Sapere aude!

Amerika Serikat: Antara Dibenci dan Dicinta

Posted in Commentary, Discourse, Middle east by Rinaldi on September 8, 2013

Author: Rinaldi

Hidayat Nur Wahid memimpin demonstrasi. Foto: Antara/ Ujang Zaelani

Hidayat Nur Wahid memimpin demonstrasi. Foto: Antara/ Ujang Zaelani

PASCA peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center di New York pada 2001, Amerika Serikat menginvasi Afghanistan dan disusul Irak pada 2003. Saat itu, banyak masyarakat memprotes, khususnya umat Islam. Di Indonesia, berbagai elemen umat Islam ramai berdemo mengutuk AS. Mereka menuduh invasi AS ke Afghanistan dan Irak melanggar kedaulatan sebuah negara dan banyak menyebabkan korban sipil. Seruan “jihad” pun berkumandang.

Di mata AS, “Islam” adalah agama kekerasan, penuh teror dan kebencian. Berkaitan dengan itu, AS mengumandangkan perang melawan teroris-teroris yang kala itu teridentifikasi sebagai “muslim”.

Sebaliknya, sejak saat itu pula umat Islam memandang Amerika Serikat sebagai “setan besar”, “kafir laknat” dan musuh umat Islam. Amerika tukang ikut campur urusan negara lain, dajjal, berstandar ganda mengenai penegakan HAM, dan lain sebagainya. Pokoknya, Amerika Serikat dipandang sebagai benar-benar musuh Islam.

Dulu, Ahmadinejad vokal sekali menentang Amerika. Beliau terkenal dengan kalimatnya, “Amerika setan besar”. Muslim-muslim Indonesia banyak mengagumi Ahmadinejad yang dicitrakan sederhana. Foto-fotonya pakai kemeja sobek populer di jagat maya. Umat Islam Indonesia juga cenderung mendukung Hizbullah waktu berperang lawan Israel pada 2006.

Padahal, baik Ahmadinejad dan Hizbullah adalah Syiah, sekte Islam yang sekarang ramai disesat-sesatkan. Di Indonesia, topik kesesatan Syiah populer seiring peristiwa pengusiran warga Syiah di Sampang, Madura. Dalam pandangan Sunni-fanatik, Syiah bukan Islam.

Sekarang, Amerika berencana menyerang Suriah, menyerang rezim Assad yang Syiah. Momen yang pas, di mana Sunni Indonesia sedang panas-panasnya terbakar dengan topik kesesatan Syiah. Kebijakan Amerika ini didukung oleh negara-negara Arab-Sunni, yang bahkan menawarkan bantuan jika Amerika mau menyerang Suriah. Tidak hanya negara-negara Arab, malah wasekjen PKS, partai Islam yang berpandangan konservatif, baru-baru ini juga menyatakan dukungannya atas serangan Amerika ke Suriah.

Alasan wasekjen PKS mendukung AS, adalah karena rezim Assad telah berlaku zalim dengan menggunakan senjata kimia dalam melawan oposisi. Sebuah alasan yang kurang lebih sama bobotnya dengan alasan AS waktu menyerang Afghanistan dan Irak beberapa tahun lalu.

Melihat dukungan negara-negara Arab dan wasekjen PKS terhadap invasi Amerika Serikat ke Suriah, saya menilai betapa munafiknya muslim-muslim macam mereka itu. Atas nama Islam, Amerika Serikat mereka kafir-kafirkan, mereka setan-setankan, mereka anggap “musuh Islam”, bahkan lantang terdengar seruan boykot produk-produk Amerika –yang tidak pernah kelihatan implementasinya itu. Tetapi demi urusan membantai Syiah, sebuah sekte Islam yang mereka benci, atas nama Islam pula mereka mendukung “setan besar” –meminjam istilahnya Ahmadinejad–  untuk melakukan agresi militer ke Suriah, yang tentu saja akan menimbulkan korban sipil/collateral damage seperti di Irak.

Dulu, ramai umat Islam menuduh Amerika Serikat melakukan standar ganda terkait kebijakannya terhadap timur tengah. Tanpa sadar, umat muslim pun kerap kali melakukan standar ganda. Omong-kosonglah kalau mereka bicara kemanusiaan. Mereka hanya membela kepentingan sektarian mereka sendiri. []

Advertisements

Pemelintiran fakta pada peta “Palestinian land loss”

Posted in Middle east by Rinaldi on June 23, 2012

Author: Rinaldi

Peta “Palestinian land loss” yang memelintir fakta. Peta ini beredar dari blog ke blog, dan seringkali dipercaya buta oleh para pembela Palestina.

PETA ini sudah sering saya lihat dan sepertinya sering disalin dari blog ke blog. Jika anda teliti, anda akan menemukan sejumlah fakta yang diplintir untuk mengecoh opini publik. Anda tidak perlu studi literatur ke perpustakaan-perpustakaan besar untuk mengetahui fakta-fakta apa saja yang diplintir, karena itu merupakan fakta-fakta yang umum saja. Jika anda cukup memiliki wawasan terkait sejarah dan konflik ini, anda akan bisa menemukannya.  Nah,  apa saja fakta-fakta yang diplintir? Baca penjelasan saya berikut ini.

Sekedar catatan, peta pertama (1946) adalah peta Palestina dalam mandat Inggris, bukan peta “negara Palestina”, bukan pula peta Palestinian Authority yang dibicarakan sekarang ini.  Penamaan pembagian wilayah menjadi “Jewish land” dan “Palestinian land” merupakan pemelintiran fakta yang dapat mengecoh opini publik.  Perseteruannya di sini adalah antara “Jewish Palestine” dengan “Arab Palestine”, antara “Palestina Yahudi” dan “Palestina Arab”. Bukan antara “orang Yahudi” dan “orang Palestina.” Karena di wilayah yang dalam konteks peta itu disebut “palestina”, terdapat penduduk Yahudi dan Arab, yang secara umum disebut “palestinian”.

Berikut penjelasan saya terhadap peta tersebut satu-per-satu:

Peta 1946: Warna putih dan hijau menunjukkan komposisi demografi/pemukiman penduduk, bukan batas negara atau batas politik-administratif. Warna putih adalah wilayah yang ditinggali etnik Yahudi, dan yang hijau adalah wilayah yang ditinggali etnik Arab. Ada catatan kecil di sini, bahwa dalam peta tersebut Gurun Negev diwarnai hijau. Hal ini dapat mengecoh opini publik (dan sepertinya tujuannya memang itu) bahwa Gurun Negev “dihuni etnik Arab”. Padahal, itu gurun gersang yang relatif tak berpenghuni. Gurun Negev diwarnai hijau agar “penduduk Arab” terkesan besar, sehingga daerah putih akan tampak begitu kecil. Ini salah satu pemelintiran fakta yang saya tuduhkan sebelumnya.

Peta 1947: Berbeda dengan peta sebelumnya, warna putih dan hijau di sini adalah batas  yang diproposalkan oleh PBB 1947, bukan komposisi demografi. Di dalam wilayah berwarna putih, tetap saja ada penduduk Arab, tapi mayoritasnya Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab, sumber: Jewishvirtuallibrary. Baca juga: Abbas faults Arab refusal of 1947 U.N. Palestine plan).

Perhatikan kembali dengan seksama peta 1947, dan lupakan warna yang dapat dan memang sengaja dibuat untuk mengecoh opini publik. Silakan anda bandingkan border 1947 dengan peta sebelumnya 1946. Akan terlihat bahwa di dalam wilayah yang berwarna putih akan didominasi oleh Yahudi, dengan perbandingan 538 ribu Yahudi berbanding 397 Arab. Cukup logis.

Peta 1949 – 1967: Adalah perubahan batas negara/batas politik-administratif yang diakibatkan oleh perang 1948. Warna putih adalah borderIsrael yang baru (bukan menunjukkan komposisi demografi), karena memenangkan perang 1948.

Dalam peristiwa ini terjadi pengungsi besar-besaran penduduk Arab-Palestina yang sebelumnya tinggal di dalam border Israelversi partisi 1947, ke luar Israel. Sehingga menyebabkan komposisi demografi berubah. Posisi pengungsi Arab-Palestina (yang seandainya tidak terjadi perang akan menjadi WN Israel) yang terusir keluar karena perang, diisi oleh pengungsi Yahudi yang juga terusir keluar dari negara-negara Arab. Komposisi demografi berubah, batas negara pun berubah. (Lihat artikel saya tentang Nakbah)

Dalam peta ini, terdapat lagi-lagi pemelintiran fakta. Wilayah hijau pada gambar tersebut tetap ditulis “Palestinian land”, padahal jelas, dalam konteks tahun tersebut wilayah yang hijau bukan “Palestine”, tapi Yordania (Tepi Barat) dan Mesir (Gaza). Selepas perang 1948 terjadi perubahan wilayah yang cukup signifikan, berbeda jauh dari wilayah yang diproposalkan PBB tahun 1947. Wilayah Israel meluas, demikian juga wilayah Mesir dan Yordania. Israel, Mesir dan Yordania mencaplok wilayah Arab-Palestina yang diproposalkan oleh PBB 1947.

Sebelum masuk ke bagian peta selanjutnya, ada perlunya saya terangkan peristiwa yang terjadi di antara peta 1949-1967 dan peta 2000.

Tahun 1967 terjadi lagi perang besar antara koalisi Arab dan Israel. Lagi-lagi dimenangkan Israel. Tepi barat yang sebelumnya bagian dari Yordania, direbut Israel. Gaza yang sebelumnya bagian dari Mesir, juga direbut Israel. Adapun wilayah-wilayah lain yang direbut Israel pada perang 1967 adalah Sinai (Mesir) dan Dataran Tinggi Golan (Syria). Akhir 1970 Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir dalam perjanjian damai di Camp David.

Setidaknya sejak 1967, di wilayah ex-Jordan dan ex-Mesir yang diduduki Israel, terjadi gerakan yang berlandaskan “nasionalisme palestina” yang memiliki tujuan “merdeka dari Israel”. Singkat cerita, pada 1993 Israel mengadakan perjanjian damai di Oslo dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pihak Israel waktu itu dipimpin PM Yitzak Rabin, dan pihak PLO oleh Yasser Arafat. Adapun yang berfungsi sebagai penengah waktu itu adalah Presiden AS Bill Clinton. Hasil perjanjian itu adalah Israel sepakat memberikan semacam otonomi khusus pada masyarakat di Tepi Barat dan Gaza yang dipimpin oleh Yasser Arafat.

Pada bulan September tahun 2005, terjadi perkembangan yang cukup signifikan dalam konflik ini, yaitu bahwa Israel mundur total dari Gaza. Artinya, semua tentara dan pemukiman Yahudi ditarik mundur keluar dari wilayah Gaza.  Praktis, sejak itu Gaza merdeka. Wilayah Otoritas Palestina meluas.

Peta tahun 2000: Yang hijau menunjukkan wilayah Otoritas Nasional Palestina yang ditetapkan dalam Oslo Accord 2003 (berlokasi di tepi barat exJordan dan Gaza ex-Mesir). Tepi Barat diambil Israel bukan dari “palestina”, tapi dari King Hussein, Raja Yordania pada tahun 1967. Gaza diambil Israel dari Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir, dalam tahun yang sama.

So, mana “palestina” yang diambil Israel? Tidak ada! Peta tersebut dapat menyesatkan opini publik awam karena merancukan antara demografi dengan batas negara.

Gambar 1 adalah komposisi demografi antara penduduk Arab dan Yahudi (bukan antara penduduk Palestina dan Yahudi). Sedangkan gambar 2, 3, dan 4 adalah batas negara (batas politis-administratif).  Tapi semua dipukul rata dengan warna hijau dan putih yang bisa mengecoh opini publik. Ini jelas pendistorsian fakta. []

Tentang Israel, Palestina, dan Berbagai Kesalahpahaman

Posted in Middle east by Rinaldi on July 13, 2011

Yitzak Rabin bersalaman dengan Yasser Arafat setelah menandatangani Oslo Accord pada 1993. Atas penandatanganan itu, Yitzak Rabin kemudian dibunuh pada 1995 oleh seorang Yahudi fanatik,Yigal Amir, yang tidak suka perdamaian dengan Palestina. Kisah yang nyaris sama dialami oleh Anwar Sadat belasan tahun sebelumnya. Anwar Sadat dibunuh dalam sebuah parade militer oleh kelompok Islam fanatik karena ingin berdamai dengan Israel. (Foto: AP)

 Author: Rinaldi

JIKA anda berpikir bahwa dulu ada sebuah negeri yang damai bernama “palestina”, dan kemudian datanglah orang-orang Yahudi dari Eropa yang ujug-ujug merebut tanah serta mengusir penduduknya, yang kemudian orang Yahudi pendatang tersebut mendirikan negara Israel di sana, maka jelas anda termasuk orang yang memiliki pemahaman keliru atas kasus ini.

Juga sering saya jumpai pendapat, terutama di blog publik, yang sepertinya tidak bisa membedakan antara “pendirian negara Israel” dengan “pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza.” Mereka berpikir, bahwa (yang sesungguhnya adalah) kasus “pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza” adalah “pendirian negara Israel” itu sendiri.

Dan saya kira banyak sekali di masyarakat kebanyakan yang masih berpemahaman demikian. Apalagi kemudian pemahaman yang sebenarnya keliru itu dijustifikasi dengan fakta (yang adalah benar fakta, namun karena ketidakpahaman sering diabaikan konteks peristiwanya) bahwa ada ratusan jewish settlement dibangun di Tepi Barat yang seringkali dibumbui oleh “perseteruan” dengan warga Tepi Barat itu sendiri. Tak jarang perseteruan itu memakan korban jiwa dari pihak warga sipil. Wah, lengkap sudah kesalahpahamannya. Prasangka awam bahwa orang Yahudi datang ke Palestina, mengusir penduduknya, dan mendirikan “negara Israel” di sana, seolah terbenarkan.

Oleh sebab itu, pendapat pun jadi bias. Niat hati menentang pendudukan Israel di Tepi Barat dan mendukung kemerdekaan “Palestina”, namun opininya seringkali melenceng dengan mempersoalkan pendirian negara Israel.

Wilayah Kerajaan Israel pada era Raja Saul, Daud, dan Sulaiman pada sekitar 1000 – 924 SM. Bisa dilihat, “Palestina” pada waktu itu hanyalah sebuah daerah kecil di pesisir Mediteranian. Itu pun tidak termasuk wilayah Kerajaan Israel. (Sumber: American Bible Society)

Banyak orang awam tahunya cuma “palestina” saja, tanpa tahu apa konteks dan pengertian “palestina” yang mereka sebut. Sesungguhnya “Palestina” memiliki pengertian yang berbeda-beda sepanjang sejarah. Kalau kita membicarakan Palestina dalam konteks Era Usmani, Mandat Inggris, UN Partition Plan, atau Oslo Accord, sesungguhnya kita bicara “palestina” yang berbeda-beda. Apalagi kalau kita tarik mundur ke belakang sebelum era Usmani, maka terma “Palestina” memiliki pengertian dan wilayah yang berbeda dari yang kita pahami sekarang.

Nama “Palestina” sendiri asalnya adalah nama sebuah daerah kecil di pesisir Mediteranian. Alkitab menyebutnya Filistin, wilayah Gaza dan sekitarnya sekarang.  Dalam bahasa Ibrani, disebut פּלשׁתּי, pelishtîydibaca pel-ish-tee’ yang jabarannya a Pelishtite or inhabitant of Pelesheth: – Philistine (Strong Hebrew Dictionary).

Nama, wilayah, dan penduduk pribumi Palestina pada asalnya itu, hampir tidak ada hubungannya sama sekali dengan Palestina di jaman sekarang.  Bani Israel kuno pernah berseteru dengan orang-orang Palestina kuno. Kisah yang tercatat adalah pertarungan antara Daud dan seorang Filistin bernama Goliath.

Yang jelas, daerah Palestina pada asalnya bukanlah seluruh wilayah yang sekarang disebut Israel, juga bukan wilayah yang sekarang disebut Tepi Barat. Pada masa itu, daerah yang sekarang disebut Tepi Barat bernama Kana’an. Nabi Yakub (Israel) dan duabelas anak-anaknya pernah tinggal di Kana’an, sebelum akhirnya mereka hijrah ke Mesir menyusul salah satu anaknya yang hilang, Yusuf.

Mengapa daerah yang sekarang disebut Tepi Barat dan sekitarnya menjadi disebut “Palestina?” Panjang ceritanya. Tapi, awal mula perubahan nama adalah pada saat invasi Jenderal Titus ke Yudea ––nama Yudea mulai muncul pasca pecahnya kerajaan Israel di sekitar 924 SM– pada sekitar tahun 70 M.

Titus adalah seorang anti-semit dan ingin menghancurkan tidak hanya orang Yahudi, tapi juga apa-apa yang berbau Yahudi. Termasuk menghancurkan Bait Suci (Kuil Sulaiman) yang adalah bangunan tersuci dalam agama Yahudi, juga bahkan merubah nama daerah dari Yudaea menjadi “Palaestina”. Inilah awal mula melebarnya nama “palestina” dari sekedar nama daerah kecil di pesisir Mediteranian, menjadi nama sebuah daerah yang jauh lebih besar dari itu.  Nama kota Yerusalem pun sempat dirubah menjadi Aelia Capitolina, namun tidak bertahan lama dan berubah kembali menjadi Yerusalem.

Dari serangan habis-habisan Jenderal Titus ini, banyak orang Yahudi ketakutan dan lantas berdiaspora ke luar Yudea. Dalam sejarahnya, Bait Suci di Yerusalem telah dua kali dibangun dan dua kali dihancurkan.

Tetapi perubahan nama daerah dari Yudea ke Palaestina, bertahan sampai sekarang dan dinikmati banyak orang Muslim fanatik untuk memojokkan Israel.

Palestina dalam era Mandat Inggris (1920-1948) wilayahnya mencakup Yordania. Pada 25 Mei 1946, Trans Jordan menjadi negara sendiri, Yordania. Pada 14 Mei 1948, lahir Israel berdasarkan UN Partition Plan 1947. (Sumber: Wikipedia)

JIKA kita bicara “Palestina” dalam konteks peristiwa di sekitar 1940-an, maka kita membicarakan Palestina Mandat Inggris yang memiliki maksud dan pengertian juga wilayah yang berbeda dengan jika kita bicara soal “Palestina” di jaman sekarang. Begitu pun pada masa Usmani, atau pada masa-masa lain sebelumnya.

Dalam konteks saat ini, yang dimaksud “Palestina” adalah Palestinian National Authority yang wilayahnya mencakup kurang lebih Jalur Gaza dan Tepi Barat; dua wilayah yang diduduki Israel pasca perang dengan koalisi Arab tahun 1967. Konsep PNA muncul sebagai hasil dari Oslo Accord pada tahun 1993.

Israel sendiri tidaklah merebut Tepi Barat dan Gaza dari “orang-orang Palestina”, melainkan direbut dari  Yordania dan Mesir dalam sebuah peperangan besar. Karena wilayah tersebut sesungguhnya adalah wilayah Yordania dan Mesir (dari 1948 – 1967).

Jadi kalau kita mau membicarakan “kemerdekaan Palestina”, maka kita membicarakan Palestina dalam konteks Palestinian National Authorithy hasil dari Oslo Accord. Bukan “Palestina” dalam pengertian Mandat Inggris atau era Usmani. Juga bukan Palestina dalam pengertian awal-awal tarikh Masehi.  Dan kita juga tidak perlu menyinggung soal “sah-tidaknya negara Israel”, karena tidak nyambung.

Juga kalau kita mau membicarakan soal sah atau tidaknya pendirian negara Israel, tidak perlu menyinggung soal pendudukan di Tepi Barat dan Gaza, tidak perlu menyinggung pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat, dan sebagainya. Karena itu adalah dua tema yang berbeda.

Soal Pendirian Negara Israel

SINGKAT saja, konflik Israel-Arab (bukan Israel-Palestina) bermula ketika rezim Turki Usmani runtuh. Wilayah-wilayah bekas Usmani hendak berdiri menjadi negara sendiri-sendiri. PBB kemudian memberi mandat kepada Inggris dan Perancis untuk menduduki dan mengatur wilayah bekas Usmani.

Di wilayah yang merupakan mandat Perancis, lahir Lebanon dan Suriah. Tidak ada masalah berarti.

Di wilayah yang merupakan mandat Inggris, lahir Yordania dan Israel. Dan di sinilah awal terjadinya konflik Arab-Israel.

Wilayah mandat Inggris, dari sungai Yordan ke timur, jadi negara Yordania. Sedangkan sungai Yordan ke barat, dibagi lagi: untuk Arab dan untuk Yahudi. Kenapa begitu? Karena di situ ada penduduk Arab dan ada penduduk Yahudi.

Sebagaimana orang Arab ingin membentuk sebuah negara Arab selepas era Usmani, seperti Lebanon, Yordania, Suriah, Mesir, dan sebagainya, demikian pula orang Yahudi ingin membentuk sebuah negara Yahudi. Kenapa tidak? Toh negara yang menaungi mereka sebelumnya sudah bubar.

Gambar Partisi PBB yang diajukan pada November 1947. Partisi ini membagi Palestina menjadi dua bagian, untuk etnik Arab dan Yahudi. Anda bisa lihat wilayah jatah Israel dalam partisi tersebut amatlah kecil dibanding wilayah Israel sekarang. Sebagian besar adalah Gurun Negev di sebelah selatan. Sedangkan pihak Arab mendapatkan wilayah yang subur. Yahudi menerima proposal pembagian ini, sedangkan pihak Arab menolak.

Akhirnya, tersebutlah proposal yang dinamakan UN Partition Plan pada November 1947, yang membagi Palestina (dalam pengertian waktu itu, bukan dalam pengertian “PNA”-nya Oslo Accord) menjadi dua: untuk Arab dan Yahudi.

Palestina Arab, adalah daerah yang mayoritasnya Arab (804 ribu Arab berbanding 10 ribu Yahudi). Palestina Yahudi, adalah daerah yang mayoritasnya Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab). Cukup adil. (Sumber data: jewishvirtuallibrary.com)

Negara Israel tidak dibangun semata-mata akibat peristiwa holocaust sebagaimana dituduhkan beberapa pihak. Juga tidak dibangun oleh “para pendatang” yang terlebih dahulu mengusiri penduduk aslinya.

Pada dasarnya, negara Israel –sebagaimana negara-negara tetangganya– dibangun di bekas wilayah Turki Usmani dan di ataswilayah/spot yang mayoritas adalah Yahudi.

Di seluruh Palestina, Yahudi bisa dikatakan minoritas dan terkonsentrasi pada wilayah tertentu saja. Nah, pada wilayah di mana Yahudi terkonsentrasi itulah, negara Israel berdiri (lih. Peta UN Partition Plan 1947).

Dalam partisi yang diajukan oleh PBB, bisa kita pahami bahwa sebagian besar wilayah yang diperuntukkan bagi Yahudi adalah gurun gersang, yaitu gurun Negev. Sedangkan Arab lebih beruntung dapat wilayah yang relatif subur.

Oke, itulah sekilas tentang partisi. Dan hasilnya: Pihak Yahudi menerima partisi tersebut, dan mendeklarasikan Israel pada 14 Mei 1948 dengan damai dan tidak ada “perebutan wilayah” sebagaimana disalahpahami banyak pihak.

Tapi pihak Arab menolak partisi tersebut, dan ramai-ramai berkoalisi menyerang Israel dengan tujuan merebut wilayah Israel. Akibatnya? Terjadi perang dahsyat antara koalisi negara-negara Arab dengan negara Israel yang baru dideklarasikan. Dan perang tersebut, tentu saja, menimbulkan sejumlah besar pengungsi.

Ratusan ribu orang Arab-Palestina yang berada di wilayah Israel, terusir keluar selama perang dan menjadi pengungsi. Begitu juga ratusan ribu orang Yahudi di negara-negara Arab terusir keluar dari negaranya. Pengungsi dari kedua belah pihak, sama-sama tidak memiliki hak untuk kembali –no right to return.

Wilayah Tepi Barat dan Gaza, yang diambil Israel dari Mesir dan Yordania pada 1967. Sebagian wilayah ini (yang berwarna hijau tua) kemudian dikenal dengan Daerah Otoritas Nasional Palestina (PNA). Inilah Palestina yang dibicarakan sekarang, bukan Palestina dalam konteks Mandat Inggris atau Usmani atau sebelumnya. Seluruh wilayah ini dulunya adalah wilayah yang dijatahkan untuk Arab dalam partisi PBB 1947. Arab menolak partisi PBB itu, namun sekarang merengek-rengek minta kemerdekaan dengan bendera “Palestina”. (Sumber: Wikipedia)

Adapun soal “pengungsi” yang diakibatkan oleh perang 1948, menjadi masalah tersendiri. Lengkapnya telah saya bahas dalam ulasan “Nakba: Soal Pengungsi dan Tanggungjawab Dunia Arab”.

Perang dahsyat itu disebut perang Arab-Israel yang pertama, the first Arab-Israeli war, dan dimenangkan oleh Israel. Walhasil, wilayah Israel meluas dari yang dijatahkan dalam partisi PBB. Salahkah Israel atas perluasan wilayahnya? Ya tidak. Itu perang, dan perang itu digara-garai oleh pihak Arab.

Sebaliknya, wilayah negara Arab seperti Yordania juga meluas. Yordania mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem timur yang sebelumnya bukan wilayah Yordania.

Perluasan wilayah Israel akibat perang 1948, juga banyaknya pengungsi Arab-Palestina yang terusir dari wilayah Israel selama perang, sering diulang-ulang oleh “para pembela buta palestina” sebagai alat propaganda untuk menyudutkan Israel. Padahal, imbas dari perang yang sama, ratusan ribu orang Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab sekitarnya, juga mengalami tekanan dan terusir keluar.

Kemudian, masih imbas perang tersebut, wilayah Yordania juga meluas dengan menduduki Tepi Barat dan Yerusalem timur. Wilayah Mesir juga meluas dengan mencaplok Gaza. Tapi semua kutukan hanya tertuju pada Israel, tidak kepada negara-negara Arab lainnya. []

Gaza, Ternyata Tidak Sepenuhnya Miskin dan Sengsara

Posted in Middle east by Rinaldi on June 29, 2011

Author: Rinaldi

“Yet, despite widespread criticism at the way the raid was conducted, few here doubted that stopping the flotilla was the right thing to do. Life in Gaza is unquestionably oppressive; no one in his right mind would choose to live there. But there is no humanitarian crisis in Gaza; if anyone goes without food, shelter or medicine, that is by the choice of the Hamas government, which puts garnering international sympathy above taking care of its citizens. Israel has readily agreed to send into Gaza all the food and humanitarian supplies on the boats after they had been inspected for weapons.”  – Daniel Gordis, NY Times

Lobbi Grand Palace Hotel di Gaza City. Hotel mewah yang menawarkan pemandangan mediteranian.

Lobbi Grand Palace Hotel di Gaza City. Hotel mewah yang menawarkan pemandangan mediteranian.

SELAMA ini, kesengsaraan Gaza dijual. Oleh media massa, juga oleh propagandis Arab.

“Kesengsaraan” memang bahan jualan yang selain mudah laku, juga ampuh untuk membangun opini publik. Dalam konteks Gaza, opini publik yang ingin dibangun dari eksploitasi kesengsaraan Gaza adalah, tentu saja, Israel kejam.

Betul, bahwa ketika Israel membombardir beberapa titik di Gaza, timbul cukup banyak korban sipil. Jika konflik antara Israel dan Palestina kita reduksi hanya pada titik itu, maka jelas kesan dan opini publik yang timbul adalah, sekali lagi, Israel kejam.

Sudah kejam, “Yahudi” pula. Dua “dosa besar” tersebut cukup membuat jalan-jalan protokol di Jakarta macet oleh aksi demonstrasi ormas-ormas Islam. Solidaritas kemanusiaan, katanya.

Tapi anehnya, kita tidak pernah mendengar “solidaritas kemanusiaan” yang sama ketika Presiden Sudan, Omar Al Bashir, membantai lebih dari 300.000 warga sipil di Sudan selatan.

Entah solidaritas kemanusiaan macam apa. Mungkin mereka hanya sekedar benci Yahudi, dengan memanfaatkan kesengsaraan masyarakat Gaza yang dieksploitir.

Buktinya, selain tak acuh terhadap apa yang dilakukan Omar Al Bashir, ormas-ormas Islam di Indonesia tidak ada yang bersuara lantang mengecam pemerintah Cina atas okupasinya ke Tibet.

Seperti yang diungkapkan oleh Daniel Gordis dalam kutipan di atas, boleh dikatakan tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza. Adapun kemiskinan dan kesengsaraan yang ada, cenderung dieksploitir oleh media yang kerap kali digunakan sebagai alat propaganda untuk menentang Israel. Kemiskinan dan kesengsaraan ini pun nampaknya dimanfaatkan dan dieksploitir pula oleh Hamas sebagai alat untuk mendapatkan simpati dunia, khususnya dunia Islam.

Semua orang yang yang melek informasi tentu paham, bahwa Hamas adalah organisasi yang memiliki rekam jejak buruk atas kemanusiaan. Secara mendasar, Hamas adalah organisasi teroris yang memiliki ideologi bercorak fasis berlabel “perjuangan Islam”.

Propaganda Hamas dibumbui kebencian terhadap Yahudi, Israel dan barat. Dalam kiprahnya, Hamas juga gemar sekali menggunakan warga sipil sebagai tameng untuk melawan Israel. Apakah yang bisa kita harapkan dari Hamas untuk memajukan masyarakat Gaza? Nyaris tidak ada.

Alih-alih memfasilitasi pembangunan di Gaza, Hamas malah menghancurkan sebuah waterpark dengan alasan yang naif dan konservatif; melarang pria dan wanita berkumpul bersama dalam taman air tersebut.

Hamas juga sempat diprotes kelompok Hak Azasi Palestina karena menghalang-halangi siswa berprestasi di Gaza untuk mendapatkan beasiswa dan bersekolah di luar negeri, dalam hal ini Amerika Serikat. Bukankah semua itu adalah pemikiran dan tindakan yang kontraproduktif?

Mundurnya Israel dari Gaza pada September 2005, semestinya bisa dijadikan kesempatan yang baik untuk membangun Gaza. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Hamas malah semakin leluasa membombardir pemukiman-pemukiman sipil Israel, Aksi provokasi ini membuat Israel membalas dan menyebabkan konflik yang tentu saja menimbulkan banyak korban sipil.

Aksi provokasi brutal tersebut akhirnya berujung pada blokade militer Israel atas Gaza pada 2007. Blokade militer ini bertujuan memutus supply senjata kepada Hamas. Blokade ini pun lagi-lagi dieksploitir oleh media dan para propagandis Arab pro-Palestina, untuk mengesankan bahwa Israel kejam.

Ditambah dengan insiden flotilla pertengahan tahun lalu, “gambaran” bahwa Israel kejam makin menjadi-jadi. Dikesankan, saking kejamnya, Israel tidak menginginkan ada bantuan kemanusiaan ke Gaza. Padahal faktanya, jauh sebelum insiden flotilla berton-ton bantuan kemanusiaan dihantarkan oleh Israel ke Gaza dari berbagai donatur, termasuk di antaranya oleh organisasi-organisasi PBB sendiri.

Krisis kemanusiaan di Gaza?

“Earlier in July, a luxury mall in Gaza City held its grand opening, selling Israeli men’s clothing, and items from Turkey, France, and the United States. The mall has a variety of stores which sell cosmetics, clothing, office supplies, toys, shoes, appliances and more. The mall boasts air conditioning and a delivery service”. ( Israel National News )

Wajah pengungsi Leningrad Siege.

Wajah pengungsi Leningrad Siege.

Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar frase “krisis kemanusiaan?” Sekurang-kurangnya, peristiwa blokade kota Leningrad pada era Perang Dunia II bisa menjadi ilustrasi yang baik. Peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa blokade (siege) yang memakan korban cukup banyak. Tercatat sekurangnya 1 sampai 4 juta warga sipil tewas dalam peristiwa yang berlangsung dalam kurun 1941 – 1944 tersebut.

Kita bisa bayangkan, bahwa dalam kurun pengepungan tersebut tentu tidak ada sedikitpun yang bisa kita namakan “kemewahan”. Jangankan kemewahan, untuk makan saja susah. Inilah wajah krisis kemanusiaan yang sesungguhnya. Nah, bagaimana dengan Gaza?

Saya tidak hendak mengatakan bahwa seratus persen rakyat Gaza tidak ada yang miskin. Tapi hanya ingin mengajukan fakta dari berbagai sumber yang kredibel, bahwa Gaza, terutama dalam masa blokade Israel, tidaklah sepenuhnya miskin dan sengsara.  Kondisi di Gaza, jika pun ada “kemiskinan”, sangatlah jauh untuk bisa disebut mengalami “krisis kemanusiaan”.

Bagaimana mau disebut krisis kemanusiaan, di Gaza ternyata ada restoran mewah. Sebut saja Roots Club yang nilai investasinya mencapai 1 juta USD. Belum lagi sebuah hotel di pinggir pantai yang tergolong mewah, Grand Palace Hotel di Gaza City, yang dalam promosinya menawarkan mediterranian views kepada calon tamunya.

Bahkan sebuah media Israel melaporkan, pasar-pasar di Gaza dipenuhi oleh sayur-sayuran, buah-buahan dan aneka kebutuhan. Pengunjung pun ramai menjelang Ramadhan. Di Gaza juga ada Kentucky Fried Chicken dan mall mewah. Jelas, hal-hal tersebut tidak ada dalam peristiwa blokade kota Leningrad sekian puluh tahun yang lalu. Krisis kemanusiaan?

Dari sejumlah fakta di atas bisa kita bayangkan, jika Gaza tetap anda sebut mengalami krisis kemanusiaan, –yang boleh kita bilang krisis tersebut akibat ulah “kejam” Israel yang memblokade Gaza–, maka “orang gila” mana yang menghambur-hamburkan banyak uang untuk berinvestasi membangun restoran dan hotel mewah di Gaza?

Siapa pula “orang gila” yang akan menjadi tamu-tamu restoran dan hotel mewah tersebut di tengah-tengah krisis kemanusiaan akibat embargo ekonomi?

Atau, ini kesimpulan paling waras, adalah tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza?

Dus, Gaza ternyata tidak sepenuhnya miskin dan sengsara. Tapi sisi ini tidak populer, nyaris tidak ada gaungnya di media massa di Indonesia. Apalagi media-media Islam seperti Sabili atau Eramuslim. Kenapa? Simpel jawabannya: Karena tidak menjual. []

*Video kehidupan di Gaza oleh dan terima kasih kepada Pierre Rehov

Nakbah: Soal Pengungsi dan Tanggungjawab Dunia Arab

Posted in Middle east by Rinaldi on May 14, 2011

Author Rinaldi

“..Ulfa’atey mizrach kadimah, Ayin l’tzion tzofiyah. Ode lo avdah tikvatenu. Hatikvah bat shnot alpayim: L’hiyot am chofshi b’artzenu Eretz Tzion v’Yerushalayim”. | Harapan kami sejak duaribu tahun lalu, tak akan pernah hilang. Untuk menjadi bangsa yang bebas di tanah sendiri. Tanah Zion dan Yerusalem. (Hatikva, Lagu Kebangsaan Israel)


Ratusan ribu pengungsi Arab yang terusir keluar dari Israel, tidak diterima oleh negara-negara Arab sehingga hanya berstatus sebagai pengungsi dalam jumlah besar, dan tinggal di kamp-kamp darurat selama puluhan tahun.

NAKBAH adalah hari bencana bagi masyarakat Arab-Palestina. “Hari bencana” ini diperingati oleh orang-orang Arab bersamaan dengan peringatan kemerdekaan Israel. Sebab pada hari itu di tahun 1948, dikarenakan pecah perang Arab-Israel, ratusan ribu warga sipil Arab yang tinggal di wilayah Israel (wilayah Israel berdasarkan partisi PBB 1947) terusir ke luar dan tidak bisa kembali (no right to return). Mereka menjadi “pengungsi abadi” di kamp-kamp pengungsian di Lebanon, Suriah, Yordania (tepi barat) dan Mesir (Gaza).

Masalah pengungsi tersebut kerap menjadi “amunisi” bagi dunia Arab dan “para pembela palestina” untuk terus-menerus memojokkan Israel.

Tetapi tahukah anda, bahwa pada saat ratusan ribu warga sipil Arab keluar terusir dari tempat tinggalnya di wilayah Israel, pada saat bersamaan ratusan ribu warga sipil Yahudi juga keluar terusir dari tempat tinggalnya di negara-negara Arab?

Pada tahun 1948, sebelum pecah perang, terhitung ada sekitar 856 ribu orang Yahudi yang tinggal di sepuluh negara-negara Arab; Yaman, Aljazair, Mesir, Irak, Lebanon, Libya, Maroko, Suriah, Tunisia dan Aden. Tahun 2001 jumlahnya menyusut hingga tinggal 7.800 orang saja. Kemana mereka? Ya terusir keluar sepanjang peperangan 1948.

“No one (Arab or Jew) has a “right of return” Jews who fled Arab persecution from 1948 to 1956 should have no right of return to Arab lands, and Arabs who ran away in 1948 and 1967 should have no right of return either. This should end all argument. Yet the Jews accept this judgment, while the Arabs reject EVERYTHING.”

– Walid Shoebat, Former PLO extremist

Perang Arab-Israel menimbulkan ratusan ribu pengungsi warga sipil dari kedua belah pihak. Ratusan ribu pengungsi tersebut sama-sama TIDAK MEMILIKI HAK KEMBALI (no right to return). Namun bedanya, ratusan ribu pengungsi Yahudi yang terusir keluar dari negara-negara Arab dengan sigap ditampung oleh Israel dan diberi kewarganegaraan, sehinga tidak menimbulkan kesengsaraan yang berlarut-larut.

Sedangkan ratusan ribu pengungsi Arab yang terusir keluar dari Israel, tidak diterima oleh negara-negara Arab sehingga hanya berstatus sebagai pengungsi dalam jumlah besar, dan tinggal di kamp-kamp darurat selama puluhan tahun.

Mengenai jewish refugees, baca ini:

http://www.mideastweb.org/refugees4.htm

Mengenai Arab refugees, baca ini:

http://www.mideastweb.org/refugees1.htm

Lihat partisi PBB di atas. Batasan tersebut ditetapkan oleh PBB berdasarkan demografi. Yang berwarna kuning adalah wilayah untuk Yahudi karena mayoritasnya dihuni oleh Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab), dan yang hijau adalah wilayah untuk Arab karena dihuni oleh mayoritas Arab (804 ribu Arab berbanding 10.000 Yahudi). Sumber

Perang Arab-Israel dipicu oleh ketidaksetujuan pihak Arab pada partisi PBB 1947. Mereka menolak berdirinya negara Israel, meski dalam partisi tersebut pihak Arab mendapat jatah tanah yang subur. Sedang pendirian negara Israel sendiri sebenarnya cukup “etis”, karena didirikan di wilayah yang memang dihuni mayoritas Yahudi (lih. Peta partisi PBB).

Sesaat setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, pasukan koalisi Arab dari negara-negara sekitar Israel datang mengagresi. Terjadilah perang besar yang akhirnya dimenangkan oleh Israel. Imbas dari perang tersebut, sudah tentu masalah pengungsi seperti yang disinggung di atas.

Masalah pengungsi yang berlarut-larut tersebut, disebabkan oleh peperangan yang dimulai oleh negara-negara Arab. Mengapakah atas permasalahan tersebut, Israel yang kerap kali disalahkan? Di manakah tanggung-jawab negara-negara Arab? Jika Israel yang kecil dan tandus saja sudi menerima ratusan ribu pengungsi Yahudi yang terusir keluar dari negara-negara Arab, mengapa dari luas dan kayanya negara-negara Arab tidak ada yang sudi menampung para pengungsi tersebut agar mereka hidup layak?

Segenap pertanyaan tersebut menimbulkan kecurigaan, benarkah masalah pengungsi dan masalah Palestina dimunculkan oleh kepedulian terhadap kemanusiaan, atau hanya sekedar alat saja bagi negara-negara Arab untuk mengenyahkan Israel? []

Insiden Flotilla: Apa yang sebenarnya terjadi?

Posted in Commentary, Middle east by Rinaldi on June 5, 2010

Author: Rinaldi

Aktivis perdamaian Freedom Flotilla memukuli tentara Israel yang dikirim masuk ke kapal.

Aktivis perdamaian Freedom Flotilla memukuli tentara Israel yang dikirim masuk ke kapal.

SEJAK insiden Gaza-Flotilla merebak 31 Mei lalu, saya sibuk menyimak berbagai media untuk lebih memahami bagaimana sesungguhnya insiden tersebut terjadi.  Karena sejak awal saya ragu kalau IDF Navy begitu saja “menyerang” aktivis kemanusiaan tak bersenjata –sebagaimana diberitakan di banyak media di Indonesia, sementara pemerintah Israel sendiri tak pernah melarang bantuan kemanusiaan, meskipun mereka memblokade Gaza sejak 2007.

Skeptisisme ini pada akhirnya membuahkan pandangan yang berbeda terhadap insiden tersebut.  Saya menjadi tak sepenuhnya simpati terhadap “peace activist” yang menumpang Mavi Marmara, dan melihat ada trial by press yang dilakukan oleh media massa di Indonesia khususnya.

Israel adalah negara yang setiap detiknya berada dalam situasi keamanan yang rentan. Mengingat posisi yang dikelilingi oleh musuh-musuhnya, maka konfrontasi bersenjata bisa pecah kapan saja. Meski Israel sudah mundur total dari Gaza pada September 2005, namun roket-roket Hamas kerap kali “menggoda” pemukiman sipil Israel. Karena kondisi ini pula, maka pemerintah Israel melalui angkatan bersenjatanya kerap kali melakukan kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Sebagai contoh, memblokade Gaza di tahun 2007 untuk memperlemah kekuatan Hamas.

Bagi mereka yang tidak memahami bagaimana kompleksnya situasi keamanan yang dihadapi Israel, maka silakan anda berdiri dan mengecam tiap kali Israel melakukan aksi defensif untuk mempertahankan diri. Itu adalah hak anda. Tetapi, saya pribadi memilih jalan lain: mencoba memahami kompleksitas situasi keamanan yang dihadapi Israel, berdasarkan pandangan bahwa tidak ada manusia yang 100% evil.

Advokasi sederhana ini jangan dipandang sebagai upaya berpihak pada “kejahatan”, atau suatu sikap anti terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza, tetapi sebuah upaya menyeimbangkan arus informasi. Tentu kita semua setuju terhadap kemanusiaan, dengan tidak pilah-pilih asal primordial. Juga tentu saja, tidak ada manusia yang 100% evil atau 100% angel.

****

MENYIMAK berbagai pemberitaan mengenai insiden flotilla kemarin, nampaknya sebagian besar media massa, terkhusus di Indonesia, menggunakan istilah “penyerbuan” (raid) untuk menggambarkan aksi tentara Israel yang mencoba memasuki kapal Mavi Marmara pada Senin subuh 31 Mei lalu. Bahkan setelah beberapa hari berlalu, istilah ini terus dipertahankan. Sepertinya, media massa lebih suka memberi laporan yang “populis”, yang tampaknya memang “ingin didengar” oleh masyarakat –yang memang anti Israel.

Media hanya menekankan pemberitaan pada aksi penembakan aktivis dan jumlah korban tewas dalam kapal kemanusiaan tersebut, ditambah beberapa klip video yang menunjukkan kehancuran Gaza pasca dibombardir Israel.  Sedangkan kronologi “penyerbuan” tidak disajikan secara lengkap. Ini yang saya pandang sebagai a trial by press. Saya tidak tahu persis kenapa, yang jelas ketimpangan informasi ini menciptakan opini publik yang sesat bahwa Israel menyerbu kapal bantuan kemanusiaan, sehingga timbul sejumlah korban sipil, dan ini perbuatan yang –apalagi Israel yang melakukannya– sangat biadab –mungkin berbeda kalau misalnya salah satu negara Arab yang melakukannya, kita tahu bahwa 300,000 warga sipil di Sudan selatan yang dibantai Omar Bashir tak menimbulkan protes berarti di masyarakat (Muslim khususnya). Dari pemberitaan itu, timbul kesan juga, bahwa Israel tidak mengizinkan apapun bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Atas pemberitaan yang kurang proporsional tersebut, tak pelak aksi demonstrasi merebak di berbagai kota.

Apakah yang sesungguhnya terjadi?

Sebagaimana kita semua tahu, kapal Mavi Marmara yang mengangkut 600-an lebih aktivis kemanusiaan dari berbagai negara ini bertolak dari Turki menuju Gaza, dengan tujuan menghantarkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat sipil.

Tak banyak media di Indonesia yang mengkabarkan, bahwa IDF Navy telah memberikan peringatan secara santun dan prosedural kepada Mavi Marmara sebelumnya. Bahwa Freedom Flotilla tidak diperbolehkan memasuki areal pantai Gaza karena sedang dalam blokade militer. Dalam peringatannya, IDF Navy telah pula mengatakan –dan ini tidak kedengaran gaungnya di Indonesia- bahwa pemerintah Israel mendukung bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Hanya saja, mengingat kondisi konflik antara Israel-Hamas yang menyebabkan Israel memblokade Gaza, semua bantuan hendaknya disalurkan melalui jalur darat, dengan terlebih dahulu merapatkan kapal di pelabuhan Ashdod.

Perlu diketahui, selama blokade Israel atas Gaza yang dimulai tahun 2007, Israel sama-sekali tidak melarang bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Tercatat telah banyak organisasi kemanusiaan yang mengirimkan bantuannya dengan aman sentosa ke Gaza. Mereka adalah Palang Merah Internasional, WHO, UNICEF, UNRWA, dan sejumlah bantuan dari Mesir, Yordania, Yunani dan Turki. Puluhan ribu ton bantuan telah dihantar dengan ribuan truk melalui jalur darat.

Namun dalam kontak radio dengan IDF Navy, Mavi Marmara ‘ngeyel’. Mereka mereply, “negative, negative… our destination is Gaza”. Jerusalem Post bahkan mengkabarkan,  seseorang di Mavi Marmara membalasnya dengan kasar, “shut up, go back to Auschwitz”. Ini jelas tidak diangkat dalam media massa Indonesia. Apakah seperti itu jawaban aktivis kemanusiaan? Jawaban mereka lebih menunjukkan bahwa mereka anti-semitis, Jew-hater, bahkan hate activist.

Apa yang harus dilakukan IDF Navy untuk menghadapi kapal yang ingin menembus blokade militer di laut? Diam saja?

Saya rasa, militer di mana pun tidak dididik untuk bersikap seperti itu pada mereka yang ingin menembus blokade. Kengeyelan Mavi Marmara memaksa IDF Navy mengambil aksi kongkret: Menghampiri kapal tersebut, mengirimkan beberapa pasukannya, bukan untuk menembak dan membunuh, tapi untuk berbicara dan memaksa Mavi Marmara mengalihkan tujuan ke Ashdod. Kenapa begitu? Karena komunikasi lewat radio tidak diindahkan oleh Mavi Marmara.

Namun, apa yang terjadi? Begitu tentara turun dari helikopter, langsung dikeroyok massa dengan menggunakan pentungan besi dan alat-alat lainnya. Jerusalem Post melaporkan, ada “live fire” yang ditembakkan penumpang ke arah tentara.

Apa yang harus dilakukan tentara dalam keadaan seperti itu? Tersenyum sambil berkata  “good morning all“? Tidak. Mereka bersikap defensif dan memberi perlawanan balik berupa tembakan, yang ujungnya menewaskan beberapa orang.

Berdasarkan kronologi di atas, timbul pertanyaan: Jika ini penyerbuan, atau anda tetap ngotot bahwa ini penyerbuan, apa tujuannya? Anda kira, apa untungnya bagi Israel subuh-subuh mengirim bala tentaranya untuk menembaki kapal bantuan kemanusiaan? Untuk mendapatkan kecaman internasional?

Jika Israel memang berniat menyerbu, kenapa hanya menewaskan sekian belas orang saja? Kenapa tidak menenggelamkan seluruh kapal dengan tembakan torpedo? Kenapa dari enam kapal, hanya satu yang bermasalah, yaitu Mavi Marmara? Toh kelima kapal lainnya merapat di Ashdod dengan damai tanpa seorang pun terluka.

Kapal Marvi Marmara membawa aktivis kemanusiaan dari banyak negara. Mereka datang dengan misi memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat sipil di Gaza, bukan untuk memerangi tentara IDF. Kenapa mereka memaksa menembus blokade militer yang hanya akan memicu konfrontasi, sementara mereka sudah diperingatkan secara prosedural dan diberi alternatif ke pelabuhan Ashdod untuk memberikan bantuan via jalur darat? Saya bertanya-tanya, apa yang gagal dari misi kemanusiaan mereka, jika mereka mengikuti panduan IDF Navy untuk mendarat di Ashdod dan memberikan bantuan via jalur darat?

Kengeyelan mereka menembus blokade laut Gaza, menimbulkan kecurigaan: benarkah misi mereka hanya menghantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza? []

Dunia Islam dan Kepedulian Terhadap HAM

Posted in Middle east by Rinaldi on July 12, 2009

Presiden Sudan, Omar al Bashir, membunuh sekurangnya 300 warga sipil di Sudan Selatan. Atas perbuatannya itu, kita tidak melihat ada protes berarti dari dunia Islam.

Author Rinaldi

JIKA kita intens menyimak konflik Israel-Palestina, atau konflik di timur tengah pada umumnya, akan muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu yaitu: apakah kecaman dunia Islam terhadap agresi Israel atas Palestina, atau invasi AS terhadap Irak dan Afghanistan disebabkan karena kepedulian umat Islam terhadap HAM? Kalau jawabannya adalah YA, maka akan muncul pertanyaan selanjutnya: kenapa mereka cenderung tidak peduli terhadap aneka pelanggaran HAM yang banyak juga dilakukan oleh negara-negara Muslim?

Memang menggelikan, ketika sejumlah Muslim memprotes kebijakan pemerintah Perancis yang melarang pemakaian simbol-simbol agama -termasuk jilbab- di sekolah-sekolah negeri, hampir tidak ada kelompok Muslim yang intens memprotes kebijakan pemerintah Saudi yang melarang pendirian gereja di negaranya. Serangan Israel ke jalur Gaza yang menewaskan sekian ratus warga sipil Palestina, dapat membuat jalan-jalan di Jakarta menjadi macet akibat demonstrasi. Namun, genosida yang dilakukan Presiden Omar Bashir, yang menewaskan lebih dari 300.000 warga sipilnya sendiri di Sudan selatan, tidak pernah sampai membuat umat Muslim sudi untuk berdemonstrasi secara intens, apalagi sampai mengerahkan massa hingga memacetkan jalan-jalan protokol.

Contoh aktual yang terjadi baru-baru ini adalah protes sejumlah pemuda Muslim di Alexandria, Mesir, terhadap Jerman. Pasalnya, seorang perempuan Muslim asal Mesir, Marwa Sherbini, dibunuh oleh seorang pemuda rasis di Jerman. Demonstran tersebut bahkan bersumpah bahwa Jerman adalah musuh Allah yang harus diperangi. Anehnya, di manakah demonstran itu pada Desember 2005, saat sejumlah polisi Mesir menyerbu kamp pengungsi di pusat Kairo, untuk “membersihkan” 2,500 pengungsi Muslim asal Sudan, memukuli hingga tewas 28 orang, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak?

Sikap-sikap yang demikian tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah dunia Islam serius dengan persoalan HAM, atau menjadikan HAM hanya sebagai “norma” ketika hendak mengkritik kaum kafir saja?

****

Dalam analisa yang sederhana, terlihat kecenderungan bahwa dunia Islam baru memiliki kepedulian yang begitu intens terhadap konflik kemanusiaan jika itu melibatkan “non-Muslim” -terutama Yahudi dan Kristen- sebagai pelakunya, dan umat Muslim sebagai korbannya. Kecenderungan ini terlihat jelas hampir di manapun komunitas Muslim berada, termasuk Indonesia.

Walid Shoebat, mantan ekstrimis Palestina dan pengarang buku “Why I Left Jihad”. Foto: Shoebat.com

Kenapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada dua hal yang bisa dipandang sebagai penyebab. Pertama, adanya kebencian laten di kalangan Muslim terhadap non-Muslim, khususnya Yahudi dan Kristen, yang ditanamkan sedemikian rupa oleh guru-guru agama dan disebarkan hampir ke seluruh masyarakat Muslim di dunia. Hal ini diperkuat oleh kesaksian Walid Shoebat, mantan mujahid Palestina yang menulis buku Why I Left Jihad, dalam sebuah wawancara di CNN. Walid menyimpulkan, rasisme terhadap Yahudi dan superioritas kearaban adalah akar konflik di timur tengah yang sesungguhnya. Itu sebabnya, kata Walid, Hasan Nasrallah tidak meminta maaf ketika roket-roket Hizbullah mengenai warga sipil Yahudi, tetapi meminta maaf ketika roket-roketnya mengenai warga sipil Arab-Muslim. Kedua, rasa persaudaraan yang sempit dan superioritas keumatan yang membuat umat Muslim “merasa tidak terlibat” jika konflik kemanusiaan tidak melibatkan Muslim sebagai korban dan non Muslim sebagai pelakunya. Dalam kasus umat Muslim yang membantai saudara seimannya sendiri, seperti kasus Omar Bashir atau Sadam Husein, dunia Islam pada umumnya tidak menaruh kepedulian serius. Ed Husain dalam bukunya The Islamist menuliskan bahwa ketika AS menginvasi Irak pada 2003 lalu, sejumlah pemuda Muslim di Suriah tergerak untuk berjihad membela rakyat Irak. Semangat “jihad” seperti itu jelas tidak dimotivasi oleh kemanusiaan, melainkan kebencian terhadap barat dan orang kafir (hal. 291). Sebab, banyaknya rakyat Irak terutama etnik Kurdi, Syiah, dan lawan politik Sadam yang ditekan, dibungkam, bahkan dibunuh semasa Sadam berkuasa (1979-2003), tidak membuat pemuda Muslim manapun tergerak untuk menumbangkan rezim Sadam.

Dari dua faktor di atas, nampak jelas kenapa umat Muslim cenderung lebih peduli dan “tergugah” hanya pada konflik-konflik kemanusiaan yang melibatkan orang kafir sebagai pelakunya dan umat Muslim sebagai korbannya. Yaitu kebencian terhadap barat dan orang kafir. Dalam kepedulian tersebut, tidak terlihat adanya motivasi HAM, selain dua faktor yang dijabarkan di atas. Sebab jika mereka benar peduli terhadap HAM, maka tentunya mereka akan bersuara imbang terhadap –contoh kecil saja- genosida warga sipil di Sudan selatan oleh Presiden Omar Bashir, atau rezim diktator Tan Shwe yang membunuhi puluhan biksu dalam sebuah demonstrasi di Myanmar.

****

Prasangka negatif yang terbentuk dalam diri umat Muslim terhadap Yahudi dan Nasrani amat kuat, bahkan tak kurang dari prasangka negatif dunia barat terhadap Islam. Ed Husain dalam The Islamist menuturkan bahwa di Arab Saudi buku-buku pelajaran Islam dipenuhi oleh ajaran kebencian terhadap orang kafir –Yahudi dan Nasrani. Walaupun hal tersebut agak berkurang setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak pasca tragedi 9/11.

Rasa superioritas keumatan yang tinggi, dan kebencian terhadap non-Muslim, terutama Yahudi dan Kristen inilah yang nampaknya membuat umat Muslim kehilangan akal sehatnya untuk menggunakan satu standar saja dalam memandang aneka konflik di dunia. Ketika Amerika Serikat atau Israel melakukan agresi atas suatu negara Muslim, sepertinya ini justifikasi yang bagus untuk melakukan protes keras dan mengekspresikan kebencian terhadap mereka. Dalil yang digunakan sebagai dasar protes pun macam-macam, dari mulai rapalan ayat-ayat Al Quran yang menyinggung soal Nasrani dan Yahudi, hingga –bagi yang bergaya moderat- norma hak-hak azasi manusia. Tetapi jika agresi, genosida, dan aneka kezoliman itu dilakukan oleh negara-negara Muslim sendiri, maka tidak ada suara selantang itu dari dunia Islam. []