Sapere aude!

Kasus Dinda dan Kemunafikan Orang-orang Indonesia

Posted in Commentary by Rinaldi on April 19, 2014
Screenshot akun Dinda. Sumber: Solopos.com

Screenshot akun Dinda. Sumber: Solopos.com

Author: Rinaldi

BEBERAPA hari lalu, publik Indonesia dikejutkan oleh Dinda, seorang perempuan muda yang melalui akun Path-nya mengekspresikan kekesalan terhadap ibu-ibu hamil yang meminta tempat duduk di KRL. Screenshot tulisan Dinda kemudian menyebar, dan tentu saja menuai kecaman publik di berbagai jejaring sosial. Beberapa portal berita online bahkan sampai menurunkan beritanya.

Sebagai pengguna angkutan umum, termasuk KRL, saya tidak ikut-ikutan membully Dinda. Karena saya sadar, dia cuma menuliskan apa yang dirasakannya, yang mungkin dirasakan juga oleh banyak orang pengguna angkutan umum seperti KRL.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya yang punya perasaan seperti Dinda itu banyak. Apalagi di masyarakat Jakarta atau sub-urban yang tiap hari harus berebut naik bis kota, KRL atau terjebak kemacetan panjang. Hanya saja mereka tidak blak-blakan mengungkapkan isi hatinya dengan jujur di jejaring sosial. Entah tidak berani, tidak punya jejaring sosial, atau sekedar “jaga image” supaya tidak dibilang bejat.

Inilah “penyakit” yang tampaknya sudah menjadi karakteristik umum masyarakat Indonesia. “Penyakit” tersebut bukan “tidak punya empati”, bukan “tidak peduli terhadap sesama”, tetapi kemunafikan.

Saya tidak secara spesifik membahas soal “ibu-ibu hamil” dalam kasus Dinda. Ini menyangkut masalah yang lebih luas, yaitu kemunafikan.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang senang berpura-pura; Pura-pura ramah, pura-pura toleran, pura-pura berbudaya tinggi, pura-pura agamis, pura-pura santun dan bermoral. Nah, begitu ada satu-dua orang yang secara apa adanya mengungkapkan isi hatinya, publik kalap dan membombardir orang tersebut dengan berbagai kuliah moral. Padahal, publik yang menghakiminya belum tentu lebih baik dari orang tersebut. Mereka hanya tidak blak-blakan mengekspresikan isi kepala mereka seperti Dinda.

Begitu screenshot Dinda mencuat, mendadak publik Indonesia jadi tampak bermoral dan memiliki empati. Ramai-ramai menghujat dan menguliahi Dinda dengan berbagai materi etika dan moral. Tapi, boleh jadi mereka yang mendadak bermoral itu masih suka buang sampah sembarangan. Dalam mengendarai motor masih suka menyerobot trotoar ketika jalan macet yang mengganggu pejalan kaki. Masih suka berhenti di zebra cross atauberhenti jauh melebihi garis stop di lampu merah yang jelas mengganggu penyebrang jalan.Masih suka nerobos jalur busway di jalan. Egois dan tidak peduli dengan pengguna jalan lain. Masih suka nyogok petugas kalau ditilang. Mereka juga mungkin diam saja ketika mengetahui ada teman atau saudara mereka yang nyogok untuk bisa masuk PNS atau Polisi. Hal-hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah di Indonesia, yang terjadi setiap waktu dan tidak ada laskar sok moral yang membully. Dinda hanya sial saja, karena dia jujur mengungkapkan isi hatinya.

Bayangkan, seandainya ada yang dengan jujur menyatakan di muka publik bahwa “kalau mau mudah masuk PNS, nyogok saja”, pasti dia juga akan dibully habis-habisan. Padahal itulah kenyataan yang terjadi tiap waktu. Masyarakat ramai-ramai menghujat institusi dan pejabat korup, tapi banyak dari mereka lebih memilih “jalan damai” ketika ditilang polisi alih-alih membayar denda secara fair.

Contoh lagi, waktu kasus video asusila Ariel dan Cut Tari mencuat, Metro TV pernah mengangkat issue tersebut dalam acara “Suara Anda” secara live yang kalau tidak salah dipandu Fifi Aleyda Yahya. Pada satu sesi, host bertanya pada audience, kurang lebih begini, “siapa di antara kalian yang sudah menyaksikan video asusila tersebut?” Audience diam, tidak ada yang angkat tangan.

Bohong kalau dari sekian puluh audience yang kebanyakan anak muda,  pada belum pernah menyaksikan video asusila yang tengah populer tersebut. Kenapa mereka tidak ada yang angkat tangan? Mereka malu dan takut dihakimi “tidak bermoral” hanya karena menyatakan diri pernah menonton video tersebut.

Atas video asusila tersebut, publik Indonesia menghujat Ariel. Dia dianggap pezinah yang tidak bermoral. Tapi pada saat bersamaan, videonya laris manis berkelana dari HP ke HP via bluetooth. Itulah gambaran kecil masyarakat Indonesia yang munafik; Pelaku tindakan asusila dihujat, tapi diam-diam videonya dicari.

Tampaknya begitulah karakteristik alamiah orang-orang Indonesia. Di muka publik berusaha tampak normatif, santun dan berperikemanusiaan, namun di belakang bisa lain sikapnya. Persis mahasiswa yang dalam berbagai demonstrasi teriak-teriak membela rakyat dan mengecam pelanggaran HAM, tapi pas ngospek bisa matiin orang juga. []

Advertisements

Masih Didominasi Partai-partai Sekuler-Nasionalis, Islamisme ala PKS Tak Begitu Diminati di Indonesia

Posted in Commentary by Rinaldi on April 12, 2014
Karena tak ada pilihan, akhirnya saya memutuskan untuk golput. Foto: Rinaldi

Karena tak ada pilihan, akhirnya saya memutuskan untuk golput. Foto: Rinaldi

Author: Rinaldi

DIBANDINGKAN partai-partai lain, perolehan suara PDIP menurut hasil quick count sementara pada pemilu legislatif 2014 kemarin cukup tinggi. Partai-partai berhaluan kanan seperti PKS, bahkan tak masuk lima besar. Secara umum, partai-partai bernafaskan Islam tak pernah dengan telak memenangkan pemilu di Indonesia.

Terlepas dari soal “Jokowi effect”, besarnya perolehan suara PDIP tersebut menunjukkan kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih menyukai ideologi nasionalis-sekuler ketimbang Islamisme. Meski berpenduduk muslim terbesar di dunia, ideologi-ideologi Islamis tak begitu laku di Indonesia.

Kelebihan partai-partai berhaluan kanan seperti PKS adalah mereka memiliki massa yang militan. Dengan itu, PKS mudah menghimpun massa dalam jumlah besar untuk demonstrasi atau kampanye. Karena itulah PKS kelihatan solid dan “massive”, namun pada hakikatnya mereka minoritas.

Kelebihan tersebut tampaknya sekaligus menjadi kekurangan PKS. Karena dengan karakteristik massa yang militan, PKS terlihat eksklusif. Hanya orang-orang Islam aliran tertentu, yang jumlahnya sedikit, yang setia dengan PKS. Sisanya hanyalah suara-suara “swing voters”; Kali ini nyoblos PKS, pemilu depan belum tentu. Buktinya, meski pernah memenangkan suara di Propinsi DKI pada pileg 2009, pada pilgub DKI 2012 calon dari PKS, Hidayat Nur Wahid, kalah suara sampai-sampai tak lolos putaran kedua. Pemenang pilgub DKI 2012 justru tokoh yang berhaluan nasionalis-sekuler plus seorang Cina-Kristen. Tampaknya, suara-suara pemilih militan PKS tak cukup kuat untuk mendukung cagub yang diusung PKS pada pilgub DKI 2012 lalu. []