem timur yang sebelumnya bukan wilayah Yordania.

Perluasan wilayah Israel akibat perang 1948, juga banyaknya pengungsi Arab-Palestina yang terusir dari wilayah Israel selama perang, sering diulang-ulang oleh “para pembela buta palestina” sebagai alat propaganda untuk menyudutkan Israel. Padahal, imbas dari perang yang sama, ratusan ribu orang Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab sekitarnya, juga mengalami tekanan dan terusir keluar.

Kemudian, masih imbas perang tersebut, wilayah Yordania juga meluas dengan menduduki Tepi Barat dan Yerusalem timur. Wilayah Mesir juga meluas dengan mencaplok Gaza. Tapi semua kutukan hanya tertuju pada Israel, tidak kepada negara-negara Arab lainnya. []