Sapere aude!

Muslim, Berkacalah dari Peristiwa Tolikara

Posted in Uncategorized by Rinaldi on July 19, 2015
Kerusuhan di Tolikara. Sumber foto: Radio Elshinta

Kerusuhan di Tolikara. Sumber foto: Radio Elshinta

COBA anda bayangkan, di sebuah perkampungan kecil yang mayoritas muslim yang kental dan fanatik, sedang digelar sebuah acara “Tabligh Akbar” yang mengundang ustad “garis keras” terkenal dan berskala cukup besar. Yang kebetulan, acara Tabligh Akbar tersebut bertepatan dengan momen peringatan Natal.

Nah, di kampung tersebut, terdapat juga sejumlah minoritas Kristen yang kebetulan sedang melakukan ibadah dalam rangka peringatan Natal. Kelompok Kristen ini menggunakan sound system yang suaranya cukup kencang, untuk menyanyikan lagu-lagu rohani. Walhasil, gema suara “haleluya.. haleluya..” berkumandang dan bertumpang tindih dengan loud speaker acara Tabligh Akbar.

Dalam kondisi macam itu, coba anda bayangkan, bagaimana reaksi mayoritas muslim yang relatif fanatik tersebut? Wah.. bisa dipastikan, kegiatan kebaktian Natal tersebut akan habis digeruduk massa, diiringi teriakan takbir. Tak tertutup kemungkinan, bangunan gereja pun jadi sasaran pengrusakan oleh massa. Tidak perlu munafik, kita semua mengakui kemungkinan tersebut jika dalam kondisi demikian.

Itulah ilustrasi sederhana mengenai apa yang kurang lebih terjadi di Tolikara. Hanya saja, di Tolikara umat Kristen fanatik yang berada dalam posisi “mayoritas”.

Fanatisme beragama itu akan menghasilkan sesuatu yang sama saja; Dominasi mayoritas, perasaan superior dan paling benar, perasaan egois dan tidak mau kalah. Dan terakhir, sikap minim toleransi.

Itulah sikap yang tercermin dalam organisasi Kristen GIDI (Gereja Injili di Indonesia), yang dalam surat selebaran yang beredar sebelum peristiwa, bahkan melarang aliran Kristen lain non-GIDI untuk sama-sama eksis berkegiatan. Apalagi Islam yang jelas-jelas berbeda agama.

Banyak umat muslim berkomentar “panas” atas peristiwa yang terjadi di Tolikara. Mereka mengutuk keras pelaku “pembakaran masjid”, dan memandang peristiwa tersebut dari perspektif sempit fanatisme agama. Bahkan ada ancaman untuk “jihad” ke Papua segala.

Terus terang, saya geli mendengar sikap muslim yang mudah terbakar semacam itu, khususnya pada kasus Tolikara. Apa mereka tidak sadar, bahwa muslim pun seringkali bersikap serupa terhadap minoritas baik Kristen maupun aliran-aliran lain di Jawa?

Sebut saja, ada segerombol massa Islam membubarkan acara Doa Rosario di sebuah rumah warga di Yogyakarta. Kemudian, ada pula massa Islam yang mengancam acara pemberkatan nikah di Gereja Pentakosta di Jatinangor. Pelarangan pembangunan Gereja Filadelfia serta pembubaran acara kebaktian jemaat tersebut di Bekasi. Penyegelan GKI Yasmin oleh Pemda yang ditekan oleh warga, walau Gereja itu sudah ber-IMB dan sudah memenangkan perkara di Mahkamah Agung. Pengusiran warga minoritas Syiah di Sampang hingga mereka harus mengungsi ke luar kampung mereka. Pembubaran acara diskusi buku Irshad Manji di Salihara dan  LKIS Yogyakarta yang berujung ricuh. Dan masih banyak lagi.

Segerombolan massa Islam juga pernah menuntut penurunan Patung Buddha Amitabha di Wihara Tri Ratna Tanjung Balai, karena patung tersebut dinilai “tidak Islami”.

Belum lagi, kasus bom di Gereja Injil Sepenuh Solo oleh kelompok radikal Islam di tengah-tengah kebaktian beberapa tahun lalu.

Tentu tidak semua muslim setuju dan menjadi bagian dari sejumlah ormas rusuh tersebut. Tetapi, melihat fakta yang demikian, sekurangnya umat muslim harus malu melihat peristiwa Tolikara. Malu, karena pelakunya, yang mereka hujat itu, tidak jauh dari perilaku saudara mereka sendiri; Fanatik, dominan karena merasa mayoritas, egoisme kekelompokan yang tinggi, dan minim toleransi.

Umat muslim di Tolikara sudah merasakan tidak enaknya ibadah dibubarkan paksa oleh amukan massa. Hendaknya ini menjadi pelajaran untuk kita semua, khususnya kaum muslimin, untuk tidak melakukan hal yang sama pada kegiatan ibadah agama lain. []