Sapere aude!

Antara “Setan Gundul” dan “Sapi Berjanggut”

Posted in Commentary, Counter fundamentalism by Rinaldi on May 1, 2013
Ciri umat yang mudah tersinggung, tapi suka menyinggung. Grafis: Oleh saya sendiri.

Ciri umat yang mudah tersinggung, tapi suka menyinggung. Grafis: Oleh saya sendiri.

Author Rinaldi

SAYA kira banyak dari kita telah mendengar media Islam yang cukup sering disebut di dunia maya, Arrahmah.com. Lama saya mencermati media Islam tersebut, dan akhirnya pun cukup paham “cara pikir” mereka.

Tak lain, Arrahmah.com adalah media propaganda Islam garis keras. Fakta-fakta yang disampaikan sangat bias, sepihak dan tidak proporsional. Arrahmah.com tidak pernah saya jadikan referensi berita secara serius, namun sering saya ‘pantau’ untuk sekedar tahu bagaimana alur pikir para fanatik Islam.

Tapi lepas dari soal itu, baru-baru ini saya tertawa geli membaca berita Arrahmah.com, karena judulnya lucu: “Setan gundul Budha Myanmar harus diberi pelajaran setimpal”

Tiba-tiba saya jadi ingat protes kader PKS atas tajuk utama Tempo yang menggunakan istilah “sapi berjanggut” untuk menyindir petinggi PKS yang jadi tersangka korupsi impor daging sapi. Istilah tersebut dinilai kurang elegan dan mendiskreditkan umat Islam.

Dua fenomena tersebut adalah ironi yang lucu. Di satu sisi, umat Muslim dengan lantang menggunakan Istilah yang mendiskreditkan umat agama tertentu. Tapi pada sisi lain, umat Muslim memprotes istilah yang mereka pandang mendiskreditkan mereka.

Bahasa penyajian Tempo, walau menggunakan istilah “sapi berjanggut”, masih jauh lebih elegan dibanding bahasa penyajian Arrahmah.com (bukan kali ini saja) yang lebay, provokatif dan berat sebelah. Pernahkah anda, khususnya umat Muslim, berpikir: Kalau umat Muslim merasa tersinggung dengan istilah yang digunakan Tempo, apalagi umat Buddha? []

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Faradiba Achmadi said, on May 26, 2013 at 12:01 pm

    Yang menyedihkan akibat propaganda Arrahmah.com bermunculan teroris yang menargetkan serangan pada umat Buddha di Indonesia, padahal sekte Buddha di Myanmar kan berbeda dengan di Indonesia. Saya tidak suka media garis keras macam itu, dan celakanya yang seperti itu banyak mempengaruhi umat Islam Indonesia.

  2. aji said, on May 7, 2014 at 11:54 am

    Semua fenomena garis keras memang menjadi masalah setiap negara saat ini, lihatlah kesadaran akan kemanusian bukan kesadaran akan ego yang menjadikan diri kita setan.
    ”’kotoran di pelupuk mata orang “kamu” tegur tapi gajah di dalam pelupuk ‘matamu’ sendiri tidak ‘kamu’ lihat”’ sbuah teguran untuk orang lebay agama.

  3. Sufisme said, on October 24, 2014 at 11:35 pm

    apakah yang menulis di arrahmah sama dengan partai yang dimaksud? gak jelas logika berpikir anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: