Sapere aude!

Amerika Serikat: Antara Dibenci dan Dicinta

Posted in Commentary, Discourse, Middle east by Rinaldi on September 8, 2013

Author: Rinaldi

Hidayat Nur Wahid memimpin demonstrasi. Foto: Antara/ Ujang Zaelani

Hidayat Nur Wahid memimpin demonstrasi. Foto: Antara/ Ujang Zaelani

PASCA peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center di New York pada 2001, Amerika Serikat menginvasi Afghanistan dan disusul Irak pada 2003. Saat itu, banyak masyarakat memprotes, khususnya umat Islam. Di Indonesia, berbagai elemen umat Islam ramai berdemo mengutuk AS. Mereka menuduh invasi AS ke Afghanistan dan Irak melanggar kedaulatan sebuah negara dan banyak menyebabkan korban sipil. Seruan “jihad” pun berkumandang.

Di mata AS, “Islam” adalah agama kekerasan, penuh teror dan kebencian. Berkaitan dengan itu, AS mengumandangkan perang melawan teroris-teroris yang kala itu teridentifikasi sebagai “muslim”.

Sebaliknya, sejak saat itu pula umat Islam memandang Amerika Serikat sebagai “setan besar”, “kafir laknat” dan musuh umat Islam. Amerika tukang ikut campur urusan negara lain, dajjal, berstandar ganda mengenai penegakan HAM, dan lain sebagainya. Pokoknya, Amerika Serikat dipandang sebagai benar-benar musuh Islam.

Dulu, Ahmadinejad vokal sekali menentang Amerika. Beliau terkenal dengan kalimatnya, “Amerika setan besar”. Muslim-muslim Indonesia banyak mengagumi Ahmadinejad yang dicitrakan sederhana. Foto-fotonya pakai kemeja sobek populer di jagat maya. Umat Islam Indonesia juga cenderung mendukung Hizbullah waktu berperang lawan Israel pada 2006.

Padahal, baik Ahmadinejad dan Hizbullah adalah Syiah, sekte Islam yang sekarang ramai disesat-sesatkan. Di Indonesia, topik kesesatan Syiah populer seiring peristiwa pengusiran warga Syiah di Sampang, Madura. Dalam pandangan Sunni-fanatik, Syiah bukan Islam.

Sekarang, Amerika berencana menyerang Suriah, menyerang rezim Assad yang Syiah. Momen yang pas, di mana Sunni Indonesia sedang panas-panasnya terbakar dengan topik kesesatan Syiah. Kebijakan Amerika ini didukung oleh negara-negara Arab-Sunni, yang bahkan menawarkan bantuan jika Amerika mau menyerang Suriah. Tidak hanya negara-negara Arab, malah wasekjen PKS, partai Islam yang berpandangan konservatif, baru-baru ini juga menyatakan dukungannya atas serangan Amerika ke Suriah.

Alasan wasekjen PKS mendukung AS, adalah karena rezim Assad telah berlaku zalim dengan menggunakan senjata kimia dalam melawan oposisi. Sebuah alasan yang kurang lebih sama bobotnya dengan alasan AS waktu menyerang Afghanistan dan Irak beberapa tahun lalu.

Melihat dukungan negara-negara Arab dan wasekjen PKS terhadap invasi Amerika Serikat ke Suriah, saya menilai betapa munafiknya muslim-muslim macam mereka itu. Atas nama Islam, Amerika Serikat mereka kafir-kafirkan, mereka setan-setankan, mereka anggap “musuh Islam”, bahkan lantang terdengar seruan boykot produk-produk Amerika –yang tidak pernah kelihatan implementasinya itu. Tetapi demi urusan membantai Syiah, sebuah sekte Islam yang mereka benci, atas nama Islam pula mereka mendukung “setan besar” –meminjam istilahnya Ahmadinejad–  untuk melakukan agresi militer ke Suriah, yang tentu saja akan menimbulkan korban sipil/collateral damage seperti di Irak.

Dulu, ramai umat Islam menuduh Amerika Serikat melakukan standar ganda terkait kebijakannya terhadap timur tengah. Tanpa sadar, umat muslim pun kerap kali melakukan standar ganda. Omong-kosonglah kalau mereka bicara kemanusiaan. Mereka hanya membela kepentingan sektarian mereka sendiri. []

Advertisements

Miss World dan Kecemburuan Nilai

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on September 5, 2013

Author: Rinaldi

Islam dan modernitas. Ilustrasi/Dari berbagai sumber.

Islam dan modernitas. Ilustrasi/Dari berbagai sumber.

KENAPA muslim fanatik menentang Miss World? Ada banyak faktor. Salah satunya adalah faktor “kecemburuan nilai”.

Muslim fanatik itu cenderung konservatif dalam memandang perempuan, juga relasi antara laki-laki dan perempuan. Dalam konsep mereka, perempuan harus menutup seluruh tubuhnya, dan sebagai konsekwensi, menjadi kurang menarik. Mereka juga berpandangan bahwa laki-laki tidak bisa mendekati atau menyentuh perempuan yang bukan muhrim sembarangan, meskipun cuma sentuhan wajar seperti salaman atau berpelukan. Batasan-batasan ini adalah salah satu prinsip dasar dalam keyakinan mereka.

Pada saat bersamaan, dalam hati kecilnya, mereka mengakui bahwa ‘modernitas’ itu menarik; penuh gaya, warna dan dinamis. Contohnya, pakaian perempuan modern lebih beraneka warna dan beragam, yang oleh karena itu lebih menarik. Perempuan mana yang tidak suka dandan? Laki-laki mana yang tidak suka melihat perempuan modis?

Tidak hanya pakaian, begitu juga tata pergaulan dalam peradaban modern. Saya tidak bicara “seks bebas”, “perzinahan”, “narkoba”, “mabuk-mabukan” atau apapun yang oleh muslim fanatik secara keliru sering diasosiasikan dengan “kemodernan”. Saya bicara tata pergaulan modern yang wajar. Di mana laki-laki dan perempuan bisa berkumpul dan bergaul bersama dengan wajar, equal, bersentuhan dengan wajar (salaman, pelukan, dsb). Hal itu sesuatu yang natural dalam bersosialisasi, tetapi “haram” dalam nilai-nilai Islam yang konservatif.

Di sinilah, pada muslim konservatif, terjadi ‘bentrok pikiran’. Melihat dinamika tata-nilai modern, mereka “pingin kayak begitu”, tapi tidak bisa, karena dibatasi oleh prinsip-prinsip dasar yang mereka yakini. Akhirnya timbul sikap “denial”, sikap menyatakan “tidak suka” terhadap kehidupan modern yang demikian untuk menutupi ketertarikan alamiah tersebut.

Sebenarnya mereka bukan tidak suka, tetapi iri. Mereka merasa “capek-capek” secara ketat mengamalkan ajaran agama, sementara orang-orang dengan enaknya menikmati hidup dengan bebas dan berwarna. Sekali lagi, mereka cuma iri.

Rasa iri tersebut terpendam, dan hanya “meluap” pada momentum-momentum tertentu. Misalnya ajang Miss World.

“Kecemburuan”, itu pangkalnya.

Sama seperti wong-wong cilik yang teriak-teriak anti kapitalisme. Pada dasarnya bukan soal kapitalisme itu baik apa buruk, tetapi kecemburuan sosial pada kaum “pemilik modal”. Andai wong- wong cilik yang menghujat kapitalisme itu kita kasih per-orang 100 juta, niscaya mereka bakalan diam, anteng. Mereka mulai buka usaha dengan modal yang diberikan, dan menjadi kaum “pemilik modal” yang sebelumnya mereka hujat.

Pada wong-wong cilik, mereka tidak anti terhadap kepemilikan modal. Mereka cuma tidak mampu menjadi pemilik modal. Pada muslim konservatif, mereka tidak anti terhadap tubuh perempuan. Mereka hanya tidak bisa melihat dan berhubungan dengan perempuan dengan bebas dan wajar, karena faktor larangan agama yang mereka yakini.

Kalau pada wong-wong cilik tersebut merupakan “kecemburuan sosial”, maka pada muslim konservatif adalah “kecemburuan nilai”.

Sementara kelompok muslim yang agak moderat, mampu mensintesakan antara modernitas dengan dogma agama. Maka, muncullah, sebagai contoh saja, aneka “jilbab gaul” yang modis dan menarik. Atas jilbab, bawah jeans ketat. Dengan wangi parfum, make-up dan aksesoris cantik, mereka bersosialisasi secara normal.

Saya tidak memandang sintesa tersebut secara positif. Saya justru memandangnya secara sinis. Fenomena “jilbab gaul” yang beraneka warna dan trendy, itu seperti anda memasang kloset duduk tetapi dalam pemakaiannya tetap jongkok.

Anda kepingin menaruh sesuatu yang dianggap modern, tetapi tidak bisa meninggalkan “tradisi lama”. Akhirnya wagu: Klosetnya duduk, beraknya jongkok. Gaul, akrab dengan gadget, aktif di jejaring sosial, mengenakan aksesoris trendy, wangi dan sexy, tapi masih berjilbab yang merupakan nilai-nilai agama yang konservatif.

Kelompok muslim/muslimah yang agak moderat seperti itu, biasanya tidak anti terhadap Miss World. Ini sisi positifnya. Karena mereka telah “melampiaskan” hasrat modernitasnya pada gaya berjilbab mereka, maka tingkat kecemburuannya terhadap modernitas kecil, bahkan tidak ada. []

Heboh di Lenteng Agung: Lurah Non-Muslim, Warga Menolak

Posted in Commentary by Rinaldi on August 24, 2013
Susan Jasmine Zulkifli, lurah Lenteng Agung. Foto: The Jakarta Post.

Susan Jasmine Zulkifli, lurah Lenteng Agung. Foto: The Jakarta Post.

Author: Rinaldi

SUSAN JASMINE ZULKIFLI adalah lurah baru Lenteng Agung yang lolos dalam lelang terbuka pemilihan lurah beberapa waktu lalu. Tidak berapa lama setelah menjabat, lurah baru tersebut diprotes warga Lenteng Agung yang mayoritas Muslim hanya karena beragama Kristen.

Penolakan ini khas masyarakat dengan budaya terkebelakang yang masih kental unsur-unsur primordialismenya. Tidak hanya lurah, masyarakat tipe demikian biasanya juga alergi terhadap pendirian tempat ibadah minoritas di sekitar lingkungan mereka.

Biasanya, Muslim yang “sepemahaman” dengan Muslim warga Lenteng Agung itu akan melakukan pembelaan diri untuk membenarkan pandangannya: “Di daerah yang mayoritas non-Muslim, orang Islam juga susah jadi lurah, camat, bupati atau gubernur”.

Pembelaan diri semacam itu kekanak-kanakan. Dalam pandangan saya, jika ada kasus Muslim yang ditolak jadi lurah, camat, bupati atau gubernur di wilayah non-Muslim hanya karena dia Muslim, sama saja kasusnya dengan kasus Lenteng Agung tersebut. Masyarakat yang menolaknya adalah tipe masyarakat primordialistik dan terkebelakang.

Saya amati, “logika” primordialisme itu kurang lebih begini: Di wilayah mayoritas A, lurahnya mesti dari kalangan A. Di wilayah mayoritas B, gubernurnya harus dari kalangan B. Begitu seterusnya. Ini jelas cara pikir yang sudah out-of-date, tidak kompatibel dengan zaman modern yang majemuk, yang menuntut efektifitas, berorientasi fungsi dan profesionalitas. Cara pikir seperti itu tidak bisa diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berbisnis.

Singkat saja: Sebenarnya, apa sih substansi keberatan terhadap lurah non-Muslim? Saya kira tidak ada lain kecuali sekedar faktor kebencian dan praduga negatif terhadap “umat agama lain” saja. Kebencian dan praduga negatif ini seringkali dikompori oleh baik ajaran agama maupun pemuka agama yang bersangkutan.

Agama yang dianut seseorang itu tidak ada korelasinya dengan profesionalisme orang tersebut. Jika saya mau order jahit baju, apa saya mesti pergi ke tukang jahit yang seiman? Kan tidak perlu. Asal tukang jahit itu dikenal bagus, rapi dan harganya cocok, ya bisa order jahit di situ. Begitu juga lurah. Sejauh seorang lurah memahami deskripsi kerjanya dan mampu berlaku profesional, itulah lurah. Apakah yang bersangkutan beragama Islam, Kristen, Hindu, bahkan ateis sekalipun, tidak ada hubungannya. []

Acuan berita: PortalKBR

Sebuah Deskripsi Kemerdekaan

Posted in Uncategorized by Rinaldi on August 17, 2013
Image

Warga Tionghoa melaksanakan ritual sembahyang pada perayaan Tahun Baru Imlek 2011 di Wihara Dharma Bhakti Jakarta. Foto: Rinaldi

Author: Rinaldi

HARI INI seluruh nusantara merayakan 68 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pekik “merdeka” berkumandang secara normatif di mana-mana. Terdengar klise di tengah-tengah berbagai “ketidakmerdekaan” yang dialami oleh –terutama—kelompok-kelompok minoritas agama yang setelah dihakimi “sesat”, kemudian terusir dari kampungnya. Yang disayangkan, penghakiman sesat dan pengusiran tersebut direstui oleh negara melalui Kementrian Agama. Dalam hal ini, negara memiliki keberpihakan teologis dalam menghadapi konflik-konflik horizontal antar warganya, yang seharusnya negara bersikap netral.

Masalah sosial-agama memang bukan satu-satunya masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Masih banyak masalah lain yang tidak kalah pentingnya. Tetapi, konsep “pencampuradukan” antara urusan agama dengan urusan publik-kenegaraan merupakan masalah yang terbilang fundamental di zaman modern, terutama terkait dengan deskripsi kita mengenai “kemerdekaan”.

Bagaimana anda mendeskripsikan “kemerdekaan?”

Hemat saya, “kemerdekaan” tidak berpangkal dari sebuah institusi (negara), tapi dari individu. Sebuah bangsa baru dapat dikatakan “merdeka” sepenuhnya, apabila individu-individunya telah memiliki kemerdekaan; dalam arti memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri secara utuh.

Bangsa yang merdeka adalah bangsa di mana masyarakat dan pemerintahnya mampu membedakan antara urusan publik-kenegaraan yang menyangkut orang banyak, dengan urusan privat yang hanya menyangkut kelompok tertentu atau perseorangan semisal urusan agama (salah satunya). Pemaksaan aturan agama di ruang publik, sebagai contoh, itu adalah bentuk lain dari penjajahan.

Individu yang merdeka dapat dideskripsikan sebagai individu yang memiliki kedaulatan penuh atas dirinya; Memiliki kedaulatan untuk beragama apapun atau tidak beragama, memiliki kedaulatan untuk berbicara dan berpendapat, memiliki kedaulatan untuk menentukan arah, sikap dan gaya hidupnya serta menyatakan ketidaksetujuan atas sesuatu.

Tanpa adanya kemerdekaan pada tingkat individu, maka sesungguhnya sebuah negara belumlah terkategori “merdeka”. Penjajahan masih berlangsung. Misalnya penjajahan oleh mayoritas kepada minoritas (majoritariansim). Atau penjajahan oleh “segerombolan” kelompok yang memaksakan kehendak (mobocracy), penjajahan oleh satu orang yang memiliki kekuasaan absolut (monarki absolute) dan seterusnya. Kemerdekaan institusi tanpa kemerdekaan individu adalah kemerdekaan yang tanggung.

Arab Saudi adalah negara yang merdeka dan memiliki kedaulatan. Tapi rakyatnya tidak merdeka dan tidak memiliki kedaulatan penuh atas dirinya. Perempuan dipaksa menggunakan pakaian tertentu, dilarang bepergian dengan bukan muhrimnya, ada pengekangan opini dan penyeragaman pandangan keagamaan. Ada intervensi negara dalam urusan-urusan privat. Hemat saya, ini adalah penjajahan dalam bentuk lain.

Rumusan dasar “kemerdekaan” sesungguhnya adalah sebuah pandangan bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki kebebasan sebebas-bebasnya. Hanya karena individu tersebut berkumpul dalam suatu wilayah dengan individu-individu lainnya yang equal/memiliki kadar kebebasan yang sama, maka otomatis kebebasan individu tersebut menjadi terbatas. Apa yang membatasinya? Yaitu kebebasan individu lain. Sesederhana itu.

Sebagai ilustrasi, simak contoh berikut: Setiap individu berdaulat penuh atas tubuhnya. Oleh karena itu, saya memiliki hak dan kebebasan untuk menumbuhkan kumis di wajah saya. Begitupun anda memiliki kedaulatan atas mulut dan isi kepala anda, maka anda memiliki hak dan kebebasan untuk menilai bahwa kumis saya jelek.

Saya tidak bisa melarang anda berpendapat demikian, sebagaimana anda tidak bisa melarang saya punya kumis. Itulah kemerdekaan.

Anda boleh larang saya masuk ke rumah anda karena saya berkumis. Itu hak anda dan saya tidak berdaulat untuk mengatur siapa-siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke rumah anda. Tetapi anda tidak bisa larang saya untuk pergi ke taman kota, berjalan-jalan, belanja, dan mendapatkan hak-hak sipil lainnya di ruang publik. Anda juga tidak bisa menggalang massa untuk menekan legislatif mengeluarkan UU yang melarang orang berkumis berjalan-jalan di taman kota atau berbelanja di mall. Karena “ruang publik” adalah wilayah bersama, bukan wilayah kedaulatan anda atau wilayah milik kelompok masyarakat tertentu. Aturan-aturan di ruang publik adalah aturan-aturan yang umum, bukan aturan-aturan yang bersifat “sektarian”.

Jika anda merasa “terganggu” melihat kumis saya, maka itu masalah buat anda. Bagaimanapun, anda tidak bisa melarang, mengancam, merusak properti saya, menyakiti atau membunuh saya hanya karena anda tidak suka saya berkumis.

Terkait persoalan tersebut, kita harus memiliki definisi yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan “mengganggu”. Apa definisi “mengganggu?” Suatu perbuatan dapat dikatakan “mengganggu” apabila perbuatan tersebut berimplikasi mengurangi atau menghilangkan hak-hak dasar individu lain.

Apakah kumis saya berimplikasi mengurangi atau menghilangkan hak dan kebebasan individu anda? Tentu tidak. Anda tetap bisa bebas beribadah, berpendapat, bersekolah, bekerja, berusaha, menikah, punya anak dan lain sebagainya sementara saya punya kumis. Sekedar “tidak suka” atau “dilarang oleh agama anda”, bukan alasan untuk melarang perbuatan orang lain.

Kalau anda tidak suka kumis, maka anda dipersilakan untuk tidak memiliki kumis. Tetapi anda tidak bisa melarang orang lain untuk punya kumis, atau memaksa orang untuk ikut-ikutan “tidak suka kumis”.

Begitu juga dalam konteks yang lebih luas. Jika anda tidak suka nikah sejenis, carilah pasangan yang lain jenis. Jika tidak suka berzinah, ya jangan berzinah. Jika anda menganggap judi itu berdosa, maka jangan berjudi. Jika anda tidak suka minum alkohol, jauhi minuman beralkohol.

Jangan karena anda tidak suka nikah sejenis, lantas melarang orang lain untuk nikah sejenis. Jangan karena dalam agama anda berzinah itu dilarang, lantas anda melarang orang lain untuk berzinah. Anda tidak bisa menganggap sesuatu itu mesti dilarang hanya karena agama anda melarangnya. “Orang lain” dalam hal ini adalah “none of your bussines”. Itulah asas-asas dasar kemerdekaan. Sesederhana itu. []

Menimbang Urgensi Syariat Islam

Posted in Discourse by Rinaldi on June 4, 2013
Ribuan massa Hizbut Tahrir Indonesia berkumpul di Stadion Gelora Bung Karno pada hari Minggu, 2 Juni 2013 untuk menghadiri Muktamar Khilafah. Tampak halaman depan stadion dipenuhi sampah, padahal sudah banyak spanduk larangan membuang sampah sembarangan.

Ribuan massa Hizbut Tahrir Indonesia berkumpul di Stadion Gelora Bung Karno pada hari Minggu, 2 Juni 2013 untuk menghadiri Muktamar Khilafah. Tampak halaman depan stadion dipenuhi sampah, padahal sudah banyak spanduk larangan membuang sampah sembarangan.

Author: Rinaldi

SEPANJANG pengetahuan dan pengamatan saya, argumentasi populer yang mendasari wacana penerapan “Syariat Islam” sebagai aturan formal, kebanyakan bersifat ad populum; Karena suatu daerah mayoritas beragama Islam, maka semestinya hukum Islamlah yang diterapkan. Argumen tersebut kemudian ditopang dengan “argumentasi pamungkas”, yakni keimanan (yang tentu bersifat subjektif), “karena Syariat Islam adalah hukum Allah yang bersifat mutlak”.

Dengan membawa-bawa unsur “mayoritas” dan “keimanan”, sudah tentu landasan dasar penerapan Syariat Islam menjadi aturan formal menjadi tidak bersifat universal dan hanya bermotivasi kekelompokan.

Kalaupun ada “argumentasi rasional” yang bersifat komparasi antara “hukum Islam” dan “hukum sekuler” (baca: demokrasi), biasanya bukanlah komparasi yang adil dan sehat. Kebanyakan bersifat “strawman fallacy” atau “cherry picking”.

Metode pertama, “strawman fallacy”, demokrasi sengaja dibengkokkan pengertiannya dulu, baru dikritik/dicari celahnya. Sehingga demokrasi yang dikritik itu seringkali tidak merepresentasikan konsep demokrasi yang sesungguhnya.

Metode kedua, “cherry picking”, yakni memilih fakta-fakta tertentu dan menyusunnya untuk kemudian diajukan, serta kemudian melakukan penarikan kesimpulan dari situ. Karena fakta-fakta yang menjadi dasar sudah dipilih, maka tentu opini pembaca mudah terarah ke kubu tertentu. Dalam metode ini juga sering dilakukan komparasi yang tidak adil. Sebagai contoh, untuk demokrasi diajukan fakta penerapannya yang menyimpang, sementara untuk Syariat Islam diajukan konsep idealnya. Sehingga demokrasi akan tampak buruk dan Syariat Islam akan tampak menjadi “solusi”. Inilah yang saya sebut “ilusi propaganda”.

Kalau ada negara demokrasi yang korup misalnya, maka yang disalahkan adalah sistem demokrasinya, karena tidak mampu membimbing manusia pada kejujuran. Sementara kalau negara dengan sistem Islam korup, yang disalahkan adalah orang-orang yang menjalankankannya dengan tuduhan “tidak amanah” pada konstitusi dan sebagainya. Ini saja sudah menunjukkan sikap standar ganda.

Propaganda penerapan Syariat Islam sebagai aturan formal juga seringkali menjanjikan hal-hal yang sebenarnya umum saja; Keadilan, kesejahteraan, kemapanan ekonomi dan sebagainya. Hal-hal semacam itu sebenernya bukan keistimewaan dari Syariat Islam itu sendiri, tapi sudah menjadi standar kewajiban negara pada umumnya. Ibaratnya, pejabat yang jujur dan amanah itu bukan prestasi, tapi kewajiban. Jadi, para calon pejabat tidak perlu menjanjikan “kejujuran” dalam kampanyenya karena itu sesuatu hal yang memang sudah seharusnya ada tanpa dijanjikan.

Komunisme sekalipun, dalam propagandanya juga menawarkan keadilan, kesejahteraan dan kemapanan ekonomi. Bahkan Cina, negara Komunis, mampu bersikap tegas terhadap koruptor dengan hukuman mati. Kemudian juga banyak negara-negara maju dan mapan yang menerapkan demokrasi, berhasil memberikan keadilan, kesejahteraan dan kemapanan ekonomi pada rakyatnya. Jadi, Keadilan, kesejahteraan, dan kemapanan ekonomi, bukan monopoli sistem Islam.

Kemudian, analisis sosial serampangan juga seringkali dijadikan materi propaganda. Penerapan Syariat Islam dikatakan merupakan “obat” bagi segala penyakit sosial seperti seks bebas, judi, pornografi, homoseksualitas, “aliran sesat” dan seterusnya yang dipandang tidak bisa disembuhkan oleh selain sistem Islam.

Pertama-tama, definisi “penyakit sosial” tersebut di atas sebenarnya cenderung bias larangan dalam ajaran Islam. Para fanatik Syariat tampaknya belum bisa membedakan antara “dosa” dengan “kriminalitas”. Dalam pandangan mereka, semua yang dilarang Allah mesti dilarang juga oleh negara. Pandangan ini jelas bertentangan dengan asas-asas sekulerisme di mana ada pemisahan yang jelas antara “agama” dengan “negara”.

Salah satu asas dasar sekulerisme itu adalah, bahwa tidak semua yang dilarang Allah mesti dilarang juga oleh negara. Makan babi dilarang Allah, tapi negara tidak bisa ikut-ikutan melarang muslim makan babi. Begitupun dengan perzinahan, homoseksualitas, “aliran sesat” dan lain sebagainya. Tidak semua perbuatan dosa tersebut bisa dianggap perbuatan kriminal yang bisa dijerat dengan hukum positif.

Lain halnya dengan membunuh, mencuri, menipu, dan sebagainya. Hal-hal tersebut selain berdosa, juga bisa dikriminalkan karena ada implikasi merugikan orang lain.

Dari hal-hal terurai di atas, sebenernya bisa disimpulkan secara sederhana, bahwa “Syariat Islam” itu tidak punya landasan rasional dan tidak punya urgensi apa-apa untuk diterapkan sebagai hukum positif, kecuali sekedar menuruti hasrat keimanan semata-mata.

Kenapa Syariat Islam harus diterapkan sebagai hukum positif? Jawaban pokoknya tidak akan jauh dari: “Karena mayoritas orang Indonesia beragama Islam” atau “karena itu hukum Allah yang mutlak”. Pola jawaban semacam itu jelas bukan jawaban yang rasional.

Dan lagipula, problem pokok di NKRI itu sebenernya bukan bagaimana bentuk hukumnya, tapi bagaimana konstitusi/hukum itu ditegakkan. Ini adalah dua hal yang berbeda. Dan salah satu ciri negara yang maju dan mapan itu adalah di mana hukum positifnya ditegakkan dengan baik. []

Antara “Setan Gundul” dan “Sapi Berjanggut”

Posted in Commentary, Counter fundamentalism by Rinaldi on May 1, 2013
Ciri umat yang mudah tersinggung, tapi suka menyinggung. Grafis: Oleh saya sendiri.

Ciri umat yang mudah tersinggung, tapi suka menyinggung. Grafis: Oleh saya sendiri.

Author Rinaldi

SAYA kira banyak dari kita telah mendengar media Islam yang cukup sering disebut di dunia maya, Arrahmah.com. Lama saya mencermati media Islam tersebut, dan akhirnya pun cukup paham “cara pikir” mereka.

Tak lain, Arrahmah.com adalah media propaganda Islam garis keras. Fakta-fakta yang disampaikan sangat bias, sepihak dan tidak proporsional. Arrahmah.com tidak pernah saya jadikan referensi berita secara serius, namun sering saya ‘pantau’ untuk sekedar tahu bagaimana alur pikir para fanatik Islam.

Tapi lepas dari soal itu, baru-baru ini saya tertawa geli membaca berita Arrahmah.com, karena judulnya lucu: “Setan gundul Budha Myanmar harus diberi pelajaran setimpal”

Tiba-tiba saya jadi ingat protes kader PKS atas tajuk utama Tempo yang menggunakan istilah “sapi berjanggut” untuk menyindir petinggi PKS yang jadi tersangka korupsi impor daging sapi. Istilah tersebut dinilai kurang elegan dan mendiskreditkan umat Islam.

Dua fenomena tersebut adalah ironi yang lucu. Di satu sisi, umat Muslim dengan lantang menggunakan Istilah yang mendiskreditkan umat agama tertentu. Tapi pada sisi lain, umat Muslim memprotes istilah yang mereka pandang mendiskreditkan mereka.

Bahasa penyajian Tempo, walau menggunakan istilah “sapi berjanggut”, masih jauh lebih elegan dibanding bahasa penyajian Arrahmah.com (bukan kali ini saja) yang lebay, provokatif dan berat sebelah. Pernahkah anda, khususnya umat Muslim, berpikir: Kalau umat Muslim merasa tersinggung dengan istilah yang digunakan Tempo, apalagi umat Buddha? []

Indonesia, Agama, dan Kemunafikan

Posted in Commentary, Discourse by Rinaldi on March 19, 2013
Anis Matta, Presiden PKS yang baru. Sekedar ilustrasi.

Anis Matta, Presiden PKS yang baru. Sekedar ilustrasi.

Author: Rinaldi

SAYA ketawa ngakak dengar berita Kepala Polisi Syariah di Aceh tertangkap tangan mabuk ganja. Mobilnya oleng menabrak pagar warga. Di dalam mobilnya, polisi menemukan satu linting ganja. Tes urine menyatakan, Zulkarnain, nama Kepala Polisi Syariah itu, positif mengkonsumsi narkoba.

Fakta ini semestinya merupakan pukulan telak bagi kelompok-kelompok kanan yang kerap kali mempropagandakan syariat Islam sebagai solusi atas segala problematika moral. Bahwa ternyata, syariat Islam sama saja seperti “sistem sekuler” yang kerap kali mereka hujat-hujat.

Tidak hanya itu. Di Aceh yang serba syariat, sampai akhir 2012 masih banyak kasus korupsi yang mengambang. Sungguh syariat Islam tidak menjamin apapun.

Konsep moral apa yang ada di dalam benak penyokong syariat Islam, sementara mereka sibuk mengurusi cara duduk perempuan di sepeda motor, tetapi Kepala Polisi Syariahnya malah tertangkap tangan mabuk ganja?

Saya sudah menduga kuat, bahwa pembelaan diri yang akan dilancarkan kelompok kanan adalah bahwa itu sekedar oknum, bukan salah sistemnya. Oknumnya harus dihukum, sementara sistemnya tetap dapat bisa berjalan.

Bisa dibenarkan bahwa itu adalah kelakuan oknum dan tidak merepresentasikan syariat Islam. Tetapi sayangnya, dalam hal ini kelompok kanan penyokong syariat senang berstandar ganda.

Jika sistem non-syariat gagal membangun moral warga, maka sistemnya yang biasanya disalahkan. Tapi ketika syariat Islam juga mengalami kegagalan dalam membangun moral warganya, maka “oknum” yang disalahkan. Ini sebuah cara pandang yang inkonsisten, standar ganda.

****

 “Hasil survei Komisi Pemberantasan Korupsi menunjukkan, Kementerian Agama menduduki peringkat terbawah dalam indeks integritas dari 22 instansi pusat yang diteliti”.  Kompas

“Ketua Gema MKGR, Fahd El Fouz, menjadikan My Place yang merupakan tempat SPA di bilangan Jakarta untuk membahas mengenai pengadaan Al Quran dan laboratorium komputer MTS di Kementerian Agama RI”.  – Rakyat Merdeka

SEJAK berakhirnya era orde baru, saya melihat ada kecenderungan trend untuk melibatkan agama dalam ranah publik, yang antara lain dalam bentuk penerapan perda-perda bercorak agama.

Ada semacam hasrat untuk menciptakan kesan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi agama, terutama Islam sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk.

Konyolnya, banyak aturan bercorak agama itu tidak relevan dengan fungsi dan kebutuhan praktis. Misalkan kebijakan Bupati Mamuju yang mewajibkan setiap PNS bisa baca Alquran. Apa urgensinya bisa baca Alquran bagi PNS? Apakah “bisa baca Alquran” akan menjamin moral para PNS?

Contoh kebijakan Bupati Mamuju tersebut, merupakan satu dari sekian banyak kasus di mana aturan bercorak agama dilibatkan di ranah publik tanpa ada urgensi apa-apa terkait pada pekerjaan sebagai PNS. Kebijakan tersebut tampak sekedar menunjukkan semangat beragama yang dangkal.

Dengan kebijakan demikian, pada akhirnya, para calon PNS akan mempersiapkan diri agar bisa membaca Alquran dengan baik. Bukan karena faktor religiusitas, tapi semata-mata agar memenuhi kualifikasi jadi PNS. Dan lama-lama, orang taat agama bukan karena Tuhan, tapi sekedar tergerak oleh motivasi-motivasi duniawi. Inilah yang saya sebut “sekularisasi agama”.

Berbagai upaya pencitraan tersebut pada akhirnya tidak menunjukkan apa-apa. Toh Indonesia masih masuk dalam peringkat teratas soal korupsi. Bahkan korupsi di kementrian agama malah termasuk yang terbesar. Belum lagi partai politik yang selama ini dikenal agamis, bersih dan peduli, pada akhirnya terjerat kasus korupsi juga. Tidak tanggung-tanggung, melibatkan presidennya langsung. Lucu memang. Indonesia pada akhirnya cuma tampak sebagai negara munafik dan penuh pencitraan. []

Efektifkah Menjual SARA dalam Kampanye?

Posted in Commentary by Rinaldi on September 23, 2012

Calon Gubernur Fauzi Bowo (kiri), dan Calon Wakil Gubernur Nachrowi Ramli (kanan), melakukan debat calon gubernur dan wakil gubernur di Jakarta, Minggu (16/9/2012). Pasangan Foke-Nara bersama pasangan Jokowi-Ahok, melaju ke putaran kedua pilkada DKI Jakarta, yang berlangsung pada 20 September 2012. – Foto: TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

Author Rinaldi

MOMEN Pilkada DKI yang baru saja berlalu, dalam pengamatan saya mengindikasikan beberapa hal. Pertama: Bahwa issue SARA tidak terlalu diminati di DKI. Kedua: Masyarakat DKI umumnya cenderung berpandangan sekuler-nasionalis.

Putaran pertama ada Hidayat Nur Wahid, tokoh Islam PKS. Hidayat kalah telak sehingga tidak bisa ikut putaran kedua. Walau dulu PKS pernah menang di Jakarta, tetapi sepertinya hal ini tidak berpengaruh. Kekalahan Hidayat menunjukkan masyarakat Jakarta tidak terlalu antusias dengan ideologi keislaman ala Hidayat/PKS.

Memasuki putaran kedua, pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok maju bersaing. Kedua pasangan ini sesungguhnya cenderung berpandangan sekuler-nasionalis dan diusung oleh partai-partai yang juga berplatform sekuler-nasionalis. Masuknya kedua pasangan tersebut saja sudah jelas mengindikasikan arah pandangan masyarakat Jakarta.

Pasangan Foke-Nara, walau sering terlihat memanfaatkan issue SARA dan terkenal dekat dengan tokoh habib dan ulama di Jakarta, sesungguhnya terhitung figur yang berpandangan sekuler-nasionalis ketimbang figur yang berideologi agama.

Berbagai issue keislaman dan “kebetawian” yang diusung Foke-Nara hanyalah upaya pragmatis untuk mendongkrak suara, tidak lebih. Islam yang diusung Foke-Nara bukan Islam ideologis seperti yang dianut Hidayat dan PKS. Semua jurus primordial itu pun dipakai hanya karena pihak lawan ada Ahok yang Cina dan Kristen. Anggaplah Foke-Nara melaju ke putaran kedua berhadapan dengan pasangan Hidayat-Didik, boleh jadi jurus “islam” tidak akan digunakannya.

Metoda kampanye “bawa-bawa agama” dan “bawa-bawa ras” yang dilakukan kubu Foke-Nara, itupun akhirnya tidak membuahkan hasil. Walau digempur issue agama dan ras, kubu Jokowi-Ahok yang “tak berpeci dan tak berbaju koko”,  tetap meraih kemenangan dengan selisih suara (menurut hasil hitung cepat) sekitar 10 persen ketimbang Foke-Nara yang berpeci dan berkoko. Euforia dukungan terhadap Jokowi-Ahok juga terlihat jelas di berbagai situs jejaring sosial baik selama, maupun setelah pilkada.

Berdasarkan kecenderungan fakta-fakta di atas, secara sederhana bisa kita tarik kesimpulan bahwa rata-rata masyarakat DKI, walau mereka –katakanlah—taat beragama, namun memiliki kecenderungan pandangan yang sekuler-nasionalis ketimbang agamis-ideologis.  Saya berpendapat, bahwa ini adalah wujud “silent majority” yang bisa menepis anggapan bahwa “muslim Jakarta menginginkan formalisasi syariat Islam.”

Pasangan capres/cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto bersama isteri mereka yang berjilbab. Foto: VIVAnews/Tri Saputro

Issue SARA sebagai black campaign dalam moment pemilu di Indonesia bukan hanya terjadi pada pemilukada kemarin. Dalam moment Pilpres 2009 lalu, capres inkumben SBY yang berpasangan dengan Boediono, juga digempur issue SARA. Isteri SBY, Ani Yudhoyono sempat digosipkan beragama Kristen melalui sejumlah selebaran. Kemudian lawan politiknya, kubu Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto  juga mencoba “menjual Islam” dengan aksi memamerkan isteri mereka yang berjilbab dalam berbagai baliho kampanye. Gambar capres Kalla dan Wiranto yang berfoto di samping isteri mereka yang berjilbab, jelas terbaca sebagai upaya “jualan jilbab” demi meraih sentimen umat Islam.

Walhasil, segala kampanye SARA tersebut tidak berhasil. Pasangan SBY-Boediono tetap unggul dibandingkan dengan pasangan JK-Wiranto. Serupa dengan Pilkada DKI tersebut di atas, hal ini mengindikasikan arah pandangan masyarakat Indonesia yang cenderung sekuler-nasionalis ketimbang agamis-ideologis. Sepanjang sejarah pula, partai-partai Islam tidak pernah ada yang menang telak dalam even pemilu. Masyarakat cenderung memilih figur, bukan agama. Atau masyarakat telah cerdas dan sadar, bahwa issue “agama” yang digaungkan selama masa kampanye, hanyalah upaya politisasi agama demi keuntungan politik. []

Film “Innocence of Muslims” dan Sikap Mental Umat Islam

Posted in Commentary by Rinaldi on September 15, 2012

Author Rinaldi

Novel heboh karya Dan Brown, “The Da Vinci Code”. Sumber gambar: Thesikhtimes.com

FILM “Innocence of Muslims” yang heboh belakangan ini, sebenarnya fenomena yang biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Film amatiran yang tidak terlalu bagus, dan seharusnya tidak perlu membuat heboh. Terlebih film tersebut muncul di barat yang pada dasarnya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.

Beberapa waktu lalu, sempat heboh novel “The Da Vinci Code” karangan Dan Brown, yang dipandang menghina agama Katolik. Novel tersebut menggambarkan Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena, dan akhirnya punya anak. Ada kecaman keras dari berbagai institusi Katolik, tapi tidak ada yang sampai mengeluarkan fatwa “bunuh” terhadap penulis novel tersebut. Kehebohan novel tersebut akhirnya pudar begitu saja. Bandingkan dengan kasus novel “The Satanic Verses”-nya Salman Rushdie yang sampai memunculkan fatwa mati terhadap penulisnya.

Dalam masyarakat barat, sudah terlalu sering Yesus, Paus, atau ikon suci lainnya dijadikan parodi. Jika anda browse di Youtube dengan kata kunci “jesus parody”, mudah sekali menemukan berbagai klip video yang bertema olok-olok terhadap Yesus. Apakah ada kegusaran serius di kalangan Kristen? Tidak ada.

Berbeda dengan Kristen, umat Muslim memiliki sikap yang oversensitif terhadap persoalan ini.  Di film “2012” garapan Roland Emmerich, sang sutradara dengan leluasa menggambarkan kehancuran Basilica St. Petrus akibat gempa bumi. Tapi berpikir seribu kali untuk menggambarkan kehancuran bangunan simbol-simbol Islam. Kemudian sebelumnya, sebuah kartun Nabi Muhammad yang pernah ditayangkan di Jylland Posten telah memicu amarah Muslim sedunia.

Oke, sebagian masyarakat barat mampu memaklumi kegusaran umat Muslim. Tapi sebagian yang lain, malah menjadikan karakter sensitif umat Muslim sebagai bahan olok-olok yang membuat mereka makin giat “menggoda”. Aksi “Draw Muhammad’s Day” yang bertujuan memprovokasi umat Muslim pun sempat populer melalui situs jejaring sosial.

Di barat, kekristenan sudah biasa dibedah materinya secara kritis dan dekonstruktif. Alkitab dipandang sebagai semata objek studi yang dikaji dengan jarak. Pro-kontra terhadap pandangan teologi semata-mata menjadi wacana yang dibahas dalam forum diskusi. Tidak ada himbauan kekerasan, blokir internet, bunuh, atau segenap protes berlebihan lainnya. Barat modern sudah relatif maju, tidak seperti kondisi enam ratus tahun yang lalu, ketika institusi gereja mendominasi Eropa.

Dalam masyarakat barat, semua agama bebas dikaji baik secara kritis-dekonstruktif maupun apresiatif. Tidak setuju, silakan lawan pemikiran dengan pemikiran. “Mental ilmiah” seperti ini belum ada di dunia Islam. Umat Muslim hanya terima ketika Islam diapresiasi oleh orang barat. Jika Islam atau Alquran dikritisi, mereka marah. Tapi anehnya, jika kekristenan atau Bible dikritisi, mereka senang. Contoh Maurice Bucaille yang kritis terhadap Bible, membuat umat Muslim di manapun sumringah. Nama dan bukunya kerap kali semangat disebut-sebut. Tapi begitu ada tokoh barat yang kritis terhadap Islam, atau menulis buku yang memaparkan sejarah Islam di luar pemahaman arus utama, sebagai contoh nama Christoph Luxenberg, umat Muslim marah.

Dunia Islam tampaknya belum memasuki era keterbukaan pemikiran semacam itu. Di dunia Islam, yang bisa dan boleh dikritisi hanya agama lain, terutama Kristen. Dan yang wajib diapresiasi hanya agama Islam. Kritik terhadap agama Islam adalah blasphemy. Sedangkan kritik terhadap agama lain, terutama Kristen, adalah dakwah kebenaran.

Jika kita jalan-jalan ke toko buku Gunung Agung, rasanya cukup banyak buku-buku apologetika Islam yang mengkritisi teologi Kristen. Apakah ada kalangan Kristen yang gusar lantas berdemo? Sejauh ini tidak ada. Nah, bagaimana kalau itu terjadi sebaliknya? Misalkan ada buku yang mengkritisi Islam secara frontal dipajang di Gramedia? Wah, pasti sudah rame demonya!

Apakah sikap umat Kristen yang cenderung tidak ambil pusing ketika ikon agamanya dijadikan parodi atau dikritik, berarti tidak menghargai keagungan dan wibawa agamanya? Tidak. Setiap umat beragama pastilah menjunjung tinggi tokoh-tokoh sucinya, menganggap agamanya benar, agung dan wibawa. Masalahnya di sini adalah pada sikap mental dalam menghadapi era modern di mana arus informasi bisa leluasa bergerak dan tiap orang bisa mengekspresikan ide-idenya dengan bebas. Di era keterbukaan informasi sekarang ini, kita tidak bisa membungkam sepenuhnya semua bentuk parodi (baca: pelecehan) maupun wacana kritis-dekonstruktif terhadap agama. Sikap yang paling tepat adalah menghadapi fenomena banjir informasi tersebut dengan dewasa. Parodi hanyalah kerjaan orang-orang iseng. Kritik adalah karya intelektual yang seharusnya dibalas dengan jawaban berilmu. Bukan ditanggapi dengan ancaman, kekerasan, atau sebagainya.

Problem sebenarnya itu bukan pada “penghinaan agama”. Tapi mentalitas umat Muslim yang oversensitif. Novel “The Da Vinci Code” yang menghina Katolik itu, bahkan leluasa terbit di Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Islam “Serambi”. Kalau mau konsisten, mestinya novel itu bisa jadi kena UU Penodaan agama. Penerbitnya dipidana. Tapi kenyataannya kan tidak. Umat yang oversensitif ternyata tidak sensitif terhadap perilaku saudara seimannya yang menerbitkan sebuah novel yang pernah diprotes karena dipandang menghina suatu agama.

Umat Muslim itu memerlukan semacam “revolusi mental”. Belajar dari sejarah, dan belajar dari umat agama lain. Sadarlah, bahwa ini abad 21. Banyak pandangan dunia yang ditawarkan oleh agama, sudah out of date dan perlu diperbaharui. Jaman sudah berubah, pemahaman tentang agama harus disesuaikan. Dan sikap mental menghadapi fenomena perubahan zaman harus dipersiapkan. []

Setelah Foto Palsu Rohingnya, Kini Profil Mualaf Fiktif Muncul di Media Online Mainstream

Posted in Mythbuster by Rinaldi on August 19, 2012

Republika mencatut foto Prof. Xinsheng Sean Ling dari Brown University sebagai tokoh fiktif “Demitri Bolykov”. Beginikah kualitas media mainstream? – Grafis gambar oleh saya sendiri. Sumber foto dari Republika (http://www.republika.co.id) dan situs Brown University (http://research.brown.edu).

Author Rinaldi

SAYA cukup terkejut sekaligus kecewa, setelah di Minggu pagi buka internet, dikirimi artikel dari blog teman yang menguak kepalsuan data Republika dan Detik.com –dua buah media online ternama di Indonesia.

Semua berawal dari dua situs berikut ini, Republika dan Detikcom yang sama-sama mengulas tentang ilmuwan fisika yang menjadi mualaf karena keilmuwannya.

Sosok yang diberitakan sebagai ilmuwan mualaf itu adalah Demitri Bolykov, seorang ilmuwan asal Ukraina yang masuk Islam setelah melakukan sejumlah penelitian ilmiah. Bolykov, bersama rekan satu timnya Nicolai Kasinikov, melakukan percobaan tentang perputaran bumi pada porosnya, yang ujungnya menyimpulkan bahwa kutub magnet bisa berubah, dan bumi bisa berputar ke arah sebaliknya. Hal ini, sebagaimana tersirat dalam tulisan Detikcom, membenarkan ajaran kepercayaan Islam bahwa di hari kiamat matahari bisa terbit dari sebelah barat.

Oke, saya tidak akan membahas dari segi benar-salahnya teori tersebut secara fisika. Saya juga tidak akan membahas soal benar-salahnya agama Islam. Saya tertarik pada kecerobohan redaktur Republikaonline dan Detikcom dalam mengangkat suatu issue, mengingat dua media tersebut adalah media cukup ternama di Indonesia, yang semestinya bisa jadi acuan informasi.

Cerita Demitri Bolykov jadi mualaf tersebut, telah lama saya baca di sebuah blog di internet. Artinya, cerita tersebut memang bukan pertama kali muncul di Republikaonline maupun Detikcom. Sejak pertama kali membaca kisah tersebut, saya sudah menduga bahwa kisah tersebut cuma hoax internet yang menjadi viral. Banyak kok kisah mualaf palsu yang beredar di internet, salah satunya adalah kisah Jaques Cousteau masuk Islam yang tidak jelas sumber asalnya dari mana. Sampai akhir hayatnya, Cousteau adalah penganut Katolik dan dimakamkan secara Katolik. Tidak pernah ada pernyataan resmi atau sumber internet resmi yang bisa dijadikan acuan valid bahwa Cousteau telah masuk Islam. Demikian pula kisah Neil Armstrong yang juga dikabarkan masuk Islam setelah mendengar adzan di Bulan.

Tokoh Fiktif

Baik Cousteau maupun Armstrong, adalah tokoh prominent yang kita semua telah kenal. Keduanya bukan sosok fiktif. Mudah mencari profilnya di ­google. Yang fiktif hanya cerita masuk Islamnya. Lain halnya dengan Demitri Bolykov dan Nicolai Kosinikov, keduanya tidak jelas siapa profilnya.

Siapakah Demitri Bolykov dan Nicolai Kosinikov? Jika anda search di google dengan kata kunci kedua tokoh tersebut, anda tidak akan menemukan apa-apa kecuali artikel hoax yang menyebut nama mereka. Jika ejaan nama kedua tokoh tersebut anda rubah sedikit, dengan asumsi barangkali Republika atau Detikcom keliru mengeja secara tepat nama tokoh tersebut, tetap saja anda tidak akan menemukan apa-apa yang relevan dengan fisika, kecuali cerita hoax tersebut.

Jika Demitri Bolykov dan Nicolai Kosinikov memang betul tokoh fisika, dengan karyanya yang diceritakan tersebut pasti merupakan sosok prominent di bidangnya, dan pasti tidak akan sulit mencari informasi dan profilnya via google. Bahkan, jika ejaan yang kita ketik salah pun, google akan secara otomatis mengkoreksinya. Dan pastinya, tidak akan sulit mengetahui bagaimana wajah tokoh-tokoh tersebut sehingga Republika dan Detikcom tidak sembarang menaruh foto orang lain yang diklaim sebagai Demitri Bolykov.

Ini kesalahan kedua: Republikaonline dan Detikcom telah gegabah memasang foto orang lain sebagai “Demitri Bolykov”. Lucu sekali! Apakah kedua media mainstream tersebut profesional? Apakah mereka memahami etika jurnalistik?

Siapakah profesor berwajah oriental yang dipajang sebagai Demitri Bolykov tersebut? Ternyata adalah Profesor Xinsheng Sean Ling dari Brown University! Bahkan dengan mudah kita bisa tahu email pribadinya: xsling@brown.edu

Silakan anda ketik nama Craig Venter atau Frans de Waal, atau bahkan Xinsheng Sean Ling, anda akan menemukan banyak sekali link berita, artikel, atau apapun tentang tokoh-tokoh tersebut. Craig Venter adalah ilmuwan yang berhasil menggubah bakteri sintetis tahun lalu. Sedangkan Frans de Waal adalah ahli primata dari Universitas Emory. Demitri Bolykov? Nicolai Kosinikov?

Kisah hoax di internet bukanlah barang baru. Sejauh ini, saya telah membaca banyak sekali informasi dan extraordinary claims yang tidak jelas asal muasalnya. Namun yang menyedihkan, adalah ketika cerita-cerita hoax tersebut dimuat di media mainstream seperti Republikaonline dan Detikcom.

Sejauh ini saya memandang Republikaonline cukup baik. Walaupun sajiannya cenderung bias ke arah Islam, saya pikir wajar asal masih berbasis fakta. Demikian juga Detikcom, yang walaupun dalam beberapa pemberitaan terkesan lebay, saya menilai masih dalam taraf kewajaran asalkan tetap berbasis fakta. Namun setelah membaca artikel berita di atas, sejujurnya saya mulai ragu terhadap kredibilitas dan kebenaran sajian media Republia dan Detikcom.

Media massa boleh bertendensi miring ke kiri maupun ke kanan. Tapi sebaiknya tetaplah menjunjung tinggi etika mendasar dalam jurnalistik, yaitu hanya memberitakan fakta, dan memperhatikan betul aspek “sumber berita”. []

Note: Terima kasih kepada Jessica Siscawati yang pagi-pagi kasih sudah kasih link blog ulasan pribadinya. Tema sejenis telah pula diupload di Kompasiana.