Sapere aude!

Opini Kritis Terhadap Agama: Penistaan atau Kebebasan Berpendapat?

Posted in Discourse by Rinaldi on May 16, 2012

Author: Rinaldi

Demonstrasi menentang UU Penodaan Agama. Foto: AFP. Sumber gambar: http://dawn.com/2012/09/19/timeline-accused-under-the-blasphemy-law/

Demonstrasi menentang UU Penodaan Agama. Foto: AFP. Sumber gambar: http://dawn.com/2012/09/19/timeline-accused-under-the-blasphemy-law/

TIGA hal yang sering -atau tepatnya sengaja- dirancukan oleh kelompok Islam fundamentalis itu adalah: 1. Kebebasan berbicara 2. Penistaan agama dan 3. kritik terhadap agama. Tulisan di bawah ini, secara khusus memang menyoroti tingkah-polah kelompok Islam fundamentalis berdasarkan berbagai peristiwa yang tengah hangat belakangan. Namun maksud luasnya adalah menyoroti fundamentalisme pada umumnya, yang bisa terjadi pada umat beragama manapun.

Secara “normatif”, kelompok Islam fundamentalis tampak mendukung kebebasan berbicara sebagai bagian dari hak azasi yang dijamin oleh undang-undang. Tetapi ketika bertemu dengan opini kritis terhadap umat Islam, atau -yang ini lebih sensitif- teologi Islam, mereka akan membiaskan kasus tersebut ke arah “penistaan agama”. Dan, ketika tuduhannya ” penistaan agama “, mereka merasa berhak untuk membungkam, mengintimidasi atau menuntut si pelaku kritik ke ranah hukum.

Curangnya, standar ini sepertinya tidak berlaku untuk diri mereka sendiri. Mereka tampak begitu bebas berbicara, bahkan mengkritik atau menyinggung agama lain. Sebagai contoh, kita bisa lihat betapa banyak buku-buku Islam yang dijual di toko buku umum yang jelas-jelas mengkritik agama Kristen. Tetapi sebaliknya, adakah buku-buku Kristen atau agama lain yang secara keras mengkritik teologi Islam? Kalau tidak bisa dikatakan tidak ada, jarang sekali. Kalaupun ada, itu tidak dijual di toko buku umum dan biasanya untuk kalangan sendiri. Dari sini saja sebenarnya sudah kelihatan permasalahannya: Kecurangan arus informasi. Kelompok mayoritas (baca: Islam) tampak bebas dan leluasa melakukan propaganda. Sementara kelompok yang berseberangan dengan Islam, dibatasi.

Apa sebenarnya yang dimaksud penistaan terhadap agama? Ini sesuatu yang dapat dengan mudah dibiaskan, karena tidak ada ukuran dan batasan yang jelas dengan yang disebut “kebebasan berpendapat” (DUHAM pasal 19). Misalkan, ada seorang penulis buku yang mengatakan “Muhammad bukan nabi”. Apakah pernyataan tersebut termasuk penistaan agama, atau bagian dari kebebasan berpendapat? Kalau pernyataan itu dianggap penistaan terhadap agama, apakah itu berarti semua orang “dipaksa” untuk mengakui kenabian Muhammad, sehingga sangat dilarang untuk mengatakan sebaliknya? Mengikuti alur logika demikian, bagaimana dengan Alquran yang mengatakan bahwa Isa Almasih bukan tuhan, apakah Alquran telah melakukan penistaan terhadap teologi Kristen?

Ada contoh kasus. Pada tahun 2003, MUI melarang peredaran salah satu edisi Majalah Newsweek. Alasannya, Majalah Newsweek pada edisi tersebut, menampilkan artikel yang mengangkat tesisnya Christoph Luxenberg, seorang ahli filologi, yang mengatakan bahwa Alquran pada mulanya ditulis dalam bahasa Aramaik, bukan Arab. Yang lucu, MUI menuduh Majalah Newsweek dan Christoph Luxenberg melakukan “penistaan agama”. Di sini, kita bisa melihat kesewenangan kelompok agamawan konservatif yang direpresentasikan oleh MUI. Mereka bisa mencap sebuah tesis ilmiah sebagai “penistaan agama” hanya karena tesis tersebut menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan arus utama.

Jadi, apa itu “penistaan agama?” Apakah opini kritis terhadap agama, atau pandangan terhadap agama yang bertentangan dengan arus utama terkategori sebagai “penistaan agama?”

Tampaknya, berbagai cara digunakan oleh kelompok konservatif agama, untuk membungkam apapun opini kritis terhadap agama. Agama bagaikan “barang pecah belah” yang mudah rusak, sehingga harus dijaga supremasinya setengah mati.

Selain membiaskan masalah “kebebasan berpendapat” menjadi “penistaan agama”, pembungkaman terhadap opini kritis atas agama juga dilakukan dengan mengatakan si pelontar kritik keliru dalam memahami agama yang dikritiknya. Sehingga dengan demikian, ada alasan untuk membungkam opini kritisnya. Kemungkinan keliru ini tidak perlu disanggah, karena manusia pada dasarnya bisa saja keliru. Tetapi, kekeliruan dalam memahami objek kritik sama sekali bukan alasan untuk melakukan pembungkaman terhadap kritisisme atas agama.

Setiap orang bisa saja mengatakan bahwa Ibukota Jawa Barat adalah Semarang. Tentu saja pernyataan tersebut keliru. Tapi kelirunya pernyataan tersebut, bukan alasan untuk mengkriminalisasikan si pembuat pernyataan. Hal yang paling cerdas adalah memberi koreksi atas pernyataan tersebut.

****

BEBERAPA waktu lalu, sebuah acara peluncuran dan diskusi buku karya penulis Irshad Manji, dibubarkan ormas Islam. Alasan mereka klise, penuh prasangka dan terkesan serampangan: Buku yang dibahas tersebut berisi kesesatan dan tuduhan “kampanye lesbianisme”. Tuduhan tersebut jelas sepihak, penuh prasangka dan sangat mudah dibantah. Pertama, “sesat” itu, dalam konteks ini, bersifat relatif. Kedua, “kampanye lesbianisme” adalah tuduhan yang mengada-ada. Sejak kapan lesbian menjadi isme? Lesbian adalah perilaku atau kondisi seseorang yang terkait dengan orientasi seksualnya. Sedangkan isme merupakan “susunan ide” yang membentuk sebuah “pandangan dunia”. Jadi, “lesbian” bukan semacam ideologi yang bisa dianut.

Kemudian, coba dipikirkan: Apa yang salah dengan Irshad Manji? Bahwa dia kritis terhadap Islam, ya. Lantas, salahkah Irshad Manji kritis terhadap Islam? Seharusnya tidak. Toh banyak pemuka Islam kritis terhadap agama lain, dan mereka tampak bebas saja mengemukakan pendapatnya.

Okelah, kita terima saja pendapat yang mengatakan bahwa pemahaman Irshad Manji terhadap Islam itu dangkal dan distortif. Tetapi, apakah kondisi yang demikian itu membuat Irshad atau seseorang manapun kehilangan haknya berpendapat? Seharusnya tidak. “Hak berpendapat” dengan “kualitas pendapat” itu adalah dua hal yang berbeda.

Jika dipikir-pikir, bukankah banyak juga pemuka Islam yang mengkritik agama lain baik melalui buku maupun ceramah, secara simplistis, dangkal dan distortif, biasanya dengan metoda “cherry picking”, sekedar untuk menggiring opini jemaahnya ke arah yang diinginkannya? Sudah tidak terhitung. Curangnya, kalau itu dilakukan oleh pemuka Islam terhadap agama lain, publik relatif menerima dan dianggap “dakwah”. Tetapi kalau sebaliknya, ada pemuka agama lain melakukan itu terhadap Islam, publik meradang. Pasti tuduhannya “penistaan agama”, “fitnah”, dan sebagainya.

Ambil contoh, “mantan biarawati” Irena Handono. Coba lihat, bagaimana dia menjelek-jelekkan kekristenan dan gereja. Umat Muslim biasanya senang dengar yang begitu dan kasih applause tanpa mikir, apakah “informasi” yang disampaikan “mantan biarawati” itu benar, atau sudah didistorsikan untuk kepentingan propaganda? Nah, yang menarik, bagaimana jika terjadi sebaliknya:Ada murtadin yang vokal terhadap Islam, ceramah dan kasih kesaksian di mana-mana bahwa Islam itu begini dan begitu, dan seterusnya. Wah, pasti sudah diserbu massa. []

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ferry said, on May 25, 2012 at 8:15 pm

    Harusnya anda udah mulai nulis buku nie mas Renaldi… suer,,,,

  2. Male said, on June 26, 2012 at 4:22 pm

    karna agama di indonesia sudah dipolitisasi dan sebagai sarana untutk mencapai tujuan demi politik & jabatan masing agar aman & nyaman….Bung Reinaldi alangkah baiknya bila anda bisa membuat sebuah buku persis seperti Bung ferry katakan, sebab akan banyak orang yg mau belajar & tahu secara Intelektual & History dari alur sejarah & berita yg selama ini dipelintir atau kata lainnya telah dimanipulasi demi kepentingan tertentu

  3. Paulus said, on June 26, 2012 at 5:45 pm

    Menyampaikan kebenaran tidak sama dengan menghina(AliSina)

  4. eviljewelfish said, on November 6, 2012 at 6:06 pm

    great blog. i like the way you write your articles. such a brave man you are for picking such a controversial subject as your theme in your blog. Good luck..!! dan teruslah berkarya. sampaikan hal-hal yang banyak orang ingin sampaikan, namun tidak berani untuk mengungkapkan. :D

  5. my2ndplace said, on May 23, 2013 at 8:24 pm

    setuju dengan artikel anda bro, masalahnya di mana-mana muslim tidak pernah bisa bersikap dewasa, meskipun mereka pendatang negara baru sekalipun lama-lama akan bertindak spt negaranya sendiri sebagai mayoritas ( baca ttg muslim di inggris, australia dst ). Saran saya bro berhati-hatilah kalau anda masih tinggal di Indonesia yg ‘masih’ mayoritas muslim. Memang sudah waktu kita perlakukan mereka bukan anak anak kecil lagi, yaitu bisa menerima kritik, dst… tp saya ragu karena buku manual mereka ( quran ) hanya berisi hell & fire…..:(

  6. Dzhonpochte said, on December 12, 2014 at 5:35 am

    Saya setuju sekali. Saya cuma berharap. 2015 Ketika MEA dan AFTA terwujud, para kodok dalam tempurung akan terdorong pemikiran ke arah global . dan tirani pemaksaan pemikiran mayoritas akan tenggelam bersama dengan jatuhnya pemikiran primitif. disini saya melihat anda berbicara bukan untuk 1 agama saja, tapi 5 agama lain yang benar benar di tekan kaum mayoritas (baca : Islam). bagi anda yang mau menyanggah opini Rinaldy. Sekarang juga matikan Komputer anda, pergi ke gramedia terdekat, dan pilih sesi buku Rohani Islam. Buka mata anda baca 1 per satu, lalu pindah ke sesi Rohani lainnya. lalu kembali ke komputer anda. browsing youtube dan ketik nama YESUS ataupun Budha. belum cukup.? kembali ke panel browsing tulis kasus hukum Kaum minoritas menggugat dan di tab satu lagi tulis penutupan rumah ibadat. BANDINGKAN.!

  7. the hacker said, on January 8, 2016 at 5:15 pm

    penistaan agama itu menurut hemat saya, seseorang yang berpura2 menjadi agama A dan lalu dengan tujuan ingin menjatuhkan atau menjelekan agama A dengan cara mengadudomba antar agama atau membuat esuatu yang sedang bertentangan dengan agama yang dia anut. misalnya agama A lagi melerang AB tapi si penista ini mencari hal serupa untuk membuat pernyataan yang sebanding dengan pelarangan tersebut ehingga unsurnya hate speech, benci tapi menjadi bagian agama tersebut. dan menurut post man di atas, bahwa tuduhan misal, nabi muhammad bukan nabi harus memaparkan fakta bukan sekedar opini, karna jika hanya opini itu sifatnya semacam tuduhan dan hujatan, dan itu bisa dipidanakan, tapi sebaliknya umat islam dalam memaparkan tuduhan kepada agama maaf kristen mereka memaparkan bukti2 yang termuat di dalam bible atau pun quran sebagai rujukan, bukan hanya beropini saja, semoga kita semua makin cerdas.

  8. Rinaldi said, on January 10, 2016 at 2:15 pm

    The Hacker,

    dan menurut post man di atas, bahwa tuduhan misal, nabi muhammad bukan nabi harus memaparkan fakta bukan sekedar opini, karna jika hanya opini itu sifatnya semacam tuduhan dan hujatan, dan itu bisa dipidanakan

    Frase “muhammad adalah nabi (atau bukan nabi)” selamanya adalah sebuah kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan. “Kepercayaan”, atau sekedar opini belaka dan tidak worth untuk dipidana dengan alasan apapun.

    Bahwa jika “bukti” yang dimaksud adalah teks-teks Alquran yang mengatakan demikian, itu pandangan keliru. Karena sebetulnya itu BUKAN BUKTI, tapi justru pernyataan yang harus dibuktikan.

    Misal si A mengatakan, “surga itu ada lho”. Kemudian si B minta bukti. Dan si A memberi bukti bahwa surga itu ada, dengan sejumlah ayat di kitab suci yang mengatakan demikian. Ya itu namanya BUKAN BUKTI.

    tapi sebaliknya umat islam dalam memaparkan tuduhan kepada agama maaf kristen mereka memaparkan bukti2 yang termuat di dalam bible atau pun quran sebagai rujukan, bukan hanya beropini saja, semoga kita semua makin cerdas.

    Ya, ini jelas bentuk keegoisan umat Islam saja. Kalo nabinya disangkal kenabiannya, marah dan main pidana. Tapi umat Islam bebas menyangkal teologi agama lain.

    Sekali lagi, apa yang termuat di dalam Bible dan Alquran itu BUKAN BUKTI, tapi justru PERNYATAAN YANG HARUS DIBUKTIKAN. Dan dalam hal yang sifatnya teologis, tentu sulit untuk dibuktikan. Makanya masuk dalam ranah kepercayaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: