Sapere aude!

Efektifkah Menjual SARA dalam Kampanye?

Posted in Commentary by Rinaldi on September 23, 2012

Calon Gubernur Fauzi Bowo (kiri), dan Calon Wakil Gubernur Nachrowi Ramli (kanan), melakukan debat calon gubernur dan wakil gubernur di Jakarta, Minggu (16/9/2012). Pasangan Foke-Nara bersama pasangan Jokowi-Ahok, melaju ke putaran kedua pilkada DKI Jakarta, yang berlangsung pada 20 September 2012. – Foto: TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

Author Rinaldi

MOMEN Pilkada DKI yang baru saja berlalu, dalam pengamatan saya mengindikasikan beberapa hal. Pertama: Bahwa issue SARA tidak terlalu diminati di DKI. Kedua: Masyarakat DKI umumnya cenderung berpandangan sekuler-nasionalis.

Putaran pertama ada Hidayat Nur Wahid, tokoh Islam PKS. Hidayat kalah telak sehingga tidak bisa ikut putaran kedua. Walau dulu PKS pernah menang di Jakarta, tetapi sepertinya hal ini tidak berpengaruh. Kekalahan Hidayat menunjukkan masyarakat Jakarta tidak terlalu antusias dengan ideologi keislaman ala Hidayat/PKS.

Memasuki putaran kedua, pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok maju bersaing. Kedua pasangan ini sesungguhnya cenderung berpandangan sekuler-nasionalis dan diusung oleh partai-partai yang juga berplatform sekuler-nasionalis. Masuknya kedua pasangan tersebut saja sudah jelas mengindikasikan arah pandangan masyarakat Jakarta.

Pasangan Foke-Nara, walau sering terlihat memanfaatkan issue SARA dan terkenal dekat dengan tokoh habib dan ulama di Jakarta, sesungguhnya terhitung figur yang berpandangan sekuler-nasionalis ketimbang figur yang berideologi agama.

Berbagai issue keislaman dan “kebetawian” yang diusung Foke-Nara hanyalah upaya pragmatis untuk mendongkrak suara, tidak lebih. Islam yang diusung Foke-Nara bukan Islam ideologis seperti yang dianut Hidayat dan PKS. Semua jurus primordial itu pun dipakai hanya karena pihak lawan ada Ahok yang Cina dan Kristen. Anggaplah Foke-Nara melaju ke putaran kedua berhadapan dengan pasangan Hidayat-Didik, boleh jadi jurus “islam” tidak akan digunakannya.

Metoda kampanye “bawa-bawa agama” dan “bawa-bawa ras” yang dilakukan kubu Foke-Nara, itupun akhirnya tidak membuahkan hasil. Walau digempur issue agama dan ras, kubu Jokowi-Ahok yang “tak berpeci dan tak berbaju koko”,  tetap meraih kemenangan dengan selisih suara (menurut hasil hitung cepat) sekitar 10 persen ketimbang Foke-Nara yang berpeci dan berkoko. Euforia dukungan terhadap Jokowi-Ahok juga terlihat jelas di berbagai situs jejaring sosial baik selama, maupun setelah pilkada.

Berdasarkan kecenderungan fakta-fakta di atas, secara sederhana bisa kita tarik kesimpulan bahwa rata-rata masyarakat DKI, walau mereka –katakanlah—taat beragama, namun memiliki kecenderungan pandangan yang sekuler-nasionalis ketimbang agamis-ideologis.  Saya berpendapat, bahwa ini adalah wujud “silent majority” yang bisa menepis anggapan bahwa “muslim Jakarta menginginkan formalisasi syariat Islam.”

Pasangan capres/cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto bersama isteri mereka yang berjilbab. Foto: VIVAnews/Tri Saputro

Issue SARA sebagai black campaign dalam moment pemilu di Indonesia bukan hanya terjadi pada pemilukada kemarin. Dalam moment Pilpres 2009 lalu, capres inkumben SBY yang berpasangan dengan Boediono, juga digempur issue SARA. Isteri SBY, Ani Yudhoyono sempat digosipkan beragama Kristen melalui sejumlah selebaran. Kemudian lawan politiknya, kubu Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto  juga mencoba “menjual Islam” dengan aksi memamerkan isteri mereka yang berjilbab dalam berbagai baliho kampanye. Gambar capres Kalla dan Wiranto yang berfoto di samping isteri mereka yang berjilbab, jelas terbaca sebagai upaya “jualan jilbab” demi meraih sentimen umat Islam.

Walhasil, segala kampanye SARA tersebut tidak berhasil. Pasangan SBY-Boediono tetap unggul dibandingkan dengan pasangan JK-Wiranto. Serupa dengan Pilkada DKI tersebut di atas, hal ini mengindikasikan arah pandangan masyarakat Indonesia yang cenderung sekuler-nasionalis ketimbang agamis-ideologis. Sepanjang sejarah pula, partai-partai Islam tidak pernah ada yang menang telak dalam even pemilu. Masyarakat cenderung memilih figur, bukan agama. Atau masyarakat telah cerdas dan sadar, bahwa issue “agama” yang digaungkan selama masa kampanye, hanyalah upaya politisasi agama demi keuntungan politik. []

Advertisements

Film “Innocence of Muslims” dan Sikap Mental Umat Islam

Posted in Commentary by Rinaldi on September 15, 2012

Author Rinaldi

Novel heboh karya Dan Brown, “The Da Vinci Code”. Sumber gambar: Thesikhtimes.com

FILM “Innocence of Muslims” yang heboh belakangan ini, sebenarnya fenomena yang biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Film amatiran yang tidak terlalu bagus, dan seharusnya tidak perlu membuat heboh. Terlebih film tersebut muncul di barat yang pada dasarnya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.

Beberapa waktu lalu, sempat heboh novel “The Da Vinci Code” karangan Dan Brown, yang dipandang menghina agama Katolik. Novel tersebut menggambarkan Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena, dan akhirnya punya anak. Ada kecaman keras dari berbagai institusi Katolik, tapi tidak ada yang sampai mengeluarkan fatwa “bunuh” terhadap penulis novel tersebut. Kehebohan novel tersebut akhirnya pudar begitu saja. Bandingkan dengan kasus novel “The Satanic Verses”-nya Salman Rushdie yang sampai memunculkan fatwa mati terhadap penulisnya.

Dalam masyarakat barat, sudah terlalu sering Yesus, Paus, atau ikon suci lainnya dijadikan parodi. Jika anda browse di Youtube dengan kata kunci “jesus parody”, mudah sekali menemukan berbagai klip video yang bertema olok-olok terhadap Yesus. Apakah ada kegusaran serius di kalangan Kristen? Tidak ada.

Berbeda dengan Kristen, umat Muslim memiliki sikap yang oversensitif terhadap persoalan ini.  Di film “2012” garapan Roland Emmerich, sang sutradara dengan leluasa menggambarkan kehancuran Basilica St. Petrus akibat gempa bumi. Tapi berpikir seribu kali untuk menggambarkan kehancuran bangunan simbol-simbol Islam. Kemudian sebelumnya, sebuah kartun Nabi Muhammad yang pernah ditayangkan di Jylland Posten telah memicu amarah Muslim sedunia.

Oke, sebagian masyarakat barat mampu memaklumi kegusaran umat Muslim. Tapi sebagian yang lain, malah menjadikan karakter sensitif umat Muslim sebagai bahan olok-olok yang membuat mereka makin giat “menggoda”. Aksi “Draw Muhammad’s Day” yang bertujuan memprovokasi umat Muslim pun sempat populer melalui situs jejaring sosial.

Di barat, kekristenan sudah biasa dibedah materinya secara kritis dan dekonstruktif. Alkitab dipandang sebagai semata objek studi yang dikaji dengan jarak. Pro-kontra terhadap pandangan teologi semata-mata menjadi wacana yang dibahas dalam forum diskusi. Tidak ada himbauan kekerasan, blokir internet, bunuh, atau segenap protes berlebihan lainnya. Barat modern sudah relatif maju, tidak seperti kondisi enam ratus tahun yang lalu, ketika institusi gereja mendominasi Eropa.

Dalam masyarakat barat, semua agama bebas dikaji baik secara kritis-dekonstruktif maupun apresiatif. Tidak setuju, silakan lawan pemikiran dengan pemikiran. “Mental ilmiah” seperti ini belum ada di dunia Islam. Umat Muslim hanya terima ketika Islam diapresiasi oleh orang barat. Jika Islam atau Alquran dikritisi, mereka marah. Tapi anehnya, jika kekristenan atau Bible dikritisi, mereka senang. Contoh Maurice Bucaille yang kritis terhadap Bible, membuat umat Muslim di manapun sumringah. Nama dan bukunya kerap kali semangat disebut-sebut. Tapi begitu ada tokoh barat yang kritis terhadap Islam, atau menulis buku yang memaparkan sejarah Islam di luar pemahaman arus utama, sebagai contoh nama Christoph Luxenberg, umat Muslim marah.

Dunia Islam tampaknya belum memasuki era keterbukaan pemikiran semacam itu. Di dunia Islam, yang bisa dan boleh dikritisi hanya agama lain, terutama Kristen. Dan yang wajib diapresiasi hanya agama Islam. Kritik terhadap agama Islam adalah blasphemy. Sedangkan kritik terhadap agama lain, terutama Kristen, adalah dakwah kebenaran.

Jika kita jalan-jalan ke toko buku Gunung Agung, rasanya cukup banyak buku-buku apologetika Islam yang mengkritisi teologi Kristen. Apakah ada kalangan Kristen yang gusar lantas berdemo? Sejauh ini tidak ada. Nah, bagaimana kalau itu terjadi sebaliknya? Misalkan ada buku yang mengkritisi Islam secara frontal dipajang di Gramedia? Wah, pasti sudah rame demonya!

Apakah sikap umat Kristen yang cenderung tidak ambil pusing ketika ikon agamanya dijadikan parodi atau dikritik, berarti tidak menghargai keagungan dan wibawa agamanya? Tidak. Setiap umat beragama pastilah menjunjung tinggi tokoh-tokoh sucinya, menganggap agamanya benar, agung dan wibawa. Masalahnya di sini adalah pada sikap mental dalam menghadapi era modern di mana arus informasi bisa leluasa bergerak dan tiap orang bisa mengekspresikan ide-idenya dengan bebas. Di era keterbukaan informasi sekarang ini, kita tidak bisa membungkam sepenuhnya semua bentuk parodi (baca: pelecehan) maupun wacana kritis-dekonstruktif terhadap agama. Sikap yang paling tepat adalah menghadapi fenomena banjir informasi tersebut dengan dewasa. Parodi hanyalah kerjaan orang-orang iseng. Kritik adalah karya intelektual yang seharusnya dibalas dengan jawaban berilmu. Bukan ditanggapi dengan ancaman, kekerasan, atau sebagainya.

Problem sebenarnya itu bukan pada “penghinaan agama”. Tapi mentalitas umat Muslim yang oversensitif. Novel “The Da Vinci Code” yang menghina Katolik itu, bahkan leluasa terbit di Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Islam “Serambi”. Kalau mau konsisten, mestinya novel itu bisa jadi kena UU Penodaan agama. Penerbitnya dipidana. Tapi kenyataannya kan tidak. Umat yang oversensitif ternyata tidak sensitif terhadap perilaku saudara seimannya yang menerbitkan sebuah novel yang pernah diprotes karena dipandang menghina suatu agama.

Umat Muslim itu memerlukan semacam “revolusi mental”. Belajar dari sejarah, dan belajar dari umat agama lain. Sadarlah, bahwa ini abad 21. Banyak pandangan dunia yang ditawarkan oleh agama, sudah out of date dan perlu diperbaharui. Jaman sudah berubah, pemahaman tentang agama harus disesuaikan. Dan sikap mental menghadapi fenomena perubahan zaman harus dipersiapkan. []