Sapere aude!

Kristenisasi dan Pemurtadan

Posted in Uncategorized by Rinaldi on October 18, 2015
PDF, ternyata menjadi salah satu agama besar dunia.

PDF, ternyata menjadi salah satu agama besar dunia.

ANDA yang sering dengar dakwah Islam, pasti pernah atau bahkan sering dengar kata ini: “Kristenisasi” dan “Pemurtadan”.

Ini kata provokatif yang menjadi momok di lingkungan muslim. Kata yang dapat membuat banyak muslim marah, jengkel, kesal dan benci terhadap unsur-unsur berbau “kristen”. Memangnya, apa sih arti kedua kata tersebut? Kenapa umat muslim begitu khawatir terhadap dua kata tersebut? Apakah kekhawatiran tersebut adalah hal yang wajar, atau sekadar bentuk paranoia umat saja karena menghadapi “kompetitor” dalam beragama? Saya tertarik untuk membahas soal ini.

Kedua kata tersebut mengacu pada suatu tindakan “mempengaruhi seseorang menjadi kristen”, “menyebarkan agama kristen”, atau “mempengaruhi seseorang untuk keluar dari Islam”, dan sebagainya.

Pertanyaannya: Apakah mempengaruhi seseorang untuk menjadi kristen atau menyebarkan keyakinan kristen (juga hal yang sama untuk keyakinan islam, hindu, buddha, dst) adalah sesuatu yang salah?

Menurut hemat saya, asalkan sekedar mempengaruhi dan menyebarkan pemikiran/ajaran agama, tanpa ada unsur paksaan dan ancaman, sebetulnya tidak ada yang salah. Terus, kenapa banyak muslim khawatir terhadap kristenisasi? Ini pertanyaan besar saya.

Bukankah setiap agama, termasuk Islam, juga disebarkan dengan cara-cara “sasi” semacam itu? Sadarkah bahwa sebenarnya Wali Songo pun melakukan “Islamisasi” terhadap Hindu-Buddha di Jawa?

Saya tidak beragama, ex-muslim, dan kini pemikir bebas saja. Sikap saya dalam hal ini, adalah mendukung upaya menyebarkan agama apapun dan tindakan mendakwahkan ajaran agama apapun ke luar umat, asalkan dilakukan dengan cara-cara yang fair. “Fair” dalam arti tidak ada unsur pemaksaan.

Saya tidak memeluk agama, tapi saya mendukung sikap orang untuk beragama dan berpindah agama, sejauh itu dilakukan secara damai, tanpa ancaman dan paksaan. Saya percaya bahwa yang membatasi kebebasan individu, adalah kebebasan individu lain. Oleh sebab itu saya tidak bisa menolak suatu individu untuk melakukan apapun, sejauh apa yang dia lakukan tidak merugikan, tidak memberangus kebebasan individu lain.

Mari kita buat simulasi kasus: Anggaplah saya muslim, dan suatu hari saya bertemu dengan X yang mendakwahkan agama kristen ke saya. Singkat cerita, saya kemudian tertarik memeluk agama kristen berkat si X ini. Terus, urusannya apa sama ormas Islam, MUI, atau masyarakat muslim pada umumnya? Apakah si X telah bersalah? Kalaupun si X bersalah, salahnya dia apa? Lah wong dia tidak memaksa apa-apa sama saya, dan saya pun masuk kristen atas dasar wewenang bebas saya sendiri? Memangnya sebagai muslim, saya dilarang keluar dari Islam? Apakah “keluar dari Islam” adalah perbuatan kriminal di NKRI ini?

Anggaplah si X mengiming-imingi saya Toyota Alphard jika saya mau masuk kristen. Dan saya pun setuju tawaran si X. Terus, apakah si X salah? Dengan atau tanpa iming-iming materi, setiap individu berhak berpindah agama atas kewenangan diri sendiri. Apa juga urusannya dengan ormas Islam, MUI atau masyarakat muslim pada umumnya? Toh ini urusan saya dengan si X.

Apapun alasannya, “pindah agama” asal dilakukan berdasarkan wewenang individu, bukan merupakan hal kriminal di NKRI.

Saya tidak setuju upaya-upaya penyebaran agama dengan paksa, dengan ancaman, dengan –misalnya—hipnotis dsb. Saya pernah membaca kasus-kasus “kristenisasi” dengan cara hipnotis di sebuah media dakwah Islam online bertahun-tahun yang lalu. Dan saya kira jika kalian muslim, kemungkinan besar kalian pernah membaca hal sejenis itu. Saya tidak percaya begitu saja dengan kasus-kasus semacam itu. Tapi jikapun itu benar, saya tidak setuju. Biarlah orang bebas menyebarkan agama, dan biarkan pula si individu memutuskan apakah tertarik dan memeluk agama baru tersebut atau tidak tanpa harus ada unsur paksaan dari pihak manapun. Saya pikir ini adalah aturan yang cukup fair, yang bisa diamini pihak umat beragama manapun yang berniat jujur dan baik.

Saya memiliki kesimpulan sederhana,  bahwa kenapa banyak umat muslim begitu khawatir dengan “kristenisasi” dan “pemurtadan”, antara lain adalah karena faktor rasa iri kehilangan umat. Rasa sakit hati karena khawatir supremasi agamanya akan tercoreng dengan adanya umat yang berpindah agama. Juga rasa khawatir bahwa suatu ketika jumlahnya tak lagi mayoritas sehingga masyarakat kehilangan identitas primordialnya.

Ini adalah sikap inferior kelompok mayoritas (dalam hal ini muslim) terhadap kelompok minoritas. Tidak lebih dari itu. Rasa inferior semacam itu sangat mungkin terjadi pada umat beragama lain, semisal umat kristen di lingkungan tertentu dengan kadar fanatisme yang sama.

Realistis dan rasional sajalah. Pindah agama bukan tindakan kriminal, begitu pula menyebarkan agama. Tidak perlu merasa iri dengan umat lain yang menyebarkan agamanya dan kemudian berhasil mendapatkan pengikut baru. Semua agama pernah melakukan hal yang sama.

Setiap kelompok umat beragama berhak mempromosikan agamanya untuk mendapatkan pengikut baru. Tapi, tiap orang juga berhak dan memiliki wewenang penuh untuk memilih apakah dia mau ikut dengan agama yang dipromosikan tersebut atau tidak. []

Advertisements

Muslim, Berkacalah dari Peristiwa Tolikara

Posted in Uncategorized by Rinaldi on July 19, 2015
Kerusuhan di Tolikara. Sumber foto: Radio Elshinta

Kerusuhan di Tolikara. Sumber foto: Radio Elshinta

COBA anda bayangkan, di sebuah perkampungan kecil yang mayoritas muslim yang kental dan fanatik, sedang digelar sebuah acara “Tabligh Akbar” yang mengundang ustad “garis keras” terkenal dan berskala cukup besar. Yang kebetulan, acara Tabligh Akbar tersebut bertepatan dengan momen peringatan Natal.

Nah, di kampung tersebut, terdapat juga sejumlah minoritas Kristen yang kebetulan sedang melakukan ibadah dalam rangka peringatan Natal. Kelompok Kristen ini menggunakan sound system yang suaranya cukup kencang, untuk menyanyikan lagu-lagu rohani. Walhasil, gema suara “haleluya.. haleluya..” berkumandang dan bertumpang tindih dengan loud speaker acara Tabligh Akbar.

Dalam kondisi macam itu, coba anda bayangkan, bagaimana reaksi mayoritas muslim yang relatif fanatik tersebut? Wah.. bisa dipastikan, kegiatan kebaktian Natal tersebut akan habis digeruduk massa, diiringi teriakan takbir. Tak tertutup kemungkinan, bangunan gereja pun jadi sasaran pengrusakan oleh massa. Tidak perlu munafik, kita semua mengakui kemungkinan tersebut jika dalam kondisi demikian.

Itulah ilustrasi sederhana mengenai apa yang kurang lebih terjadi di Tolikara. Hanya saja, di Tolikara umat Kristen fanatik yang berada dalam posisi “mayoritas”.

Fanatisme beragama itu akan menghasilkan sesuatu yang sama saja; Dominasi mayoritas, perasaan superior dan paling benar, perasaan egois dan tidak mau kalah. Dan terakhir, sikap minim toleransi.

Itulah sikap yang tercermin dalam organisasi Kristen GIDI (Gereja Injili di Indonesia), yang dalam surat selebaran yang beredar sebelum peristiwa, bahkan melarang aliran Kristen lain non-GIDI untuk sama-sama eksis berkegiatan. Apalagi Islam yang jelas-jelas berbeda agama.

Banyak umat muslim berkomentar “panas” atas peristiwa yang terjadi di Tolikara. Mereka mengutuk keras pelaku “pembakaran masjid”, dan memandang peristiwa tersebut dari perspektif sempit fanatisme agama. Bahkan ada ancaman untuk “jihad” ke Papua segala.

Terus terang, saya geli mendengar sikap muslim yang mudah terbakar semacam itu, khususnya pada kasus Tolikara. Apa mereka tidak sadar, bahwa muslim pun seringkali bersikap serupa terhadap minoritas baik Kristen maupun aliran-aliran lain di Jawa?

Sebut saja, ada segerombol massa Islam membubarkan acara Doa Rosario di sebuah rumah warga di Yogyakarta. Kemudian, ada pula massa Islam yang mengancam acara pemberkatan nikah di Gereja Pentakosta di Jatinangor. Pelarangan pembangunan Gereja Filadelfia serta pembubaran acara kebaktian jemaat tersebut di Bekasi. Penyegelan GKI Yasmin oleh Pemda yang ditekan oleh warga, walau Gereja itu sudah ber-IMB dan sudah memenangkan perkara di Mahkamah Agung. Pengusiran warga minoritas Syiah di Sampang hingga mereka harus mengungsi ke luar kampung mereka. Pembubaran acara diskusi buku Irshad Manji di Salihara dan  LKIS Yogyakarta yang berujung ricuh. Dan masih banyak lagi.

Segerombolan massa Islam juga pernah menuntut penurunan Patung Buddha Amitabha di Wihara Tri Ratna Tanjung Balai, karena patung tersebut dinilai “tidak Islami”.

Belum lagi, kasus bom di Gereja Injil Sepenuh Solo oleh kelompok radikal Islam di tengah-tengah kebaktian beberapa tahun lalu.

Tentu tidak semua muslim setuju dan menjadi bagian dari sejumlah ormas rusuh tersebut. Tetapi, melihat fakta yang demikian, sekurangnya umat muslim harus malu melihat peristiwa Tolikara. Malu, karena pelakunya, yang mereka hujat itu, tidak jauh dari perilaku saudara mereka sendiri; Fanatik, dominan karena merasa mayoritas, egoisme kekelompokan yang tinggi, dan minim toleransi.

Umat muslim di Tolikara sudah merasakan tidak enaknya ibadah dibubarkan paksa oleh amukan massa. Hendaknya ini menjadi pelajaran untuk kita semua, khususnya kaum muslimin, untuk tidak melakukan hal yang sama pada kegiatan ibadah agama lain. []

Apa Yang Tidak Anda Lihat di Media Tentang Gaza? – Tanggapan Atas Wawancara Tim Marbun dengan Dubes Palestina, Fariz Mehdawi

Posted in Uncategorized by Rinaldi on May 19, 2015
Tim Marbun dan Fariz Mehdawi. Sumber: Blog Tim Marbun.

Tim Marbun dan Fariz Mehdawi. Sumber: Blog Tim Marbun.

SEKITAR bulan September 2014, saya diberi link wawancara Tim Marbun, wartawan Kompas TV dengan Fariz Mehdawi oleh seorang teman melalui medsos. Setelah saya baca, saya memberikan sedikit tanggapan di kolom komentar karena merasa ada yang perlu “diluruskan”.

Sekian lama komentar saya awaiting moderation, tak kunjung di­approve. Tidak apa-apa, mungkin yang bersangkutan sibuk. Oleh karena itulah saya berpikir untuk mengupload saja komentar tersebut di blog saya sendiri sekedar upaya sharingpendapat. Berikut adalah isi komentar saya.

—————————————————————-

Dear Tim Marbun,

Saya seorang blogger yang kebetulan punya interest terhadap isu konflik Israel-Palestina. Link artikel ini saya dapat dari seorang teman di medsos beberapa waktu yang lalu, yang sudah saya baca tetapi baru kali ini sempat memberi reply.

Saya tertarik dengan judulnya, Apa yang tidak anda lihat di media tentang Gaza?”

Saya jadi bertanya-tanya, “apa ya yang belum saya lihat di media tentang Gaza?” Perasaan, sejauh saya menyimak, sebagian besar yang saya lihat di media khususnya di Indonesia, terkait konflik Israel-Palestina, adalah tentang Gaza. Mungkin belum semua “tentang Gaza” tertumpah di media, tapi, sebagian besar pemberitaan terkait konflik Israel-Palestina, adalah tentang Gaza (dan Tepi Barat dalam kasus yang lain).

Dengan kata lain, media mainstream khususnya di Indonesia hanya memberitakan dari satu sisi, yakni sisi Otoritas Palestina. Ini timpang dan kurang memuaskan bagi para pencari informasi sejati.

Yang saya ingin lihat di media, khususnya media-media di Indonesia, adalah justru tentang Israel; Bagaimana mereka memandang konflik ini, apa apa alasan mereka meroket Gaza, bagaimana kehidupan sehari-hari di Israel terutama warga Arab-Muslimnya, juga korban-korban Israel akibat roket-roket Hamas dan seterusnya.

Tidak pernah ada informasi yang berimbang mengenai konflik ini. Media cenderung berpihak, biasanya sih, ke pihak Otoritas Palestina. Yah, asumsi saya, karena itu yang bisa dijual mengingat segmen pemirsa di Indonesia adalah mayoritas muslim.

Di Gaza tewas 1000 orang sipil, seluruh dunia terutama dunia Islam ramai mengecam Israel. Tetapi sebelumnya 170.000 sipil tewas di Syria, tidak ada yang serius mengecam apalagi sampai demonstrasi di Bundaran HI. Ini tidak adil. Opini publik sudah dibangun oleh media.

Dalam paragraf berikut ini, akan saya sampaikan sedikit pertanyaan dan –mungkin—keberatan terhadap pernyataan Pak Dubes:

“Di Gaza, yang ada hanyalah penduduk sipil. Kita tidak ada tentara. Kita bahkan hampir tidak memiliki pasukan kepolisian untuk keamanan internal.  Kami tidak memiliki pasukan yang bisa bertempur melawan tank dan persenjataan berat dari pasukan Israel, pasukan terbesar dan terbaik ke-4 dunia. Bagaimana kami di Gaza bisa bertempur melawan pasukan sebesar itu?

Jadi menunjukkan bahwa yang terjadi di Gaza adalah perang, itu tidak adil. Ini adalah pembantaian oleh pasukan yang sangat canggih dari negara Israel, melawan populasi sipil, yang bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya”.

Jujur, saya tidak percaya begitu saja pada klaim ini. Hamas memiliki gudang bawah tanah di pemukiman-pemukiman penduduk, bahkan termasuk di sekolah PBB yang kemarin dibom itu.

Hamas memiliki ribuan roket-roket yang walaupun –katakanlah—masih kalah canggih dengan roket-roket Israel, tetapi itu terhitung “persenjataan berat”. Inilah yang menjadi modal Hamas untuk meroket target-target sipil Israel.

“Karena inti dari konflik ini adalah okupansi militer yang dilakukan oleh Israel sejak 1967. Seluruh dunia mengatakan bahwa solusinya adalah menciptakan 2 negara yang hidup damai bersebelahan. Ada beberapa kendala, pertama adalah dimana batas negaranya? Kami mengatakan batas negaranya mengikuti kondisi tahun 1967, sebelum Israel mengokupansi wilayahnya. Menurut batasan ini, Palestina adalah Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem. Itu basis fundamental dari kesepakatan damai, namun meski diterima seluruh dunia, Israel menolak mengakui batasan ini”.

Betul, saya setuju Pak Dubes, bahwa akar konflik Israel-Palestina adalah pendudukan wilayah-wilayah Tepi Barat dan Gaza (juga Sinai dan Golan Height) pada perang 6 hari 1967.

Saya pun juga setuju dengan pendapat solusi dua negara di mana batasnya adalah pra-1967 sebelum Israel menduduki Tepi Barat dan Gaza. Tetapi…

Dikatakan bahwa “Israel menolak mengakui batasan ini”, benarkah? Tahun 2004 Ariel Sharon mengajukan proposal penarikan mundur total pemerintahan Israel dari Gaza, yang terealisasi setahun kemudian. Pada September 2005, Israel telah mundur total dari Gaza, dan sejak itu praktis Gaza merdeka dan bukan lagi wilayah dudukan Israel. Ini adalah langkah maju bagi perdamaian di timur tengah.

Walaupun penarikan mundur instrumen pemerintahan Israel dari Gaza –katakanlah—belum memuaskan beberapa pihak Otoritas Palestina, tapi bukankah semestinya ini disyukuri sebagai kemajuan?

Sebelumnya, Israel dan representatif Palestina menandatangani Oslo Accord I dan II, yang hasilnya adalah pembentukan Otoritas Nasional Palestina di Tepi Barat dan Gaza, di mana Palestina memiliki kontrol penuh atas zona A di Tepi Barat (sementara zona B harus berbagi dengan Israel dan zona C dikontrol penuh oleh Israel).

Pertanyaan saya selanjutnya: Apakah Hamas mau mengakui solusi dua negara dengan batasan pra-1967? Saya rasa tidak. Anda pernah lihat logo Hamas? Mereka menggambarkan “palestina” adalah seluruh Israel, Tepi Barat dan Gaza. Artinya, itu cerminan ideologi Hamas yang tidak setuju solusi dua negara. Hamas bertujuan menghancurkan Israel dan dunia diam terhadap itu, sementara menuntut Israel mengakui solusi dua negara. Apakah ini fair?

Kemudian,

Di atas disebut mengenai solusi dua negara dengan batasan pra-1967. Saya bertanya pada Pak Dubes, APAKAH, SEBAGAI ORANG ARAB, ANDA TIDAK MALU DENGAN TUNTUTAN SEPERTI ITU?

Jika Arab mau menerima UN Partition 1947, wilayah Arab-Palestina akan bisa jauh lebih besar dari batas pra-1967. Tetapi waktu itu pihak Arab menolak, dan pihak Yahudi menerima.

Mahmoud Abbas, presiden anda, bisa lebih jujur. Beliau mengakui bahwa salah satu kesalahan bangsa Arab terkait konflik ini adalah menolak UN Partition:

http://www.reuters.com/article/2011/10/28/us-palestinians-israel-abbas-idUSTRE79R64320111028

“Arabs made a “mistake” by rejecting a 1947 U.N. proposal that would have created a Palestinian state alongside the nascent Israel, Palestinian President Mahmoud Abbas said in an interview aired on Friday”.

“Tujuan utama Israel bukan di Gaza, tapi membangun permukiman di Jerusalem dan di Tepi Barat. Jadi mereka ingin mengalihkan seluruh perhatian dunia ke Gaza, daripada membicarakan apa tentang pembangunan permukiman mereka di tanah yang dirampas di Tepi Barat. Jadi, selama pendudukan ini terus terjadi, lingkaran kekerasan akan terus berulang. Mengapa mereka menyerang Gaza? Karena kita juga telah mencapai rekonsiliasi damai antara Hamas dan Fatah, kini, tidak ada pemisahan lagi di Palestina. Hanya ada 1 pemerintahan, 1 presiden, dan 1 institusi di Palestina, beserta berbagai partai politik, yang akan bersiap menghadapi pemilihan umum pada Januari untuk memilih anggota parlemen dan presiden. Kami mulai bersatu, dan ini yang tidak diterima oleh Israel, mereka ingin menyerang Gaza, dan mencoba menganggap Hamas berbeda sendiri , menciptakan perang antara Israel dan Hamas saja. Ini adalah perang antara pasukan Israel melawan seluruh Palestina, bukan hanya Hamas, dan bukan hanya Gaza”.

Mengapa “mereka” (Israel) menyerang Gaza?

Saya kira semua sudah tahu, bahwa serangan Israel ke Gaza adalah”serangan balasan”. Justru saya yang balik tanya: “Mengapa Hamas menyerang Israel?”

Apakah anda kira Israel akan “begitu saja menyerang” yang implikasinya akan mendapat kecaman dunia?

Kembali ke Tepi Barat:

“Umat muslim takkan membiarkan masjid Al Aqsa dibawah pendudukan. Ini adalah qiblat pertama bagi umat muslim, bahkan sebelum Mekkah. Ada Al Haram Ibrahimi di Hebron, ini situs Abraham. Ini adalah situs suci yang dimiliki oleh setiap muslim, termasuk di Indonesia. Jadi setiap ada serangan atas Palestina dan situs ini oleh Israel, tentu berdampak pada semua muslim di seluruh dunia. Saya ingatkan, satu fakta. OIC, yang merupakan Konferensi Negara Islam, dibentuk karena ada 1 atau 2 warga Israel yang menyebabkan kebakaran di masjid Al Aqsa, ini membakar perasaan seluruh umat muslim, hingga mendorong dibentuknya OIC. Jadi bayangkan betapa pentingnya ini bagi umat muslim”.

Ini agak melenceng dari kasus Gaza, tetapi saya memiliki tanggapan terhadap pendapat ini.

Apakah anda kira, Israel akan membiarkan Yerusalem dan situs-situs sucinya (tembok barat) di bawah “pendudukan asing” (Palestina atau Yordania)? Apakah anda kira umat Yahudi tidak memiliki religiusitas seperti orang Muslim? Yerusalem bukan sekedar “kiblat pertama” buat orang Yahudi, tapi juga yang terakhir dan satu-satunya. Sementara Muslim punya Mekkah, Yerusalem itulah satu-satunya milik Yahudi.

Itulah, kita tidak bisa egois. Kalo umat Islam merasa punya hak atas Yerusalem, begitupun Yahudi (juga Kristen). Makanya, dalam UN Partition 1947, Yerusalem ditetapkan sebagai “corpus separatum”, atau wilayah internasional yang tidak dimiliki oleh baik negara Yahudi maupun Arab. Ini cukup adil menurut saya, dan Yahudi MENERIMA USULAN SEPERTI ITU sebelum pihak Arab mengacaukannya.

Anda tahu nggak, bahwa selama Yerusalem timur diduduki Yordania dari 1949 s/d 1967, orang-orang Yahudi tidak diperbolehkan berdoa di tembok barat. Baru setelah Israel menduduki tepi barat pada 1967, mereka untuk pertama kalinya sejak 1948 bisa berdoa di tembok barat.

Kembali ke judul, “Apa yang tidak anda lihat di media tentang Gaza?”, bahwa hemat saya, sudah terlalu banyak yang kita lihat tentang Gaza melalui media khususnya di Indonesia. Justru yang saya sayangkan, masih banyak yang belum kita lihat di media tentang Israel.

Kita, khususnya orang Indonesia, tidak pernah disajikan konflik Israel-Palestina secara berimbang. Media selalu memiliki tendensi membela pihak Palestina. Asumsi saya, pertama, karena media berusaha memenuhi selera pemirsanya yang mayoritas muslim dengan menyajikan informasi-informasi “yang memang ingin didengar” oleh orang muslim. Kedua, media TAKUT dimusuhi oleh segmen pemirsanya karena memberitakan “yang positif” tentang Israel.

Terlepas dari apakah kita muslim atau bukan, apakah kita pro-Israel atau Palestina, kalau kita cerdas, kita akan menuntut media untuk menerapkan asas “cover both sides”. Sekian. []

Sebuah Deskripsi Kemerdekaan

Posted in Uncategorized by Rinaldi on August 17, 2013
Image

Warga Tionghoa melaksanakan ritual sembahyang pada perayaan Tahun Baru Imlek 2011 di Wihara Dharma Bhakti Jakarta. Foto: Rinaldi

Author: Rinaldi

HARI INI seluruh nusantara merayakan 68 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pekik “merdeka” berkumandang secara normatif di mana-mana. Terdengar klise di tengah-tengah berbagai “ketidakmerdekaan” yang dialami oleh –terutama—kelompok-kelompok minoritas agama yang setelah dihakimi “sesat”, kemudian terusir dari kampungnya. Yang disayangkan, penghakiman sesat dan pengusiran tersebut direstui oleh negara melalui Kementrian Agama. Dalam hal ini, negara memiliki keberpihakan teologis dalam menghadapi konflik-konflik horizontal antar warganya, yang seharusnya negara bersikap netral.

Masalah sosial-agama memang bukan satu-satunya masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Masih banyak masalah lain yang tidak kalah pentingnya. Tetapi, konsep “pencampuradukan” antara urusan agama dengan urusan publik-kenegaraan merupakan masalah yang terbilang fundamental di zaman modern, terutama terkait dengan deskripsi kita mengenai “kemerdekaan”.

Bagaimana anda mendeskripsikan “kemerdekaan?”

Hemat saya, “kemerdekaan” tidak berpangkal dari sebuah institusi (negara), tapi dari individu. Sebuah bangsa baru dapat dikatakan “merdeka” sepenuhnya, apabila individu-individunya telah memiliki kemerdekaan; dalam arti memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri secara utuh.

Bangsa yang merdeka adalah bangsa di mana masyarakat dan pemerintahnya mampu membedakan antara urusan publik-kenegaraan yang menyangkut orang banyak, dengan urusan privat yang hanya menyangkut kelompok tertentu atau perseorangan semisal urusan agama (salah satunya). Pemaksaan aturan agama di ruang publik, sebagai contoh, itu adalah bentuk lain dari penjajahan.

Individu yang merdeka dapat dideskripsikan sebagai individu yang memiliki kedaulatan penuh atas dirinya; Memiliki kedaulatan untuk beragama apapun atau tidak beragama, memiliki kedaulatan untuk berbicara dan berpendapat, memiliki kedaulatan untuk menentukan arah, sikap dan gaya hidupnya serta menyatakan ketidaksetujuan atas sesuatu.

Tanpa adanya kemerdekaan pada tingkat individu, maka sesungguhnya sebuah negara belumlah terkategori “merdeka”. Penjajahan masih berlangsung. Misalnya penjajahan oleh mayoritas kepada minoritas (majoritariansim). Atau penjajahan oleh “segerombolan” kelompok yang memaksakan kehendak (mobocracy), penjajahan oleh satu orang yang memiliki kekuasaan absolut (monarki absolute) dan seterusnya. Kemerdekaan institusi tanpa kemerdekaan individu adalah kemerdekaan yang tanggung.

Arab Saudi adalah negara yang merdeka dan memiliki kedaulatan. Tapi rakyatnya tidak merdeka dan tidak memiliki kedaulatan penuh atas dirinya. Perempuan dipaksa menggunakan pakaian tertentu, dilarang bepergian dengan bukan muhrimnya, ada pengekangan opini dan penyeragaman pandangan keagamaan. Ada intervensi negara dalam urusan-urusan privat. Hemat saya, ini adalah penjajahan dalam bentuk lain.

Rumusan dasar “kemerdekaan” sesungguhnya adalah sebuah pandangan bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki kebebasan sebebas-bebasnya. Hanya karena individu tersebut berkumpul dalam suatu wilayah dengan individu-individu lainnya yang equal/memiliki kadar kebebasan yang sama, maka otomatis kebebasan individu tersebut menjadi terbatas. Apa yang membatasinya? Yaitu kebebasan individu lain. Sesederhana itu.

Sebagai ilustrasi, simak contoh berikut: Setiap individu berdaulat penuh atas tubuhnya. Oleh karena itu, saya memiliki hak dan kebebasan untuk menumbuhkan kumis di wajah saya. Begitupun anda memiliki kedaulatan atas mulut dan isi kepala anda, maka anda memiliki hak dan kebebasan untuk menilai bahwa kumis saya jelek.

Saya tidak bisa melarang anda berpendapat demikian, sebagaimana anda tidak bisa melarang saya punya kumis. Itulah kemerdekaan.

Anda boleh larang saya masuk ke rumah anda karena saya berkumis. Itu hak anda dan saya tidak berdaulat untuk mengatur siapa-siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke rumah anda. Tetapi anda tidak bisa larang saya untuk pergi ke taman kota, berjalan-jalan, belanja, dan mendapatkan hak-hak sipil lainnya di ruang publik. Anda juga tidak bisa menggalang massa untuk menekan legislatif mengeluarkan UU yang melarang orang berkumis berjalan-jalan di taman kota atau berbelanja di mall. Karena “ruang publik” adalah wilayah bersama, bukan wilayah kedaulatan anda atau wilayah milik kelompok masyarakat tertentu. Aturan-aturan di ruang publik adalah aturan-aturan yang umum, bukan aturan-aturan yang bersifat “sektarian”.

Jika anda merasa “terganggu” melihat kumis saya, maka itu masalah buat anda. Bagaimanapun, anda tidak bisa melarang, mengancam, merusak properti saya, menyakiti atau membunuh saya hanya karena anda tidak suka saya berkumis.

Terkait persoalan tersebut, kita harus memiliki definisi yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan “mengganggu”. Apa definisi “mengganggu?” Suatu perbuatan dapat dikatakan “mengganggu” apabila perbuatan tersebut berimplikasi mengurangi atau menghilangkan hak-hak dasar individu lain.

Apakah kumis saya berimplikasi mengurangi atau menghilangkan hak dan kebebasan individu anda? Tentu tidak. Anda tetap bisa bebas beribadah, berpendapat, bersekolah, bekerja, berusaha, menikah, punya anak dan lain sebagainya sementara saya punya kumis. Sekedar “tidak suka” atau “dilarang oleh agama anda”, bukan alasan untuk melarang perbuatan orang lain.

Kalau anda tidak suka kumis, maka anda dipersilakan untuk tidak memiliki kumis. Tetapi anda tidak bisa melarang orang lain untuk punya kumis, atau memaksa orang untuk ikut-ikutan “tidak suka kumis”.

Begitu juga dalam konteks yang lebih luas. Jika anda tidak suka nikah sejenis, carilah pasangan yang lain jenis. Jika tidak suka berzinah, ya jangan berzinah. Jika anda menganggap judi itu berdosa, maka jangan berjudi. Jika anda tidak suka minum alkohol, jauhi minuman beralkohol.

Jangan karena anda tidak suka nikah sejenis, lantas melarang orang lain untuk nikah sejenis. Jangan karena dalam agama anda berzinah itu dilarang, lantas anda melarang orang lain untuk berzinah. Anda tidak bisa menganggap sesuatu itu mesti dilarang hanya karena agama anda melarangnya. “Orang lain” dalam hal ini adalah “none of your bussines”. Itulah asas-asas dasar kemerdekaan. Sesederhana itu. []

[Tes Post] Tentang Pemblokiran Situs Internet

Posted in Uncategorized by Rinaldi on January 1, 2010

“Ketika buku “Faith Without Fear: A Challenge to Islam Today” yang ditulis oleh feminis Muslim liberal asal Kanada, Irshad Manji, dilarang di beberapa negara Muslim yang bercorak diktator, internet membantu banyak orang mendapatkan akses atas buku itu. Irshad melayani pembacanya dengan menyediakan buku itu secara online dan gratis. Lihat, tidak ada diktator di dunia maya.”

SAYA sedikit bingung campur jengkel, melihat berbagai wacana mengenai rencana pemblokiran situs-situs “yang dianggap terlarang” di internet. Terlebih ketika mantan presiden PKS Tifatul Sembiring, mulai menjabat sebagai menkominfo, intensitas dukungan kelompok masyarakat tertentu terhadap ide pemblokiran situs-situs yang mereka anggap “meresahkan”, relatif meningkat. Fenomena sosial ini bisa kita lihat di beberapa grup di facebook.

Kejengkelan dan kebingungan saya bukan tanpa alasan. Memblokir situs-situs internet yang dianggap meresahkan, boleh-boleh saja. Namun, apa definisi atau batasan dari “meresahkan”, itu yang menjadi masalah besar. Sebab, jika definisi “meresahkan” dirumuskan secara serampangan, alih-alih pemblokiran tersebut memiliki nilai edukasi bagi masyarakat, boleh jadi malah memberangus kebebasan berekspresi dan berpendapat, bahkan bisa merupakan teror terhadap intelektualitas. Dunia maya yang semestinya menjadi media alternatif untuk menyampaikan berbagai ide dengan leluasa dan bebas, malah terpenjara dengan adanya seperangkat regulasi yang bercorak otoriter. Internet bisa menjadi media dengan karakteristik “Indonesia zaman orde baru”.

“Penodaan agama” dan “pornografi” adalah dua materi sensitif yang nampaknya memotori beberapa kelompok masyarakat untuk memblokir situs-situs internet dengan konten tersebut. Dan nampaknya, “agama” cenderung menjadi pangkal motivatornya. Tetapi sekali lagi, apa batasan atas dua materi tersebut?

Soal definisi atau batasan ini memang layak dipermasalahkan, berdasarkan pengalaman bahwa masyarakat kita seringkali tak mampu memandang berbagai persoalan sensitif secara jernih dan logis. Apalagi jika persoalan tersebut sedikit banyak menyangkut soal “agama”. Kekaburan definisi memungkinkan masyarakat untuk seenaknya menghakimi sesuatu sebagai “pornografi”, “meresahkan masyarakat”, atau “pelecehan agama” atas sembarang hal yang mereka pikir begitu. Indonesia sepertinya memiliki segudang contoh kasus konyol dalam hal ini.

***

Ulil Abshar-Abdalla.

SEKITAR tahun 2002, FUUI Bandung memberi fatwa mati terhadap Ulil Abshar-Abdalla, koordinator JIL waktu itu. Pasalnya, FUUI menuduh Ulil melakukan penodaan agama Islam melalui artikel yang ditulisnya di harian Kompas pada 18 November 2002, yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Apakah yang ditulis Ulil sesungguhnya? Hanya sebuah opini kritis-progresif mengenai bagaimana Islam yang seharusnya, yang kebetulan, berbeda dengan Islam yang dipahami oleh kelompok FUUI.

Di tahun berikutnya, salah satu edisi majalah Newsweek sempat dilarang beredar di Indonesia, karena majalah tersebut memuat artikel Stefan Theil yang melansir tesis Prof. Christoph Luxenberg, seorang Profesor Bahasa Semit dan pakar filologi di Universitas terkemuka di Jerman. Luxenberg berpendapat bahwa Al Quran yang ada saat ini mengalami mistranscribed atau salah salin. Teks asli Al Quran, menurut Luxenberg, lebih mirip bahasa Aramaik ketimbang bahasa Arab. Pendapat ini rupanya membuat panas telinga para petinggi MUI. Kemudian, dilayangkanlah surat ke Kejaksaan Agung, meminta agar majalah Newsweek edisi tersebut dilarang beredar dengan alasan religious blemish. Majalah Newsweek pada edisi itu juga sempat dilarang di beberapa negara mayoritas Muslim, dengan alasan yang kurang lebih sama.

Dua contoh kasus di atas adalah sebagian kecil dari bagaimana “teror” terhadap intelektualitas yang dikemas dengan istilah “penodaan agama”, melanda para cendekiawan. “Teror” dilakukan oleh sekelompok agamawan jumud-fanatik, hanya karena mereka tidak sependapat, atau tepatnya, tidak suka dengan buah pikir penulis. Adanya perilaku tersebut sesungguhnya diakibatkan oleh rasa tidak nyaman karena berhadapan dengan benturan yang begitu dahsyat dalam iman dan keyakinannya.

Saya kira, begitu pula dengan “pornografi”. Kekaburan definisi mengenai istilah tersebut, memungkinkan siapapun untuk menghakimi gambar apapun yang mereka pikir begitu. Boleh jadi, akan banyak karya seni yang potensial ditafsirkan oleh sekelompok orang “porno”, dilaporkan untuk kemudian diberangus. []

TULISAN INI BELUM KELAR, CUMA TES DOANG. JANGAN DIKOMENTARI DULU, HEHEHE……

Catatan Kecil Mengenai “2012”

Posted in Uncategorized by Rinaldi on November 27, 2009

Film yang membakar "jenggot" Ulama.

Oleh Rinaldi

SEBENARNYA ada yang perlu dicatat perihal film 2012 yang heboh belakangan ini. Bahwa Roland Emmerich selaku pembuat film, memiliki pengertian “kiamat” yang berbeda dengan ajaran agama samawi, semisal Islam. Dengan kata lain, sebenarnya Emmerich tidak sedang membuat film tentang “kiamat” – jika pengertian istilah tersebut hanya boleh ditautkan dalam konteks teologi Islam. Hanya sebuah bencana super besar yang meluluh-lantakkan bumi, sehingga sedikit saja makhluk hidup yang selamat, persis kisah Nabi Nuh.

“Kiamat” dalam benak Emmerich, dalam konteks film 2012, adalah rentetan bencana alam yang super dahsyat, hingga memporak-porandakan bumi, namun tidak menghancurkannya secara total. Dalam pengertian ini, jelas sangat mungkin manusia berhasil lolos dari bencana dahsyat tersebut, dengan misalnya membuat sebuah kapal besar, sebagaimana digambarkan dalam film. Juga jelas, bahwa “kiamat” dalam benak Emmerich berbeda dengan “kiamat” yang dimaksud dalam doktrin agama Islam.

Bagian akhir film 2012 tidak menggambarkan kehancuran bumi secara total. Hanya sebagian besar digambarkan hancur, dengan sedikit yang selamat yaitu yang masuk ke dalam sebuah kapal besar.

Sedangkan dalam ajaran agama samawi, “kiamat” digambarkan kehancuran bumi secara total, di mana tak seorang pun selamat. Bencana besar ini dipandang sebagai benar-benar akhir segalanya, dan kemudian muncullah apa yang disebut “hari penghakiman”. Dalam kepercayaan samawi pula, baik menurut Kristen maupun Islam, “kiamat” mestilah didahului oleh sejumlah “tanda-tanda teologis”, seperti turunnya Isa Al Masih, Imam Al Mahdi, “anti-christ”, dan sejenisnya. Kedua agama tersebut percaya, bahwa Isa Al Masih atau Yesus Kristus akan turun untuk kedua kalinya menjelang kiamat. Ini jelas tidak digambarkan dalam film, yang menunjukkan bahwa film tersebut memang tak berangkat dari kerangka teologi samawi dalam memandang “kiamat”.

Setelah menonton filmnya, kita bisa lihat bahwa ada perbedaan paham yang begitu besar dan mendasar antara Roland Emmerich selaku pembuat film, dengan kalangan agamawan konservatif –dalam hal ini MUI– dalam memandang “kiamat”.

Emmerich tampaknya tidak memandang “kiamat” secara teologis, namun secara rasional (ini di luar kepercayaan suku Maya mengenai kiamat yang mendasari ide film tersebut). Ini menyebabkan imajinasi Emmerich bisa “lepas”, tanpa harus terikat dengan patron-patron teologi mengenai “kiamat”. Filmnya sama-sekali tidak melibatkan unsur teologi semitik mengenai kiamat. Tak ada kutipan “Kitab Wahyu” di filmnya. Dalam pandangan Emmerich yang demikian, sesungguhnya tak perlu “iman” untuk bisa mengatakan bahwa bumi, suatu hari nanti, akan hancur sebagaimana tergambar pada filmnya. Juga bukan mustahil, bencana sebesar itu akan bisa diprediksi sekian tahun sebelumnya. Jadi “kiamat” di sini tak mesti benar-benar datang “seperti pencuri di waktu malam”.

Sementara MUI yang mewakili agamawan konservatif, selalu terpatri pada perspektif teologis dalam memandang sebuah bencana –yang sebenarnya peristiwa alam biasa dalam konteks kosmik–, yaitu kehancuran bumi. Tak ada konsep lain mengenai hari akhir, selain dari apa yang dikatakan dalam kitab suci. Sehingga ketika MUI menjumpai “versi berbeda” mengenai hari akhir, beranglah mereka. []

Rendra, Mualaf, dan Cara Dakwah Swaramuslim

Posted in Uncategorized by Rinaldi on October 31, 2009

[Catatan: Ini tulisan lama sebenarnya. Ditulis untuk diupload ke sebuah mailinglist beberapa waktu yang lalu, dalam tema meninggalnya sastrawan Rendra.]


rendra

(alm) W.S. Rendra.

SEBAGAIMANA pariwara komersil, para pendakwah agama rupanya menyadari bahwa “beriklan” dengan metode memaparkan kesaksian, adalah salah satu metode mujarab untuk menciptakan opini publik bahwa “produk” yang ditawarkan lebih bagus dari lainnya. Ini dilakukan oleh tim dakwah Swaramuslim.net dengan membuat rubrik khusus di situsnya, yang bertema berita tentang para mualaf. Kebetulan, kali ini mereka mengangkat soal kemualafan alm. W.S. Rendra.

Perlu saya tegaskan, saya menghargai keputusan alm. W.S. Rendra untuk memeluk agama Islam berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadinya. Saya juga menghargai dan memahami keputusan siapapun untuk mengubah agamanya, baik yang convert to Islam, maupun sebaliknya, yang meninggalkan Islam. Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud menekankan pembahasan pada kemualafan Rendra atau siapapun, melainkan hanya ingin mengomentari sedikit mengenai cara dakwah Swaramuslim.net, atau media agama lain apapun yang memiliki semangat sejenis, yang menurut saya “ketinggalan jaman”.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan reportase tentang konversi agama, apalagi pada sebuah media keagamaan, sejauh itu memang sebuah kenyataan. Namun yang tampak menggelikan dalam kasus ini adalah, tendensi menjadikan hasil reportase tersebut sebagai pembenaran mengenai keunggulan teologi agama yang bersangkutan. Sementara, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa “pengalaman spiritual” selalu bersifat relatif.

Swaramuslim menulis tentang sastrawan Rendra yang diberitakan memeluk agama Islam setelah sebelumnya beragama Katolik. Kita bisa menduga kuat, bahwa opini publik yang ingin dibentuk atas testimoni tersebut adalah, YA, bahwa Islam lebih benar dari agama Katolik dan agama manapun.

Apakah ini sebuah metode dakwah yang bijak dan mencerahkan?

Saya pikir tidak. Sebab, jika testimoni seperti itu kita jadikan sebagai ukuran kebenaran sebuah agama, maka konsekwensinya kita akan dihadapkan pada testimoni-testimoni lain yang mungkin malah menunjukkan hal yang sebaliknya.

Contoh kecil, majalah Kristen Narwastu pernah mengangkat testimoni pelawak Srimulat Polo, bagaimana dia beralih ke iman Kristen dari yang sebelumnya beragama Islam. Kemudian, fisikawan ternama Albert Einstein pernah berkata, bahwa hanya agama Buddha yang memenuhi deskripsinya mengenai agama modern.

Johnny Indo, seorang mantan penjahat terkemuka di Indonesia, akhirnya masuk Islam. Tetapi Kusni Kasdut juga mantan penjahat, dan akhirnya menjadi Katolik. Leopold Weiss, seorang Yahudi Hongaria tertarik kepada Islam dan akhirnya menjadi mualaf. Tetapi Mossab Hasan Yusuf, anak petinggi HAMAS malah beralih ke Kristen, dari sebelumnya beragama Islam. Wartawati Inggris, Yvonne Ridley, tertarik kepada Islam dan akhirnya memeluk Islam. Tetapi Alexandra David Neel, yang sama-sama perempuan Eropa, malah tertarik kepada agama Buddha dan memeluk agama itu. Umat Islam boleh jengkel dengan sosok seperti Ibn Warraq, murtadin agnostik yang rajin mengkritisi Islam. Saya kira, Kristen juga merasakan hal yang sama terhadap apa yang dilakukan George Bernard Shaw, ex-Kristen yang menjadi ateis, yang lantas obral kritik terhadap Bible. Tetapi, apakah karena dua orang tersebut, maka Islam dan Kristen menjadi mutlak salah atas agnotisisme dan ateisme?

Sedikit kisah-kisah konversi agama di atas adalah bukti bahwa pengalaman spiritual pribadi, membawa ke arah minat yang berbeda terhadap religiusitas. Dan pada akhirnya, musuh agama adalah penyakit hati, bukan “agama lain”. []

Mengintip “pesan Tuhan” dalam Gempa Kemarin

Posted in Uncategorized by Rinaldi on October 17, 2009

 

Gempa bumi - Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

IDE bodoh” ini sebenarnya terinspirasi dari kelakuan sekelompok orang yang fanatik agama –sebut saja begitu, yang “berhasil” mencocok-cocokkan peristiwa gempa di Padang dengan sejumlah ayat-ayat Al Quran. Tulisan mereka tersebar di berbagai mailinglist, forum on-line, hingga situs Eramuslim. Silakan cek di link ini.

Kutipan singkatnya:

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!”

Penjabarannya:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

* * * *

OKE, saya mengagumi kecocokan antara peristiwa gempa dengan ayat Al Quran yang mereka ajukan. Namun timbul pertanyaan di benak saya waktu itu: apakah kecocokan tersebut benar-benar merupakan “pesan Tuhan” yang tersirat, atau hanya merupakan kebetulan saja?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mencoba menggunakan metoda yang sama untuk mengintip “pesan Tuhan” dalam Al Quran atas peristiwa gempa di Jakarta dan sekitarnya Jum’at kemarin. Jika para fanatik itu mencocokkan antara jam terjadinya gempa dengan ayat-ayat Al Quran, maka saya akan melakukan hal yang sama, ditambah beberapa “angka” yang muncul atas peristiwa gempa kemarin. Analisa sederhana ini sekedar untuk mengetahui apakah ada hasil yang konsisten, yakni korelasi (korelasi istimewa dan spesifik, bukan sekedar dipas-paskan) antara ayat dengan peristiwa gempa kemarin, atau tidak. Berikut uraiannya:

Pada Jum’at sore, 16 Oktober 2009 pukul 16:52 WIB, DKI Jakarta dan sejumlah wilayah lain di Banten dan Jawa Barat diguncang gempa berkekuatan 6.4 skala Richter. Gempa yang berpusat di 42 kilometer barat laut Ujung Kulon ini sempat membuat warga Jakarta panik, seperti diberitakan di berbagai media online. Untuk referensi berita ini, saya ambil dari situs Media Indonesia online.

Dari keterangan di atas, kita sudah mendapatkan “bahan” yang cukup untuk dicocokkan dengan ayat-ayat Al Quran. “Bahan” itu antara lain:

Pukul 16:52 WIB

Angka 6.4 (skala Richter)

16 Oktober 2009, berarti 16-10-2009

Mari kita analisa.

Dimulai dari jam peristiwa terjadi, 16:52, berikut ayat Al Quran yang muncul:

“Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?” (Qs. An-Nahl [surah 16] ayat 52)

Ini ayat yang bagus! Namun, apa korelasi istimewa ayat tersebut atas gempa kemarin?

Misalnya pada gempa kemarin banyak gereja, pura, wihara, dan klenteng yang hancur lebur, saya baru bisa melihat ada korelasi antara ayat di atas dengan peristiwa gempa, khususnya pada bagian yang mengatakan “maka mengapa kamu bertakwa pada selain Allah”. Tapi ini kan tidak. Malah di daerah Banten barat, banyak sekolah yang ambruk akibat gempa (berita dari Detik.com).

Jika kita melihat ayat sebelumnya, yaitu An-Nahl ayat 51, kita akan tahu bahwa konteks ayat 52 di atas adalah mengenai larangan berbuat musyrik (menyekutukan Tuhan).

Ya, siapapun yang berjiwa ngeyel dapat saja mencocok-cocokan ayat tersebut dengan peristiwa gempa. Misalnya itu adalah teguran dari Tuhan karena banyaknya kemusyrikan di pulau Jawa dan sekitarnya. Tapi itu bukan jawaban yang memuaskan, karena kalau begitu, pada jam berapapun gempa terjadi, kita akan menemukan ayat Al Quran yang bisa dicocokkan. Apa istimewanya?

Beralih ke bahan selanjutnya, (ini “bahan sekunder” saja sebenarnya, karena gempa di Padang tidak menggunakan skala Richternya untuk dicocokan dengan Al Quran) yakni angka 6.4, berikut ayat Al Quran yang muncul:

“Dan tidak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya)”. (Qs. Al An’aam [surah 6] ayat 4)

Lagi-lagi, saya belum melihat ada korelasi istimewa antara ayat tersebut dengan peristiwa gempa kemarin.

Bahan selanjutnya, tanggal 16 Oktober menghasilkan kombinasi angka 16 dan 10, mari kita cek ayat apa yang keluar:

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (Qs. An-Nahl [surah 16] ayat 10)

Mohon jangan tertawa, ini bukan lelucon. Ayat tersebut memang tidak ada korelasinya dengan gempa kemarin, meski “diambil” dari tanggal peristiwa yakni 16 Oktober (16:10).

Dari analisa sederhana di atas, saya menyimpulkan bahwa ternyata Tuhan tidak sedang berpesan kepada manusia dalam peristiwa gempa kemarin. Ini terlihat dari ketiadaan korelasi istimewa antara ayat-ayat Al Quran (yang diambil dari jam, skala richter, dan tanggal peristiwa terjadi) dengan peristiwa gempa. Kesimpulan ini didasari dari metoda yang sama yang digunakan kelompok fanatik agama untuk gempa di Padang.

Pada akhirnya, gempa yang berpusat di 42 km barat laut Ujung Kulon kemarin rupanya hanyalah peristiwa alam biasa, sekedar pergeseran lempeng eurasia dan indo-australia. []

Tentang Kebebasan Beragama

Posted in Uncategorized by Rinaldi on September 6, 2009

“Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance..”

“Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers”.

(Universal Declaration of Human Right, Article 18-19)

Ilustrasi.

Oleh Rinaldi

PRINSIP mendasar dari demokrasi yang telah menjadi norma modern adalah adanya pemahaman dan pengakuan atas kesetaraan derajat manusia. Jika ini dilupakan, maka lambat laun demokrasi akan berubah menjadi tirani mayoritas. Kelompok mayoritas akan bebas melakukan apapun atas nama “kehendak mayoritas”. Dalam konteks kehidupan beragama, kelompok-kelompok mayoritas akan “menekan” secara perlahan kelompok-kelompok minoritas, baik minoritas agama maupun minoritas pemahaman agama. Ini tentu akan menjadi suatu kondisi yang sulit bagi kelompok minoritas.

Sistem yang berlaku di sebuah negara haruslah mampu mengakomodir pluralitas yang ada di masyarakat, baik pluralitas yang bersifat genetis seperti ras, maupun yang bersifat ideologis seperti agama, pemikiran, nilai-nilai, atau ide-ide. Hal ini mengingat bahwa pluralitas merupakan suatu keniscayaan dalam peradaban. Batasan suatu pluralitas yang bersifat ideologis yang dapat diterima/ditolerir adalah sejauh hal tersebut tidak menimbulkan kerugian kongret di masyarakat; seperti gangguan pada kesehatan publik atau ancaman terhadap keamanan nasional. “Kebencian sentimentil” tidak bisa membuat suatu kepercayaan atau ide/pemikiran dibasmi secara paksa. Dalil teologi tidak bisa digunakan untuk melakukan perbuatan yang implikasinya melanggar norma HAM. Jika suatu dalil teologi yang dijadikan dalil untuk melanggar HAM ditolerir, maka kita harus sadar bahwa setiap orang dengan berdasar pada agamanya masing-masing dapat menggunakan dalil teologinya untuk melanggar HAM.

Perlu disadari bahwa agama bukanlah properti milik pribadi. Agama adalah konsep abstrak yang dimiliki khayalak luas, sehingga pada dasarnya siapa pun boleh “menyimpangkan agama”, atau dalam bahasa yang lebih halus memiliki pemahamannya sendiri terhadap agama, bahkan mengkritik agama. Masyarakat juga harus memahami adanya kesetaraan derajat manusia. Jika seseorang dapat memeluk suatu keyakinan dan dapat menyebarkannya dengan bebas, maka dia harus sadar bahwa orang lain pun memiliki hak dan keinginan yang sama. Segala keberatan ideologis atas pemahaman agama seseorang dapat dituangkan melalui forum dialog yang damai dan demokratis.

Adalah benar, bahwa kebebasan ada batasnya. Namun fenomena aliran sempalan yang baru-baru ini marak menjadi kontroversi seperti Al Qiyadah, Jemaah Salamulah, Ahmadiyah, dan sebagainya masih berada dalam batas-batas normatif demokrasi. Persoalan bahwa umat Islam (yang merasa benar) merasa terganggu secara psikis atas eksistensi mereka, itu adalah persoalan umat Islam, bukan persoalan bagi konsep demokrasi. Dan keresahan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memberangus paksa eksistensi mereka.

Negara modern adalah negara yang menghargai prinsip kesetaraan derajat manusia. Seharusnya tidak ada konsep “agama resmi”, karena tiap agama yang eksis dan berkembang di wilayah negara tersebut memiliki kedudukan dan nilai yang sama di mata negara. Penganutnya pun memiliki hak dan kewajiban yang sama pula. Tiap agama, tafsir agama, dan aliran kepercayaan bahkan kritik terhadap agama yang muncul dalam wilayahnya, harus dipandang sebagai kekayaan peradaban yang dihargai. []