Sapere aude!

Ateisme dan Prasangka Buruk Masyarakat

Posted in Commentary by Rinaldi on October 1, 2011

Author: Rinaldi

SESAAT setelah peristiwa ledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh, Solo, berbagai kalangan dan tokoh agama unjuk suara mengutuki aksi tersebut. Di antara para tokoh, adalah Din Syamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah. Din mengatakan, sebagaimana dikutip dalam berbagai media online, bahwa pelaku bom Solo adalah “orang tak bertuhan”. Bagi telinga awam, pernyataan Din boleh terdengar “biasa”. Namun tidak bagi sebagian yang lain, terutama bagi saudara-saudara kita yang –atas pilihan bebas hidupnya- memilih untuk tidak percaya tuhan.

Adalah Guruh Dwi Riyanto, yang secara tidak langsung mewakili rekan-rekan lain yang ateis, telah menulis surat pembaca yang memprotes pernyataan Din tersebut. Surat pembaca kemudian dimuat di harian Koran Tempo pada edisi Selasa, 27 September lalu. Bagi saya, surat pembaca yang ditulis oleh seseorang yang terang-terangan mengaku ateis, adalah hal baru dan mengejutkan. Apalagi isinya memprotes pernyataan seorang pemuka agama ternama di republik “bertuhan” ini.

Di satu sisi, saya kagum atas keberaniannya mengemukakan pendapat atas hal yang menurut ukuran republik ini sensitif. Namun pada sisi lain, saya khawatir bahwa atas tindakannya itu, ketenangannya terusik. Dalam kondisi intelektualitas masyarakat kita yang sedemikian rupa, jangankan mengaku ateis dan memprotes pemuka agama ternama, beragama dalam pemahaman yang liberal pun, kerap kali menuai kecaman dan ancaman. Namun jika kemungkinan terburuk terjadi, saya akan bersuara mendukung haknya untuk mengemukakan pendapat, terlepas dari apakah saya setuju pada ateisme atau tidak.

Bagi saya pribadi, pernyataan Din memang layak diprotes. Budaya dan nilai-nilai kita harus mulai peka terhadap hal-hal seperti ini. Ini mengingat bahwa ateisme seringkali terstigma begitu buruk di benak masyarakat awam kita, sehingga banyak yang bersikap apriori terhadap ateisme dan kaum ateis, termasuk Din sendiri.

Pernyataan Din, dan mungkin juga pernyataan tokoh-tokoh lain yang senada, menunjukkan bahwa ada prasangka yang sangat buruk dan keliru terhadap ateisme. Prasangka ini sepertinya ditanamkan secara meluas dan perlahan di benak masyarakat awam kita. Ateisme digambarkan sebagai paham yang biadab dan tidak berperikemanusiaan, suka menghalalkan segala cara, dan sejumlah tudingan miring lainnya. Seringkali pula dikait-kaitkan dengan ideologi komunisme. Dari prasangka itu pula, sekaligus juga timbul prasangka bahwa tuhan adalah satu-satunya sumber moral dan kebaikan. Sehingga “bertuhan” bisa dipandang sebagai suatu “jaminan” bahwa orang ini tidak akan berbuat jahat, atau sekurangnya, tidak akan “kelewatan” jika berbuat jahat.

Semua prasangka tersebut jelas keliru, konyol, dan tidak berdasar. Anggapan awam bahwa ateisme identik dengan ideologi komunisme pun, menunjukkan kegagapan wawasan terhadap apa itu ateisme dan apa itu komunisme. Tan Malaka, seorang tokoh komunis ternama, adalah seorang Muslim. Stephen Hawking, seorang pakar fisika ternama dan bukan komunis, adalah ateis.

Ateisme telah muncul jauh lebih dulu dari komunisme. Diagoras, seorang filsuf Yunani yang hidup pada abad kelima sebelum Masehi, adalah seorang filsuf yang ateis. Fakta-fakta sederhana ini saja telah membantah berbagai tudingan konyol tersebut.

Begitu pula dengan tudingan bahwa ateisme identik dengan kebiadaban dan sikap menghalalkan segala cara. Pandangan ini jelas-jelas tidak berdasar dan sangat mudah dibantah. Berdasarkan data yang dikeluarkan Biro Penjara Federal Amerika Serikat, hanya 0.2% saja narapidana yang terdata sebagai ateis. Padahal populasi ateis mencapai 8% dari total populasi warga Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi ateis tidak sama dengan berhasrat pada kejahatan. Kesimpulan tersebut diperkuat dengan fakta lain bahwa dalam sepuluh tahun belakangan, pelaku terorisme yang tertangkap justru mereka yang memiliki fanatisme terhadap konsep ketuhanan tertentu. Bagaimana bisa Din menunduh begitu saja orang tak bertuhan sebagai pelaku kejahatan teror? Benar, bahwa ateis adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Tetapi memandang  para ateis sebagai seorang yang pasti amoral dan bejat, jelas merupakan prasangka yang konyol dan tak berdasar.

****

SEDERHANANYA, ateisme adalah sebuah ide menolak eksistensi tuhan yang diurai dengan sejumlah argumentasi filsafat pendukung, itu saja. Pada ateisme sesungguhnya tidak berisi ajaran tentang bagaimana hidup itu, dan tidak pula berisi ajaran tentang apa yang baik dan buruk dalam bermasyarakat. Hal itu bukan berarti ateis tidak memiliki pedoman hidup dan standart moral, tetapi menunjukkan bahwa ateisme memang tidak ada hubungannya dengan perilaku baik atau buruk. Singkatnya, ateisme bukanlah ideologi terapan seperti komunisme atau demokrasi. Lawan ateisme pun, bukan agama. Ateisme, tepatnya, adalah anti-tesa atas teisme.

Penjelasan yang tepat atas apa itu teisme pun, sama polanya seperti yang terurai di atas. Teisme adalah sebuah ide yang menyatakan bahwa tuhan, dengan konsepsinya yang demikian-demikian, adalah benar eksis dengan sejumlah argumentasi filsafat pendukung. Pada teisme pun, sesungguhnya juga tidak terdapat ajaran mengenai bagaimana hidup itu dan apa-apa saja yang baik dan buruk. Karena teisme tidak berbicara tentang moralitas, tetapi hanya bicara tentang ide bagaimana “tuhan” itu adalah benar eksis. Itu saja.

Baik ateisme maupun teisme, sesungguhnya adalah ide yang berdiri sendiri dan lepas dari konsep agama atau ideologi manapun. Bahwa kemudian ada agama atau ideologi yang menjadikan teisme atau ateisme sebagai dogma fundamentalnya, adalah urusan lain.

Yang membuat wacana seperti ini menjadi bias, adalah bahwa banyak orang mengenal teisme semata-mata dari ranah normatif agama samawi, bukan filsafat. Teisme dalam benak masyarakat kebanyakan, adalah satu paket dengan agama. Hal ini disebabkan kuatnya hegemoni agama samawi, sehingga apapun opini mengenai tuhan dan agama, adalah opini yang berbasis pola pemahaman agama samawi. Bertuhan berarti beragama, dan beragama berarti bertuhan. Jika dalam pemahaman ini yang menjadi premis adalah “agama mengajarkan kebaikan”, maka tidak bertuhan (baca: tidak mengenal tuhan) jelas bisa dipahami sebagai pandangan yang “anti-kebaikan”.

Mencoba lepas dari hegemoni pemahaman tuhan dan agama menurut agama-agama samawi, perlu diketahui bahwa Buddhisme, yang di Indonesia termasuk salah satu dari enam agama resmi, adalah agama yang bersifat non-theistik. Jika tuhan dipahami semata-mata berdasarkan definisi agama samawi sebagai suatu pribadi adikodrati, jelas Buddhisme bisa dikatakan ateistik dalam hal ini. Apakah Buddhisme, karena tak bertuhan, berisi ajaran yang menghalalkan segala cara? Ah, justru sebaliknya! Hal ini sekurangnya menjadi bukti bahwa ateisme (atau non-teisme secara luas) tidak sama dengan ajaran untuk berperilaku jahat.

Akhirul kalam, segala prasangka buruk dan misinformasi terhadap ateisme lebih disebabkan oleh kesalahan ajar, entah sengaja entah tidak, yang dilakukan oleh guru-guru kita. Namun di era kebebasan informasi dan keterbukaan sekarang ini, sudah selayaknya berbagai prasangka keliru dan misinformasi tersebut diluruskan. Mari kita berpikir secara sehat, bebas, bernalar dan fair. []

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sang penanya said, on November 15, 2011 at 12:44 pm

    pengen ngebahas sedikit dong tentang ateisme, yg pertama2 saya mau tanyakan, apakah anda ateis atau tidak?
    ok back to topik, yg pengen saya bahas disini adalah, kenapa anda sebegitu membelanya dgn ateis, padahal jika dipikir2, ateis itu merupakan suatu kondisi dimana dia tidak mengakui adanya Tuhan, yang secara tidak langsung dia tidak mengakui eksistensi dari dirinya sendiri. Okelah kalo dia bilang “loh kan kita semua berawal dari Big Bang”, tapi yang sekarang mau saya tanyakan, siapa atau energi apa sih yg bisa menyulut Big Bang, padahal setau saya ada hukum Newton yg berbunyi “Segala aksi pasti akan menghasilkan reaksi” dan ini berlaku bagi semua aspek kehidupan, coba tolong jelaskan rasa penasaran saya ini, karena saya lihat dari cara menulis dan isi tulisan anda, anda tau banyak mengenai paham ateisme, terima kasih.

  2. Rinaldi said, on January 5, 2012 at 11:36 pm

    @Sang Penanya: Pertama-tama harus dipahami, bahwa dalam konteks tulisan di atas, yang saya bela adalah hak sosial kaum ateis untuk eksis berdampingan dengan manusia lain, dan untuk lepas dari semua stigma buruk seperti yang sudah dicontohkan, BUKAN membela “atheisme” itu sendiri.

    Wacana tentang “ada-tidaknya tuhan” saya kira adalah bab lain yang tidak ada hubungannya dengan tulisan di atas.

    Tetapi sekedar menjawab persoalan anda tentang “energi apa yang menyulut big bang”, jawabannya simple: Apapun kekuatan yang menjadi penyulut big bang, maka kekuatan tersebut haruslah memiliki penyebab yang memungkinkan kekuatan tersebut memunculkan big bang. Demikian seterusnya kalau dirunut ke belakang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: