Sapere aude!

Pemelintiran fakta pada peta “Palestinian land loss”

Posted in Middle east by Rinaldi on June 23, 2012

Author: Rinaldi

Peta “Palestinian land loss” yang memelintir fakta. Peta ini beredar dari blog ke blog, dan seringkali dipercaya buta oleh para pembela Palestina.

PETA ini sudah sering saya lihat dan sepertinya sering disalin dari blog ke blog. Jika anda teliti, anda akan menemukan sejumlah fakta yang diplintir untuk mengecoh opini publik. Anda tidak perlu studi literatur ke perpustakaan-perpustakaan besar untuk mengetahui fakta-fakta apa saja yang diplintir, karena itu merupakan fakta-fakta yang umum saja. Jika anda cukup memiliki wawasan terkait sejarah dan konflik ini, anda akan bisa menemukannya.  Nah,  apa saja fakta-fakta yang diplintir? Baca penjelasan saya berikut ini.

Sekedar catatan, peta pertama (1946) adalah peta Palestina dalam mandat Inggris, bukan peta “negara Palestina”, bukan pula peta Palestinian Authority yang dibicarakan sekarang ini.  Penamaan pembagian wilayah menjadi “Jewish land” dan “Palestinian land” merupakan pemelintiran fakta yang dapat mengecoh opini publik.  Perseteruannya di sini adalah antara “Jewish Palestine” dengan “Arab Palestine”, antara “Palestina Yahudi” dan “Palestina Arab”. Bukan antara “orang Yahudi” dan “orang Palestina.” Karena di wilayah yang dalam konteks peta itu disebut “palestina”, terdapat penduduk Yahudi dan Arab, yang secara umum disebut “palestinian”.

Berikut penjelasan saya terhadap peta tersebut satu-per-satu:

Peta 1946: Warna putih dan hijau menunjukkan komposisi demografi/pemukiman penduduk, bukan batas negara atau batas politik-administratif. Warna putih adalah wilayah yang ditinggali etnik Yahudi, dan yang hijau adalah wilayah yang ditinggali etnik Arab. Ada catatan kecil di sini, bahwa dalam peta tersebut Gurun Negev diwarnai hijau. Hal ini dapat mengecoh opini publik (dan sepertinya tujuannya memang itu) bahwa Gurun Negev “dihuni etnik Arab”. Padahal, itu gurun gersang yang relatif tak berpenghuni. Gurun Negev diwarnai hijau agar “penduduk Arab” terkesan besar, sehingga daerah putih akan tampak begitu kecil. Ini salah satu pemelintiran fakta yang saya tuduhkan sebelumnya.

Peta 1947: Berbeda dengan peta sebelumnya, warna putih dan hijau di sini adalah batas  yang diproposalkan oleh PBB 1947, bukan komposisi demografi. Di dalam wilayah berwarna putih, tetap saja ada penduduk Arab, tapi mayoritasnya Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab, sumber: Jewishvirtuallibrary. Baca juga: Abbas faults Arab refusal of 1947 U.N. Palestine plan).

Perhatikan kembali dengan seksama peta 1947, dan lupakan warna yang dapat dan memang sengaja dibuat untuk mengecoh opini publik. Silakan anda bandingkan border 1947 dengan peta sebelumnya 1946. Akan terlihat bahwa di dalam wilayah yang berwarna putih akan didominasi oleh Yahudi, dengan perbandingan 538 ribu Yahudi berbanding 397 Arab. Cukup logis.

Peta 1949 – 1967: Adalah perubahan batas negara/batas politik-administratif yang diakibatkan oleh perang 1948. Warna putih adalah borderIsrael yang baru (bukan menunjukkan komposisi demografi), karena memenangkan perang 1948.

Dalam peristiwa ini terjadi pengungsi besar-besaran penduduk Arab-Palestina yang sebelumnya tinggal di dalam border Israelversi partisi 1947, ke luar Israel. Sehingga menyebabkan komposisi demografi berubah. Posisi pengungsi Arab-Palestina (yang seandainya tidak terjadi perang akan menjadi WN Israel) yang terusir keluar karena perang, diisi oleh pengungsi Yahudi yang juga terusir keluar dari negara-negara Arab. Komposisi demografi berubah, batas negara pun berubah. (Lihat artikel saya tentang Nakbah)

Dalam peta ini, terdapat lagi-lagi pemelintiran fakta. Wilayah hijau pada gambar tersebut tetap ditulis “Palestinian land”, padahal jelas, dalam konteks tahun tersebut wilayah yang hijau bukan “Palestine”, tapi Yordania (Tepi Barat) dan Mesir (Gaza). Selepas perang 1948 terjadi perubahan wilayah yang cukup signifikan, berbeda jauh dari wilayah yang diproposalkan PBB tahun 1947. Wilayah Israel meluas, demikian juga wilayah Mesir dan Yordania. Israel, Mesir dan Yordania mencaplok wilayah Arab-Palestina yang diproposalkan oleh PBB 1947.

Sebelum masuk ke bagian peta selanjutnya, ada perlunya saya terangkan peristiwa yang terjadi di antara peta 1949-1967 dan peta 2000.

Tahun 1967 terjadi lagi perang besar antara koalisi Arab dan Israel. Lagi-lagi dimenangkan Israel. Tepi barat yang sebelumnya bagian dari Yordania, direbut Israel. Gaza yang sebelumnya bagian dari Mesir, juga direbut Israel. Adapun wilayah-wilayah lain yang direbut Israel pada perang 1967 adalah Sinai (Mesir) dan Dataran Tinggi Golan (Syria). Akhir 1970 Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir dalam perjanjian damai di Camp David.

Setidaknya sejak 1967, di wilayah ex-Jordan dan ex-Mesir yang diduduki Israel, terjadi gerakan yang berlandaskan “nasionalisme palestina” yang memiliki tujuan “merdeka dari Israel”. Singkat cerita, pada 1993 Israel mengadakan perjanjian damai di Oslo dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pihak Israel waktu itu dipimpin PM Yitzak Rabin, dan pihak PLO oleh Yasser Arafat. Adapun yang berfungsi sebagai penengah waktu itu adalah Presiden AS Bill Clinton. Hasil perjanjian itu adalah Israel sepakat memberikan semacam otonomi khusus pada masyarakat di Tepi Barat dan Gaza yang dipimpin oleh Yasser Arafat.

Pada bulan September tahun 2005, terjadi perkembangan yang cukup signifikan dalam konflik ini, yaitu bahwa Israel mundur total dari Gaza. Artinya, semua tentara dan pemukiman Yahudi ditarik mundur keluar dari wilayah Gaza.  Praktis, sejak itu Gaza merdeka. Wilayah Otoritas Palestina meluas.

Peta tahun 2000: Yang hijau menunjukkan wilayah Otoritas Nasional Palestina yang ditetapkan dalam Oslo Accord 2003 (berlokasi di tepi barat exJordan dan Gaza ex-Mesir). Tepi Barat diambil Israel bukan dari “palestina”, tapi dari King Hussein, Raja Yordania pada tahun 1967. Gaza diambil Israel dari Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir, dalam tahun yang sama.

So, mana “palestina” yang diambil Israel? Tidak ada! Peta tersebut dapat menyesatkan opini publik awam karena merancukan antara demografi dengan batas negara.

Gambar 1 adalah komposisi demografi antara penduduk Arab dan Yahudi (bukan antara penduduk Palestina dan Yahudi). Sedangkan gambar 2, 3, dan 4 adalah batas negara (batas politis-administratif).  Tapi semua dipukul rata dengan warna hijau dan putih yang bisa mengecoh opini publik. Ini jelas pendistorsian fakta. []

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Susi Widodo said, on June 26, 2012 at 11:43 am

    Bagus penjelasannya.

    Perlu dijelaskan juga, peta pertama itu (1946), sebidang tanah berwarna hijau/putih yang Anda sebut “mandat Inggris” itu asal-usulnya bagaimana. Sedikit saja, sekira satu-dua paragraf.

  2. salim said, on November 30, 2012 at 6:55 pm

    penjelasannya bagus, saya harap di rilis versi english..
    dan di buat mudah di akses media-nya..

  3. hade said, on October 1, 2015 at 9:51 am

    anda ini adalah yahudi atau orang yang pro zionis penjajah ??

    yang jelas israel adalah negara penjajah yang kejam dan tidak segan membunuh orang tak bersalah termasuk bayi dan orang jompo

    israel mempunyai misi me yahudikan yerusalem yang merupakan wilayah palestina
    jadi dia tak segan memborbardir rakyat palestina tak bersalah

    jadi jelaslah israel MERAMPAS sebagian tanah palestina…apakah anda tidak MENGAKUI HAH???

  4. Rinaldi said, on October 10, 2015 at 9:12 pm

    Baca sejarah, udah dijelaskan di atas.
    Yerusalem dalam sejarahnya emang kota Yahudi. Namanya aja “Yerushalayim”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: