Sapere aude!

Indonesia, Agama, dan Kemunafikan

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on March 19, 2013
Anis Matta, Presiden PKS yang baru. Sekedar ilustrasi.

Anis Matta, Presiden PKS yang baru. Sekedar ilustrasi.

Author: Rinaldi

SAYA ketawa ngakak dengar berita Kepala Polisi Syariah di Aceh tertangkap tangan mabuk ganja. Mobilnya oleng menabrak pagar warga. Di dalam mobilnya, polisi menemukan satu linting ganja. Tes urine menyatakan, Zulkarnain, nama Kepala Polisi Syariah itu, positif mengkonsumsi narkoba.

Fakta ini semestinya merupakan pukulan telak bagi kelompok-kelompok kanan yang kerap kali mempropagandakan syariat Islam sebagai solusi atas segala problematika moral. Bahwa ternyata, syariat Islam sama saja seperti “sistem sekuler” yang kerap kali mereka hujat-hujat.

Tidak hanya itu. Di Aceh yang serba syariat, sampai akhir 2012 masih banyak kasus korupsi yang mengambang. Sungguh syariat Islam tidak menjamin apapun.

Konsep moral apa yang ada di dalam benak penyokong syariat Islam, sementara mereka sibuk mengurusi cara duduk perempuan di sepeda motor, tetapi Kepala Polisi Syariahnya malah tertangkap tangan mabuk ganja?

Saya sudah menduga kuat, bahwa pembelaan diri yang akan dilancarkan kelompok kanan adalah bahwa itu sekedar oknum, bukan salah sistemnya. Oknumnya harus dihukum, sementara sistemnya tetap dapat bisa berjalan.

Bisa dibenarkan bahwa itu adalah kelakuan oknum dan tidak merepresentasikan syariat Islam. Tetapi sayangnya, dalam hal ini kelompok kanan penyokong syariat senang berstandar ganda.

Jika sistem non-syariat gagal membangun moral warga, maka sistemnya yang biasanya disalahkan. Tapi ketika syariat Islam juga mengalami kegagalan dalam membangun moral warganya, maka “oknum” yang disalahkan. Ini sebuah cara pandang yang inkonsisten, standar ganda.

****

 “Hasil survei Komisi Pemberantasan Korupsi menunjukkan, Kementerian Agama menduduki peringkat terbawah dalam indeks integritas dari 22 instansi pusat yang diteliti”.  Kompas

“Ketua Gema MKGR, Fahd El Fouz, menjadikan My Place yang merupakan tempat SPA di bilangan Jakarta untuk membahas mengenai pengadaan Al Quran dan laboratorium komputer MTS di Kementerian Agama RI”.  – Rakyat Merdeka

SEJAK berakhirnya era orde baru, saya melihat ada kecenderungan trend untuk melibatkan agama dalam ranah publik, yang antara lain dalam bentuk penerapan perda-perda bercorak agama.

Ada semacam hasrat untuk menciptakan kesan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi agama, terutama Islam sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk.

Konyolnya, banyak aturan bercorak agama itu tidak relevan dengan fungsi dan kebutuhan praktis. Misalkan kebijakan Bupati Mamuju yang mewajibkan setiap PNS bisa baca Alquran. Apa urgensinya bisa baca Alquran bagi PNS? Apakah “bisa baca Alquran” akan menjamin moral para PNS?

Contoh kebijakan Bupati Mamuju tersebut, merupakan satu dari sekian banyak kasus di mana aturan bercorak agama dilibatkan di ranah publik tanpa ada urgensi apa-apa terkait pada pekerjaan sebagai PNS. Kebijakan tersebut tampak sekedar menunjukkan semangat beragama yang dangkal.

Dengan kebijakan demikian, pada akhirnya, para calon PNS akan mempersiapkan diri agar bisa membaca Alquran dengan baik. Bukan karena faktor religiusitas, tapi semata-mata agar memenuhi kualifikasi jadi PNS. Dan lama-lama, orang taat agama bukan karena Tuhan, tapi sekedar tergerak oleh motivasi-motivasi duniawi. Inilah yang saya sebut “sekularisasi agama”.

Berbagai upaya pencitraan tersebut pada akhirnya tidak menunjukkan apa-apa. Toh Indonesia masih masuk dalam peringkat teratas soal korupsi. Bahkan korupsi di kementrian agama malah termasuk yang terbesar. Belum lagi partai politik yang selama ini dikenal agamis, bersih dan peduli, pada akhirnya terjerat kasus korupsi juga. Tidak tanggung-tanggung, melibatkan presidennya langsung. Lucu memang. Indonesia pada akhirnya cuma tampak sebagai negara munafik dan penuh pencitraan. []

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. rony said, on March 24, 2013 at 10:47 am

    “Saya ketawa ngakak dengar berita Kepala Polisi Syariah di Aceh…bla bla bla ,,,, ” … seharusnya saya yg ngakak mendengar atau melihat anda berkomentar spt itu , bentar saya ngakak dulu jiakakakakakakakaka ,,, gmn tdk , anda ini siapa ? sdh merasa pintar ? sdh merasa benar ? sdh merasa berilmu ? kl sdh merasa berilmu dan hebat , terus seenaknya asal jeplak aja ,,, ngomong ga pake otak ,,, maksudnya pukulan telak bagi kelompok kanan apa? maksudnya apa? Gak Ngaruh Blas itu jon,,, masa hanya kelakuan bejat satu orang, segelintir orang, itu mewakili suatu AGAMA, hahahaha mikir donk jon sebelum asal jeplak,,,saya kasih tau ya ” kalo itu hubungannya suatu individu dengan akhlak dan iman individu saja”,,,beda lagi kalo kasusnya gini ” ADA SUATU PETINGGI ATAU PIMPINAN TERTINGGI SUATU AGAMA TIBA2 SELAMA BERABAD2 TDK ADA KASUS SPT INI, DIA BERHENTI ATAU MENGUNDURKAN DIRI KARENA SUATU KEYAKINAN ” ada yg masih blm percaya dengan alasannya? “karena suatu keyakinan” ya itu seharusnya tugas anda, gmn tdk guru besar saya, pimpinan saya, master saya, tiba2 berhenti ? ada apa? saran saya seharusnya anda langsung bergerak total, fokus total, sampai titik darah habis alias sampai mati HARUS TAU JAWABANNYA DIBALIK SEMUA ITU, meskipun sampai berkorban apapun harta dan benda anda harus tau jawabannya karena ini menyangkut ” SYURGA DAN NERAKA “… NAH KALO MENURUT SAYA ITU BARU PUKULAN TELAK BAGI KAUMNYA ,, ehehehe ,,, perlu dicamkan ini ya , di dunia ini ada dua sisi : ” Baik dan Buruk ” karena itu maka di Akherat jg ada dua sisi juga, yaitu : ” SYURGA DAN NERAKA ” ,,, kalo anda pintar penjelasan saya itu sdh mewakili jawaban mulut anda yg asal jeplak itu ,,, skrng di seluruh belahan dunia banyak orang Pintar sekali lagi hanya orang2 yg pintar yg mau belajar dan berfikir saja yg tau dia berada disisi yg mana ? dan banyak yg akhirnya sadar dan bertaubat dan akhirnya beralih keyakinan kesisi yg benar,,, SEMOGA BERMANFAAT ALLAHUMMA AMIN

  2. Rinaldi said, on March 24, 2013 at 6:02 pm

    Kalo baca artikel itu yang utuh, jangan sepotong-potong. “Pukulan telak” itu konteksnya apa dalam artikel di atas? Diperuntukkan buat siapa/kelompok mana? Nah coba, dibaca lagi yang utuh.

    “Kelakuan bejat satu orang?” Ya emang. Kan sudah dibilang di atas. Makanya baca yang utuh.

  3. limbong said, on March 26, 2013 at 5:01 pm

    kaya nya gak ada manfaat nya, uraian bung ronny, makanya amburadul deh negara ini kalau di isi dengan cara berfikir si ron-ron… kasian banget.. ngomong in neraka dan surga… tau jalan gak sich ron-ron kalau mau ke SURGA…..

  4. Joni said, on May 9, 2013 at 9:16 pm

    Melihat pilihan kata “keras” Bung Rony, kita bisa membayangkan siapakah dia. Dia rasanya tidak siap berdiskusi dalam tataran intelektual karena tulisannya lebih penuh emosi … Jadi, ya cukup dimaklumi saja lah. Atau, menghindar saja ….

  5. buddy said, on September 24, 2013 at 12:19 pm

    komen yg atas sendiri itu kyk nya kebakaran janggut. jd inget si Zulkaernain itu, tempo hari dia masuk dlm salah satu acara di channel National Geographic Adventure, Dont tell my mother:Indonesia. org nya meyakinkan,tegas dlm menerapkan syariat islam tp eh ternyata mlh nyimeengg….broo, bs di kata dancukk…tu org! aku setuju dgn pendapatmu yg ini “Jika sistem non-syariat gagal membangun moral warga, maka sistemnya yang biasanya disalahkan. Tapi ketika syariat Islam juga mengalami kegagalan dalam membangun moral warganya, maka “oknum” yang disalahkan. Ini sebuah cara pandang yang inkonsisten, standar ganda.” thx..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: