Sapere aude!

Setelah Foto Palsu Rohingnya, Kini Profil Mualaf Fiktif Muncul di Media Online Mainstream

Posted in Mythbuster by Rinaldi on August 19, 2012

Republika mencatut foto Prof. Xinsheng Sean Ling dari Brown University sebagai tokoh fiktif “Demitri Bolykov”. Beginikah kualitas media mainstream? – Grafis gambar oleh saya sendiri. Sumber foto dari Republika (http://www.republika.co.id) dan situs Brown University (http://research.brown.edu).

Author Rinaldi

SAYA cukup terkejut sekaligus kecewa, setelah di Minggu pagi buka internet, dikirimi artikel dari blog teman yang menguak kepalsuan data Republika dan Detik.com –dua buah media online ternama di Indonesia.

Semua berawal dari dua situs berikut ini, Republika dan Detikcom yang sama-sama mengulas tentang ilmuwan fisika yang menjadi mualaf karena keilmuwannya.

Sosok yang diberitakan sebagai ilmuwan mualaf itu adalah Demitri Bolykov, seorang ilmuwan asal Ukraina yang masuk Islam setelah melakukan sejumlah penelitian ilmiah. Bolykov, bersama rekan satu timnya Nicolai Kasinikov, melakukan percobaan tentang perputaran bumi pada porosnya, yang ujungnya menyimpulkan bahwa kutub magnet bisa berubah, dan bumi bisa berputar ke arah sebaliknya. Hal ini, sebagaimana tersirat dalam tulisan Detikcom, membenarkan ajaran kepercayaan Islam bahwa di hari kiamat matahari bisa terbit dari sebelah barat.

Oke, saya tidak akan membahas dari segi benar-salahnya teori tersebut secara fisika. Saya juga tidak akan membahas soal benar-salahnya agama Islam. Saya tertarik pada kecerobohan redaktur Republikaonline dan Detikcom dalam mengangkat suatu issue, mengingat dua media tersebut adalah media cukup ternama di Indonesia, yang semestinya bisa jadi acuan informasi.

Cerita Demitri Bolykov jadi mualaf tersebut, telah lama saya baca di sebuah blog di internet. Artinya, cerita tersebut memang bukan pertama kali muncul di Republikaonline maupun Detikcom. Sejak pertama kali membaca kisah tersebut, saya sudah menduga bahwa kisah tersebut cuma hoax internet yang menjadi viral. Banyak kok kisah mualaf palsu yang beredar di internet, salah satunya adalah kisah Jaques Cousteau masuk Islam yang tidak jelas sumber asalnya dari mana. Sampai akhir hayatnya, Cousteau adalah penganut Katolik dan dimakamkan secara Katolik. Tidak pernah ada pernyataan resmi atau sumber internet resmi yang bisa dijadikan acuan valid bahwa Cousteau telah masuk Islam. Demikian pula kisah Neil Armstrong yang juga dikabarkan masuk Islam setelah mendengar adzan di Bulan.

Tokoh Fiktif

Baik Cousteau maupun Armstrong, adalah tokoh prominent yang kita semua telah kenal. Keduanya bukan sosok fiktif. Mudah mencari profilnya di ­google. Yang fiktif hanya cerita masuk Islamnya. Lain halnya dengan Demitri Bolykov dan Nicolai Kosinikov, keduanya tidak jelas siapa profilnya.

Siapakah Demitri Bolykov dan Nicolai Kosinikov? Jika anda search di google dengan kata kunci kedua tokoh tersebut, anda tidak akan menemukan apa-apa kecuali artikel hoax yang menyebut nama mereka. Jika ejaan nama kedua tokoh tersebut anda rubah sedikit, dengan asumsi barangkali Republika atau Detikcom keliru mengeja secara tepat nama tokoh tersebut, tetap saja anda tidak akan menemukan apa-apa yang relevan dengan fisika, kecuali cerita hoax tersebut.

Jika Demitri Bolykov dan Nicolai Kosinikov memang betul tokoh fisika, dengan karyanya yang diceritakan tersebut pasti merupakan sosok prominent di bidangnya, dan pasti tidak akan sulit mencari informasi dan profilnya via google. Bahkan, jika ejaan yang kita ketik salah pun, google akan secara otomatis mengkoreksinya. Dan pastinya, tidak akan sulit mengetahui bagaimana wajah tokoh-tokoh tersebut sehingga Republika dan Detikcom tidak sembarang menaruh foto orang lain yang diklaim sebagai Demitri Bolykov.

Ini kesalahan kedua: Republikaonline dan Detikcom telah gegabah memasang foto orang lain sebagai “Demitri Bolykov”. Lucu sekali! Apakah kedua media mainstream tersebut profesional? Apakah mereka memahami etika jurnalistik?

Siapakah profesor berwajah oriental yang dipajang sebagai Demitri Bolykov tersebut? Ternyata adalah Profesor Xinsheng Sean Ling dari Brown University! Bahkan dengan mudah kita bisa tahu email pribadinya: xsling@brown.edu

Silakan anda ketik nama Craig Venter atau Frans de Waal, atau bahkan Xinsheng Sean Ling, anda akan menemukan banyak sekali link berita, artikel, atau apapun tentang tokoh-tokoh tersebut. Craig Venter adalah ilmuwan yang berhasil menggubah bakteri sintetis tahun lalu. Sedangkan Frans de Waal adalah ahli primata dari Universitas Emory. Demitri Bolykov? Nicolai Kosinikov?

Kisah hoax di internet bukanlah barang baru. Sejauh ini, saya telah membaca banyak sekali informasi dan extraordinary claims yang tidak jelas asal muasalnya. Namun yang menyedihkan, adalah ketika cerita-cerita hoax tersebut dimuat di media mainstream seperti Republikaonline dan Detikcom.

Sejauh ini saya memandang Republikaonline cukup baik. Walaupun sajiannya cenderung bias ke arah Islam, saya pikir wajar asal masih berbasis fakta. Demikian juga Detikcom, yang walaupun dalam beberapa pemberitaan terkesan lebay, saya menilai masih dalam taraf kewajaran asalkan tetap berbasis fakta. Namun setelah membaca artikel berita di atas, sejujurnya saya mulai ragu terhadap kredibilitas dan kebenaran sajian media Republia dan Detikcom.

Media massa boleh bertendensi miring ke kiri maupun ke kanan. Tapi sebaiknya tetaplah menjunjung tinggi etika mendasar dalam jurnalistik, yaitu hanya memberitakan fakta, dan memperhatikan betul aspek “sumber berita”. []

Note: Terima kasih kepada Jessica Siscawati yang pagi-pagi kasih sudah kasih link blog ulasan pribadinya. Tema sejenis telah pula diupload di Kompasiana.

Advertisements

Dermatographic Urticaria; Menjawab Fenomena Ali Yakubov

Posted in Mythbuster by Rinaldi on May 19, 2010

 

Fenomena Ali Yakubov; Ternyata cuma “Dermatographic Urticaria”.

Author: Rinaldi

SAYA tidak tahu, apakah harus tertawa geli atau malah sedih melihat kenyataan –untuk kesekian kalinya, bahwa umat beragama mudah ditipu oleh berita palsu (hoax) hanya karena itu bernada agamis. Sebelumnya saya pernah mengulas mengenai paraeidolia yang menjawab fenomena penampakan lafadz Allah, lalu kini muncul fenomena yang tak kalah hebohnya.

Sekitar akhir tahun lalu, dunia digemparkan oleh sebuah fenomena aneh dari Rusia, yaitu kemunculan ayat-ayat “Al Quran” di sekujur tubuh bayi berusia 9 bulan. Ali Yakubov, nama bayi itu, mampu membuat 2000 orang Muslim dari kawasan utara Rusia mendatangi Kizyar untuk melihatnya. Tak kurang, Akhmedpasha Amiralaev, anggota parlemen setempat, membuat pernyataan yang “meyakinkan publik” bahwa apa yang menimpa Ali adalah “tanda dari Allah” untuk menghentikan kekacauan dalam negaranya.

Berdasarkan keterangan orang tua Ali, ayat-ayat tersebut muncul dua kali seminggu, tepatnya pada hari Senin dan antara malam Kamis atau Jum’at. Badan Ali mengalami kesakitan saat ayat-ayat tersebut muncul.

Ratusan situs dan surat kabar ramai membahas fenomena ini. Tak hanya media Islam, bahkan Reuters dan ABC News tertarik meliputnya. Beritanya ramai diforward di mailinglist, facebook, serta berbagai forum online. Walhasil, gema takbir pun ramai berkumandang. Namun, apakah sesungguhnya yang menimpa Ali Yakubov? Benarkah itu tanda dari Allah?

“Dermatographic Urticaria”, merupakan kelainan pada kulit yang membuat kulit menjadi sensitif terhadap goresan benda tumpul, sehingga kita bisa “menulis” di atas kulit.

“Keajaiban” tersebut tak lain adalah penyakit kulit yang dinamakan dermatographic urticaria atau dikenal juga dengan istilah dermographism atau dermatographism. Penyakit tersebut adalah sebuah kelainan kulit yang diderita sekitar 4-5% manusia saja. Penyebabnya adalah lapisan sel-sel di permukaan kulit yang mengeluarkan histamin tanpa adanya antigen, karena membran yang lemah di sekeliling lapisan sel-sel tersebut. Histamin yang dihasilkan membuat kulit membengkak di daerah yang berpenyakit. Kulit penderita menjadi mudah merah meradang pada saat disentuh atau digores dengan benda tumpul. Akibatnya, seseorang bisa dengan leluasa membentuk tulisan atau gambar pada kulit penderita dermatographism ini. Dalam kasus Ali Yakubov, tentu saja “ayat-ayat” tersebut ditulis oleh orang tua atau orang terdekatnya untuk mencari sensasi semata. Keterangan lebih lanjut mengenai ihwal penyakit ini antara lain bisa dibaca di jurnal kesehatan kulit Healthy-skincare.com.

Berita mengenai fenomena Ali Yakubov pun lambat laun menuai kecurigaan. Skeptisisme atas keajaiban tersebut bermunculan. Sejumlah situs berita di internet seperti Vivanews melaporkan ihwal kecurigaan ini, dan begitu pula situs Merseysideskeptics dan berbagai situs lain di internet. Berbagai kecurigaan tersebut bernada sama: dermatographic urticaria.

Terlepas dari kebohongan itu, hal yang menarik dari fenomena ini adalah, tak semua masyarakat Muslim “sumringah” dengan fenomena Ali Yakubov. Kelompok Wahabi yang terkenal ‘keras’, malah mengutuk dan mengancam membakar rumah sang bayi tersebut. Sebagaimana kita tahu, wahabisme adalah paham keislaman yang sangat “sensitif” terhadap apa-apa yang dianggap musyrik atau berpotensi menciptakan kemusyrikan.

Beberapa wahabist di Rusia pernah mendatangi rumah bayi itu dan meminta orang tuanya menunjukkan bayi tersebut kepada mereka. Sebelum itu, wahabist berkali-kali mengancam akan membakar rumah tersebut. Mendapat ancaman seperti itu, rumah sang bayi akhirnya dijaga oleh sekelompok petugas keamanan yang disediakan oleh kepala distrik setempat.

Reaksi “positif” masyarakat agamis terhadap fenomena Ali Yakubov menunjukkan betapa lemahnya benteng intelektual masyarakat dalam menyikapi apapun fenomena yang muncul di sekelilingnya. Makna agama tak lebih dari “penyembahan terhadap Tuhan” dan “sensasi mujijat”. Padahal, kemajuan peradaban dimulai dari intelektualitas. Intelektualitas memicu perkembangan ilmu pengetahuan, dan perkembangan ilmu pengetahuan diawali dari skeptisisme, bukan keyakinan. []

Paraeidolia; Menjawab Fenomena Penampakan Lafadz Allah

Posted in Mythbuster by Rinaldi on May 22, 2009

Arus laut pasca tsunami 2004 yang membentuk ‘lafadz Allah’. Salah satu contoh paraeidolia.

Author Rinaldi

SAYA merasa geli dan sedikit jengkel ketika di dalam sebuah bus kota, seorang pedagang asongan menawarkan sejumlah VCD yang berisi aneka rupa “tanda kebesaran Allah”, berupa gambar-gambar atau foto penampakan lafadz Allah dalam aksara Arab di berbagai tempat; awan, foto satelit, buah-buahan, kulit hewan, dan seterusnya. Dengan nada setengah dakwah, pedagang itu berupaya meyakinkan audiencenya untuk mempercayai isi  VCD tersebut. Memang sebuah tema yang provokatif, sehingga usaha si pedagang tidak sia-sia. Walhasil, beberapa orang tertarik dan membeli VCD yang dijajakan seharga Rp. 5000 itu. Di kalangan awam, cerita mengenai penampakan ladafz Allah sangat populer dan benar-benar diyakini sebagaimana adanya.

Untuk fenomena “lafadz Allah”, kalangan awam pada umumnya menerima itu dengan bangga dan ikhlas sebagai sebuah fakta “tanda kebesaran Allah” yang ada di alam semesta, yang kemudian dikait-kaitkan dengan kebenaran teologi mereka. Sayangnya, hampir tidak ada hasrat untuk bertanya dan mencari tahu mengenai fenomena apakah sebenarnya yang sedang mereka saksikan dalam foto tersebut, atau, apakah mereka satu-satunya umat beragama yang pernah menyaksikan “keajaiban” Tuhannya?

Faktanya, fenomena “penampakan ilahiyah” semacam itu juga pernah dialami oleh umat agama lain, tentu dalam konteks teologi yang mereka anut. Jika di komunitas Muslim yang menjadi fenomena adalah penampakan “lafadz Allah”, maka di kalangan Katolik yang menjadi fenomena adalah penampakan Bunda Maria, wajah Yesus, atau sebuah bentuk salib. Mediumnya bisa apa saja; mulai dari pohon, guratan di kayu, bercak di buah anggur, hasil rontgent otak, hingga bercak gosong pada roti panggang.

Kedua umat beragama itu dengan lugunya sama-sama meyakini fenomena ilahiyah yang mereka temukan, dan percaya bahwa itu benar-benar sebuah pesan dari Tuhan untuk manusia. Tapi, bagaimana sudut pandang ilmiah menjelaskan fenomena tersebut?

Pohon yang berbentuk seperti sosok ‘Bunda Maria’, contoh lain dari fenomena paraeidolia. Sumber: Yoism.org

Kalangan ilmuwan menyebut fenomena semacam itu sebagai Paraeidolia, sebuah fenomena psikologis di mana otak kita terangsang untuk menghubungkan sebuah fenomena acak dengan sesuatu yang kita kenal. Paraedolia berasal dari istilah Yunani; Para yang artinya bersamaan dan eidolon yang berarti gambar/citra. Contoh tradisional paling umum dari paraeidolia adalah imajinasi manusia tentang gambar wanita tua pada waktu bulan purnama, imajinasi gambar wajah manusia pada awan, bercak di tembok, dan sebagainya. Di ranah audio, fenomena paraedolia terjadi ketika seseorang merasa mendengar suara perempuan menangis dalam tiupan angin di waktu malam. Tiap orang dapat mempersepsi bentuk-bentuk acak sebagai sesuatu yang dikenalnya berdasarkan pengalaman pribadinya.

Beberapa tahun yang lalu, foto permukaan Mars yang direlease NASA sempat membuat heboh beberapa kalangan, karena dalam foto tersebut terlihat “sosok” mirip manusia yang diduga merupakan makhluk penghuni mars. Dr. Phil Plait, seorang astronom NASA kemudian mengklarifikasi hal tersebut, dan mengatakan bahwa itu hanyalah batu biasa yang kebetulan dipersepsi seperti manusia oleh imajinasi pemirsanya. Ini adalah contoh lain dari fenomena paraedolia. Contoh populer lagi adalah fenomena Pohon Monyet di Jurong West New Town, di Singapura, di mana sebuah pohon terlihat sangat mirip seekor monyet. Beberapa masyarakat lokal mempercayai pohon tersebut sebagai perwujudan dari Dewa Monyet dan setelah itu ribuan orang datang baik untuk sekedar menyaksikan bahkan berdoa.

Sesuatu yang sebenarnya merupakan fenomena alamiah biasa, menjadi sensasional dan “ajaib” karena kita tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakmengertian ini adalah pangkal dari semua mitos dan takhyul yang ada di dunia. []

Bulan pernah terbelah, benarkah?

Posted in Mythbuster by Rinaldi on February 2, 2009

Foto NASA bergambar "lunar rille" yang disalahgunakan untuk dakwah Islam.Author: Rinaldi

KAJIAN sederhana ini bermula ketika saya membaca sebuah blog yang memaparkan cerita mujijat “bulan terbelah” 

(setelah saya cek kembali, blog di atas rupanya sudah dihapus oleh pemiliknya, mungkin karena “malu” ketahuan bohongnya)

Ada lagi yang masih aktif di link ini. Juga di link ini

Tiga blog tersebut memaparkan kisah mujijat Nabi SAW membelah bulan berdasarkan cerita sebuah Hadith dan tafsir surah Al-Qamar. Sampai di sini tidak ada yang saya persoalkan, karena toh “cerita mujijat” adalah hal yang lumrah di setiap agama. Namun yang jadi masalah, adalah ditampilkannya foto “guratan bulan” (atau secara ilmiah disebut “lunar rille”) pada cerita itu yang dimaksudkan sebagai BUKTI VISUAL bahwa bulan memang pernah terbelah. Selain itu, ditampilkan juga kesaksian Daud Musa Pitkhok, seorang pemimpin Hizb Islami di London yang -menurut cerita- masuk Islam karena mengetahui mujijat tersebut. Daud Musa Pitkhok dikisahkan masuk Islam begitu secara tidak sengaja menyaksikan wawancara BBC dengan “tiga pakar ruang angkasa AS” yang hasil penelitiannya mengatakan bahwa bulan pernah terbelah di zaman dahulu kala dan kemudian menyatu kembali. Nama yang muncul berikutnya adalah Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, yang dalam kisahnya adalah seorang pakar geologi Muslim.

Saya mencoba “berprasangka baik” dengan melakukan penelusuran sederhana terhadap kebenaran berita ini. Saya mulai mencari di google dengan kata kunci Daud Musa Pitkhok dan Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, hasilnya adalah artikel yang sama dari situs web yang berbeda-beda.

Logika sederhana: jika berita tersebut benar adanya, tentunya itu adalah fenomena besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Tentunya pula akan ada banyak kajian baik dalam kerangka sains/ilmiah maupun jurnalistik terhadap persoalan “bulan terbelah” tersebut. Terlebih pernah diliput oleh BBC, institusi pers ternama, pastilah kata kunci tersebut menampilkan sumber-sumber, baik ilmiah maupun jurnalistik, yang kaya akan peristiwa ini. Sebagai bandingan, jika anda memasukkan kata kunci “Madonna” di google, pasti anda akan menemukan aneka situs tentang Madonna yang tentu berbeda-beda, tidak serupa seperti nampak sekedar dicopy-paste.

Kemudian, ada satu blogger lagi, namun yang ini nampaknya hanya milik seorang PENGECUT yang setelah saya beri sanggahan, dia menghapus blognya. Silakan baca di link ini.

Artikel pada blog tersebut kini KOSONG, membuktikan artikel tersebut sudah dihapus!

Pada kenyataannya, dari milyaran web yang ada di dunia, kata kunci Daud Musa Pitkhok hanya menghasilkan artikel yang sama dari web yang berbeda-beda. Hal itu mengindikasikan berita tersebut adalah “hoax” yang dicopy-paste secara berantai dan dipublikasikan melalui webblog dan mailinglist. Hal ini diperkuat dengan bukti dari situs resmi NASA sendiri (diterangkan di bawah) bahwa foto “guratan pada bulan” bukanlah akibat bulan pernah terbelah. Dan NASA sama sekali tidak pernah mengklaim ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa bulan pernah terbelah, apalagi bahwa yang disebut “lunar rille” adalah akibat bulan pernah terbelah. Kasus ini sudah pernah diklarifikasi dalam buletin LAPAN. Dan pak T. Djamaludin, peneliti Astronomi LAPAN juga telah mengklarifikasinya di sini

Ini bukan soal gugatan terhadap iman Islam yang meyakini mujijat bahwa Nabi Muhammad pernah membelah bulan (menurut Hadith), atau makna dari Surah Al-Qamar. Namun persoalannya adalah:

Bahwa ada yang menggunakan foto guratan pada bulan dari NASA lepas dari konteks aslinya, sebagai upaya pembenaran dari mujijat tersebut. Dalam situs resminya, NASA tidak pernah mengatakan bahwa bulan pernah terbelah, atau “guratan” tersebut adalah akibat bulan pernah terbelah.

Foto yang ditampilkan dalam hoax itu konteks sebenarnya berasal dari sini:

http://www.hq.nasa.gov/office/pao/History/SP-362/ch4.2.htm

Perlu diperhatikan: link resmi NASA di atas tidak sedikitpun mengatakan bahwa guratan pada bulan adalah akibat bulan pernah terbelah.

Guratan tersebut dinamakan lunar rille, penjelasannya di sini:

http://antwrp.gsfc.nasa.gov/apod/ap021029.html

Di situs itu disebut “rille appear all over the Moon.” Jadi rille ada disekujur tubuh bulan, bukan SATU seperti seolah bulan pernah terbelah dua.

Apakah rille itu? Penjelasannya ada di sini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Rille

By the way, Apa sih itu HOAX?

“A hoax is a deliberate attempt to dupe, deceive or trick an audience into believing, or accepting, that something is real, when in fact it is not; or that something is true, when in fact it is false. In an instance of a hoax, an object, or event, is not what it appears to be, or what it is claimed to be..”

http://en.wikipedia.org/wiki/Hoax

Demikian klarifikasi ini dibuat, terima kasih atas perhatiannya. []