Sapere aude!

Antara “Setan Gundul” dan “Sapi Berjanggut”

Posted in Commentary, Counter fundamentalism by Rinaldi on May 1, 2013
Ciri umat yang mudah tersinggung, tapi suka menyinggung. Grafis: Oleh saya sendiri.

Ciri umat yang mudah tersinggung, tapi suka menyinggung. Grafis: Oleh saya sendiri.

Author Rinaldi

SAYA kira banyak dari kita telah mendengar media Islam yang cukup sering disebut di dunia maya, Arrahmah.com. Lama saya mencermati media Islam tersebut, dan akhirnya pun cukup paham “cara pikir” mereka.

Tak lain, Arrahmah.com adalah media propaganda Islam garis keras. Fakta-fakta yang disampaikan sangat bias, sepihak dan tidak proporsional. Arrahmah.com tidak pernah saya jadikan referensi berita secara serius, namun sering saya ‘pantau’ untuk sekedar tahu bagaimana alur pikir para fanatik Islam.

Tapi lepas dari soal itu, baru-baru ini saya tertawa geli membaca berita Arrahmah.com, karena judulnya lucu: “Setan gundul Budha Myanmar harus diberi pelajaran setimpal”

Tiba-tiba saya jadi ingat protes kader PKS atas tajuk utama Tempo yang menggunakan istilah “sapi berjanggut” untuk menyindir petinggi PKS yang jadi tersangka korupsi impor daging sapi. Istilah tersebut dinilai kurang elegan dan mendiskreditkan umat Islam.

Dua fenomena tersebut adalah ironi yang lucu. Di satu sisi, umat Muslim dengan lantang menggunakan Istilah yang mendiskreditkan umat agama tertentu. Tapi pada sisi lain, umat Muslim memprotes istilah yang mereka pandang mendiskreditkan mereka.

Bahasa penyajian Tempo, walau menggunakan istilah “sapi berjanggut”, masih jauh lebih elegan dibanding bahasa penyajian Arrahmah.com (bukan kali ini saja) yang lebay, provokatif dan berat sebelah. Pernahkah anda, khususnya umat Muslim, berpikir: Kalau umat Muslim merasa tersinggung dengan istilah yang digunakan Tempo, apalagi umat Buddha? []

Antara keutuhan negeri dan budaya tak jelas <<– Tanggapan kepada surat Sdr. Ririh

Posted in Counter fundamentalism by Rinaldi on January 3, 2009

Pengantar

DI BAWAH ini adalah opini pembaca yang ditulis oleh sdr. Ririh Priyatna Jafar, yang dimuat di detik.com berikut tanggapan saya atas suara pembaca tersebut. Tanggapan  telah dikirim ke email pribadi sdr Ririh, dan telah pula diforward ke beberapa mailinglist untuk didiskusikan.

Jakarta – Beberapa bulan yang lalu kita mendengar isu konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia terkait dengan perebutan lagu Rasa Sayange atau apa yang terjadi di Indonesia mengenai perdebatan yang alot mengenai pengesahan Undang-undang (UU) Anti Pornografi.

Sungguh sangat mengherankan apa yang terjadi terhadap bangsa kita. Dengan alasan memperjuangkan demi rasa nasionalisme dan mempertahankan kebudayaan nasional sampai-sampai hubungan diplomasi Indonesia – Malaysia sempat tegang.

Hal yang sangat-sangat ironi para aktivis liberalisme dan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka dengan dalih demi keutuhan bangsa dan persatuan rakyat serta mempertahankan kebudayaan di Indonesia mereka selalu menolak UU Anti Pornografi dan Pornoaksi serta mengkampanyekan sekulerisme.

Jika kita teliti dengan cermat mereka tidak lain adalah sebagai musuh dalam selimut. Kita ambil contoh dalam kasus Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi. Orang-orang di Irian memakai koteka. Seharusnya mereka bisa menilai mana kebudayaan yang baik dan tidak. Di Irian seharusnya mereka diajarkan bagaimana memakai pakaian yang layak dan sempurna tidak malah telanjang (hanya menutpi kemaluannya saja).

Orang-orang yang memakai kemben seharusnya pula tidak dilestarikan sebab itu merupakan budaya zaman penjajahan yang dahulu mereka tidak memakai pakaian yang layak karena sulit mendapatkannya sehingga mereka memakai pakaian seadanya.

Hal yang lebih gila lagi mengapa mereka yang selalu berdalih demi keutuhan bangsa mereka tidak tergerak untuk menolak upaya asing untuk memecah belah negara kita. Contohnya kasus Timor Timur serta kasus sekarang asing selalu menginginkan lepasnya Aceh dan Papua lepas dengan adanya kelompok-kelompok separatis kemerdekaan serta intervensi negara-negara asing melalu perusahaan perusahaan multinasional seperti Freefort di Papua, Exon Mobil, Cevron, dan lain-lain.

Maka dari itu mari seluruh komponen umat kita harus cermat. Mana orang-orang yang mau bersih memperjuangkan kebenaran dan keutuhan negara Indonesia atau para LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) komprador yang mereka bekerja hanya untuk memenuhi keinginan tuannya, yaitu asing, khususnya AS.

Setelah gagalnya kapitalis dalam mengatasi permasalahan hidup dan tejadinya krisis ekonomi global tidak ada jalan lain kecuali hadirnya sistem Islam sebagai solusi tepat dalam mengatasi krisis multidimensi terkini sampai akhir zaman.

Tidak akan pernah ada yang akan menandingi imperium Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiah yang terkenal kejayaannya yang penuh dengan kesejahteraan sampai-sampai terkenal dari dunia timur sampai Barat. Wallahualam.

Ririh Priyatna Jafar
Jl Abesin Cibogor Bogor
jafar_itk@yahoo.com
085710373769

Tanggapan:

Dear sdr Ririh,

Saya jengkel membaca opini anda di bawah ini, terutama pada kalimat-kalimat yang dibold. Dengan sempitnya, anda menghakimi adat dan norma-norma lain berdasarkan norma yang anda anut. Kalimat-kalimat anda menggambarkan rasa superioritas suatu umat terhadap umat yang lain. Anda tampaknya tidak sadar, bahwa kelompok adat lain jika berpikir secara picik seperti anda, dapat saja memberi penghakiman serupa kepada nilai-nilai yang anda anut berdasarkan nilai-nilai adat yang mereka anut.

Problem mendasar yang anda miliki adalah anda tidak paham yang dimaksud dengan “nilai”, meskipun kata itu anda libatkan dalam kalimat yang anda lontarkan. Nilai bersifat abstrak, ideal, bukan persoalan “benar dan salah” sebagaimana pengertian istilah itu dalam ilmu eksakta. Tidak bersifat absolut dan selalu ada kemungkinan berubah seiring perubahan zaman. Nilai-nilai dalam suatu kelompok sosial hadir berdasarkan kesepakatan bersama, dan mengalir secara alamiah tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak luar. Dengan begitu tercipta suatu penghayatan yang tulus terhadap suatu perilaku.

Keberadaban tidak diukur dari bagaimana bentuk nilai-nilai tetapi dari adanya nilai-nilai. Masyarakat di manapun memiliki nilai-nilai lokalnya masing-masing yang dapat saja berbeda dari kelompok masyarakat yang lain. Tidak ada suatu kelompok masyarakat yang lebih tinggi derajatnya dari kelompok masyarakat yang lain, sehingga mereka bisa memaksakan nilai-nilai yang dianutnya –yang dipandangnya lebih “luhur”- kepada kelompok lain. Sebab jika begitu, tiap kelompok manusia bisa saja memandang nilai-nilai yang dianutnya adalah “luhur”, sakral, dan paling penting.

Koteka adalah pakaian tradisional masyarakat di Papua sana. Dalam komunitas mereka, itu adalah suatu hal yang lumrah meski bagi anda mungkin tidak. Anda tidak bisa menggunakan norma-norma dalam komunitas anda untuk memberi penghakiman kepada orang Papua yang menggunakan Koteka. Kasus ini mirip dengan kebiasaan orang Sunda makan dengan menggunakan tangan. Apakah orang Sunda terima, jika kebiasaan tradisional mereka itu dicap kampungan, jorok, dan primitif oleh kelompok adat lain yang bertradisi makan menggunakan alat? Apakah makan dengan “table manner” ala Eropa lebih tinggi derajatnya daripada makan menggunakan tangan seperti orang Sunda?

Sikap makan yang wajar tentu diatur dalam nilai-nilai lokal komunitas masyarakat, yang dapat saja berbeda dengan komunitas masyarakat yang lain. Jika suatu komunitas masyarakat menganggap nilai-nilai yang dianutnya adalah luhur, maka demikian pula dengan komunitas masyarakat yang lain. Oleh sebab itu dibutuhkan kesadaran akan adanya pluralitas dan relativitas nilai, yang kemudian diikuti dengan sikap-sikap yang egaliter dan toleran.

Wass.

Rinaldi

Tanggapan atas artikel “Derita Muslim Minoritas di India”

Posted in Counter fundamentalism by Rinaldi on December 1, 2008

[Pengantar: Tulisan saya di bawah ini merupakan tanggapan dari artikel di situs HTI yang berjudul “Derita Muslim Minoritas di India”. Terpaksa saya tulis tanggapan saya di blog ini untuk didiskusikan, karena mustahil memberi tanggapan kontra di situs fundamentalis. TIDAK AKAN PERNAH DIMUAT seberapa pun mutunya tulisan kita. Tapi walau bicara asal njeplak, asal idenya senada, maka bisa dimuat.]

Indian Muslim - Ilustrasi.

SAYA geli sekaligus jengkel membaca artikel pada link di atas. Ini adalah propaganda “khas” kaum fundamentalis. Cirinya: selalu memposisikan umat Muslim sebagai umat yang tertindas, sementara yang digambarkan menindas adalah umat non-Muslim. Dari situ, nampak penulis artikel berupaya membangun “sentimen keumatan” sekaligus kebencian terhadap agama lain. Terlihat ada upaya “pengkonfrontasian” pihak yang berkonflik berdasarkan agama.

Penulis artikel lupa (atau memang berpandangan sempit) bahwa konflik-konflik kemanusiaan menimpa banyak orang tak pandang bulu apa agamanya. Bantai membantai, bunuh membunuh, sudah terjadi sejak jaman kuda gigit besi dan terjadi di mana saja tanpa ada kecenderungan “hanya agama tertentu” yang menjadi korban. Baru-baru ini misalnya, biksu-biksu Buddha di Myanmar dibunuh dengan kejam oleh diktator di negara itu karena berdemonstrasi.

Zolim-menzolimi beraneka ragam polanya. Ada Muslim menzolimi non-Muslim (konflik di Darfur), ada Muslim menzolimi Muslim sendiri (perang Irak-Iran/HAMAS vs Fatah), non-Muslim menzolimi Muslim (konflik di Tepi Barat), non-Muslim menzolimi non-Muslim (pembantaian Bhiksu-bhiksu di Myanmar), dan seterusnya. Jadi tidak bisa dilihat secara sempit seolah hanya Muslim yang kerap jadi korban non-Muslim. Bahkan melibatkan “muslim” (atau penganut agama apapun) di sini secara akal sehat tidak relevan, karena penzoliman adalah penzoliman. Tak ada urusan jenis teologi apa yang dianut oleh terzolim maupun penzolim.

Propaganda “khas” seperti ini cenderung bersimpati terhadap konflik kemanusiaan jika kebetulan kaum Muslimin yang menjadi korban atas kezoliman umat non-Muslim. Ketika Muslim membantai saudaranya sendiri seperti perang saudara di Somalia atau perang Irak-Iran (yang menewaskan jutaan orang), atau invasi Irak ke Kuwait, atau penyiksaan lawan-lawan politik Saddam Hussein di Abu Ghraib, dan seterusnya, semangat protes mereka tidak sekeras ini. Apalagi ketika kaum Muslim membantai non-Muslim seperti konflik kemanusiaan yang terjadi di Darfur. Tetapi ketika ada puluhan Muslim tewas di Thailand selatan oleh kekejaman tentara setempat, maka semangatlah mereka bersuara untuk berjihad.

Sudah saatnya masyarakat berpikir secara luas, modern, dan rasional dengan memandang tragedi kemanusiaan sebagai tragedi kemanusiaan, sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan, bukan sebagai “konflik” antar agama tertentu dengan agama tertentu.

Subjektifitas dan “superioritas” keumatan juga sangat terlihat pada beberapa paragraf tulisan tersebut. Misalnya saja pada kalimat:

“Kehadiran Islam berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan orang-orang Hindu yang musyrik dan jahiliah. Pada era Islam, terdapat kebangkitan berbagai aspek kehidupan, ekonomi, pendidikan, politik, dan lainnya.”

Orang-orang Hindu “musyrik” dan “jahiliyah”? Wah, penulis agaknya kurang pengetahuan atau sengaja membodohi pembacanya dengan penghakiman asal bunyi.

Hinduisme itu agama tua, agama peradaban. Sejarahnya sudah ada sejak 5000 tahun SM. Hasil-hasil peradaban kunonya bisa dilihat dari penemuan kota tua Mohenjo Daro dan Harappa, kota tua yang membuat kagum para ilmuwan karena kota setua itu memiliki tata irigasi yang sangat modern untuk ukuran zamannya. Masyarakat India pada umumnya telah mencapai masa keemasannya jauh sebelum Islam lahir di jazirah Arab. Kitab Hindu disebut “Veda”, berasal dari kata “Vid” yang artinya “pengetahuan”.

Dari segi religi dan spiritual, perlu penulis ketahui, bahkan konsep “wihdatul wujud” yang seringkali dicetuskan para Sufi Islam, telah lebih dulu ada dalam agama Hindu. Silakan penulis baca kitab Upanishad, atau bacalah artikel tentang itu. Bagaimana mungkin penulis menghakimi bahwa Hinduisme adalah agama musyrik? Atau penulis memang belum tahu hal ihwal Hinduisme secara mendalam? Atau sengaja mendistorsi Hinduisme agar tampak “musyrik” hingga audiencenya tak tertarik mempelajarinya?

Demikian juga proses kelahiran agama Buddha pada 500 SM, merupakan wujud kemajuan intelektual dan spiritual masyarakat India pada waktu itu. Agama yang lahir lebih kurang 1000 tahun sebelum Islam tersebut ajarannya bersifat rasional dan banyak menginspirasi ilmuwan modern. Pandangan Siddharta mengenai konsepsi jiwa misalnya, paralel dengan pandangan filsuf Skotlandia yang lahir ratusan tahun kemudian, David Hume. Hingga 2500 tahun setelah kelahirannya, agama Buddha masih relevan dan banyak dipelajari serta dikagumi sarjana-sarjana barat, khususnya yang mempelajari agama-agama dan kebijakan timur.

Dan atas semua itu, penulis mengatakan masyarakat India pra-Islam adalah masyarakat jahiliyah? []

“Cyber Dakwah” dan Mentalitas Umat

Posted in Counter fundamentalism, Discourse by Rinaldi on August 11, 2008

Islamic facist.

Oleh Rinaldi

PERKEMBANGAN teknologi informasi yang makin menggiat selama dua dasawarsa terakhir, telah menciptakan perubahan pada banyak hal. Berbagai kalangan berlomba-lomba memanfaatkan teknologi canggih untuk berdakwah dan menyebarkan informasi. Ratusan juta manusia di seluruh dunia mengakses internet setiap harinya, dan jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Batas-batas negara pun memudar. Kini, tiap-tiap orang dapat bercakap-cakap face to face dengan orang lain di belahan dunia mana pun dengan biaya yang sangat murah, hanya sebesar biasa akses internet. Milyaran website yang menyediakan bermacam informasi eksis di dunia maya. Piringan DVD yang begitu ringkas dan berkapasitas relatif besar juga menjadi salah satu media yang memiliki andil besar dalam penyebaran informasi di era modern, melalui isinya yang dapat berupa sekedar data digital maupun gambar bergerak.

Fenomena ini rupanya menjadi perhatian beberapa kalangan Muslim seperti Farid Ma’ruf, seorang praktisi CyberDakwah yang berupaya menggiatkan dakwah Islam melalui penguasaan teknologi informasi. Melalui teknologi informasi, dakwah Islam diharapkan dapat menjangkau pelosok-pelosok bumi dengan cepat, dan diakses dengan mudah oleh khayalak luas. Media-media dakwah modern, menurut Farid, dapat berupa website yang menyajikan aneka informasi Islam. Kemudian dapat berupa film, digital library, dan software Islami. Media-media yang begitu menjamur sekarang ini, diharapkan berbagai kalangan Muslim dapat membantu memperkenalkan Islam ke segenap penjuru dunia, dan menepis pemikiran-pemikiran sekuler-liberal yang datang dari barat.

******

Namun sebenarnya, urgensi umat Islam secara mendasar bukanlah penguasaan teknologi informasi canggih sebagai media dakwah. Melainkan suatu perubahan paradigma berpikir besar-besaran, terutama mengenai cara memandang diri sendiri (Muslimin), ajaran Islam, dan kelompok lain yang dianggap kafir. Adalah menggelikan, ketika teknologi informasi canggih dikuasai kaum Muslimin, tetapi mentalitas keagamaan masih “mandeg” di abad kegelapan, dengan ajaran menghukum mati orang murtad, memingit wanita di rumah, memfatwa mati dan membunuh intelektual progresif Islam, anti kebebasan berpikir dan berpendapat, monopoli tafsir agama, dan kebijakan apartheid pemerintah Islam yang memisahkan antara “Muslim” dan “non-Muslim” (dhimmi).

Peradaban modern tidak dimotori oleh penguasaan teknologi canggih. Melainkan oleh mindset atau tata pikir. Secara mendasar, peradaban modern adalah peradaban yang menyadari keniscayaan pluralitas masyarakat manusia. Kesadaran ini diwujudkan oleh kesudian untuk hidup berdampingan bersama kelompok lain dengan semangat kesetaraan derajat manusia (egaliter), bukan hidup berdampingan namun dengan “semangat keumatan” (Islamisme) yang eksklusif dan rasa superior yang seringkali menimbulkan sikap-sikap tidak fair terhadap kelompok minoritas (non-Muslim). Atas dasar itu, maka peradaban modern pertama-tama membutuhkan suatu ideologi yang mampu mengakomodir pluralitas masyarakat, yang didasari dari kesadaran dan pengakuan atas kesetaraan derajat manusia (egality), bukan “hukum tuhan” dalam penafsiran sedemikian rupa yang cenderung mewakili umat tertentu saja.

Umat Muslim harus sadar, bahwa musuh sebenarnya bukanlah “barat” (yang secara sempit selalu diidentikkan dengan Kristen). Namun kebodohan, kemiskinan, jumudisme dan ekstrimisme beragama, dan terutama penyakit hati seperti iri dengki dan perasaan superior terhadap kelompok lain. Penyakit ini ada di mana-mana, baik pada masyarakat barat, maupun pada masyarakat Muslim sendiri, juga masyarakat di mana pun. Tetapi nampaknya kesibukan memerangi pemikiran barat, telah membuat umat Muslim lupa untuk memerangi pemikiran-pemikiran tidak sehat yang ada di dalam tubuh umat Muslim sendiri, sehingga tanpa sadar “penyakit pikiran” ini menjadi berkembang dan tentu saja menghambat progresifitas umat. Ingat, yang punya “sampah peradaban” tidak hanya barat saja dengan pornografi, ATM kondom, sex toys, dan narkobanya. Kaum Muslimin pun memiliki “sampah peradaban” yang tentu bahaya kalau bisa diakses lewat media dakwah modern; yaitu terorisme, eksklusifisme, dan jumudisme berkedok agama. Jangan lupa, banyak teroris lokal kita mempelajari “sampah” itu juga dari media-media dakwah modern.

******

Dakwah Islami melalui kecanggihan teknologi media informasi, jika tidak dilandasi mindset yang sehat dan fair, hasilnya adalah dakwah-dakwah bernada tendensius, semangat menyalahkan kelompok lain dan mengagungkan kelompok sendiri, dengan “musuh utama” pihak barat. Belum lagi adanya “kepentingan ideologis” di kalangan pendakwah yang berpotensi memicu ketimpangan informasi dan rasa alergi terhadap kritik, sehingga umat Muslim maupun audience umum mendapatkan informasi yang tidak proporsional dan semestinya dari para pendakwah Islam.

Syukur jika kebetulan rezim pemerintah yang menaungi pendakwah tersebut adalah rezim yang egaliter, bebas dan demokratis, ketimpangan informasi itu masih dapat diimbangi oleh media-media publikasi lain. Kekeliruan-kekeliruan informasi dan dakwah otomatis dapat bebas dikritik secara elegan. Namun, bagaimana jika rezim yang menaunginya adalah rezim Islam totaliter yang anti kebebasan pers, atau “rezim lembek” seperti pemerintah NKRI yang takut bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok beringas? Tentu pandangan-pandangan atau opini-opini kritis terhadap Islam akan mudah diberangus. Pencetusnya difatwa mati, atau minimal dikafirkan. Kelompok-kelompok dakwah yang menjadi “kompetitor” dibungkam, diserbu, atau minimal dibatasi aktivitas dakwahnya.

Di Indonesia, indikasi ke arah ini sudah terlihat meski mungkin tidak separah di rezim-rezim Islam di timur tengah. Dakwah-dakwah Islam garis keras melalui majalah, bebas beredar di kaki-kaki lima. Kritik-kritik teologis terhadap agama lain, bebas beredar di toko buku umum. Tidak jarang memuat judul provokatif yang menyinggung SARA, tanpa memikirkan perasaan umat agama lain yang ada di sana. Syukur kalau masyarakatnya relatif egaliter dan liberal, dakwah-dakwah tandingan dapat bersanding sejajar. Namun karena kondisi masyarakat kita yang sedemikian rupa, dakwah “panas” di kalangan umat agama lain sementara ini hanya dapat beredar terbatas pada kalangan sendiri. Bayangkan, jika “buku-buku panas” yang mengkritik Islam beredar bebas di toko-toko buku umum, bukan mustahil akan ada kelompok yang protes dan menuduhnya sebagai “penistaan agama”.

Jadi, sikap-sikap moderat, semangat liberal dan egaliter, mutlak menjadi dasar yang harus diterapkan sebelum memulai aktivitas dakwah dan penyebaran informasi melalui media-media modern yang ada. Sikap-sikap tersebut memastikan adanya kebebasan dan fairness di sesama “pendakwah”, baik pendakwah dari kalangan Muslim maupun kalangan non-Muslim. Adanya kebebasan dan fairness juga melindungi hak publik untuk mendapatkan infomasi yang benar dan proporsional. Kesadaran akan perlunya sikap-sikap tersebut di atas sudah sewajarnya dimulai dari bawah, untuk kemudian secara otomatis membentuk suatu “pemerintahan oleh rakyat” yang demokratis. []

Catatan: Mulanya ditulis untuk menanggapi artikel sdr. Farid Ma’ruf, kemudian dilengkapi untuk jadi karangan tersendiri. Diupload untuk mailinglist parapemikir@yahoogroups.com

Buku “Beriman Tanpa Rasa Takut”; Irshad Manji, Mimpi Buruk Bagi Osama bin Laden

Posted in Counter fundamentalism, Review by Rinaldi on August 10, 2008
Cover buku

Cover buku "Beriman Tanpa Rasa Takut".

Oleh Rinaldi

BERANI dan inspiratif, itu kesan pertama yang muncul setelah membaca buku ini.

Irshad Manji menuai banyak kecaman dari kelompok-kelompok konservatif-radikal. Ia sering mendapat ancaman pembunuhan karena pemikirannya yang dinilai terlampau progresif. Nasibnya hampir sama dengan Ayaan Hirsi Ali. Namun lebih beruntung dari Faraj Fouda karena ia tinggal di Kanada yang bebas, bukan Mesir. Atas segala tulisannya, Irshad dijuluki sebagai “mimpi buruk bagi Osama bin Laden”. Dan Irshad menganggap itu sebagai pujian.

Dalam buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, yang berjudul asli “Faith Without Fear: A Challenge to Islam Today”, Irshad menyeru dunia Islam saat ini untuk kembali menghidupkan tradisi ijtihad dan kebebasan berpikir. Dia menolak tafsir-tafsir literal yang dimonopoli oleh segolongan Mullah atau kelompok ulama tertentu. Irshad mengingatkan kaum Muslim bahwa zaman keemasan Islam pada abad pertengahan adalah zaman di mana ijtihad dan kebebasan berpikir sangat dihargai. Ibnu Rusyd, ilmuwan Muslim terkemuka, telah mengajukan konsep kesetaraan gender. Ibnu Khaldun mengajukan teori evolusi biologi. Jalaludin Rumi banyak menulis syair-syair yang pluralistis. Dan Ibnu Sina, ilmuwan besar yang sering dibangga-banggakan kaum Muslimin, adalah seorang penganut Mu’tazilah, -paham yang mengutamakan rasionalisasi ajaran agama- yang kini dianggap sesat. Kejayaan Islam justru diredupkan kemudian oleh ulama-ulama konservatif seperti para ulama Ottoman yang melarang observatorium dan percetakan buku.

 

Irshad Manji.

Dalam bukunya, Irshad Manji juga menceritakan pengalaman masa kecilnya yang kurang menyenangkan pada sebuah Madrasah di Richmond, Kanada. Madrasah  dalam sebuah komunitas yang bebas, namun lebih memilih otokrasi dan dipimpin oleh seorang guru agama yang kolot. Posisi perempuan seringkali tidak beruntung pada beberapa bentuk pemahaman Islam, bahkan di negara yang bebas sekali pun. Irshad adalah salah satu korbannya. Irshad memang tidak seekstrim Hirsi Ali yang kemudian memilih meninggalkan Islam. Dia tetaplah “A faithfull Muslim”, sebagaimana dinyatakan pada halaman pertama bukunya. Namun sebagai Muslimah, langkahnya sangat berani. Irshad dengan lantang menentang kekejaman, kekerasan, dan diskriminasi atas nama Allah.

Secara esensial, “ijtihad” adalah penting, tidak hanya bagi Muslim namun  bagi setiap penganut agama yang berakal dan berjiwa progresif. Islam mengajarkan, jika pun salah, sebuah upaya ijtihad akan mendapatkan 1 pahala. Dan jika benar, dapat 2. Ini adalah indikasi bahwa agama menghargai upaya untuk berpikir maju.

Bukunya telah terbit di 30 negara dalam berbagai bahasa. Tidak sedikit kelompok konservatif yang menentang penerbitannya. Namun, Irshad berharap banyak pada Muslim di Indonesia yang dinilainya lebih potensial progresif daripada Muslim di timur-tengah. Irshad bahkan pernah menyeru dunia barat untuk melihat Islam di Indonesia yang cenderung lebih “ramah”, dan tidak melulu pada timur-tengah.

Akhir kata, buku ini bagus untuk semua orang yang menginginkan progresifitas dalam kehidupan beragama, sekaligus menjadi pecut dan “mimpi buruk” bagi mereka yang konservatif. []

PS: Buku diterbitkan oleh NUN Publisher, dan sudah tersedia di toko-toko buku di Indonesia.

 

Tagged with:

Sulitnya berinteraksi dengan kelompok fundamentalis

Posted in Counter fundamentalism by Rinaldi on August 9, 2008

Oleh Rinaldi

“If a secular law failed, then blame the law. When Islamic law fails, blame the stupid human behind the law who cannot carry out Divine Will. I certainly disagree with these propositions; however, this is what some Indonesian Muslims believe.” (Arif Maftuhin, Dosen UIN Jogja)

 

Kelompok bebal di Indonesia.

TANPA bermaksud menggeneralisir, tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman nyata penulis berdiskusi via mailinglist dan forum diskusi onlineclash of civilization, Daulah Islamiyah, HAM, demokrasi, kemanusiaan, dan sebagainya yang dikaitkan dengan kondisi aktual. dengan kelompok fundamentalis sekian lama. Topik-topik yang dibicarakan umumnya seputar

Salah satu sisi manusiawi yang tumpul pada rata-rata kelompok fundamentalis adalah kemampuan berdialog secara sportif dan logis dengan kelompok yang berseberangan paham dengan mereka. Sebagai contoh, dalam berdiskusi dan beradu opini di mailinglist, postingan-postingan mereka pada umumnya selalu menjengkelkan, karena hampir tanpa elaborasi rasional. Mereka juga cenderung emosional dan suka mengobral penghakiman teologis; seperti “sesat”, “kafir”, “iblis”, “laknatullah”, dan sebagainya. Juga paling suka mengobral theological advice, seperti “bertobatlah”, dan sebagainya ketimbang elaborasi rasional atas ide-ide mereka. Pada beberapa kasus, kekerasan verbal yang mengarah pada vandalisme dan anarkisme kerap kali dikumandangkan; seperti “bakar”, “bunuh”, “hancurkan”, dan sebagainya. Silakan search di Youtube dengan kata kunci Sobri Lubis, anda akan menemukan khotbah beliau yang terang-terangan memerintahkan “bunuh” terhadap setiap pengikut Ahmadiyah.

Apa sih yang membuat mereka begitu? Jelas ini soal kepercayaan, “theological believe”. Tapi, banyak orang beriman dan beragama tidak seperti mereka. Lantas, di mana bedanya? Bedanya adalah pada dosis. Banyak orang minum obat dan sembuh, karena mereka minum pada dosis yang tepat. Sementara banyak orang lainnya alergi, mual-mual, bahkan meninggal. Atau banyak juga yang setelah diminum, tidak ada reaksi apa-apa, padahal merknya sama. Itu karena mereka tidak meminumnya sesuai dosis yang tepat. Ada yang over dosis, dan ada yang “under dosis”. Dalam perspektif Buddhis, “dosis yang tepat” adalah “jalan tengah”, sesuatu yang tidak kurang dan tidak lebih. Ini “rumus universal” meraih keharmonisan. Inilah yang tidak dipahami oleh kelompok fundamentalis-radikal, mereka memilih “meminum agama” beberapa kali lipat dari dosis yang aman, dan mereka pikir itu baik. Hasilnya? Ekstrimisme.

Bila dicermati, rata-rata kelompok fundamentalis memiliki pola pikir yang “khas”. Ini terlihat dalam berbagai pernyataan yang dilontarkannya, dan khususnya dalam berdiskusi. Adapun kekhasan pola pikir itu akan dijelaskan dalam point-point berikut:

1. Dalam mengelaborasi ide-idenya, mereka tidak menggunakan rational appeal, tetapi “kepercayaan” (theological believe). Ini melahirkan sikap-sikap apriori terhadap ide-ide lain. Mereka bisa menolak sebuah ide hanya karena ide itu “tidak diajarkan agama mereka”, alih-alih melontarkan argumen/bantahan rasional. (Dalam adu argumen, melibatkan unsur theological believe adalah sebuah fallacy, karena itu bersifat subjektif dan tidak terukur). Contoh faktual adalah pada perdebatan mengenai Ahmadiyah beberapa waktu lalu.

2. Selalu menyalahkan pihak luar, dalam hal ini adalah barat, khususnya Amerika dan Yahudi, untuk semua keterpurukan yang dialami Muslimin. Jarang mereka introspeksi diri dan melihat ke dalam serta memberi otokritik. (Otokritik sering dilakukan kelompok progresif seperti JIL, namun hampir tidak pernah dilakukan kelompok radikal. Ketidakmauan memberi otokritik telah dikritik oleh Irshad Manji, penulis Muslim yang menulis buku “Beriman Tanpa Rasa Takut”).

3. Sempit. Seringkali memaknai kata “jihad” sebagai “perang fisik” terhadap orang kafir yang memusuhi Muslimin (liciknya, istilah itu tidak dipakai untuk kasus di mana umat Muslim membantai saudaranya di Sudan dan Somalia. Baca tulisan saya.). “Jihad” artinya berjuang di jalan Allah, banyak cara dan luas maknanya. Sementara padanan kata “perang” dalam bahasa Arab adalah Qital. Membantu korban banjir, kampanye anti korupsi, rehabilitasi pecandu narkoba, bagi mereka bukan “jihad”. Tapi membunuh orang kafir yang memerangi Muslimin, adalah jihad.

4. Cenderung memahami ajaran agama secara tekstual, dan bukan kontekstual.

5. Rasa kemanusiaan yang cenderung terbatas khususnya pada “saudara seiman” yang dibantai kaum kafir saja. Dalam kasus Muslimin terbunuh di Palestina oleh tentara Israel, mereka berang. Tapi puluhan biksu-biksu dibantai di Myanmar, mereka diam saja. Perang Irak-Iran (antara Sunni-Syiah) sepanjang 80-an menelan jutaan Muslim, terutama warga sipil, karena “sesama Muslim”, mereka kurang bereaksi. Dan entah sudah berapa juta orang tewas di Sudan akibat perang saudara \ yang sudah berlangsung bertahun-tahun, tak ada reaksi berarti dari kelompok Islam keras. Oleh karena itu, menurut Prof. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, boleh jadi korban jiwa akibat perang saudara sesama Muslim sepanjang abad di timur-tengah dan Afrika sebenarnya jauh lebih banyak daripada korban jiwa Muslim akibat perang dengan “kaum kafir”, yaitu AS dan Israel.

6. Keyakinan yang berlebihan terhadap agama sehingga memunculkan sikap arogan, paling benar, paling mulia, superior, dan merasa berhak menguasai dunia. Inilah sebab mereka tidak suka ide kesetaraan derajat (egality), karena arogansi dan rasa paling mulia di antara umat lain. Bila mereka mayoritas, mereka berniat memaksakan “aturan agama” ke ruang publik. Bila minoritas, mereka berniat memisahkan diri seperti terjadi di India, Thailand selatan, dan Filipina. Atau paling halus, sebentuk “otonomi khusus”. Umat lain dipandang sebagai “musuh” yang inferior sebelum mereka tunduk di bawah ideologi Islam dan berstatus “dhimmi”.

7. Anti kritik, dan oleh karenanya mereka juga anti kebebasan berpendapat. Karena mereka merasa sebagai “wakil dari sebuah agama yang mulia”, maka kritik terhadap kebijakan mereka dianggap kritik terhadap agama. Dan kritik terhadap agama seringkali dipandang sebagai penistaan agama. Tapi, karena mereka merasa berada dalam keyakinan yang paling benar, maka kritik mereka terhadap agama lain tidak dipandang sebagai penistaan agama, melainkan “syiar kebenaran” yang tidak boleh diganggu gugat. Barangsiapa yang mempersoalkan kekritisan mereka terhadap agama lain, dianggap menggugat syiar kebenaran.

8. Selalu memposisikan umat Muslim sebagai “umat yang tertindas” dalam peradaban dunia. Dan yang menindas itu digambarkan adalah orang kafir. Modus “umat tertindas” ini adalah propaganda klasik yang juga digunakan orang Yahudi sebagai justifikasi mereka membangun negara Israel. Modus ini “enak digunakan” karena bersifat sentimentil dan sangat provokatif, membangkitkan rasa persatuan dan semangat perlawanan terhadap yang menindas karena perasaan “tertindas” itu.

9. Pada level kroco di internet, mereka lebih suka copy-paste artikel yang sepaham daripada menulis opininya sendiri untuk mengisi blognya, atau dikirimnya ke sebuah mailinglist.

10. Provokasi dengan mengutip fakta di luar konteks. Terutama fakta yang disajikan dalam foto. Mereka tidak menuliskan caption foto sesuai standar jurnalistik (5W +1H) melainkan kata-kata provokatif, seperti: “lihatlah apa yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin” yang disematkan pada gambar Masjid yang luluh lantak akibat perang, atau foto korban-korban Muslim yang tewas, atau penyiksaan tawanan Muslim. Kalau caranya begitu, lawan mereka dengan mudah dapat melakukan hal yang sama, contohnya film “Fitna” yang dibuat Geert Wilders. Tapi mereka menghujat Wilders karena perbuatannya.

Demikian pola pikir “khas” kaum fundamentalis berdasarkan pengalaman nyata penulis berdiskusi. []

Tagged with: