Sapere aude!

Kolom Agama di KTP, Pentingkah?

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on June 28, 2014
Contoh KTP Jerman. Simpel, tidak ada kolom agama. Sumber: Wikipedia.

Contoh KTP Jerman. Simpel, tidak ada kolom agama. Sumber: Wikipedia.

Author: Rinaldi

TERUS terang, KTP saya “Islam”. Tapi, saya tidak meyakini barang sedikit pun akidah Islam. Sejak beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk murtad. Saya mendeskripsikan posisi saya sekarang ini sebagai “pemikir bebas”.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas soal benar-salahnya akidah Islam. Cerita di atas hanya latar belakang saja. Wacana yang akan saya angkat adalah mengenai pentingnya mencantumkan kolom agama pada kartu identitas.

Secara de facto, saya jelas bukan muslim. Namun secara de jure jelas saya muslim, sebagaimana tertulis pada kolom agama di KTP maupun Kartu Keluarga.

Tulisan ini bermula dari pengalaman pribadi yang demikian. Saya berpikir: Kalau begitu, apa arti dan tujuan dari kolom agama pada kartu identitas? Siapapun bisa menulis “Islam”, “Kristen”, “Hindu”, dan seterusnya di kartu identitas semata demi formalitas, tanpa harus terbeban meyakini sedikit pun akidah agama yang bersangkutan, atau terbeban untuk melakukan ritual ibadah agama yang bersangkutan.

Saya tidak sendiri. Beberapa teman saya menganut agama yang berbeda dari yang mereka cantumkan di KTP. Ada yang ber-KTP Buddha, tapi dalam prakteknya Kristen dan telah menikah secara Kristen. Begitu pun ada yang ber-KTP Kristen (Protestan) ternyata Katolik, dan seterusnya. Belum termasuk teman-teman sesama pemikir bebas yang ber-KTP Islam, Kristen, atau agama-agama lain.

Saya hanya bersikap pragmatis dengan tetap mencantumkan “Islam” di KTP. Memangnya bisa mencantumkan “pemikir bebas” di KTP? Kalau pun bisa, apakah ada jaminan keselamatan dan jaminan tidak dipersulit kalau mengurus ini-itu? Yang ber-KTP Kristen saja yang notabene “agama resmi”, bisa dipersulit apalagi “pemikir bebas”. Oleh sebab itu, ketika ada selentingan wacana penghapusan kolom agama di KTP, tanpa ragu saya setuju.

Betul, saya setuju dengan usulan bahwa sebaiknya kolom agama di KTP dihapuskan. Kenapa? Ada banyak sekali alasan. Salah satunya adalah karena kepenganutan terhadap agama merupakan urusan pribadi yang tidak ada relevansinya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepenganutan terhadap agama tidak bisa diverifikasi keakuratannya.

Coba, bagaimana anda memverifikasi bahwa seseorang yang ber-KTP Kristen dan telah dibaptis, adalah benar-benar seorang yang percaya sepenuhnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat? Saya pun rela dibaptis dan mengucapkan serangkaian syahadat iman Kristen untuk kepentingan –misalnya—pernikahan. So what? Pragmatis saja. Nothing to lose buat saya.

Kita harus rasional. Buat saya, kolom “golongan darah” di KTP jauh lebih penting daripada kolom agama. Ironisnya, ini justru seringkali terlihat kosong! Kalau anda “kenapa-kenapa” di jalan dan dilarikan ke rumah sakit, mana yang lebih menyelamatkan nyawa anda: Informasi golongan darah atau informasi agama?

Mereka yang pro-penulisan kolom agama di KTP antara lain berpendapat, bahwa “penulisan agama” bertujuan untuk mengetahui statistik para penganut agama. Ini kembali kepada persoalan fundamental di atas; Siapa yang bisa menjamin atau alat canggih apa yang bisa dipakai untuk memverifikasi bahwa agama yang tertera di KTP seseorang adalah sama dengan agama aktual yang diimani oleh si pemegang KTP? Selama tidak ada yang bisa menjamin keakuratan agama tertulis dan agama aktual, maka statistik yang dibangun berdasarkan data kepenganutan agama melalui KTP menjadi tidak valid. Apalagi ditambah batasan menuliskan agama yang dianut menjadi hanya sebatas enam agama resmi saja. Jadi, seumpama saya penganut agama yang berjudul “Wel geduwel bleh”, tentu tidak bisa dicantumkan di KTP. Dan kalau pun dibuat statistiknya, paling banter agama semacam itu masuk kategori “lain-lain”, ya kan? Statistik macam apa itu?

Alih-alih bermanfaat, adanya kolom agama di KTP malah bisa jadi petaka. Dalam kerusuhan SARA di Ambon, gara-gara kolom agama di KTP, nyawa seseorang bisa melayang. Dan yang tak kalah menjengkelkan adalah potensi diskriminasi dalam birokrasi di Indonesia, di mana umat agama minoritas cenderung bisa dipersulit dan diperas.

Masyarakat harus diberi pemahaman, bahwa menghapus kolom agama di KTP tidak sama dengan mengapus agama atau memberangus hak sipil untuk beragama. Bahwa sesungguhnya, penghapusan kolom agama di KTP adalah wujud netralitas negara terhadap agama, di mana negara mengakomodir semua jenis agama dan kepercayaan, termasuk mereka yang memutuskan untuk tidak menganut suatu agama apapun. Bahwa menganut agama atau tidak menganut agama, adalah urusan pribadi yang bersangkutan dan bukan bagian dari identitas resmi negara.

Bahwa pada dasarnya, tiap individu adalah bebas dan setara. Negara bertindak sebagai wasit yang melindungi hak sipil masyarakat baik untuk beragama maupun tidak beragama. Apa sih susahnya? Apa yang ditakutkan? []

28 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. gadzlsperger said, on November 8, 2014 at 11:49 am

    Reblogged this on All-Arounder Man and commented:
    Sebagai orang Indonesia, cobalah berpikir lebih luas. Jangan hanya karena agama semua bisa jadi beda dan alasan……

  2. yongky said, on November 8, 2014 at 9:36 pm

    pola pikir Liberal :-P .negara kita khan berazaskan PancaSila ,brow,..bukan Liberal.. dimana ada beberapa Agama yg diakui, dan bangsanya mempunyai beragam budaya totokromo. Masalah anda mau murtad keq, mau gak percaya Tuhan keq, mau nyembah pohon rambutan keq,. itu hak anda, tapi Negara tetap perlu mengidentifikasi rakyatnya salah satunya dari agamanya,(bukankah di PancaSila, Ke Tuhanan Yang Maha Esa diletakkan di no. 1) yg berarti menunjukkan bahwa prioritas berketuhanan itu diletakkan pd urutan pertama, bhw orang Indonesia itu beragama,.. diluar itu dilarang pemerintah, ya Komunis, ya sekte sesat yg dilarang pemerintah. Kalaupun anda berbohong dng menulis salah satu dari agama2 yg diakui itu, itu urusan anda dng Tuhan (walaupun anda gak percaya Tuhan, Tuhan tetep ada koq :-)) namun kalau anda melanggar hukum, anda dan siapapun, agama apapun, (yg melanggar itu khan orangnya, bukan Agamanya)…juga tetap akan harus berurusan dng hukum negara……nah, kalau tetep ngeyel, usulkan agar PancaSila no.1. Ke Tuhanan yang Maha Esa agar diganti…..brani gaak..? .Kolom agama ditiadakan pada KTP dng memberikan ilustrasi (sebagai excuse) ketika sesorang mengalami kecelakaan, bhw yg diperlukan adalah Golongan Darah bukan Agama.,…fine, it makes sense,….lalu ketika orang yg mengalami kecelakaan tadi meninggal, harus mengisi formulir kematian, katakanlah tanpa ada kolom agamanya, lalu ketika akan dikuburkan ke pemakaman manakah ? mosok orang Islam dikubur di pemakaman orang Kristen, atau sebaliknya ?? atau orang Islam di kremasi ??.gimana dng “totokromo” yg kental di negri ini ? apa lalu orang yg mati itu dikubur ala kadarnya ? …ah itu khan cuma Islamphobia ajah :-)

  3. Cahyo said, on November 8, 2014 at 10:28 pm

    Sila Pertama Pancasila KETUHANAN YANG MAHA ESA apakah ini sama dengan ber-AGAMA? saya kira Ketuhanan adalah percaya adanya Tuhan sedang Label AGAMA adalah sebagai wadah dari umat yang memepunyai iman yang sejalan.

  4. achmadz said, on November 9, 2014 at 10:47 am

    A : “Bro, tahu belum? Ada wacana kolom agama di ktp mau dihilangkan lho.”
    B : “Emang kenapa? Katanya negara berketuhanan, kok malah ngilangin agama?”
    A: “Katanya sih, kolom agama itu bisa mengakibatkan diskriminasi. Lagian agama juga urusan pribadi. Nggak usahlah dicantumin di KTP.”
    B : “Nah, ntar ada juga orang yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamin ditulis. Berarti kolom jenis kelamin juga harus dihapus dong. Laki-laki dan perempuan kan setara. ”
    C : “Eh, jangan lupa. Bisa juga lho perlakuan diskriminasi terjadi karena usia. Jadi hapus juga kolom tanggal lahir.”
    D : “Eit, ingat juga. Bangsa Indonesia ini juga sering fanatisme daerahnya muncul, terlebih kalau ada laga sepak bola. Jadi mestinya, kolom tempat lahir dan alamat juga dihapus.”
    B : “Ada juga lho, perlakuan diskriminasi itu gara-gara nama. Misal nih, ada orang dengan nama khas agama tertentu misalnya Abdullah, tapi tinggal di daerah yang mayoritas agamanya lain. Bisa tuh ntar dapat perlakuan diskriminasi. Jadi kolom nama juga wajib dihapus.”
    B: “Kalau status pernikahan gimana? Perlu ndak dicantumkan?”
    A : “Itu harus dihapus. Nikah atau tidak nikah itu kan urusan pribadi masing-masing. Saya mau nikah kek, mau pacaran kek, itu kan urusan pribadi saya. Jadi kalau ada perempuan hamil besar mau melahirkan di rumah sakit, nggak usah ditanya KTP-nya, nggak usah ditanya sudah nikah belum, nggak usah ditanya mana suaminya. Langsung saja ditolong oleh dokter.”
    D : “Sebenarnya, kolom pekerjaan juga berpotensi diskriminasi. Coba bayangkan. Ketika di ktp ditulis pekerjaan adalah buruh, kalau orang tersebut datang ke kantor pemerintahan, kira-kira pelayanannya apakah sama ramahnya jika di kolom pekerjaan ditulis TNI? Nggak kan? Buruh biasa dilecehkan. Jadi kolom pekerjaan juga harus dihapus.”
    C: “Kalau golongan darah gimana? Berpotensi diskriminasi nggak?”
    A : “Bisa juga. Namanya orang sensitif, apa-apa bisa jadi bahan diskriminasi.”
    E : “Lha terus, isi KTP apa dong?
    Nama : dihapus
    Tempat tanggal lahir : dihapus
    Alamat tinggal : dihapus
    Agama : dihapus
    Pekerjaan : dihapus
    Status perkawinan : dihapus
    Golongan darah : dihapus
    Berarti, KTP isinya kertas kosong doang….”
    A, B, C, D : (melongo)

  5. Buntetz said, on November 9, 2014 at 1:44 pm

    Buka mata lah bro yg diatas, dari dulu yang sering nyebabin perpecahan apa coba? Yah agama. Naif banget sih lu, realistis lah

  6. rafa said, on November 9, 2014 at 3:44 pm

    achmadz..bego bgt jd orang,mslah klom agama disamain sm kolom usia,ttl,jenis .. begooo..bego bgt..hahahaha

  7. rafa said, on November 9, 2014 at 3:46 pm

    yongky jg bego..yg nguburin ya keluargax lah..kan uda ad tu alamatnya,si mayat tinggl diidentifikasi alamatnya…hahaha..uda ad 2 orang bego yongky ame ahmadz

  8. yongky said, on November 9, 2014 at 3:57 pm

    kalau alasannya diskriminasi, lalu apakah di negara (yg lbh maju dari Indonesia) yg selalu mengagungkan dan treak2 HAM dan TOLERANSI, lalu kemudian gak ada diskriminasi ??, misal di Prancis dimana muslimah di-banned karena menggunakan Hijab ? dan di negara2 dimana umat muslimnya minoritas , apakah gak ada diskriminasi thdp mereka ?? malah dinegara2 dimana umat muslimnya minoritas,.mereka (umat muslim) dibantai ? lalu apakah dng dihilangkannya kolom agama di KTP anda menjamin tidak akan ada diskriminasi di Indonesia ?? c’mon , maaan….diskiriminasi itu gak akan hilang sampai akhir jaman,.., kalo menurut hemat saya, nothing to do dng agama, tapi justru yg bermasalah adalah orangnya (si penganut agama itu sendiri) yg kalau dia buat masalah ya harus berurusan dng hukum, siapapun itu dan dari agama manapun itu…..hukum dalam sistem hrs berjalan dng baik, bukan ? …bukan agamanya yg diutak atik. ….Saudara Buntetz: anda katakan dari dulu yg sering nyebabin perpecahan adalah agama, sori, bro anda salah besar, ..kalau anda mengalami masa tahun 60an sampai 80an semua umat dinegri ini hidup berdampingan dng damai .., knapa akhir2 ini sering terjadi pergesekan antar agama….apa yg salah ? .mungkin karena manusia sdh mulai menjauh dari agama ? ataukah ada intervensi antar agama yg smakin terang2an? kalaupun benar adanya, penyebab perpecahan itu adalah agama (menurut anda) ,..lalu agama yg mana yg membuat perpecahan itu?? Agamanya atau oknum pengikut agama itu sendiri ?? ataukah memang ada “provokator” dibalik pergesekan ini ?? kalau ada orang Islam yg brengsek, apakah lalu agama Islamnya juga ikut brengsek ?? kalau ada pastor berbuat mesum, lalu apakah yg brengsek Agama Nasrani ?? begitupun sebaliknya , kalau ada Haji yg berbuat cabul, lalu agama Islam yg brengsek ?? kalau ada yg bilang Agama Islam adalah agama terorist karena yg melakukan pengeboman bunuh diri adalah orang2 Islam, lalu anda bilang Agama Islamnya yg terorist ? lalu bagaimana pembantaian orang Islam di Bosnia ? orang Indian di Amerika dll, bukankah yg melakukan itu orang Nasrani ? khan enggak begitu doonk.cara berfikirnya………aaahh anda juga Islamphobia ajah

  9. Rinaldi said, on November 9, 2014 at 6:12 pm

    Kepenganutan agama tidak bisa disamakan dengan nama, alamat, tanggal lahir, dsb. Nama dan alamat misalnya, itu adalah informasi yang HARUS dipublikasikan sebagai bagian dari identitas formal dan bisa diverifikasi/dikroscek kebenarannya.

    (Contoh: nama harus konsisten pada KTP, akta lahir, paspor, SIM dst, dan alamat bisa diverifikasi benar-salahnya. Seseorang tidak bisa merubah nama seenaknya, tapi agama? Agama basisnya “iman”, dan “iman” bisa dirubah sesukanya. Minggu ini saya Islam, minggu depan mau masuk Kristen, urusannya apa sama negara? Lha kalo iman saya fluktuatif kan urusan saya).

    Sedangkan tempat/tanggal lahir adalah parameter usia untuk keperluan-keperluan formal, misalnya menentukan kapan karyawan harus pensiun, dsb.

    Jadi, pengisian kolom agama untuk apa? Tidak ada gunanya. Lagian, sebagaimana sudah ditulis dalam artikel, pencantuman kolom agama di KTP tidak bisa diverifikasi benar atau salahnya. Apakah anda yakin bahwa seseorang yang ber-KTP Islam atau Kristen, adalah benar penganut agama tersebut? BELUM TENTU. Banyak point yang sudah saya jelaskan dalam artikel, tapi tampaknya para komentator kontra TIDAK MEMBACANYA sehingga komentar-komentarnya mentah. Dalam arti, banyak point dalam komentar anda sudah terjawab oleh artikel di atas.

    Argumen kontra lain, bahwa kolom agama di KTP berguna untuk “pemakaman”, ini jelas argumen bodoh. Perlu tau ya, di passport (Republik Indonesia) tidak ada kolom agama, padahal cakupannya internasional. Nah, apakah pemerintah yang mengeluarkan passport tersebut adalah pemerintah yang anti-agama, anti-pancasila, anti-tuhan, dan beraliran komunis? TIDAK JUGA. Lantas bagaimana dong kalo WN tersebut mengalami kecelakaan dan meninggal di negeri lain? Ya tentu nggak masalah kan? Ada kedutaan besar negara ybs, bisa dikontak keluarganya, ada alamatnya, dan tentu akan dimakamkan sesuai dengan adat dan agama yang diketahui oleh keluarga dekatnya. Kan begitu prosedurnya, bukan semata-mata mengetahui agama seseorang melalui kolom KTP.

    Saya setuju penghapusan kolom agama di KTP. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah mengembalikan agama ke ranah privat. Agama urusan pribadi dan bukan bagian dari identitas formal.

    PS:

    Komentar Ahmad di atas sebenarnya “fallacious”. Tepatnya disebut “slippery slope fallacy”. Dalam tata argumentasi, fallacy adalah sebentuk cacat logika. Kelihatannya benar, padahal tidak valid. Apa yang dipaparkan Ahmad di atas lebih mirip retorika daripada argumentasi. Ini harus dipahami.

    Berikut penjelasan slippery slope fallacy:
    http://writingcenter.unc.edu/handouts/fallacies/

    Definition: The arguer claims that a sort of chain reaction, usually ending in some dire consequence, will take place, but there’s really not enough evidence for that assumption. The arguer asserts that if we take even one step onto the “slippery slope,” we will end up sliding all the way to the bottom; he or she assumes we can’t stop partway down the hill.

    Example: “Animal experimentation reduces our respect for life. If we don’t respect life, we are likely to be more and more tolerant of violent acts like war and murder. Soon our society will become a battlefield in which everyone constantly fears for their lives. It will be the end of civilization. To prevent this terrible consequence, we should make animal experimentation illegal right now.”

    Since animal experimentation has been legal for some time and civilization has not yet ended, it seems particularly clear that this chain of events won’t necessarily take place. Even if we believe that experimenting on animals reduces respect for life, and loss of respect for life makes us more tolerant of violence, that may be the spot on the hillside at which things stop—we may not slide all the way down to the end of civilization. And so we have not yet been given sufficient reason to accept the arguer’s conclusion that we must make animal experimentation illegal right now.

    Like post hoc, slippery slope can be a tricky fallacy to identify, since sometimes a chain of events really can be predicted to follow from a certain action. Here’s an example that doesn’t seem fallacious: “If I fail English 101, I won’t be able to graduate. If I don’t graduate, I probably won’t be able to get a good job , and I may very well end up doing temp work or flipping burgers for the next year.”

  10. vastradiant said, on November 9, 2014 at 10:15 pm

    sedap!

  11. fery said, on November 10, 2014 at 12:17 am

    Yah, sebenarnya semua data di KTP tidak benar-benar bisa dibuktikan kebenarannya. Anda sudah membuktikan sendiri, tidak menganut tapi mencantumkan islam sebagai agama di KTP. Itu juga bisa berlaku di kolom nama, status, alamat, tanggal lahir, atau bahkan katakanlah golongan darah. Orang bisa bikin darahnya AB buat keren-kerenan. ‘Hare gene’ semua bisa dipalsuin..

    Masalahnya; apa faedahnya nyantumin data palsu di kartu yang seharusnya menjadi identitas kita? My point is, bukan urusan kita mempermasalahkan kebenaran data-data KTP seseorang atau apa mereka bertindak sesuai dengan apa yang tercantum di KTPnya. We can only assumed data-datanya benar karena toh kalo gak benar, yang bakalan rugi/susah juga yang punya KTP itu sendiri.

    Dan di negara yang berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa ini, negara dengan keberagaman agama, negara yang menghargai pemeluk-pemeluk agama yang masing-masing mempunyai custom dan penanganan yang berbeda-beda, KTP perlu mencantumkan agama sebagai identitas pemiliknya.

  12. inun said, on November 10, 2014 at 5:13 pm

    Ikut sedikit nanya sama Rafa yg bilang “yongky jg bego..yg nguburin ya keluargax lah..kan uda ad tu alamatnya,si mayat tinggl diidentifikasi alamatnya…hahaha..uda ad 2 orang bego yongky ame ahmadz” permasalahannya kalo yg meninggalnya itu gelandangan ato orang gila yg engga punya identitas bagaimana? ato kalopun orang gila ato gelandangan tersebut menyimpan kartu identitas tp berasal dr kota yg jauh dari tmpt dia meninggal bagaimana? terima kasih atas tanggapan jawabannya.

  13. yongky said, on November 11, 2014 at 7:01 am

    sdr. Rinaldi, dan yg gak setuju dng adanya kolom KTP dng asumsi bahwa dng adanya kolom agama , bhw Agama di kolom itu akan menimbulkan DISKRIMINASI,.. sekali lagi saya katakan bahwa dg dihapuskannya kolom Agama pd KTP tidak akan menjamin menghilangkan DISKRIMINASI,..Contohnya, baru aja kemarin ini, ketika adanya pertandingan sepak bola antara kesebelasan Bandung dng Jakarta, apa yg terjadi ketika Kesebelasan Bandung, misalnya katakanlah kalah dlm pertandingan melawan Persija,(atau sebaliknya) lalu mereka ribut, apakah mereka supporter kesebelasan Bandung ketika marah dng kesebelasan Persija lalu melihat Golongan Darahnya atau Agamanya atau bahkan melihat KTPnya?? Pokoknya semua orang Jakarta, apakah dia pemain bolanya ataukah masyarakat Jakarta yg kebetulan lewat, yg penting orang Jakarta , dng melihat Plat Nomor mobilnya huruf B, lalu dihancurkan misalnya……Apakah menurut anda ini bukan menjadi DISKRIMINASI ?? Inilah yg dimaksud dng saudara Achmadz, kalo sudah begini, nanti orang2 seperti anda (sdr Rinaldi) akan ribut lagi, kalo gitu kita hapus Nomor Plat Mobil di Indonesia ganti dng yang lain ??? Bukankah Nomor Plat Mobil juga sbg identifikasi ?? Nah, menurut hemat saya, mungkin akan menjadi cukup bijaksana, kolom itu tetep ada, namun jikalau orang seperti anda gak menghendakinya, ya monggo gak perlu diisi, …seperti kata sdr. Ferry, apa sih skarang yg gak bisa dipalsukan ? jaman skarang Tuhan aja ditipu, apalagi manusia (LOL), maksud saya jd semua itu kembali ke diri kita masing2, Bukankah semua agama yg di akui di negri ini, semuanya mengajarkan kebaikan, seperti misalnya kasih sayang, tidak boleh mengganggu orang apalagi membunuh ?? Nah, kalau saja semua yg beragama itu, benar2 mengimplementasikan ajaran agamanya, tentunya hal2 seperti Diskriminasi, misalnya, akan di “minimize, bukan ?, Tapi apa yg terjadi kalau orang tidak berTuhan, menurut dia khan gak ada tuh yg namanya Sorga Neraka, mereka gak percaya, jd kalo gw mau bunuh tuh orang, kalo gw mati ya mati aja, gak ada tuh nanti gw di azab di neraka, …yah silahkan saja…..pokoknya setiap individu di negri ini, tinggal di negara hukum, kalo bikin masalah, ya hrs berurusan dng hukum. Masalah hukumnya belum spt yg diharapkan, that’s another story,….justru masalah hukum inilah yg harus difokuskan agar menjadi pegangan utk keadilan. Mengenai kasus di Maluku misalnya, gara2 ada kolom Agama di KTP, orang mati dibunuh, saya pikir ini adalah pemikiran picik, apakah ketika kolom Agama di KTP dihapus, lalu mereka berhenti main bunuh2an ?? ini khan penyebabnya adalah RASA DENDAM BERKEPANJANGAN” yg justru obatnya adalah siraman rohani melalui Agama, …orang kalau sudah punya “penyakit hati” yg akut (dendam, dengki, cemburu), mereka gak peduli dng yg namanya Golongan darah keq, Agama keq, Tuhan keq, what-so-ever…..hehe..jadi inget orang2 di negri yg suka ganti2in nama,, logo perusahaanlah diganti, tapi tetep aja diganti logonya itu harga produknya tetep naik, gak memakmurkan orang banyak (padahal ngeganti logo itu ngeluarin biaya yg gak sedikit), ganti nama Stadion, tetep aja kondisinya sama, ganti nama jalan, ganti sana ganti sini…..koruptor makin banyak, mafioso, premanisme……lalu apa yg salah ?? menurut hemat saya, yg harus dibenahi adalah AHKLAK kita masing2 dan hukum dlm sistem berjalan dng baik….ingat baik2: Hukum Allah itu jauh lebih sempurna dari pada Hukum buatan Manusia…..that’s it.

  14. Agus said, on November 11, 2014 at 8:34 am

    ya sudah, jadikan saja pilihan. yang mo ngisi silahkan yang gak juga gak apa-apa. gitu aja kok repot lha wong keimanan itu gak di wariskan. mau beriman silahkan mau gak juga gak apa-apa…hwrakadah…

  15. yongky said, on November 11, 2014 at 10:31 am

    sdr.Agus, …, best offer,!!…. solusi yg anda tawarkan utk sa’at ini sdh mengakomodir baik yg Pro maupun yg Kontra…..(gitu aja koq repot ya)….. thanks.

  16. he said, on November 11, 2014 at 1:27 pm

    kok kayaknya malu banget mengakui agamanya tertera di ktp?

  17. Natasha Christiana said, on November 11, 2014 at 2:27 pm

    Diskriminasi itu telah ada sejak jaman dahulu kala, mau dihilangkan dengan cara apapun tetap tidak berujung. Apabila dibilang tujuan utama dari menghilangkan kolom agama hanya untuk menghindari diskriminasi tentu saja ini alasan yang cukup naif.
    Menurut saya tujuan menghilangkan kolom agama untuk KTP lebih tepatnya untuk mengurangi informasi yang kurang valid, sehingga yang tercantum di KTP hanya informasi yang esensial dan tercatat secara hukum. Informasi yang dapat diukur dan disertai bukti misalnya dengan akte kelahiran.
    Sebetulnya KTP Jerman yang di atas termasuk cukup ringkas, bahkan kolom alamat saja tidak ada. Saya tidak tahu mengapa alamat tidak dicantumkan sebagai identitas diri. Mungkin karena alamat tinggal juga dinilai tidak begitu valid, karena orang yang tidak punya rumah tetap akan sering berpindah / ganti alamat.
    Selain kolom agama, saya juga merasa kalau kolom pekerjaan dan kolom status perkawinan itu juga sebaiknya dihilangkan.
    Intinya hal-hal yang dapat berubah sewaktu-waktu itu sebaiknya dikurangi, selain lebih ringkas informasinya juga lebih menghemat biaya, sehingga umur KTP itu bisa lebih panjang karena tidak banyak informasi yang bisa berubah-ubah.
    Itu pemikiran saya sih.

  18. riza ariana said, on November 12, 2014 at 1:11 am

    kalo yakin masalah kolom agama ini harus hilang yah perjuangkan bro..saya yakin anda orang yang paling sakit ketika di ktp anda beragama padahal kenyataannya tidak beragama..kalo perlu yah bikin demo besar besaran,kalo hanya ngoceh bikin cerita sih jangan harap cita-cita lu terwujud..kalo saya pribadi sih bodo amat mau ada ato ga itu kolom agama buat saya ok ok saja..yg pasti untuk orang yg tidak punya agama pasti sulit hidup di negri ini..lu pasti jadi orang yg penuh omong kosong ato munafik apalagi kalo lu dan keluarga lu ga sejalan..contoh keluarga lu islam pas lebaran lu ikut lebaran,ikut puasa,ikut kumpul sama keluarga..sakit kan bro pura”?

    Perjuangkan bro cita”nya jangan jadi cerita omong kosong buat anak lu nanti…
    Kalo point saya sih jangan jadikan issue KTP ini sebagai bola panas yg ga ada ujungnya…pemerintah tuh suka rakyatnya sibuk konflik dibawah,terus kalo kolom agama dihapus ini proyek lagi dong..sementara proyek EKTP aja ga beres!!

  19. Putu Yuliarsa said, on November 12, 2014 at 1:29 pm

    Anda semuanya keliru. Penghapusan kolom agama itu diusulkan adanya di E-KTP. E itu artinya elektronik, artinya KTP itu ada Elektroniknya, yakni chips yang menyimpan semua data sampai agama. Kalau perlu data lengkap, tinggal gesek atau scan chipsnya keluar semua data. Kalau E-KTP masih tercantum banyak kolom, la, untuk apa ada E-KTP? Pakai KTP kuno yang sudah ada saja. E-KTP hanya mencantumkan foto dan alamat lengkap. Cukup, jadi desainnya menarik. Seperti di Malaysia misalnya. Tapi kalau di E-KTP dicantumkan jenis kelamin dan agama, boleh saja, tapi bukan di kolom khusus, taruh di bawah foto.
    Jadi konteks penghapusan kolom agama itu untuk E-KTP.

  20. ainan said, on November 13, 2014 at 11:11 pm

    Buat yang gak mau agamanya di tulis di ktp merasa malu ya?? Krn tidak berperilaku sesuai dgn agama yang dianutnya..

    Malu boss.. hari gini, takut nunjukin jati diri..?? Beeehh…

    Sama aturan Tuhan aja takut dan kabur2an..
    Biar aja deh terserah maunya apa.. Tuhan itu kan Maha Adil, pasti semua dpt balasan-Nya…

  21. Rinaldi said, on November 16, 2014 at 11:31 am

    Fery,

    Yah, sebenarnya semua data di KTP tidak benar-benar bisa dibuktikan kebenarannya. Anda sudah membuktikan sendiri, tidak menganut tapi mencantumkan islam sebagai agama di KTP. Itu juga bisa berlaku di kolom nama, status, alamat, tanggal lahir, atau bahkan katakanlah golongan darah.

    Belum pernah bikin KTP ya? Bikin KTP itu pake pengantar lewat RT/RW setempat dan harus punya KK setempat. Data nama dan alamat di KTP berdasarkan KK tersebut. Oke, bisa aja dipalsukan, tapi gampang ketauan kalo ada kasus apa-apa, karena data tidak sinkron dengan KK dan pihak RT/RW pasti bakal kena getahnya. Apalagi sekarang datanya sudah elektronik, mudah dilacak.

    Orang bisa bikin darahnya AB buat keren-kerenan. ‘Hare gene’ semua bisa dipalsuin.. .

    Bisa dipalsukan, tapi bisa diverifikasi kok. Tinggal cek darah aja, dah ketauan keterangan kolom golongan darahnya palsu apa asli.

    Nah kalo agama, gimana cara memverifikasinya?

    Semua hal bisa dipalsukan. Jangankan keterangan di KTP, lha KTP itu sendiri bisa kok dipalsukan. Ijazah juga bisa dipalsukan, SIM, STNK, bahkan UANG dan berbagai surat-surat lain juga bisa dipalsukan.

    Problemnya bukan apakah bisa dipalsukan atau tidak, tapi apakah data-data atau surat-surat yang dipalsukan tersebut bisa ditrace/dilacak/diverifikasi asli-palsunya atau tidak?

    Masalahnya; apa faedahnya nyantumin data palsu di kartu yang seharusnya menjadi identitas kita? My point is, bukan urusan kita mempermasalahkan kebenaran data-data KTP seseorang atau apa mereka bertindak sesuai dengan apa yang tercantum di KTPnya. We can only assumed data-datanya benar karena toh kalo gak benar, yang bakalan rugi/susah juga yang punya KTP itu sendiri.

    Banyak faedahnya, biasanya untuk kepentingan pragmatis. Kalo nama dan alamat bisa dicek/diverifikasi benar-salahnya, jadi parameter keterangannya benar atau salah jelas. Lha kalo agama/keimanan, gimana cara verifikasinya?

    Dan di negara yang berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa ini, negara dengan keberagaman agama, negara yang menghargai pemeluk-pemeluk agama yang masing-masing mempunyai custom dan penanganan yang berbeda-beda, KTP perlu mencantumkan agama sebagai identitas pemiliknya.

    Penanganan tradisi/custom agama yang berbeda-beda TIDAK BERDASARKAN KTP. Contoh: Orang Kristen menikah pake surat baptis sebagai sertifikasi bahwa ybs adalah benar Kristen. Tanpa surat baptis (hilang, dst), ybs akan sulit untuk menikah. Jadi tidak modal keterangan “kristen” di KTP doang.

    Memang, orang yang ikut katekisasi, kemudian dibaptis dan dinyatakan “kristen”, belum tentu orang yang benar-benar percaya teologi Kristen (iman letaknya di hati, siapa yang tahu?). Tapi sekurangnya sertifikasi kepenganutan agama dengan cara tersebut lebih bermutu ketimbang sekedar menuliskan merk agama di form KTP.

    Ketika saya menuliskan “islam” di form KTP, petugas kelurahan tidak mengecek dulu apakah benar saya telah bersyahadat, percaya rukun iman dan rajin shalat. Demikian pun mereka yang memilih “kristen” di KTP, saya yakin petugas kelurahan tidak mengecek dulu surat baptis ybs.

    Beda dengan sertifikasi baptis, di mana sekurangnya ybs telah melalui prosedur-prosedur tertentu sehingga dinyatakan “kristen”, dan dalam surat baptis jelas pula tanggal berapa, di mana, yang membaptis siapa, dst.

    Kalo dalam tradisi Islam, keterangan “islam” di KTP dijadikan sertifikasi bahwa ybs Islam, menurut saya itu problem buat tradisi Islam karena sangat rawan dimanipulasi (data tidak bisa diverifikasi).

    Riza Ariana,

    kalo yakin masalah kolom agama ini harus hilang yah perjuangkan bro..saya yakin anda orang yang paling sakit ketika di ktp anda beragama padahal kenyataannya tidak beragama.. yg pasti untuk orang yg tidak punya agama pasti sulit hidup di negri ini..lu pasti jadi orang yg penuh omong kosong ato munafik apalagi kalo lu dan keluarga lu ga sejalan..contoh keluarga lu islam pas lebaran lu ikut lebaran,ikut puasa,ikut kumpul sama keluarga..sakit kan bro pura”?

    Saya tidak beragama, dan pada faktanya hidup saya adem-ayem saja tuh. Lha agama itu tidak ada fungsinya kok dalam kehidupan praktis. Saya kerja pake otak bukan agama. Saya makan pake mulut bukan agama. Saya nonton film pake mata bukan agama. Saya dengar musik pake telinga bukan agama. Saya beli gadget pun PAKE DUIT, bukan pake agama.

    Open house lebaran, natal, dst buat saya nggak masalah kok. Kenapa harus jadi masalah, lha wong isinya cuma makan-makan dan ramah tamah. Saya malah senang ada hari raya agama macam itu. Hehehehehe…

  22. fery said, on November 20, 2014 at 3:11 am

    So you’re saying, KTP yang tanda pengenal kita itu banyak faedahnya kalo dipalsukan, tapi karena data yang lain bisa diverifikasi cuma agama yang ‘aman’ untuk dipalsukan, maka posisinya tidak penting tercantum because it practically doesn’t prove anything.

    Berdasarkan itu, saya nangkapnya kalo penghapusan kolom agama itu memang menguntungkan sekali buat orang-orang ‘pemikir bebas’ seperti Anda; tak perlu lagi capek-capek ‘berbohong’ untuk hal yang tidak Anda percaya.
    Kesimpulannya, orang yang setuju kolom agama dihilangkan adalah orang yang memang gak benar-benar yakin sama yang namanya agama sedari awal. For those people I say;
    Have a little faith, bro (and/or sis). Bukan ngajak untuk nganut agama, kalo Anda gak percaya agama silahkan, tapi buktikan itu dengan gak nyantumin nama agama lain di KTP hanya demi kepentingan pragmatis. What? Ada konflik agama A vs B, trus karna sayang nyawa jadi ngaku B? How can you live the rest of your life, knowing in heart you’re a coward like that?

    Tapi bagi pemeluk agama yang taat, kolom agama di KTP itu penting adanya paling enggak sebagai pembuktian identitas mereka. Pembeda mereka dari pemeluk agama lain. Jadi, kalo ntar ada apa-apa, mereka bisa dikelompokkan dengan kelompok yang seiman. Indonesia negara beragama, mengakui 6 agama, berbhinneka tunggal ika- berbeda tapi satu jua. Semboyan itu berarti kita mengakui perbedaan dan tetap bersatu. We embrace it with pride. Pamerkan perbedaan sebagai identitas diri masing2. Perbedaan itu bukan untuk disembunyikan. Bukankah ngapus kolom agama itu salah satu bentuk menghilangkan perbedaan di KTP?

    Bagi pemeluk agama yang gak taat-taat amat kayak saya, well kadang kita masih perlu diingatkan. Istilahnya, memang penting untuk berpikir outside the box, tapi kita harus ingat mengapa ada box in the first place. Agama yang tertera di KTP itu semacam box nya. Sekali lagi, identitas. Bayangkan kalo enggak ada, besar kemungkinan kita bakal ‘tersesat jauh di luar kotak itu’, jauh sekali, begitu jauh sampai jadi non-believer.

    Dan lagi, tentu saja lebih praktis bawa KTP yang ada kolom agamanya dibanding bawa surat sertifikasi agama ke mana-mana.

  23. Rinaldi said, on November 23, 2014 at 7:33 pm

    Fery,

    Berdasarkan itu, saya nangkapnya kalo penghapusan kolom agama itu memang menguntungkan sekali buat orang-orang ‘pemikir bebas’ seperti Anda; tak perlu lagi capek-capek ‘berbohong’ untuk hal yang tidak Anda percaya.

    Capek berbohong? Bohong apa? La wong nama agama tinggal nangkring aja di kolom, gak perlu ada omongan apa-apa.

    Kesimpulannya, orang yang setuju kolom agama dihilangkan adalah orang yang memang gak benar-benar yakin sama yang namanya agama sedari awal. For those people I say;
    Have a little faith, bro (and/or sis). Bukan ngajak untuk nganut agama, kalo Anda gak percaya agama silahkan, tapi buktikan itu dengan gak nyantumin nama agama lain di KTP hanya demi kepentingan pragmatis. What? Ada konflik agama A vs B, trus karna sayang nyawa jadi ngaku B? How can you live the rest of your life, knowing in heart you’re a coward like that?

    Kenapa tidak boleh? Kenapa harus dianggap “pengecut?” Buat saya, sikap pragmatis itu sikap yang cerdas. Justru memamer-mamerkan agama tidak pada tempatnya adalah sikap bodoh kekanak-kanakan.

    Saya tidak percaya agama, tapi saya memanfaatkan sistem bodoh Indonesia untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan pragmatis. Kalau boleh jujur, justru adanya kolom agama dan sikap masyarakat Indonesia yang begitu mementingkan identitas agama tertulis di KTP, menguntungkan saya.

    Tetapi secara ide, walau menguntungkan, idealnya kolom agama memang tidak perlu ada. Hal tersebut menunjukkan netralitas negara. Agama bukan bagian dari identitas formal, sama halnya seperti makanan kesukaan.

    Tapi bagi pemeluk agama yang taat, kolom agama di KTP itu penting adanya paling enggak sebagai pembuktian identitas mereka. Pembeda mereka dari pemeluk agama lain. Jadi, kalo ntar ada apa-apa, mereka bisa dikelompokkan dengan kelompok yang seiman.

    Ini alasan yang konyol sekali. Tidak masuk akal.

    Rasul beragama Islam. Rasul tidak punya KTP. Jaman dulu tidak ada konsep KTP berkolom agama. Toh Rasul dan para pengikut perdananya tak kurang suatu apa dalam berislam.

    Menunjukkan identitas agama boleh saja. Tapi tak berarti harus dengan kolom agama. Sebut saja bahwa anda Islam dengan mulut. Berperilakulah seperti orang Islam, dan anda akan dikenal sebagai orang Islam. Simpel.

    “Kalau ada apa-apa” itu maksudnya apa? Coba kasih contoh.

    Kalau anda mau kumpul dengan orang yang seiman, kan anda punya mulut. Pengajian itu kumpulan orang-orang seiman. Apa mereka ngumpul berdasarkan identifikasi dari KTP? Tidak.

    Indonesia negara beragama, mengakui 6 agama, berbhinneka tunggal ika- berbeda tapi satu jua. Semboyan itu berarti kita mengakui perbedaan dan tetap bersatu. We embrace it with pride. Pamerkan perbedaan sebagai identitas diri masing2. Perbedaan itu bukan untuk disembunyikan. Bukankah ngapus kolom agama itu salah satu bentuk menghilangkan perbedaan di KTP?

    Pamerkan perbedaan sebagai identitas masing-masing? BOLEH. Terus, gimana caranya? Apa dengan rame-rame saling nunjukin KTP? Kan gak gitu logikanya bro.

    Mau tunjukkan perbedaan sebagai identitas itu misalnya bikin acara lintas budaya dan lintas agama. Itu salah satu contoh, bukan dengan rame-rame keluarin KTP dari dompet dan saling memamerkan kolom agama. Kok pekok amat ya logikanya, wkwkwkwk…

    Lagian, semboyan “bhinneka tunggal ika” itu kedengaran munafik. Kalau benar konstitusi menghargai perbedaan, kenapa cuma 6 agama saja yang resmi diakui? Anehnya, ke 6 agama resmi tersebut agama impor. Agama dan keyakinan lokal malah seolah jadi tamu di negeri sendiri. Gimana ini?

    Kalo memang betul menghargai perbedaan, ya bebaskan saja orang mau isi apa di KTP. Atau, akui juga semua agama dan keyakinan lokal sebagai bagian dari agama-agama resmi. Atau, hapuskan konsep “agama resmi” dalam arti semua agama berhak eksis secara equal.

    Bagi pemeluk agama yang gak taat-taat amat kayak saya, well kadang kita masih perlu diingatkan. Istilahnya, memang penting untuk berpikir outside the box, tapi kita harus ingat mengapa ada box in the first place. Agama yang tertera di KTP itu semacam box nya. Sekali lagi, identitas. Bayangkan kalo enggak ada, besar kemungkinan kita bakal ‘tersesat jauh di luar kotak itu’, jauh sekali, begitu jauh sampai jadi non-believer.

    Ah, alasan norak. Jika benar begitu, tentu agama (misalnya Islam) sudah mewajibkan konsep identitas agama tertulis di kartu sebagai bagian dari syariat demi menjaga akidah umat.

    Dan lagi, tentu saja lebih praktis bawa KTP yang ada kolom agamanya dibanding bawa surat sertifikasi agama ke mana-mana.

    Surat sertifikasi agama, semacam surat baptis misalnya, tak perlu dibawa ke mana-mana. Untuk apa?

    Sertifikasi agama semacam itu hanya digunakan pada saat-saat tertentu. Misalnya pernikahan. Anda norak sekali argumentasinya. Bergaul yang luas, berpikir yang luas. Pahami bahwa dunia tidak sesempit teks-teks kitab suci. Anda beragama dari orangtua, tak ada yang perlu dianggap sakral.

  24. baiq1999 said, on May 18, 2015 at 7:31 pm

    Reblogged this on baiq1999's Blog and commented:
    Setuju

  25. Noel Kurniawan said, on June 23, 2015 at 10:22 am

    Fungsi kolom agama di KTP adalah untuk diskriminasi agama. Bagaimana caranya pemerintah meng-anak-emas-kan Islam kalau di KTP tidak ada kolom agama? Fakta bahwa dana milyaran dicurahkan ke umat Islam namun tidak ke umat lain jelas menunjukkan kolom agama berfungsi sebagai alat diskriminasi dalam kebijakan publik.

  26. Bayu Angora said, on March 23, 2016 at 7:28 am

    Sayang banget ini blog masih pakai themes yg unresponsive for mobile.

  27. bunda elena said, on March 26, 2016 at 3:42 pm

    saya sendiri bingung mau nanggepin nya kaya gimana, soalnya kalo saya lihat yg komen ujung2 nya saling menyalahkan, padahal kita sendiri belum tentu benar. kalo masalah kolom agama di ktp itu mau di hilangkan atau tidak menurt saya itu tidak jadi masalah, toh yang berurusan nanti kita sama tuhan ko. ngaain juga di ributin.

  28. neng desi said, on March 26, 2016 at 3:44 pm

    saya setuju sama komen di atas ngapain juga dipikirin masalah kolom agama di ktp. urusin aja diri sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: